Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fifty Six (56)


__ADS_3

Pikiran Stella langsung menjadi kosong. Seolah tersadar, Stella tiba-tiba tersentak. Segera, dia menutup buku itu, lalu membukanya, tetapi tetap saja isinya kosong. Seketika pikiran Stella dipenuhi beribu tanda tanya.


Apa ini? Apakah aku mengkhayal lagi? Tidak, mana mungkin. Sekarang masih pagi.


Menyangkal pikirannya, Stella mengulangi aksi tadi.


Menutup.


Membuka.


Menutup.


Membuka.


Aksi itu dilakukan Stella berulang kali hingga tangannya terasa pegal.


"Ugh...." Stella mengerang seraya memijat tangannya, lantas bergumam, "Aku yakin kalau aku sedang tidak berkhayal sekarang."


Tapi, kenapa bukunya tiba-tiba kosong? Padagal tadi tulisannya masih ada, pikir Stella sembari menatap buku bersampul merah muda itu dengan cermat.


Secara mendadak, perkataan seorang pria tua yang ditemui Stella di toko buku yang ada di ibukota tiba-tiba melintas di pikirannya.


"Ternyata kau membeli buku itu. Apa kau bisa membaca tulisan yang ada di buku itu?"


Hah!


Mata ungu Stella terbuka lebar, seolah-olah baru saja mendapat pencerahan.


Jadi itu maksudnya!


Stella segera bangkit dari posisi tidurnya.


Orang itu pasti tahu kalau tulisan di buku ini tiba-tiba menghilang dengan sendirinya dan muncul lagi, itulah sebabnya saat itu dia bertanya seperti itu padaku!


Beranjak, Stella menuruni tempat tidur, lalu memasuki ruang ganti, tempat di mana gaun-gaunnya berada, Suzy telah memindahkan semua gaunnya ke tempat itu atas perintah Raja Shavir.


Aku akan bertemu dengan orang itu sekarang! Aku ingin tahu dari mana dia menemukan buku ini!


Stella menatap buku yang ada di genggaman tangannya, lalu menaruhnya di atas tempat tidur.


Karena Xylia memberitahunya bahwa semua pelayan sedang sibuk saat ini, jadi Stella memutuskan mengenakan gaunnya sendiri. Selain itu, dia juga sudah terbiasa berpakaian sendiri. Jika ada acara penting, barulah Stella akan dibantu berpakaian oleh para pelayan.


Saat memasuki ruang ganti, Stella dikejutkan oleh banyaknya lemari berisi gaun-gaun mewah yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Tanpa berpikir lebih jauh pun, Stella bisa menebak bahwa Raja Shavir-lah yang mengirimkan gaun-gaun itu padanya.


Sambil melihat-lihat sekelilingnya, Stella mencari sebuah gaun yang tidak terlalu rumit, sesuai seleranya, tetapi terkesan mewah di mata orang-orang.


Sebagai seorang putri kerajaan, penampilannya dalam berpakaian selalu menjadi sorotan, baik di kehidupannya dulu maupun yang sekarang.


Di dunia modern, kain yang dipakai untuk membuat gaun sudah berkembang menjadi lebih nyaman dan tidak memberatkan tubuh, jadi Stella akan tetap merasa nyaman meskipun mengenakan gaun yang berlapis-lapis.


Namun, berbeda dengan gaun yang ada di dunia. Di dunia ini, para wanita bangsawan masih menggunakan korset yang diikat dengan kencang di sekitar area perut, terkadang membuat seseorang susah bernapas, hal itu juga berlaku bagi anggota keluarga kerajaan, khususnya seorang putri.


Beruntungnya, Stella masih kecil dan tidak diharuskan memakai korset, tetapi entah bagaimana nasibnya ketika dia beranjak dewasa. Semoga saja ketika dia dewasa, tradisi mengenakan gaun yang diawali dengan farthingale, pannier, dan korset sudah tidak ada lagi.


