Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Seventy (70)


__ADS_3

Lilith Nidlock, anak bungsu dari Count Nidlock, sekaligus tunangan Dhemiel. Dia cukup populer di kalangan bangsawan. Bisa dibilang dia adalah anak populer ketiga setelah Xylia, yang pertama tentu saja Dhemiel.


Meskipun keluarganya termasuk bangsawan tingkat menengah, tapi mereka banyak berkontribusi dalam perang. Jadi dari semua anak perempuan bangsawan yang ada di kerajaan ini, Lilith-lah yang dipilih menjadi tunangan Dhemiel.


Pertunangan mereka telah diumumkan dua tahun yang lalu, yang membuat Lilith semakin terkenal. Walau begitu, para ibu-ibu bangsawan tidak begitu peduli, mereka tetap mendadani anak perempuan mereka untuk menjadi yang tercantik agar menarik perhatian sang pangeran mahkota.


Itu karena ketika Dhemiel melakukan upacara kedewasaannya, maka acara "Pemilihan Putri Mahkota" akan resmi diselenggarakan.


Itu artinya, status Lilith sekarang hanya sebagai "tunangan sementara". Jika saat pemilihan putri mahkota nanti Lilith mengalami kekalahan, maka gelarnya akan diambil oleh orang lain. Lalu pertunangannya dengan Dhemiel akan dibatalkan, dan orang yang memenangkan gelar "Putri Mahkota" akan menjadi tunangan resmi Dhemiel.


Ironis sekali.


Setelah mendengar informasi dari Lucca, orang yang diperintahkan Stella untuk mencari informasi tentang Lilith, Stella merasa simpati dengan anak perempuan itu.


Lalu jika dia kalah, apa yang akan terjadi padanya?


Membayangkan bagaimana Lilith terisak karena gelarnya diambil oleh orang lain, entah kenapa Stella merasa sedih.


Saat ini, Lilith mungkin akan merasa bahwa Dhemiel adalah temannya, bukan tunangannya. Tapi bagaimana saat dia dewasa nanti? Tidak mungkin jika dia tidak memiliki perasaan terhadap anak laki-laki itu. Mustahil.


Jika seandainya Lilith mengetahui bahwa dia menyukai Dhemiel, lalu kalah dalam pertempuran merebutkan gelar "Putri Mahkota", kemudian melihat Dhemiel bertunangan dengan orang lain, maka bagaimana perasaannya saat itu?


Hatinya mungkin akan hancur.


Membayangkan adegan itu saja sudah membuat Stella meringis, padahal bukan dia yang merasakannya.


Walaupun Stella tidak tahu bagaimana rasanya patah hati, tapi dia sudah tahu bagaimana rasanya saat pertunangan yang sudah berlangsung lama diputuskan secara tiba-tiba, dan orang yang memutuskan pertunangan itu justru menikah dengan orang lain.


Aku mengalaminya di kehidupanku sebelumnya.


Stella mengalami peristiwa menyakitkan itu di kehidupannya yang lalu. Meskipun dia tidak menyukai tunangannya, tapi melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa mantan tunangannya menikah dengan orang lain membuat hatinya tergores.


Aku tidak akan membiarkan Lilith mengalami kejadian yang sama denganku.


Lalu Stella, yang berdiri dari sofa, memanggil Suzy.


"Tolong ambilkan mantel berbulu yang diberikan Ayah padaku."


"Baik, Tuan Putri."


Suzy memberikan nampan berisi cangkir teh itu kepada Bonnie, kemudian memasuki kamar Stella dan mengambil mantel berbulu yang diberikan Raja Shavir semalam. Dia segera menghampiri Stella dan memakaikan mantel berbulu itu, membungkus tubuh Stella.


"Apakah Tuan Putri akan pergi?"


"Iya."


"Tapi ke mana? Ini masih pagi."


"Aku akan pergi menemui Ayah untuk meminta izin."


Suzy memandangnya dengan khawatir, takut kalau nantinya tuannya kembali pulang dalam keadaan sakit.


