
Selama seminggu menetap di rumah Lilith, Stella tidak melakukan apa-apa selain makan, bermain, dan tidur. Aktivitas tidak sehat itu dilakukannya selama seminggu berturut-turut. Sihir teleportasi milik Barbiel, yang katanya akan membawanya pulang setelah dua hari berlalu, tidak bekerja sama sekali. Stella tidak tahu mengapa hal itu terjadi, tapi dia sangat bersyukur.
Itu berarti jika dia ingin pulang, maka dia harus kembali ke Evergard secara manual. Jika dia tidak ingin pulang, maka dia tidak perlu kembali.
'Menghilang selamanya juga tidak apa-apa, 'kan?'
Lalu rencananya, yang akan mencari Buah Kristal Merah di Pegunungan Aros, terpaksa tertunda karena rumah keluarga Nidlock diisolasi untuk sementara waktu, jadi Stella tidak bisa keluar selama tujuh hari berturut-turut.
Lilith memberitahunya bahwa pasukan penyihir perang, yang datang sebagai bala bantuan, sedang mempersiapkan mantra yang akan digunakan, jadi Count Nidlock dan keluarganya serta Stella harus mengisolasi diri dari dunia luar demi menjaga konsentrasi para penyihir yang sedang menyempurnakan mantra penyerang.
Dengan demikian, Stella tidak bisa pergi ke Pegunungan Aros. Satu-satunya cara yang bisa membawanya ke sana adalah dengan menumpang secara diam-diam saat pasukan penyihir penyerang melakukan pencarian Buah Kristal Merah di pegunungan bersalju itu.
'Makanan dan pakaian sudah siap. Oke, persiapan selesai.'
Stella memasukkan dua pakaian tebal dan beberapa makanan ke tas merah muda bergambar kepala kelinci yang diberikan Lilith padanya sebagai hadiah. Dia sangat yakin bahwa dia akan menemukan Buah Kristal Merah dalam waktu singkat, jadi dia hanya mempersiapkan barang-barang seperlunya.
"Apa persiapan Tuan Putri sudah siap?"
Lilith masuk ke kamar Stella yang pintunya tidak ditutup sambil bertanya, menatap Stella dan tas berbulu merah muda di tangan sang putri secara bergantian.
"Ah! Kenapa makanan yang Tuan Putri bawa sangat sedikit?! Ayo tambah lagi!"
"Tidak. Ini saja sudah cukup."
Stella menolak dengan halus. Dia tidak ingin merepotkan Lilith lebih banyak lagi, tapi Lilith menggeleng keras dengan wajah serius.
"Tidak bisa. Persiapan Tuan Putri harus sempurna! Ha-rus sem-pur-na!"
Dia menekankan kata "harus sempurna" dengan tegas, sementara Stella hanya bisa tersenyum kaku.
'Memang berbohong adalah hal yang paling menyesakkan.'
Sebelumnya, Stella memberitahu Lilith bahwa dia akan kembali ke Evergard sebagai alibi untuk pergi ke Pegunungan Aros. Dan benar saja, Lilith tidak meragukan ucapannya dan menawarkan diri dalam membantu persiapan kepulangan Stella. Meskipun Lilith tidak mencurigainya, namun tetap saja Stella merasa tidak tega untuk berbohong padanya.
'Berbohong demi kebaikan tidak masalah, 'kan? Maafkan aku, Lilith.'
"Ini saja sudah cukup."
"Uh, baiklah kalau Tuan Putri bilang begitu."
"Ngomong-ngomong, bukankah aku sudah memintamu sebelumnya untuk tidak memanggilku "Tuan Putri" lagi, Lili?"
"Itu...."
Lilith menghindari pandangan Stella dengan wajah malu-malu.
"Mana mungkin aku melakukan itu...."
"Ah, kalau begitu sampai kapan pun aku tidak akan punya teman."