*(A/N: gegara baca webtoon Empress Cesia Wears Shorts jdinya smpe kebawa suasananya ke cerita ini😅)


"Oke. Aku pilih gaun ini saja. Tidak terlalu rumit, tapi terkesan mewah."


Stella mengambil sebuah gaun dari lemarinya.


Itu adalah gaun berlapis, seperti baju gantung. Lapisan pertama berwarna putih dengan sebuah pita terikat di sekitar leher. Sedangkan untuk lapisan yang kedua berwarna merah maroon, bagian roknya tampak mengembang, di ujung rok ada dua garis putih yang memanjang. Di bagian leher dan pergelangan tangan gaun itu, ada aliran renda berwarna putih.


"Wow. Aku tidak percaya akan memakai gaun anak-anak seperti ini," kata Stella dengan takjub, lalu mulai mengenakan gaun itu seraya bergumam, "Kalau Kak Belle atau Kak Jevon melihatku memakai gaun ini, mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil memotretku, setelah itu fotonya akan tersebar di sosmed dan menjadi trending. Huh, untunglah mereka tidak ada di sini."


Setelah selesai berpakaian, Stella memoleskan wajahnya dengan bedak khas bayi, setelah itu mulai menyisir rambutnya. Setelah disisir, Stella mengepang bagian samping kiri rambutnya, dan menyematkan pita di sana, kemudian mengenakan sepatu yang sama dengan warna gaunnya.

__ADS_1


"Selesai!" Lalu Stella memerhatikan dirinya di cermin, kemudian berpikir keras. "Hm. Sepertinya ada yang kurang."


Tak lama setelah itu, Stella mengingat cuaca hari ini yang sangat dingin, dan bayangan ketika ia jatuh sakit melintas di pikirannya. Lalu Stella mengambil mantel yang cocok dengan gaunnya dan mengenakannya.


"Oke, sudah siap."


Tap. Tap. Tap.


Suara langkah kaki Stella pun terdengar, ia mengambil buku dongeng itu, kemudian mencapai ambang pintu. Ketika Stella hendak keluar, jendela kamar yang tidak ditutup berbunyi, angin dingin berembus masuk. Stella segera merapatkan mantelnya. Saat itu, sesuatu menarik perhatiannya.


Apa itu?


Stella menatap tirai berwarna merah yang berada di pojok ruangan, berdekatan dengan tempat tidurnya. Tirai itu sedikit tersingkap, memperlihatkan sesuatu berbentuk persegi panjang dengan warna-warna beragam yang menghiasi benda itu.


Lukisan?


Stella menyipitkan matanya. Benar. Sepertinya benda itu adalah sebuah lukisan. Lalu Stella menutup pintu kamar dan pergi dari sana.


Mungkin itu adalah lukisan Ayah dan Ibu.


***


"Pertama-tama, aku harus minta izin dulu sama si Shavir. Bisa gawat kalau dia tahu aku pergi secara diam-diam lagi."


Berjalan dengan cepat, Stella melangkah menuju ruang kerja Raja Shavir. Setibanya di sana, Stella hendak mengetuk pintu, namun suara keributan dari dalam ruangan itu menghentikan tindakannya.


"Apa? Jadi kau yang membawa kabur putriku! Sekarang katakan, di mana putriku?!"


"Saya tidak membawanya kabur! Kami saling mencintai, itulah sebabnya kami menikah!"


"Apa-apaan ini! Kalian menikah tanpa ada wali dari pengantin wanita? Tradisi macam apa itu?"


"Saya tidak tahu kalau dia memiliki keluarga!"


"Itu berarti kau dan putriku belum saling memahami satu sama lain! Itu tidak pantas disebut cinta!"


"Karena kau sudah membawa kabur putriku!"


"Sudah saya bilang, saya tidak membawanya kabur!"


"Aku tidak percaya!"


Stella memundurkan langkahnya sambil tertawa canggung. Ia sudah tahu siapa orang-orang yang sedang bertengkar itu. Orang yang pertama adalah Leonard, sedangkan orang yang kedua adalah Raja Shavir.


"Wow. Pertengkaran antara mertua dan menantu yang sangat panas. Aku yakin ruangan itu sudah terasa seperti kobaran api sekarang."


