Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Seventy Five (75)


__ADS_3

"Selamat makan. Semoga itu sesuai dengan selera Anda, Tuan Putri."


Seorang wanita paruh baya dengan rambut hijau muda dan memiliki mata ungu transparan tersenyum ramah pada Stella, sementara seorang pelayan menyajikan sepiring mi pasta padanya. Aroma cabai yang kental tercium, bercampur dengan bubuk-bubuk merah yang melapisi mi pasta itu. Jelas, ini adalah pasta dengan tingkat kepedasan yang tinggi.


"Iya."


Menatap mi pasta itu, Stella tidak bisa berkata apa-apa. Dia bertepuk tangan di dalam hati sambil meneteskan air mata, mengagumi kreativitas keluarga Nidlock.


'Aku tahu sekarang cuaca dingin dan bersalju. Tapi tidak kusangka bahwa mereka akan menyajikan makanan pedas yang pastinya membuatku berkeringat banyak. Luar biasa.'


Menggerakkan tangannya, Stella menyendok mi pasta itu dan memasukkannya ke mulutnya. Dan benar saja, rasa pedas yang membakar lidah segera terasa.


'Ah, aku butuh es.'


Meskipun Stella sudah berharap berulang kali, tetapi tetap saja minuman dingin yang diisi es batu tidak ada di meja makan. Hanya ada air putih di sana.


'Tahu begitu aku harusnya meminta makanan lain tadi. Huhu.'


―――


"Jadi, mulai besok kita akan melakukan pencarian. Ada rumor bahwa hewan raksasa melindungi tempat itu."


"Hm, ternyata begitu. Berarti kita butuh pasukan penyihir perang."


Setelah selesai makan siang, Stella dibawa oleh Lilith ke kamar yang akan ditempatinya selama menetap di rumah keluarga Nidlock. Lalu Lilith mengajaknya berjalan-jalan di taman rumahnya, tapi Stella berhenti berjalan ketika mendengar pembicaraan antara count dan istrinya, yang duduk di ruang keluarga.


Lilith, yang melihat sang putri berhenti berjalan, bertanya, "Ada apa, Tuan Putri?"


"Sstt! Bicaralah yang pelan," jawab Stella sambil bersembunyi di dinding yang memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga.


Lilith juga ikut bersembunyi di samping Stella sambil menatap ayah dan ibunya yang sedang mengobrol, kemudian menatap Stella dan tersenyum menggoda.


"Oho. Aku baru tahu kalau Tuan Putri hobi menguping. Hihihi."


Lilith, yang berbicara sepolos mungkin dan secara terang-terangan, tidak tahu bahwa ucapannya menusuk hati nurani Stella.


'Kenapa tepat sasaran?!'


"Mana mungkin. Ini namanya mendengar."


"Tapi sambil bersembunyi?"


"I-ini namanya melindungi diri."


"Pfft. Wajah Tuan Putri sangat lucu."


"Aku tahu, jadi diamlah."


"Oke, oke."


Meski mengatakan hal itu, Lilith masih tertawa cekikikan di sampingnya, membuat Stella mendengkus kecil, lalu dia mengabaikan Lilith dan memfokuskan perhatiannya pada sepasang suami-istri itu.

__ADS_1


Dia memasang telinganya dengan baik, menyaring setiap informasi yang dibicarakan mereka. Mungkin saja di antara informasi-informasi itu, ada berita bahwa keluarga kerajaan mencarinya yang sedang "menghilang" di mata semua orang di istana.


"Tapi apakah rumor yang beredar itu benar?"


Countess bertanya pada suaminya, memasang postur berpikir. Ekspresinya terlihat cemas.


"Bagaimana jika hewan raksasa memang benar-benar ada di tempat itu?"


Count, yang melihat ekspresi cemas istrinya, juga ikut khawatir. Dia tidak tega jika harus memberitahukan fakta tentang rumor itu pada istrinya, tetapi di sisi lain dia tidak ingin menyembunyikan apa pun dari wanita kesayangannya.


"Sebenarnya, rumor itu memang ada."


Dengan hati yang berat, Count menceritakan pengalamannya ketika berada di Pegunungan Aros.


"Sepuluh tahun yang lalu, ketika Buah Kristal Biru pertama kali tumbuh, aku ikut ayahku pergi ke tempat itu. Tapi saat itu kami tidak tahu bahwa ada yang menjaga buah itu."


"Lalu apa yang terjadi?"


"Dari bawah tanah yang bersalju muncul laba-laba es raksasa berwarna ungu. Tubuhnya benar-benar terbuat dari es."


"Ya Tuhan! Jadi rumor itu benar?"