"Apakah sebaiknya Tuan Putri tidak usah pergi?"


"Aku baik-baik saja."


"... Baiklah."


Suzy mengembuskan napas berat, lalu tersenyum.


"Hati-hati di jalan, Tuan Putri."


Para pelayan lainnya yang melihat kepergian Stella ikut mengantarnya.


"Semoga hari Anda menyenangkan!"


Stella melambaikan tangannya, tersenyum kecil, kemudian mulai berjalan menuju Istana Evercius.


Lilith, tunggu aku!


Dia bersenandung ria di dalam hatinya.


Sepanjang jalan menuju Istana Evercius, Stella tidak melihat para pelayan berlalu-lalang. Suasana sepi menyambutnya. Rasanya aneh, tapi dia tetap melangkah. Ketika mencapai gerbang Istana Evercius, suara seseorang terdengar dari halaman istana, membuat langkahnya terhenti.


"Maaf, Yang Mulia. Aku harus pergi sekarang. Aku ingin menemui Tuan Pu―"


"Kenapa kau terburu-buru begitu, Xylia? Kita sudah lama tidak minum teh bersama."


"Dhemiel benar."

__ADS_1


"Tapi...."


"Jangan pikirkan hal lain! Ayo kita nikmati waktu santai hari ini."


Apa?


Stella mengintip dari balik dinding yang menyangga gerbang, menatap tidak percaya pada adegan yang tampak di matanya.


Di halaman Istana Evercius, tiga sosok yang sangat dia kenal sedang menghabiskan waktu bersama dengan harmonis. Di sana ada Xylia dan keluarganya. Kursi ketiga, yang seharusnya adalah tempatnya, diduduki oleh Xylia. Rasanya seolah-olah posisinya di keluarganya sendiri tersingkirkan.


Kenapa bisa begini?


Hatinya terasa sakit saat mengetahui bahwa dia tidak diundang ke acara itu sama sekali. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Stella harus mengetahui bagaimana Raja Shavir dan Dhemiel hanya mengajak Xylia dan bukannya dirinya.


Ayo menguping.


Setelah itu, percakapan antara ketiga orang itu berlangsung.


"Makan ini, Xylia. Ini adalah kue kesukaanmu."


"Ahaha, iya. Tapi...."


"Cobalah ini juga, Xylia."


"A-aku tidak bisa menerima ini...."


"Kenapa?"


"Ka-karena aku harus menemui Tuan Putri."


"Tuan Putri?"


Suara Raja Shavir, yang tadinya lembut, kini menjadi dingin.


"Memangnya ada seorang putri di sini?"


"Ya?"


Xylia tampak bingung, tidak mengerti alasan pria di depannya mengatakan kata-kata tajam itu.


"Tentu saja ada. Dia adalah Putri Stella. Bukankah Yang Mulia dan Pangeran Dhemiel pergi ke pesta bersamanya kemarin?"


"Maaf?"


"Jangan mengucapkan kata-kata konyol itu, Xylia."


Sekujur tubuh Xylia merasa merinding ketika mendengarnya. Tatapan tajam itu masih memandangnya, membuatnya gemetar.


"Aku tidak punya seorang anak perempuan."


"Ta-tapi...."


"Di sini tidak ada seorang putri. Apakah kau melihat seorang anak perempuan yang mirip denganku? Kau sudah tertipu, Xylia. Dia palsu."


Dhemiel, yang merasakan suasana beku di sekitarnya, segera menghentikan ayahnya.


"Hentikan, Ayah. Xylia menjadi takut."


"Benarkah?"


Seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi, suara dingin itu lenyap dalam sekejap, yang terdengar hanya suara hangat seseorang yang sedang mengkhawatirkan anak perempuan bermata hijau di depannya.


"Apa kau baik-baik saja, Xylia?"


"I-iya...."


"Tapi kau gemetar! Seseorang, panggil dokter!"


Syut―!


