Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Eighty Seven (87)


__ADS_3

Stella dan yang lainnya berhasil sampai di Evergard hanya dengan melewati Pintu Pelangi. Saat ini mereka berada di dalam kereta kuda sederhana yang tidak mencolok, sementara Creed menjadi kusir.


Ibukota damai seperti biasanya. Rakyat-rakyat yang berlalu-lalang di jalanan meramaikan suasana, ada juga beberapa bangsawan wanita yang terlihat berkumpul di sebuah tempat mirip toko pakaian. Semuanya terlihat damai dan tenang, tanpa tahu bahwa raja negeri ini sedang berjuang di istana, mempertaruhkan nyawa melawan seseorang yang tidak dikenal.


"Saya dapat informasi bahwa ada sekumpulan orang-orang berjubah hitam yang melawan istana. Diperkirakan bahwa mereka adalah penyihir," ucap Creed memberi tahu ketiga anak kecil itu seraya memacu kecepatan kereta kuda.


'Tidak hanya ada satu penyerang, tapi ada banyak,' batin Stella setelah mendengar ucapan kesatria itu, lalu memikirkan solusi untuk melawan mereka. 'Apakah ada cara yang efektif untuk melawan mereka?'


"... Dan ternyata pemimpin penyerangan itu memiliki mata merah, seperti Nona."


Kata-kata selanjutnya dari Creed membuat Dhemiel, yang duduk di sampingnya, menatap Stella dengan curiga. Tatapan yang sama juga diarahkan Ester pada Stella.


"Tidak ada yang memiliki mata merah di keluargaku selain aku," ucap Stella setelah mengerti kecurigaan mereka sekaligus membela diri, namun Dhemiel masih terlihat tidak memercayainya.


"Kita tidak tahu apakah kau berbohong atau tidak. Bisa saja kau sekomplotan dengan mereka."


"Aku tidak begitu," timpal Stella seraya menatap anak laki-laki di sampingnya dengan dahi mengerut, merasa sedikit tersinggung. "Memang apa gunanya aku membantu kalian kalau aku adalah musuh?"


"Bisa saja itu hanya alibi untuk membantu sekutumu ketika sudah sampai di istana," balas Dhemiel tak mau kalah, yang dianggap masuk akal oleh Ester dan Creed saat mendengarnya.


Stella diam, menyadari bahwa dia tidak akan menang berdebat dengan saudaranya yang satu ini. Juga tidak ada gunanya membela diri lagi karena begitu mereka sampai di istana, kebenaran akan terbongkar bahwa dia bukanlah musuh mereka.


'Sekarang yang harus kupikirkan adalah cara untuk melawan penyerang ini.'


Sementara itu, Dhemiel yang duduk di dekat jendela menyadari bahwa Stella tidak menyangkal atau menyetujui ucapannya, dan dia mencapai kesimpulan bahwa kata-katanya benar. Jadi dia menyilangkan tangannya dan mendengkus.


"Ha, apa ini? Kenapa kau tidak menyangkal ucapanku? Apakah aku benar?"


Tapi tidak ada balasan sama sekali. Dhemiel menyadari hal itu dan merasa sedikit kecewa saat tahu bahwa anak perempuan di sampingnya adalah musuh, yang datang membantu sekutunya dengan berpura-pura menjadi orang baik. Dia mengerutkan keningnya saat menyadari ada perasaan tidak senang timbul di hatinya.


'Kenapa aku jadi jengkel saat tahu dia adalah musuh?' pikirnya dengan pandangan bingung. 'Masa ... apa karena dia sekilas mirip dengan Stella?'


Dia tidak tahu kenapa, tetapi sejak pertama kali dia melihat anak perempuan itu, bayangan Stella langsung muncul di pikirannya. Ini pertama kalinya dia merasa bahwa orang lain adalah keluarganya sendiri. Dan dia menganggap bahwa perasaan seperti itu sangat aneh.


'Iya, ya. Kalau dilihat lebih teliti, memang fitur wajahnya mirip Stella.'


