Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Sixty Eight (68)


__ADS_3

Stella mengira bahwa wanita itu ingin meminta bantuan padanya, tapi setelah matanya menangkap mahkota ramping yang dihiasi permata di atas kepala wanita itu, dia segera menjadi gugup.


Seorang ratu.


Stella melirik wanita itu, memperhatikan ekspresinya.


"Tidak. Hanya saja, kau mirip dengan seseorang yang kukenal."


"Benarkah?"


"Iya. Entah kenapa kau mirip dengan penyelamatku."


Penyelamatnya?


"Aku terkejut karena ada orang yang mirip denganku. Memang bagian mana yang mirip?"


"Rambut dan matamu berbeda dengannya, tapi wajah kalian mirip."


"Begitu, ya. Aku penasaran dengan ciri-cirinya."


"Dia punya rambut pir―tidak."


Wanita itu menghentikan ucapannya dengan cepat, seolah-olah baru saja mengingat sesuatu.


"Ah, aku minta maaf, sebenarnya aku juga tidak ingat dengan ciri-cirinya. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya."


Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi, meninggalkan teka-teki yang sangat ingin dipecahkan oleh Stella.


Dia aneh. Tadi dia mau bilang kalau penyelamatnya punya rambut pirang, 'kan?


Padahal wanita itu spontan menjawab seperti itu, tapi kemudian mengatakan bahwa dia lupa dengan ciri-cirinya.


Tunggu, rambut pirang?


Seakan mendapat petunjuk, Stella merasakan ada yang janggal. Ketika dia akan mengejar wanita itu yang perlahan menjauh, panggilan datang dari Dhemiel.


"Stella!"


Mau tak mau, Stella menoleh ke arah sumber suara, memandang Dhemiel yang melambaikan tangannya. Lalu dia kembali menatap ke arah wanita itu, yang sudah menghilang dan berbaur dengan kerumunan para tamu undangan.


Sial.


Dia kehilangan jejak wanita itu. Dengan langkah berat, Stella menghampiri Dhemiel.


"Kenapa, Kak?"


Dhemiel berputar-putar di sekeliling Stella, seolah-olah sedang memindainya.


Lalu dia bertanya, "Di mana anak emas itu?"


"Apa? Anak emas?"


Panggilan aneh itu membuat Stella berkerut bingung. Dhemiel mengerucutkan bibirnya sambil menjelaskan.


"Itu, anak kecil yang selalu bersamamu."


Stella langsung mengerti, dia segera mengoreksi.


"Namanya Barbiel, Kak."


"Bagiku namanya anak emas."


Hah, terserah.


Stella menghela napas pendek.


Ketika dia menghampiri Xylia tadi, Barbiel sudah tidak bersamanya lagi, mungkin dia sudah kembali ke sisi ayahnya. Dhemiel mungkin tidak menyadari hal itu, karena dia ada di pinggir aula, ditemani dengan segelas minuman di tangannya. Pandangan Stella tertuju pada segelas minuman yang ada di tangan Dhemiel, menatap gelas itu dengan intens.


"Kakak tidak boleh minum itu."


"Kenapa? Ini hanya jus biasa."

__ADS_1


"Benarkah? Itu bukan jus anggur yang sering diminum orang dewasa, 'kan?"


"Tentu saja bukan!"


Melihat Stella menyipitkan matanya, masih mencurigainya, Dhemiel menjelaskan dengan panik.


"Ini jus biasa! Tidak, ini sirup! Sirup buah! Ini dicampur dengan gula dan tidak mengandung alkohol!"


Aku tahu. Tapi melihat ekspresi itu, entah kenapa aku senang.


Sejak awal, Stella tahu bahwa itu hanya minuman biasa untuk anak-anak, namun dia sengaja bersikap serius karena ingin melihat wajah panik Dhemiel yang sedari tadi terlihat seperti tidak menyukai sesuatu.


"Aku bercanda."


Mendengar itu, Dhemiel menggembungkan pipinya dan cemberut.


"Kukira kau tidak percaya padaku. Menyebalkan!"


Stella menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mengejek, membuat Dhemiel semakin kesal.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau memanggilku, Kak?"


Atas pertanyaan Stella, ekspresi Dhemiel tiba-tiba berubah menjadi serius. Dia meletakkan gelas di tangannya ke meja yang ada di belakangnya, kemudian menangkup kedua pipi Stella.


"Hah? Kak...."


"Dengarkan aku, Stella."


"O-oke...."


Ada apa dengan situasi ini?


Perubahan ekspresi Dhemiel membuat Stella terkejut. Anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi serius. Sejujurnya, orang seperti itulah yang menakutkan. Tapi kata-kata Dhemiel selanjutnya membuat Stella kehilangan akal sehat selama beberapa menit.


"Jangan dekat-dekat dengan anak emas itu lagi."


"Hah?"


"Hah?"


"Aku juga kesal karena sainganku terus bertambah."


"Hah?"


Apa yang dia bicarakan?


Stella berkedip berulang kali, berusaha mencerna ucapan Dhemiel yang tidak bisa dimengerti. Lalu dia merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangnya.


Dhemiel memeluknya.


"Kakakmu, 'kan, cuma aku. Tapi kenapa kau selalu bermain dengan orang lain, sih?"


Oh.


Akhirnya Stella mengerti. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di benaknya. Senyuman miring segera menghiasi wajahnya. Lalu Stella menepuk-nepuk punggung Dhemiel, memberinya semangat.


"Aku tahu perasaan Kakak. Tapi saingan Kakak yang bertambah bukan hanya Barbiel saja."


"Apa?"


