Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Twenty Three (23)


__ADS_3

Raja Shavir dan Creed berjalan beriringan menuju Istana Evercius. Ketika mereka tiba di halaman istana itu, seseorang datang dengan tergesa-gesa, menghampiri mereka.


"Memberi hormat pada Yang Mulia Raja. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati," kata orang itu bersamaan dengan tubuhnya yang membungkuk.


Setelah itu, orang itu berdiri dengan tegap.


"Yang Mulia, Duke Fictin datang mengunjungimu. Dia ada di dalam istana."


Raja Shavir mengerutkan keningnya kala mendengar ucapan orang itu, yang merupakan kepala pelayan di istananya. Suasana di sekitarnya seketika menjadi sedingin es.


"Sejak kapan ada yang membiarkannya memasuki istanaku?"


Suaranya dingin dan tajam, menembus pikiran kepala pelayan itu.


"Aku sudah memberi perintah; tidak ada seorang pun yang boleh memasuki istanaku."


"I-itu, Yang Mulia...."


Kepala pelayan tampak gelisah. Dia melirik ke berbagai arah, tak berani bertatapan mata dengan Raja Shavir.


"Para pengawal mengizinkan Duke Fictin masuk karena melihat kedekatan Anda dengan Nona Xylia. Ya, ya, mungkin seperti itu," kata kepala pelayan itu akhirnya.


Pandangan Raja Shavir segera menjadi lebih dingin. Tanpa banyak bicara, dia berjalan menuju istananya, sedangkan Creed mengikutinya di belakang.


'Hanya sebuah kontrak, tapi berani sekali orang itu masuk ke istanaku,' batin Raja Shavir sambil menggeram.


Sesampainya di dalam istana, senyum menyebalkan dari orang yang tak ingin ditemui Raja Shavir menyambutnya. Pria dengan rambut cokelat dan mata berwarna hijau itu lantas memberi penghormatan.


"Memberi hormat pada Yang Mulia Raja. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati," katanya dengan nada ramah. "Selamat pagi, Yang Mulia," sambung orang itu disertai senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya.


"Tidak perlu basa-basi. Langsung saja katakan apa yang kauinginkan," balas Raja Shavir dengan acuh tak acuh.


Dia mengibaskan tangannya, menyuruh Levon menjauhinya.


Levon, yang tidak suka diperintah oleh siapa pun, hanya bisa menggeram marah di dalam hatinya. Berkebalikan dengan suasana hatinya, senyum ramahnya masih tampak di wajahnya, setelah itu Levon menjaga jarak dengan Raja Shavir.


Raja Shavir duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan ekspresi tidak peduli, tanpa berniat mempersilakan Levon duduk di sofa lainnya. Matanya menatap Levon dengan dingin, menyuruhnya berbicara.


Mendapat tatapan memerintah dari sang raja, Levon pun mulai mengatakan niatnya mengunjungi Raja Shavir.

__ADS_1


"Begini, Yang Mulia. Saya sudah mendengar hasil tes bakat yang diikuti Xylia. Jika Anda berkenan, maukah Anda―"


"Tidak," Raja Shavir memotong perkataan Levon tanpa belas kasihan.


Tatapannya masih sedingin es. Levon berdiri di ruangan itu dengan linglung, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Itu bukan urusanku," tambahnya lagi.


"T-tapi, Yang Mulia...! Apa Anda tidak merasa kasihan dengan Xylia? Setiap kali bersama Anda, dia selalu pulang dalam keadaan terluka!"


Levon tetap gigih meminta Raja Shavir agar memberikan perlindungan layaknya seorang anggota keluarga kerajaan pada Xylia.


"Kali ini pun, saat semua musuh Anda mengetahui kekuatannya, maka Xylia akan dijadikan buronan untuk memancing Anda! Apa Anda tak merasa simpati sedikit pun dengan Xylia, setelah semua yang dilakukan Xylia pada kedua anak Yang Mulia?"


Creed melirik tuannya dengan hati-hati. Sebenarnya, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran tuannya.


Raja Shavir menggunakan Xylia sebagai tameng untuk melindungi anggota keluarga kerajaan yang masih hidup, yaitu Pangeran Dhemiel dan Putri Stella, tetapi tidak memberikan perlindungan pada anak kecil itu?