Dhemiel mulai mengamati "Ellia", membandingkannya dengan Stella. Bentuk wajah yang ramping mirip dengan ayahnya, lalu hidung kecil yang mancung terlihat menonjol di antara sepasang mata merah yang jernih itu, kemudian bibir kecilnya yang sedikit kemerahan terlihat seperti kelopak bunga di musim semi.


"Ellia" memang mengenakan pakaian laki-laki yang modelnya terlihat lama, tetapi kulitnya yang putih dan terawat membuktikan bahwa dia berasal dari keluarga kaya. Rambut pirangnya yang sedikit bergelombang diikat, itu juga terlihat halus dan terawat.


'Hah? Kenapa bentuk poninya juga sama dengan Stella?'


Dhemiel tiba-tiba menyadari hal ini. Rasanya aneh saat melihat orang lain memiliki kemiripan dengan Stella, tapi dia bisa mentolerir hal itu karena bisa saja kemiripan mereka hanya sebuah "kebetulan". Namun kenapa bentuk poninya juga sama? Apakah itu juga termasuk sebuah kebetulan?


'Tidak, kalau dipikir-pikir, suaranya juga sama seperti Stella!'


Karena sudah lama waktu berlalu sejak Stella menghilang, dia jadi lupa dengan suara adiknya. Tidak, lebih tepatnya, dia hanya bisa mengingat secara samar. Namun, setelah dipikirkan kembali, suara "Ellia" memang mirip dengan suara Stella. Jika saja warna rambut dan matanya diubah, maka Dhemiel akan mengira bahwa dia adalah Stella.


'Tunggu ... mengubah?'


Dhemiel terkesiap ketika ingatan yang jauh tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia benar-benar mengingatnya sekarang. Jika tidak salah, saat itu ... di kereta kuda ... dia juga melihat bahwa mata ungu Stella berubah menjadi merah.


"Hah!"


'Tidak mungkin!!'


"Ada apa, Pangeran?"


Suara napasnya yang terkejut menjadi pusat perhatian di dalam kereta. "Ellia" melirik ke arahnya sedangkan Ester mengajukan pertanyaan. Dhemiel segera mengatakan bahwa dia baik-baik saja, yang tentunya tidak dicurigai oleh kedua orang itu. Lalu dia menatap "Ellia" sebentar, sebelum akhirnya mengalihkan wajahnya ke arah lain.


...―――...


Stella turun dari kereta dengan tergesa-gesa dan berlari menuju Istana Everstell. Dari kejauhan, dia bisa melihat asap yang mengepul ke langit, tanda bahwa sudah ada sesuatu yang terjadi di sana. Sesampainya di depan gerbang, mata merahnya menangkap pemandangan menyedihkan di mana setengah dari bangunan istananya hancur, menyisakan puing-puing bangunan yang berserakan di tanah.


'Apa-apaan ini...?'


Apa yang sudah terjadi sampai-sampai istananya yang sangat sederhana pun hampir hancur?


"Haa, siapa yang―"


Swuuungg!


"Agh!"


Stella menjerit kesakitan saat sebuah anak panah meluncur dari belakangnya dan berhasil menggores pipinya. Untungnya dia memiliki kemampuan refleks yang tinggi, namun dia agak kecewa karena anak panah itu berhasil melukai pipinya. Dia menoleh ke belakang dengan cepat, bertatapan dengan seorang pria dengan jubah hitam yang membawa busur dan panah.

__ADS_1


'Katanya yang menyerang adalah penyihir, tapi kok ada pemanah juga?!'


Lalu mata merahnya membelalak ketika melihat pria itu tersenyum menyeringai. Mendengkus dengan kasar, Stella mengepalkan tangannya, merasa kesal saat tahu bahwa pria itu meremehkannya.


"Ohh, seru juga," ejeknya sambil tertawa, lalu Stella mengarahkan telapak tangannya ke depan dan memanggil bala bantuan, "Nigreos sayang, muncul!"