Stella, yang memasang tampang sedih, menundukkan kepalanya dengan dramatis. Entah kenapa dia selalu menjadi lebih ekspresif di depan Lilith.
"Mungkin selamanya."
Segera setelah dia mengatakan itu, mata ungu transparan Lilith terbuka lebar, sedangkan ekspresinya terlihat bersalah.
"Tidak mungkin! Siapa pun pasti ingin menjadi teman Tuan Putri!"
"Itu siapa pun, bukan kau, 'kan?"
__ADS_1
"Aku selalu ingin berteman dengan Tuan Putri!"
"Tapi masih memanggilku dengan gelar?"
"... Karena ini adalah tata krama bangsawan. Maafkan aku, Tuan Putri...."
Lilith juga ikut menunduk dengan dramatis, membuat Stella tidak bisa berkata-kata.
'Apa sekarang kita sedang syuting? Tidak!'
Stella membuang pikirannya dan memakai tasnya, lalu mengibaskan tangan kecilnya dan mengubah topik pembicaraan dengan lihai.
"Ah, sudah waktunya aku pulang."
"Astaga! Tuan Putri benar!"
Lilith, yang menundukkan kepalanya, segera melihat jam dan menarik tangan Stella dengan tergesa-gesa.
"Aku akan mengantar Tuan Putri sampai pintu depan!" katanya sambil mengayunkan tinjunya ke atas.
"Baiklah."
Stella mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju pintu depan sambil bergandengan tangan.
Countess Nidlock, yang berpapasan dengan putrinya dan Stella, tersenyum lembut dan menghampiri mereka.
"Tuan Putri, tolong ambil ini," kata wanita itu seraya memberikan sebuah benda panjang yang tertutup kain tebal. "Saya khawatir dengan keselamatan Tuan Putri. Perbatasan antara Evergard dan Risteard saja sudah berbahaya, apalagi perbatasan antara Evergard dan Sora. Jadi, tolong ambil ini."
"Ini...."
Stella mengambil benda yang diberikan oleh ibunya Lilith dengan ekspresi tercengang. Benda yang kini sudah berada di tangannya terasa akrab.
'Tidak mungkin.'
"Ini adalah pedang. Mungkin tidak sekuat pedang yang dipakai oleh Yang Mulia, tapi pedang ini merupakan salah satu warisan keluarga kami."
'Jangan bilang ... kalau kau sekarang mewariskan pedang keluargamu padaku?'
Stella menatap tidak percaya pada countess yang ada di depannya.
Bisakah seseorang begitu baik?
"Tapi...."
Stella ingin menolak dan mengatakan bahwa dia membawa pedangnya sendiri, namun kata-katanya lebih dulu dipotong oleh wanita bangsawan di depannya.
"Tidak apa-apa. Ini bukan masalah besar. Anggap saja kami memberi hadiah pada salah satu anggota keluarga kerajaan. Lagi pula, kami masih punya banyak yang seperti ini."
'Benarkah kalian punya banyak?'
Stella menatapnya dengan ragu. Tetapi Countess Nidlock mendesaknya agar menerima pedang ini sebagai hadiah, jadi akhirnya Stella menerima pemberian wanita itu dengan enggan.
"Kalau begitu, semoga Anda selamat sampai tujuan. Maaf karena count tidak bisa ikut mengantar Tuan Putri."
"Hati-hati, Tuan Putri!"
Sepasang ibu dan anak itu melambaikan tangan pada Stella yang memasuki kereta. Stella membalas lambaian mereka dari jendela kereta sampai sosok mereka tidak terlihat di matanya.
―――
__ADS_1
Setelah sang putri pergi, Lilith memandang ibunya dengan bingung.
"Lili tidak tahu kalau kita punya banyak pedang dari harta warisan," katanya, menyuarakan pikirannya.
Countess yang mendengarnya tersentak dan tersenyum kaku. Keringat tipis terlihat di wajahnya.