Sementara itu, dari kejauhan, Stella membalikkan badannya, bersandar di dinding dengan wajah gelap.


Kenapa ... aku bersembunyi seperti ini?


Seharusnya ia tidak perlu bersembunyi. Tidak apa-apa jika Raja Shavir melihatnya menguping. Tapi entah mengapa, dia tidak ingin dilihat oleh siapa pun dalam keadaan kacau seperti ini. Ini memalukan. Tidak, ini menyakitkan.


Stella menggigit bibirnya. Matanya terasa memanas. Cairan bening menggenang di kelopak matanya, sebelum akhirnya turun ke pipinya.


Padahal dia sudah menerima mereka, padahal dia sudah memberikan hatinya pada mereka, tapi pada akhirnya dia ditinggalkan dan dibuang begitu saja, seolah-olah perlakuan hangat mereka kemarin adalah mimpi panjang yang sudah berakhir.

__ADS_1


Dia tidak bisa menerima kenyataan pahit yang terjadi hari ini.


Aku ... aku ... aku ingin pergi dari sini!


Tanpa disadari Stella, sihir teleportasi berhasil diaktifkan. Dia segera menghilang di udara. Mantel berbulu yang membungkus tubuhnya sudah tidak ada lagi. Itu tergeletak di tanah tempatnya berdiri tadi.


―――


"Ini adalah hadiahku untukmu, Putri Barbiel yang sangat imut!"


"Ma'acih, Auoa!" (Terima kasih, Aurora!)


"Kyaaaa!"


Gadis berambut biru muda itu, Aurora, tertawa riang sambil mencubit pipi Barbiel.


"Berhenti mengganggu bayi itu, Aurora."


Di sampingnya, seorang pria dengan rambut hitam menegurnya. Aurora tidak peduli padanya, berpura-pura tidak mendengar.


"Hei, Barbiel. Apa kau mendengar suara tadi?"


"Gak!" (Tidak!)


"Aku juga tidak mendengar apa pun."


Pria di samping Aurora, Elvin, berdecak. Meskipun dia sudah terbiasa diabaikan oleh istrinya, tapi tetap saja rasanya menjengkelkan.


Aurora dan Barbiel tertawa saat melihat reaksinya.


Swooosh!


Saat itu, sesuatu tiba-tiba berputar-putar di depan mereka, dikelilingi cahaya berwarna emas yang menyilaukan mata.


"Tetap di belakangku, Aurora!"


Elvin menjadi waspada. Dia segera mengeluarkan pedangnya.


"Barbiel!"


Aurora memanggil balita itu dengan cemas ketika melihatnya pergi dari pelukannya.


Tapi Barbiel, yang merasakan mana akrab di sekitarnya, segera menghentikan pasangan suami-istri itu.


"Unggu! Ini adwalah―"


Swooosh!


Cahaya emas itu perlahan menghilang. Bayangan seseorang segera terlihat.


"Kakak!"


"Putri Stella?"


Ketiga orang itu memanggil di saat yang bersamaan.


Sementara itu, Stella, yang tidak tahu bahwa dia akan berteleportasi ke tempat ini, menatap Barbiel dengan tatapan kosong.


"Kakak?"


Seolah tersadar, Stella terengah-engah dengan ekspresi terluka. Kata-kata Raja Shavir tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Kelopak matanya secara otomatis menjadi basah.


"Barbiel...!"


Dia memanggil balita itu dengan putus asa.


Tolong ... bawa aku pergi dari sini!


――――――――――――――


wahhh, gak nyangka udh sampe bab 70!!!🎉🎉


dari semua cerita yg aku buat (dari tahun 2019 sampe skrng belum ada yg tamat #hiks😂🤧) cuma ROTPP yg bisa tembus 70 bab😘


daku terhuraaaa😭😭😭❤️❤️


semoga novel ini bisa tembus 100 bab #amiiin😍


aku ucapin terima kasih buat para pembaca yg masih setia nungguin novel ini up, semoga kalian gk kabur~😂

__ADS_1


TBC!


__ADS_2