Criiingg!


Lingkaran sihir warna merah muncul di tanah dan berputar, menyebabkan guncangan kecil. Sesosok bayangan hitam yang tinggi perlahan muncul dari dalam lingkaran sihir itu. Sepasang tanduk kemerahan yang terlihat tajam dan kuat pun terlihat di kepala sosok itu. Tidak ada lagi tangan hitam raksasa seperti dulu, kini Nigreos sudah berevolusi dan memiliki bentuknya sendiri. Matanya yang tertutup perlahan terbuka, memperlihatkan iris merah gelap khas bangsa iblis.


"Lalu, serang."


Nigreos segera melesat dengan kecepatan tinggi, memunculkan sebuah sabit hitam di tangannya. Sementara pria pemanah itu tampak tertegun dan gemetaran ketika berhadapan dengan sosok iblis yang sesungguhnya.


"Hmp."


Stella berbalik seraya mendengkus, puas melihat reaksi pria itu. Sepasang kakinya melangkah di sekitar istananya yang hancur, berusaha mencari Suzy.


"Suzy!"


Teriakannya menggema di langit, namun tidak ada jawaban. Stella kembali berteriak, berharap Suzy mendengar teriakannya.


"Suzy! Kau di mana?"


Tap.


Di belakang Stella, langkah kaki seseorang terdengar dan berhenti beberapa jengkal di belakangnya. Dia mengambil pedang yang terikat di pinggangnya dan mengarahkan pedang itu ke arah anak perempuan di depannya.


Syung! Tak!


Dua pedang yang berbeda saling berbenturan satu sama lain. Tak lupa dengan dua pasang mata merah yang sama bertatapan pada detik itu juga.


"Hai."


Sapaan "ramah" itu terdengar, bersamaan dengan pria itu yang mengayunkan pedangnya. Stella merasa sedikit terkejut ketika melihat pria itu, yang entah kenapa mengingatkannya pada seseorang. Lalu dia menahan serangan dari pria itu dan menyerang balik.


Trang!


Bunyi pedang yang berdenting dan pertarungan yang seimbang terjadi pada saat itu.


Stella meloncat, mengayunkan pedangnya, dan berputar.


Swish!


Bahu kiri pria itu berhasil tergores. Stella tidak membuang kesempatan dan kembali mengayunkan pedangnya.


'Tidak, tuh!'


Dia melirik pria itu dengan tatapan puas, namun pria bermata merah itu tidak meringis ataupun menyerang balik, dia justru menyeringai kecil.


'Hah....'


Belum sempat Stella berpikir, lengan tangannya ditarik dan tubuhnya dilempar ke tanah dengan kejam.


Duak!


"Agh!"


Sakit. Nyeri. Itulah yang dirasakan Stella saat ini. Rasanya seperti tulang punggungnya patah. Kepalanya juga terbentur cukup keras hingga membuatnya merasa pusing. Mata merahnya berusaha terbuka, tetapi yang terlihat di dalam pandangannya tampak kabur.


"Akh, sakit...!" ringisnya sambil berusaha bangun, namun tenaganya tidak cukup hingga dia jatuh beberapa kali. "Eh?"


Tangannya yang tanpa sadar memegang kepalanya yang pusing seketika membeku ketika merasakan cairan yang kental dan hangat menutupi telapak tangannya. Stella segera melihat telapak tangannya, lalu terdiam membisu ketika melihat gumpalan darah merah di sana.


'Darah? K-kepalaku....'


"Kena kau."


Suara pria itu membuat pikiran Stella teralihkan. Dia melihat ke arah orang gila itu, yang tersenyum tenang.


"Apa yang kau lakukan.... Argghh!"


Tubuhnya tiba-tiba terasa seperti dirantai oleh sesuatu yang tidak terlihat, mengikatnya dengan kencang. Stella melirik ke tanah dengan cepat, hanya untuk mendapati lingkaran sihir ungu gelap berada di tempatnya duduk.


