Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Thirty (30)


__ADS_3

Kunjungan tidak terduga datang dari Dhemiel. Beberapa hari belakangan ini, Dhemiel sering mengunjungi Stella dengan alasan "Aku bosan", atau "Ada Xylia di sini, jadi aku ke istanamu". Awalnya, ketika Dhemiel datang berkunjung, dia tidak akrab dengan Zhio, terkadang mereka sering bertengkar untuk suatu hal yang sepele. Tetapi lama-kelamaan, mereka berdua menjadi akrab.


Setiap kali tiga orang itu datang mengunjunginya, Stella merasa bahwa umurnya telah berkurang satu tahun.


Di dalam buku dongeng yang dibacanya, Dhemiel tidak dekat dengan Putri Stella yang asli, Xylia tidak menyukainya, dan Zhio tidak pernah bertemu dengannya!


Itu artinya, bukankah ini menyimpang dari kisah aslinya?


Menurut Stella, semakin dia dekat dengan orang-orang di sekitarnya, maka semakin banyak masalah yang tak berujung datang padanya. Selain itu, karena mereka datang mengunjunginya, Stella jadi tidak bisa membaca buku-buku sihir yang diberikan Azalea padanya. Hal itu membuatnya merasa tertekan dan frustrasi.


Sekarang, kunjungan yang tidak diinginkan Stella terjadi. Dia menatap ke arah Dhemiel dengan datar.


"Aku tidak mau ikut," katanya dengan tegas.


Mendengar perkataan Stella, kekecewaan tergambar dengan jelas di wajah Dhemiel dan Xylia. Stella mengalihkan pandangannya, berpura-pura tidak melihat ekspresi wajah mereka.


Ini adalah yang ke sekian kalinya Dhemiel mengajaknya berjalan-jalan. Kemarin, mereka berjalan-jalan di sekitar Istana Everiel―istana tempat tinggal Dhemiel. Kemarinnya lagi, mereka berjalan-jalan di taman bunga pribadi milik raja yang ada di Istana Evercius, dan kemarin, kemarinnya lagi, mereka berjalan-jalan di sekitar area terlarang yang ada di Istana Everlexa.


Ketika mereka berempat berjalan-jalan di tempat-tempat nomor dua dan tiga itu, Stella merasakan ketegangan yang luar biasa menyelimuti dirinya.


Bagaimana jika Raja Shavir menemukan mereka, lalu dia mati di tempat? Bagaimana jika itu terjadi?


Beruntungnya, saat itu Raja Shavir sedang tidak ada di istananya, Dhemiel mengatakan kalau Raja Shavir ada pertemuan penting dengan para bangsawan, jadi Stella tidak jadi kehilangan nyawanya.


Pada saat itu, Stella bisa mengembuskan napas lega.


Tetapi, bagaimana dengan sekarang?


Jika Dhemiel mengajaknya berjalan-jalan di sekitar ruangan pribadi raja atau di tempat-tempat semacamnya yang tidak diizinkan masuk tanpa izin sang raja, bisakah dia bernapas lega?


Seakan bisa memahami isi pikiran Stella, Dhemiel segera berkata dengan nada membujuk, "Ayolah, Stella, kau tenang saja. Kita tidak akan berkeliling kerajaan lagi, tapi kita akan pergi ke ibukota! Bermain-main di sana!" katanya sambil mengekspresikan wajah bersemangatnya.


Xylia, yang semula duduk, kini menyelinap pergi ke arah Stella sambil berucap, "Ya, ya, Tuan Putri! Ayo, kita pergi ke ibukota! Kita akan bersenang-senang di sana! Lagi pula, tidak baik kalau Tuan Putri hanya terkurung di sini."


Di sisi lain, Stella menyipitkan matanya, lalu menatap dua orang itu secara bergantian.


Dhemiel, yang menyadari bahwa Stella sedikit ragu-ragu dengan tawarannya, segera merangkul Zhio.


"Kau juga ikut, 'kan, Zhio? Kalau kita bertiga setuju untuk ikut, maka Stella harus ikut juga!" ucapnya, kemudian menatap Zhio dengan tatapan memaksa yang berarti "Ikut sajalah!".


Mendapat tatapan seperti itu dari Dhemiel, Zhio pun mengangguk dengan pasrah.


"Ya .... Aku juga ikut," balasnya dengan malas, terdengar jelas kalau nada suaranya tidak seperti Dhemiel dan Xylia yang bersemangat.


Melihat mereka berdua yang sangat bersemangat membujuknya untuk pergi ke ibukota, Stella menghela napas. Pada akhirnya, Stella mengganti pakaian yang dikenakannya menjadi seperti pakaian rakyat biasa, kemudian pergi ke ibukota bersama mereka.


...―――...


"Beli lima tusuk sate dapat gratis satu! Ayo, dibeli!"


"Akan ada pertunjukan menari nanti sore! Silakan datang dan lihat!"


"Ini adalah makanan sehat yang penuh dengan gizi! Dagingnya tidak berlemak!"

__ADS_1


Ketika mereka tiba di ibukota melalui portal teleportasi yang dibuat Zhio, suara bising dan padatnya orang-orang berjualan menyambut kedatangan mereka.


Portal teleportasi yang dibuat Zhio membawa mereka ke sudut ibukota, tempat di mana para pedagang berkumpul menjajakan dagangan mereka.


Itu adalah tempat yang belum pernah dikunjungi Stella.


Ketika Stella pergi ke ibukota bersama Jesriel untuk pertama kalinya, tempat yang didatanginya dipenuhi bangunan-bangunan seperti toko, tidak seperti tempat itu yang dipenuhi berbagai macam makanan.


