Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Sixty One (61)


__ADS_3

Stella berhenti berlari. Napasnya tersengal-sengal. Ia segera menutupi wajahnya yang masih terasa panas, kemudian berjongkok sambil menenggelamkan kepalanya di antara tangannya yang terlipat. Rambutnya yang hitam legam jatuh di samping bahunya.


Aku malu sekali...!


Stella tidak menyangka bahwa anak perempuan yang disukai Ester adalah dirinya sendiri, terlebih setelah mendengar pujian berlebihan yang menggelikan dari anak laki-laki itu membuat Stella malu hingga wajahnya memanas seperti rebusan udang.


*Apa tadi dia bilang?


Rambut pirang emas yang sangat bersinar bahkan sampai mengalahkan sinar matahari?


Mata merah menawan seperti batu rubi?


Dan kulit putih cerah yang cocok dengan ekspresi sedingin es?


Uwaaa! Apa-apaan itu! Memalukan*!!


Lalu Stella memukul-mukul tanah yang ditumbuhi rerumputan dengan tinjunya, berharap rasa malunya segera hilang, tapi tetap saja perasaan itu tidak bisa hilang dalam waktu singkat.


"Aaakh! Aku butuh pelampiasan!"


"Aloo?" (Halo?)


Suara bayi?


Stella terkesiap ketika mendengar suara imut dan lembut seseorang. Ia segera mengangkat kepalanya dan menatap sekelilingnya. Tatapan matanya terjatuh pada seorang balita berjenis kelamin perempuan yang duduk di hadapannya. Mata mereka bertemu pandang.


Ra-rambut pirang...!


Stella cukup terkejut ketika melihat warna rambut balita itu, itu karena warnanya sama seperti warna rambutnya yang asli, yaitu pirang keemasan. Namun bedanya, balita itu memiliki mata seperti batu kuarsa merah muda.


Tunggu, siapa balita ini?


Stella sedikit memiringkan kepalanya, meneliti lebih jauh balita itu.


"Kau siapa?"


"Atu?" (Aku?)


"Iya, kau."


"Atu Baabiyel!"


"Baabiyel?" ulang Stella dengan bingung.


Lalu ia tidak sengaja mengingat nama salah satu anggota keluarganya di kehidupannya dulu.


"Maksudmu, namamu Barbiel?"


"Uung."


Balita itu, yang katanya bernama Barbiel, mengangguk dengan wajah lucu.


"Kau datang dari mana?"


"Daai inyi!" (Dari sini!)


"Hah?"


Stella tidak terlalu mengerti dengan ucapan balita itu, kemudian melihat sekelilingnya. Baru pada saat itulah, Stella menyadari bahwa sekarang dia bukan berada di Istana Everstell, tempat yang seharusnya dia tuju, tapi di istana lain yang tidak dikenal!


"Di mana ini? Apa aku pergi ke istana tempat para tamu dari kerajaan lain tinggal?"

__ADS_1


Sementara Stella menolehkan kepalanya ke berbagai arah, suara asing milik seseorang terdengar.


[Apa kau yakin tidak ingin pulang?]


Stella menjadi tegang setelah mendengar suara asing itu berdering di pikirannya, seolah-olah sedang berbicara padanya.


Kau siapa? tanya Stella balik di dalam hatinya.


[Ini aku, Barbiel. Halo, Stella.]


Kau?!


Tatapan Stella bergeser dengan cepat ke arah balita perempuan itu. Barbiel tersenyum manis dan melambaikan tangannya.


[Kita sama, tapi sedikit berbeda.]


A-apa maksudmu?


Entah mengapa, Stella merasa bahwa dia harus waspada dengan balita itu. Seseorang yang bisa bertelepati sesuka hatinya di usia yang begitu muda pastinya adalah seseorang yang berbahaya.


[Kita sama-sama masuk ke tubuh orang lain, dan tubuh yang kita masuki adalah seorang bayi. Tapi bedanya, aku masuk ke tubuh orang lain karena sudah mati, tapi kau masih hidup.]


Deg!


Perasaan berdebar yang kuat yang tidak pernah dirasakan Stella seumur hidupnya sedang dia rasakan saat ini, seperti ada tanah berguncang dengan hebat dan dia berdiri di tengah-tengah tanah itu, dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan sama sekali.


―――


"Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Muda?"


Nicole bertanya dengan heran ketika mendapati majikannya, Ester, berdiri dalam diam di taman bunga mawar milik sang raja.


"Aku sedang menjalani perintah," jawab Ester, yang membuat Nicole dan Jesriel saling pandang dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ini dari Tuan Putri."


Swooosh!


Tiba-tiba angin berembus kencang, suasana mendadak menjadi hening.


Kwak, kwak, kwak―


Nicole dan Jesriel seakan mendengar suara burung gagak yang sedang terbang di atas kepala mereka, sesaat setelahnya kedua pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Bwahahaha!!"


"Memangnya ada perintah seperti itu? Hahahaha!"


Mereka tertawa lepas, benar-benar mengabaikan kehormatan mereka sebagai seorang kesatria berbakat. Nicole memegangi perutnya, air mata keluar dari sudut matanya, sementara Jesriel berjongkok dengan badan gemetar sambil memukul-mukul tanah.