"Iya. Aku juga dengar dari ayahku bahwa dua puluh tahun yang lalu juga muncul hewan raksasa lain, yaitu burung raksasa dengan bulu es seputih salju."


"Jadi, kali ini juga akan muncul hewan raksasa seperti sepuluh tahun yang lalu?"


"Sepertinya begitu. Dulu yang tumbuh Buah Kristal Biru, lalu sekarang beredar kabar kalau yang tumbuh adalah Buah Kristal Merah. Entah hewan macam apa yang melindungi buah itu."


"Kalau begitu, cepat panggil bantuan. Pasukan kita saja tidak cukup untuk menangani hewan itu."


"Tenanglah, sayang. Aku sudah memanggil bantuan. Mereka akan segera tiba."


"Aku berharap bisa membantu, tapi aku harus menjaga Lilith di sini. Jadi, tolong hati-hati selama ada di sana."


"Tentu saja. Aku akan pulang dengan selamat."


Sementara sepasang suami-istri itu saling berpelukan, Stella yang bersembunyi segera mengatur strategi di kepalanya setelah mendengar obrolan mereka.


Buah Kristal Merah, yang tumbuh di Pegunungan Aros, adalah cara satu-satunya yang bisa membatalkan sihir pengubah warna mata dan rambut yang tertanam di tubuh Stella. Jadi bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan buah itu, bahkan jika dia harus mencuri buah itu dari keluarga Nidlock.


'Ayo pergi besok.'


Sihir teleportasi dari Barbiel yang membuat Stella berpindah tempat dalam sekejap hanya akan bertahan selama dua hari, jadi waktunya tidak banyak.


'Tapi, hewan raksasa? Apakah sebesar gajah atau sebesar dinosaurus?'


Berpikir tentang hewan itu, Stella mencoba membayangkan bagaimana definisi "hewan raksasa" di dunia fantasi ini, setelah itu dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


'Mungkin sebesar dan seganas T-rex. Itu pasti.'


―――

__ADS_1


'Aku tahu kalau ini adalah dunia fantasi yang didominasi oleh sihir. Tapi....'


Stella menatap kosong ke arah hewan raksasa di depannya, yang memiliki tubuh sangat besar sehingga kata "raksasa" pun tidak cukup untuk menggambarkan sebagaimana besar hewan itu.


Tubuhnya dipenuhi sisik yang tajam dan mengilat seperti pecahan kaca dengan warna hitam legam. Mata biru tua itu menatapnya dengan tajam, pupil matanya bergaris lurus seperti kucing. Ekornya sangat panjang dan besar, dan jangan melupakan sepasang sayap lebar yang terletak di kedua sisi tubuhnya, menyerupai sayap kelelawar.


'Haruskah hewan mitos yang legendaris, naga, ada di sini?!'


Stella tidak pernah membayangkan bahwa hewan raksasa yang dimaksud orang-orang di dunia ini adalah hewan yang lebih besar daripada dinosaurus.


'Gila. Ini gila. Sangat gila!'


Dia berkedip kosong, setelah itu embusan napas yang terasa panas keluar dari moncong naga hitam itu, menghantam tubuh kecil Stella seperti badai.


Swooosh!


'Ah, ya. Aku baru ingat kalau ada area lain yang dihuni iblis dan peri. Kata "mustahil" tak berlaku di dunia ini, jadi kemunculan naga pun akan dianggap biasa saja.'


Stella tersenyum kaku ketika mengingat kembali penjelasan dari guru sihirnya, Azalea, tentang Benua Atrevido.


Betapa hebatnya dunia ini!


Inilah yang disebut dunia tanpa batas!


Mari bertepuk tangan!


'Oke, oke. Cukup.'


Stella mengusir pikiran tidak berguna dari kepalanya, kemudian melangkah mundur secara diam-diam.


'Lebih baik kabur daripada bertarung dengan naga ini! Lagi pula buahnya ada di tanganku.'


Namun, sang naga, yang menyadari gerak-gerik manusia kecil di depannya, mendengus dan berbicara.


"Mau ke mana, heh?"


Glek.


Tubuh Stella secara otomatis menjadi kaku ketika naga hitam di depannya berbicara dengan sangat santai. Lalu dia segera tersenyum manis.


"Mau kabur lah."


"Langkahi dulu mayatku."


'Eh tunggu, dialognya tidak asing.'


"Sini kau, bocah tengik. Beraninya kau mencuri buahku."


Keringat dingin segera menetes di punggung Stella seperti air terjun.


Pertemuannya dengan naga hitam itu dimulai dari seminggu yang lalu ketika dia melakukan perjalanan ke Pegunungan Aros untuk mencari Buah Kristal Merah.

__ADS_1


――――――――――――――


TBC!


__ADS_2