Dhemiel segera melepaskan pelukannya dengan wajah kaget, kemudian Stella menyerang tembakan terakhir.


"Soalnya ada Ester, tunanganku."


Duar!


Hah? Apa tadi?


Stella seolah-olah bisa mendengar suara gunung meletus yang menjadi latar belakang Dhemiel, seperti mengungkapkan perasaan anak laki-laki itu.


"A-apa?!"

__ADS_1


Setelah pulih dari keterkejutannya, Dhemiel menjerit dan mereka dengan cepat menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi Dhemiel, yang tidak memperhatikan sekitarnya, memandang Stella dengan tatapan putus asa, seolah-olah langit runtuh dan dunia akan hancur.


"I-itu tidak benar, 'kan...?"


"Kak, tenang dulu...."


Sebelum Stella bisa menyelesaikan ucapannya, anak laki-laki itu merosot ke bawah. Dhemiel pingsan dengan dramatis. Suasana di sekitar aula langsung menjadi heboh. Sedangkan Stella dibuat tidak bisa berkata-kata pada adegan yang terjadi di hadapannya.


―――


"Kalau Kakak seperti tadi lagi, aku akan membuat Kakak pingsan sungguhan."


Stella menatap Dhemiel dengan serius, yang sudah sadar dari "pingsannya". Anak laki-laki itu hanya bisa cemberut di kursinya, masih kesal dengan kenyataan bahwa saingannya semakin bertambah.


"Benar, Dhemiel. Kau membuat semua orang khawatir."


Raja Shavir juga ikut menasihati putranya dengan tegas. Tapi tokoh utama hari ini, yang duduk di sebelahnya, menutup kedua telinganya, berlagak tidak mendengarkan apa-apa.


Raja Shavir hanya bisa mengerutkan dahi, lalu menghela napas pasrah sambil mengusap wajahnya. Pesta ulang tahun yang sudah direncanakan dengan sempurna menjadi kacau karena kecemburuan seseorang.


"Miel!"


Setelah itu, suara manis seseorang terdengar. Perhatian Stella mengarah pada orang itu, yang sepertinya memanggil Dhemiel. Dia adalah seorang anak kecil perempuan yang sepertinya seumuran dengan kakaknya.


Rambut cokelat muda berkibar seiring dengan kecepatan anak itu. Sepasang mata ungu transparannya memancarkan cahaya lembut. Dia mengenakan gaun dengan warna biru muda, bagian roknya berlapis dan tidak mengembang, terlihat tidak rumit dan sederhana. Dia memakai bros oval berwarna ungu berkilau di bagian atas dadanya.


Anak perempuan itu segera mendekati Dhemiel dengan wajah khawatir.


"Apakah kau baik-baik saja, Miel?"


Tapi Dhemiel tidak menjawab, dia semakin cemberut. Sesaat kemudian, seolah tersadar, anak perempuan itu tersentak, lalu menyapa Raja Shavir dan Stella. Dia mengangkat sedikit roknya dan menunduk.


"Memberi hormat pada Yang Mulia Raja dan Tuan Putri. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati. Maafkan kecerobohan saya tadi."


Ini pertama kalinya ada orang yang memberi penghormatan pada Stella secara sukarela. Dia menatap anak perempuan itu, mencoba mencari sesuatu yang mungkin dia sembunyikan. Rasanya aneh saat seseorang memberi penghormatan padanya dengan sopan, yang selalu memiliki rumor buruk di sekitarnya.


Di sebelah Stella, Raja Shavir berkata dengan singkat, "Angkat kepalamu, Lilith."


Anak itu, Lilith, mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar.


Lili ... Lili ... Lilith? Siapa dia?


Seolah mengenali nama itu, Stella memandang Lilith tanpa berkedip, kemudian sesuatu menghantam kepalanya. Ingatan asing yang tidak dikenal kembali muncul dengan suasana yang berbeda.


"Lili, jangan temui aku lagi."


"Kenapa?! Aku adalah temanmu satu-satunya! Kita adalah sahabat! Jadi apa salahnya jika aku menemuimu, yang sedang dalam keadaan terpuruk seperti ini?"


"Jangan lakukan itu, Lili. Kau bisa mati karena aku."


"Aku tidak peduli! Jika kau mati, aku juga akan ikut mati! Kita akan mati bersama!"


"Tidak. Kau harus hidup dengan bahagia."


"Tidak! Aku tidak akan melakukannya! Aku tidak akan meninggalkanmu, Stella!!"


Dalam ingatan asing itu, seorang gadis berambut hitam panjang berbaring dengan tubuh penuh luka. Di luar jeruji besi yang dingin, berdiri seorang gadis dengan rambut cokelat muda yang sedang menangis, tangannya mengguncang jeruji besi yang mengurung sahabatnya.


Ini, ingatan ini...?


Menatap kosong ke arah Lilith, Stella merasakan perasaan rindu yang dalam.


――――――――――――――


kalian para pembaca, lebih suka nt versi yg baru gak? aku sih suka, soalnya ada sistem rangking baru yg jadi penyemangat buat nulis. cuma aku lebih suka font novelnya yg dulu, lebih bagus, klo font novelnya yg sekarang agak... gimana ya. klo dulu baca novelnya nyaman, tapi sekarang kurang nyaman bacanya. semoga ke depannya lebih bagus lagi....


btw makasih buat dukungan kalian, itu sangat berhargaaa banget!! makasih yaaaa💘😙😆💗😚😍❤️💕💖💝😘😄💓😗


sorry baru up gais, baru dapet hospot. nanti lanjut lagi ya 2 chapter.


TBC!

__ADS_1


__ADS_2