Sejak memberitahukan identitasnya yang asli sewaktu berada di Markas Utama Eternal Flame, Stella tahu bahwa Leonard adalah kakeknya dari keluarga ibunya, tetapi Leonard tidak tahu bahwa Stella adalah cucunya.


Itu karena Stella tidak memberitahukan nama ibunya, ia hanya memperkenalkan dirinya sebagai seorang putri kerajaan. Selain itu, Leonard juga tidak bertanya tentang orang tua Stella, karena dia tidak berpikir bahwa putrinya akan menikah dengan salah satu anggota keluarga kerajaan.


Kali ini Stella tidak tahu bagaimana Leonard bisa mengetahui bahwa putrinya adalah istri dari Raja Shavir.


Berjalan mendekati pintu, Stella mengetuk pintu dengan pelan.


Aku tidak peduli kalau harus menjeda pertarungan mereka, karena aku juga punya hal penting untuk dikerjakan.


Lalu Stella membuka pintu, kepalanya mencuat dari balik pintu itu. Suara teriakan nyaring dari dua orang itu terdengar lebih keras daripada saat ia mendengarnya dari luar pintu.


"Cepat katakan di mana kau menyembunyikan putriku!"


"Saya tidak menyembunyi―!"


"Permisi."


"...."

__ADS_1


"...."


Leonard, yang sedang menarik bagian kerah jubah kebesaran Raja Shavir sambil mengomel, seketika berhenti bergerak. Sedangkan Raja Shavir, yang menunjuk pria tua berambut putih itu sambil membalas dengan teriakan, juga ikut berhenti.


"...."


Melihat posisi kedua pria itu dari ambang pintu, Stella dibuat tidak bisa berkata-kata.


Hancur sudah image kalian, wahai para pemimpin dengan nuansa es yang kental.


***


"Ehem, ehem. Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Stella. Ayah masih memiliki martabat dan harga diri."


"Ya, ya. Begitu juga dengan kakekmu."


Stella menganggukkan kepalanya, ekspresinya seperti mengatakan "Aku tidak melihat apa-apa", sedangkan di dalam hati ia mulai menimpali.


Iyain aja.


"Jadi, ada apa? Tidak biasanya kau mau mengunjungi kantor Ayah."


"Sebenarnya ... aku ingin pergi ke ibukota. Apa bo―"


"Tidak boleh."


Dia langsung menjawab dengan kecepatan 0,2 detik!


Stella mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia sudah menduga bahwa pria itu akan menolak, namun Stella tidak akan menyerah begitu saja.


"Hanya sebentar saja. Aku akan pergi bersama Kak Dhemiel, jadi―"


"Tidak boleh."


"Aku juga akan membawa para kesat―"


"Tidak boleh."


"Aku juga akan membawa para penyi―"


"Tidak boleh."


Stella menggeram. Dari tadi ucapannya selalu saja dipotong dengan kalimat yang sama. Perkataan melantur pun tanpa sadar keluar dari mulutnya.


"Kalau begitu aku mati saja!"


"Itu juga tidak boleh!!"


Stella mendengkus kala mendengar balasan Raja Shavir yang cepat namun terdengar panik.


"Lalu apa yang boleh kulakukan?"


"Hm. Bagaimana kalau kau bermain bersama Ayah sekarang? Ini penting. Kau sudah berjanji, 'kan? Oh, Ayah juga akan mengajak Dhemiel. Bagaimana?"


Stella seketika merasa depresi berat.


Dokter, ada orang tidak waras di depanku sekarang. Tolong aku.


――――――――――――――


Bonus - Nasib Leonard


Leonard: "Kacangin aja aku terus, dasar menantu dan cucu ga ada akhlak. Paling tidak ajak mengobrol kek, disapa kek, atau apa gitu. Lah ini malah dikacangin. Salah aku apa coba." (gumam, guman)


Author: "Kasihan, sih😂" (tertawa terbahak-bahak)

__ADS_1


TBC!


__ADS_2