"Sebenarnya ... itu pedang satu-satunya dari harta warisan kita. Tapi Ibu merasa khawatir dengan keselamatan Tuan Putri, jadi buat berjaga-jaga, Ibu memberikan pedang itu padanya."
Lilith terkejut dan memandang ibunya dengan kagum.
"Ibu satu-satunya yang bisa membohongi Tuan Putri. Ibu hebat!" pujinya seraya bertepuk tangan, membuat ibunya tertawa bangga.
"Hohoho, tentu saja. Ibu, 'kan, ibunya Lili!"
'Biarpun sudah bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk, semoga saja Tuan Putri selamat dalam perjalanan pulang,' pikirnya sambil tersenyum.
―――
Sementara itu, di dalam kereta.
Stella mengganti pakaiannya, yang semula mengenakan gaun berganti dengan pakaian anak laki-laki. Dia malu mengakuinya, karena dia mengambil pakaian itu dari lemari pakaian saudara laki-laki Lilith. Bisa dibilang dia "mencuri" pakaian itu, tetapi Stella mengubahnya menjadi "meminjam".
'Aku akan mengembalikan pakaian ini lain kali.'
Setelah berganti pakaian, Stella membayangkan sesuatu di pikirannya dan dengan suara "poof", jubah hitam seukuran tubuhnya muncul di telapak tangannya.
'Bagus.'
Itu adalah jubah hitam yang disimpan Stella menggunakan sihirnya. Dia tidak punya tempat penyimpanan yang mudah dibawa ke mana pun, jadi dia belajar di buku sihir tentang menyimpan benda dengan sihirnya, dan ternyata mengaktifkan sihir penyimpanan tidak sesulit mengaktifkan sihir teleportasi.
Pedang yang dibuat oleh Rielle juga dia simpan menggunakan sihirnya, hanya saja dia lupa menyimpan buku dongeng "The Poor Princess" dan buku sihir yang dibeli oleh Dhemiel, jadi kedua buku itu masih berada di kamarnya.
Setelah mengenakan jubah, Stella membuka pintu kereta dengan diam-diam dan melompat tanpa diketahui oleh kusir kereta. Kereta tetap berjalan dengan santai, sementara Stella mendarat di tanah tanpa cedera sama sekali.
"Fiuh...."
Stella mengembuskan napas lega, kemudian melihat sekelilingnya. Sepertinya dia berada tak jauh dari kediaman keluarga Nidlock. Lalu Stella berjalan ke arah kanan, dia ingat bahwa jalan inilah yang dilewatinya bersama Lilith ketika dia tersesat di Pegunungan Aros.
'Aku hanya perlu jalan lurus. Ya, aku ingat arah jalan ini.'
Berpikir seperti itu, Stella meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia berjalan di jalan yang benar.
―――
"Haaahh...."
Stella menopang tubuhnya di kedua lututnya, terengah-engah. Ia bernapas dengan rakus. Meskipun hanya berjalan, dia tetap merasa lelah. Karena selama hidup di dunia ini, dia tidak pernah berolahraga dan hanya berlatih berpedang.
"Haahh, haahh .... Sial. Kesialan macam apa ini!"
Stella mengusap keringatnya yang mengalir di wajahnya sambil mengeluarkan kata-kata mutiara. Dia tidak hanya kelelahan, tapi juga tersesat!!
'Ah, sial*n. Aku ingat kalau ini jalan yang kulewati saat itu! Tapi, aaghh, kenapa pintu yang kulihat hari itu tidak ada?! Ini sudah jelas kalau aku tersesat!'
Menggerutu kesal di dalam hatinya, Stella kemudian duduk di bebatuan yang sebagian diselimuti salju.
Papan persegi panjang putih seakan terlihat di atas kepalanya dengan tulisan "Tolong pungut aku".
Sekarang dia tampak seperti anak malang yang tidak punya tujuan.
__ADS_1
――――――――――――――
TBC!