"Saksikanlah bagaimana kehancuran keluargamu dari sini."

__ADS_1


Kata "keluarga" dari pria itu membuat Stella membeku. Kepalanya mendongak dan bertatapan dengan wajah orang-orang yang sangat dikenalnya.


"Ayah! Kakak! Suzy!!"


Bibirnya tanpa sadar memanggil mereka dengan suara yang sedikit gemetar.


Melihat reaksi anak perempuan itu, pria bermata merah itu tersenyum puas.


"Aku sudah menantikan saat ini. Hari di mana anggota keluarga kerajaan mati."


'Gila...! Dasar gila! Kau apakan mereka, hah?!'


Stella melotot tajam ke arah orang gila itu, namun pria itu tampak tak terpengaruh dan melanjutkan ucapannya.


"Apalagi di sini ada barang langka yang hadir. Pemilik mata merah dan rambut pirang, serta pemilik aura Dewi Kematian. Aku sudah menunggu hari di mana aku menyiksamu seperti ini."


Mata merah pria itu bersinar dengan pandangan kejam. Senyuman licik yang terlihat memuakkan itu tampak penuh dengan kebencian yang pekat.


"Sekarang lihatlah, bagaimana orang yang kau sayangi mati di depan matamu, seperti aku dulu."


Jari tangan pria itu perlahan mengeluarkan percikan api. Bedanya, api yang keluar dari tangannya berwarna hitam gelap. Lalu dia mengarahkan api hitam itu ke arah Raja Shavir dan yang lainnya secara perlahan-lahan.


Deg, deg, deg!


Entah kenapa jantung Stella berdebar tidak karuan. Wajahnya memucat kala pikiran-pikiran negatif menyerang kepalanya.


Dia hanya jiwa malang yang masuk ke tubuh Putri Stella. Dia hanya ingin hidup tenang sampai jiwa Putri Stella yang asli ditemukan. Dia juga tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, apa yang mereka lakukan, dan apa yang terjadi pada mereka.


Dia seharusnya tidak peduli jika mereka mati karena terbunuh.


'Aku seharusnya tidak peduli. Tapi kenapa....'


Tapi kenapa rasanya menyesakkan?


Benarkah bahwa pria itu, yang membuangnya dulu dan kini mulai memberi perhatian padanya, adalah ayahnya?


Benarkah bahwa anak laki-laki itu, yang tidak pernah mengunjunginya dulu dan sekarang berusaha mendekatinya, adalah kakaknya?


Benarkah bahwa mereka adalah keluarganya?


Jika mereka mati, maka seharusnya dia tidak apa-apa, bukan?


Tapi kenapa ... kenapa rasanya ada batu yang menancap di hatinya? Kenapa rasanya sakit sekali saat melihat mereka berada di ambang kematian?


Tes, tes, tes.


'Tanpa kusadari, aku....'


Stella memejamkan matanya, berusaha menghentikan tetesan air mata yang jatuh dari kelopak matanya.


'... Menyayangi kalian.'


Tapi dia tidak ingin melihat mereka mati sekarang. Masih ada banyak hal yang belum mereka lakukan. Hubungan buruk di masa lalu pun masih belum diperbaiki.


Stella juga ingin bersama mereka seperti keluarganya yang sesungguhnya. Dia juga ingin makan bersama mereka, tidur bersama mereka, dan menghabiskan waktu bersama mereka.


Masih ada banyak hal yang belum dilakukan bersama-sama.


Karena itu, mereka tidak boleh mati.


'Aku ingin semua yang sudah terjadi di masa lalu diperbaiki. Aku ingin kita ... memulai hidup yang baru sekarang!'


Permohonan untuk mengawali awal dari kehidupan yang baru pun dimulai.


Criiinggg!


―――――――――――――――


Next chapter~


Bab 88. Eighty Eight (88).


"Siapa ... siapa? Aku tidak mengenal Anda...."


TBC!

__ADS_1


__ADS_2