Entah mengapa, saat melihat berbagai makanan yang ada di depan matanya, Stella menjadi lapar, dia berniat mencoba makanan-makanan itu satu per satu.


'Akhirnya, makanan-makanan yang tidak pernah ada di kehidupanku sebelumnya bisa kumakan sekarang!' batinnya, bersemangat.


"Nah, kalau begitu, ayo kita bersenang-senang!"


Dhemiel berucap, memimpin kelompok kecil itu menuju stand-stand makanan yang ada di tempat itu.


"Ya, ayo!" balas yang lainnya dengan semangat, bahkan Stella dan Zhio―yang mulanya diajak secara paksa―menjadi bersemangat.


Mereka pun berjalan beriringan.


Stella menolehkan kepalanya ke berbagai arah, dia kebingungan.


Makanan manakah yang harus dicobanya lebih dulu?


Setelah itu, tatapan Stella mengarah pada potongan-potongan daging yang sudah ditusuk. Aroma daging itu menyebar, membuat Stella berjalan ke arah stand makanan itu.


"Apa Anda ingin mencoba ini, gadis kecil?"


Pedagang itu bertanya dengan ramah. Dia adalah seorang pria paruh baya dengan janggut pendek berwarna abu-abu.


Stella langsung menjawab dengan semangat. Pada saat ini, dia melupakan fakta bahwa makanan itu tidak akan diberikan padanya secara gratis.


Pedagang itu tersenyum, kemudian memberikan satu tusuk daging yang sudah dipanggang pada Stella.


"Cobalah," katanya dengan lembut. Stella mengambil tusuk daging itu dan mencobanya.


Potongan-potongan daging yang sudah dipanggang itu terasa lembut di mulutnya. Dia bahkan mengira bahwa inilah yang disebut kesenangan surgawi.


"Gadis kecil, itu tidak gratis. Anda harus membayarnya."


Baru pada saat itulah, Stella tersadar dari kenyataan.


Dia segera terbatuk, "Uhuk, uhuk!"


Sementara Stella terbatuk, pria yang berdagang itu tersenyum licik.


"Oh, gadis kecil. Anda sudah memakannya, jadi berikan bayaran tusuk daging itu pada saya."


'Dasar pedagang licik!'


Stella mengutuk pria itu. Jika saja dia tahu hal ini akan terjadi, maka dia tidak akan memakan tusuk daging itu.


'Sekarang, aku harus membayarnya. Tapi ... aku baru ingat kalau aku tidak membawa uang sepeser pun!'

__ADS_1


Pikiran Stella menjadi kosong. Dia tidak sempat mengambil beberapa keping uang dari istananya karena Dhemiel dan Xylia sudah menyeretnya terlebih dahulu ke tempat ini. Setelah itu, Stella tersadar, kepalanya celingukan, mencari seseorang.


Tepat pada saat itu, sosok yang dicarinya terlihat tak jauh dari tempatnya. Kemudian, Stella menatap pedagang itu.


"Paman, aku dibawa oleh kakakku ke sini, jadi biarkan dia yang membayarnya!" kata Stella dengan nada sedikit kekanak-kanakan, lalu jari mungilnya menunjuk ke arah Dhemiel. "Dia ada di sana, aku akan segera memanggilnya, jadi tunggu aku di sini."


"Ya, ya. Suruh kakakmu membayarnya," balas pedagang itu sambil melambaikan tangannya.


Setelah itu, Stella berjalan menuju tempat Dhemiel. Tangannya menarik pakaian yang dikenakan anak laki-laki itu, membuat Dhemiel menoleh.


"Ada apa?" tanyanya dengan bingung.


"Aku makan di sana, lalu paman itu meminta bayaran, tapi aku tidak membawa uang," jawab Stella sambil menunjuk stand tusuk daging yang ada di belakangnya.


"Jadi?"


"Mana uangnya?"


"Hah?"


"Kau yang membawaku ke sini, jadi bayarkan makananku!"


Dhemiel terdiam sejenak, kemudian ber-oh panjang.


"Ohh .... Kau memintaku membayarkan makanan yang kaumakan?"


Stella mengangguk.


"Aku akan bayar, tapi dengan satu syarat!"


'Cih. Mentang-mentang punya uang,' batin Stella dengan kesal.


"Apa itu?" tanya Stella akhirnya.


Di depannya, Dhemiel tersenyum dengan licik, membuat Stella merasakan firasat yang tidak baik di hatinya.


"Panggil aku "kakak", kemudian aku akan membayar makananmu," jawab Dhemiel sambil tersenyum bangga.


"Hanya itu saja?"


"Oh, ada tambahan. Kau harus memanggilku dengan nada dan wajah yang imut. Buat itu terlihat alami!"


Awalnya, setelah mendengar perkataan Dhemiel, Stella ingin meneriakinya dengan kata-kata "Apa kau pikir aku beneran anak kecil berumur 5 tahun?! Aku sudah besar!", tetapi akhirnya dia ingat kalau Dhemiel tidak tahu tentang asal-usulnya, jadi Stella menelan kata-kata itu.


"Kenapa? Apa kau tidak mau?" tanya Dhemiel dengan senyum menantang, membuat Stella merasa jengkel.


"Aku bisa melakukannya!" jawab Stella dengan yakin. "Hanya bilang "kakak" dengan wajah imut saja, 'kan? Aku bisa, kok, seperti itu."


"Kalau begitu, cobalah."


――――――――――――――


__ADS_1


mulanya mau gambar Stella, tpi gk sempet, gk ada waktu, tugas numpuk😌, jdinya post gambar yg udh lama aja, moga suka😆


TBC!


__ADS_2