"Hei. Berisik."


Hingga akhirnya sang raja menegur mereka dengan nada dingin sampai ke tulang, seketika kedua pria itu langsung bungkam. Sudut bibir mereka terus berkedut karena menahan tawa.


Apakah yang kulakukan salah?


Ester tidak mengerti mengapa Nicole dan kesatria berambut oranye itu menertawakannya, padahal dia hanya menjalankan perintah sang putri yang menyuruhnya diam di tempatnya.


―――


"Aku turut berduka cita atas menghilangnya Ratu Alexa lima tahun yang lalu," ucap seseorang pada seorang anak kecil laki-laki yang sedang berjalan bersamanya.

__ADS_1


Lima tahun yang lalu, atas permintaan Shavir dan istrinya, dia bersama pasukan elit kerajaannya berpencar ke seluruh tempat yang ada di Area Selatan guna mencari Alexa yang dikabarkan menghilang setelah melahirkan seorang anak perempuan.


Alexa dan istrinya adalah teman dekat yang selalu bertukar surat, terkadang mereka juga bertemu dan mengadakan pesta sosial secara diam-diam, tanpa sepengetahuan bangsawan-bangsawan lain.


Keberadaan Alexa sangat berharga bagi istrinya, yang tidak memiliki hubungan baik dengan para istri bangsawan di wilayah kerajaannya.


Setelah menerima surat dari Shavir mengenai hilangnya Alexa, istrinya mendesaknya agar ikut mencari Alexa bersama Shavir. Pencarian pun dimulai selama tiga tahun, namun sayangnya tidak membuahkan hasil sama sekali. Setelah itu, dirinya dan Shavir tidak pernah berhubungan lagi, baik dalam urusan pribadi maupun politik.


Tanpa diduga, beberapa hari yang lalu Shavir mengirimkan undangan pesta ulang tahun Dhemiel padanya, dia menerimanya karena ingin bertemu dengan anak perempuan yang dilahirkan Alexa, sekaligus ingin menjadikan anak itu sebagai teman bermain putrinya.


"Tidak apa-apa. Dengan bantuan yang Anda berikan untuk mencari ibu saya, saya sudah sangat bersyukur," balas seorang anak laki-laki, yang diajak berbicara oleh pria yang berjalan di sisinya. "Bagaimana kabar Ratu Miraria?"


"Dia masih koma. Sepertinya dia tidak berniat bangun selamanya," jawab Eigel dengan senyum getir di wajahnya.


Ia adalah seorang raja dari Kerajaan Eclate.


Dhemiel mendongak, matanya melihat kesedihan yang sangat dalam di mata merah pria itu. Ia juga merasa simpati karena istri pria itu, Miraria, kata ayahnya adalah teman ibunya selain Azalea.


"Saya harap Yang Mulia Ratu segera bangun dari komanya."


"Aku juga harap begitu."


Eigel tersenyum tipis. Mata merahnya tak sengaja menangkap siluet putrinya. Senyumnya jadi semakin lebar.


"Itu dia, putriku," katanya dengan riang.


Dhemiel memandang ke arah yang ditunjuk Eigel. Dia melihat seorang balita perempuan dengan rambut pirang pendek, kemudian melihat sosok yang dikenalnya di sebelah balita itu.


"Namanya Barbiel."


"Di sampingnya ada Stella, adikku."


"Hm? Adikmu? Anak perempuan yang dilahirkan oleh Alexa?"


"Benar," jawab Dhemiel sambil tersenyum lebar. "Apakah Anda ingin menghampiri mereka?"


"Tentu saja."


Mereka mempercepat langkah dan menghampiri Stella dan Barbiel. Setibanya di sana, Dhemiel bisa merasakan suasana serius di sekitar dua anak raja itu. Namun anehnya, kedua anak perempuan itu hanya saling tatap dalam diam, tanpa berbicara sama sekali.


Apa yang sedang mereka lakukan? tanya Dhemiel di dalam hatinya.


Lalu ia memanggil adiknya, "Stella!"


Nadanya terdengar ceria, berusaha menyembunyikan ekspresinya yang sangat penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Lalu dia menyapa Barbiel.


"Halo, Tuan Putri."


"Aloo!" (Halo!)


Balita perempuan itu balik menyapa dengan ceria, tersenyum lebar. Mata kuarsa merah mudanya beralih, memandang seorang pria paruh baya dengan rambut oranye panjang yang tergerai di bahunya.


"Yah! Yah!" (Ayah! Ayah!)


Barbiel memanggil, merentangkan tangan mungilnya. Eigel tersenyum dan segera mengangkat putrinya. Lalu mereka tertawa bahagia, terlihat harmonis. Sementara itu, Dhemiel menghampiri Stella yang masih berjongkok.


"Kau kenapa, Stella?" tanyanya dengan khawatir.


Ia menggoyangkan bahu Stella, tetapi anak perempuan itu tidak bergeming. Mata ungunya terlihat hampa. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Stella.


Barbiel bilang, aku ... bisa pulang ke duniaku?

__ADS_1


――――――――――――――


TBC!


__ADS_2