"Itu sesuai dengan keinginan putri Anda. Isi kontraknya tertulis seperti itu," balas Raja Shavir, mengungkit masalah kontrak yang dibuat olehnya dan Xylia.


Mendengar Raja Shavir mengungkit masalah kontrak yang terjadi setahun yang lalu, wajah Levon berubah menjadi lebih kusut. Keringat membanjiri tubuhnya.


Bibirnya dengan gemetar berucap, "I-itu hanya pemikiran anak kecil! Xylia tidak mengerti apa pun tentang―"


Sekali lagi, Raja Shavir memotong perkataan Levon. Dia melirik ke arah pintu istananya.


"Jika tidak ada hal yang ingin kaukatakan lagi, silakan keluar."


"Yang Mulia!"


"Creed. Bawa orang itu keluar."


"Baik, Yang Mulia!" jawab Creed, kemudian menyeret Levon keluar dari Istana Evercius.


Teriakan-teriakan yang dilontarkan Levon bergema di dalam istananya, namun Raja Shavir tak menggubris teriakan orang itu. Kemudian Raja Shavir berjalan menuju kamarnya. Memikirkan kembali apa yang dikatakan Levon tentang Xylia, Raja Shavir jadi mengingat Stella, anak itu juga memiliki kekuatan yang sama kuatnya dengan Xylia.


"Haruskah aku memberinya penjagaan?" gumamnya.


...―――...

__ADS_1


Hari berikutnya, Stella menjalani hari-hari tenangnya dengan damai di dalam kamarnya. Pada jam dua belas siang nanti, atau lebih tepatnya ketika jam makan siang, matanya yang berwarna merah akan berubah menjadi ungu. Stella menanti-nanti saat itu dengan antusias. 


Setelah kemarin dia tak keluar dari kamarnya, Stella memberi perintah pada Suzy agar meletakkan makanannya di atas ranjangnya. Suzy menuruti perintahnya tanpa bertanya, jadi Stella tak perlu mengarang cerita lagi seperti waktu itu. Hari itu benar-benar hari yang buruk bagi Stella.


Pagi ini, Stella telentang di tempat tidurnya dengan rasa bosan memenuhi mentalnya, sesekali memakan buah anggur yang berada di dalam piring yang diletakkan Suzy beberapa menit lalu atas perintahnya.


Biasanya, pada jam ini Stella akan berlatih berpedang bersama Jesriel, setelah itu bermain di taman bunga di belakang istananya, kemudian makan siang ditemani Suzy dan beberapa pelayan lainnya. Terkadang, dia akan menulis hal-hal penting selama berada di dunia ini di balkon kamarnya. Namun, dengan mata merahnya yang belum berubah ke warna semula, Stella tidak bisa melakukan apa pun.


"Rasanya membosankan," gumam Stella di sela-sela memakan buah anggurnya.


Matanya menatap sekitarnya dengan malas.


"Kenapa pagi ini terasa begitu lambat? Aku ingin segera siang!" rengeknya lagi.


Itu adalah keluhan yang entah ke berapa kalinya diucapkan Stella.


'Aku butuh hp. Aku mau jalan-jalan. Aku mau belanja. Aku mau nonton film. Aku mau semuanya!!' batin Stella dengan frustrasi.


Dia mengacak-acak tempat tidurnya dengan wajah garang.


'Aku mau pulaaanggg!' tambahnya lagi.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu terdengar. Segera, Stella menghentikan aktivitasnya.


"Katakan!" ucap Stella akhirnya.


"Tuan Putri."


Suara Suzy terdengar. Stella diam, mendengarkan.


"Seorang penyihir yang dikirim langsung oleh Yang Mulia Raja telah tiba. Haruskah saya membiarkannya masuk?"


"Eung?"


Stella, yang sedang memakan anggur dengan tenang, seketika berhenti. Matanya melebar, kilatan terkejut melintas di matanya.


"Penyihir?" ulangnya dengan nada tidak percaya. "Dan itu dikirim langsung oleh si Shavir itu?!"

__ADS_1


――――――――――――――


TBC!


__ADS_2