
Di kediaman Duke Fictin, Xylia sedang mengunjungi ibunya yang berada di taman bunga yang ada di kediamannya. Ibunya, Daneen, sedang menatap pemandangan bunga yang ada di sana. Melihat itu, Xylia semakin mempercepat langkahnya sambil tersenyum lebar.
"Bu, Bu!"
Xylia memanggil Daneen, membuat wanita itu berbalik. Lalu Xylia menerjang wanita itu dengan pelukan.
"Aku merindukanmu, Bu!!"
Daneen, yang mendapat pelukan mendadak dari Xylia, segera membalas pelukan putri kecilnya. Dia memerhatikan raut wajah Xylia yang bahagia, kemudian tiba-tiba dia ikut menjadi bahagia.
"Ada apa, Xylia?"
Daneen bertanya dengan lembut sambil membelai pucuk kepala Xylia.
"Hari ini aku akan pergi bertemu dengan Tuan Putri, Bu!"
Mendengar jawaban putrinya, Daneen seketika mematung. Gerakan tangannya yang mengusap kepala Xylia langsung berhenti. Setelah pulih dari keterkejutannya, Daneen melepaskan Xylia dari pelukannya, lantas memegang kedua bahu kecil gadis itu.
"Tidak, Xylia. Ibu tidak akan mengizinkanmu pergi ke sana!"
Daneen berkata demikian sambil menatap Xylia dengan raut wajah cemas. Dia tidak rela membiarkan putrinya pergi ke tempat di mana sang putri berada. Sihir jahat yang mengelilingi Xylia bisa saja menyakiti Stella, dan Daneen tidak ingin putrinya dijatuhi hukuman mati karena dituduh mencoba membunuh satu-satunya putri sang raja.
"Diamlah di sini bersama Ibu. Ibu mohon, jangan pergi ke sana...."
Melihat tatapan sendu ibunya yang penuh dengan kesedihan membuat hati Xylia terasa diiris oleh sebuah benda tajam di sana. Di satu sisi, dia tidak ingin membuat ibunya mengkhawatirkannya, tetapi di sisi lain dia juga harus mengklarifikasi identitas aslinya di hadapan sang putri agar nantinya hubungan mereka tidak seperti di masanya dulu.
Setelah itu, Xylia menggenggam tangan ibunya yang bergetar.
Dia tersenyum seraya berkata dengan bersungguh-sungguh, "Itu tidak akan terjadi, Bu. Zhio sudah menghilangkan sihir jahat yang mengelilingiku. Dan juga, Zhio ikut bersamaku ke istana Tuan Putri."
Lalu Xylia tertawa lebar setelah menjatuhkan bom besar di depan ibunya.
"Ap-apa? Xylia, bagaimana kau bisa tahu...?"
Daneen tampak terkejut. Dia tidak menyangka jika putrinya mengetahui tentang sihir jahat yang tertanam di tubuhnya sejak dia lahir, padahal dia tidak pernah memberitahu Xylia mengenai sihir jahat itu.
Sementara itu, Xylia kembali tersenyum dan menenangkan Daneen.
"Aku tahu semuanya. Zhio yang bercerita padaku," jawab Xylia.
Mendengar jawaban putrinya, Daneen kembali mendapatkan ketenangannya. Penyihir kecil itu memang bisa diandalkan. Wanita itu lalu tersenyum puas.
"Efek dari penggunaan sihir jahat ini tidak akan membuat Tuan Putri terluka, karena Tuan Putri punya sihir pemurnian di tubuhnya."
"Ah, begitu."
Daneen mengangguk setelah mendengar penjelasan putrinya, kemudian dia kembali merasa cemas.
"Sihirnya tidak bekerja pada Tuan Putri, jadi apakah sihir itu akan bekerja pada orang lain, seperti Yang Mulia Raja atau Pangeran Mahkota?"
Xylia terdiam, sesaat kemudian dia mengangguk. Hal itu membuat Daneen menjadi kaku dengan wajah pucat yang kentara, tetapi Xylia segera mengubah ekspresi ibunya.
"Memang benar, Bu. Tapi, sekarang sihir jahat yang ditanam di tubuhku sudah tidak ada lagi, Zhio sudah menghilangkannya."
Segera, ekspresi Daneen kembali normal, wanita itu menghela napas lega.
__ADS_1
"Sihir jahat ini hanya akan bekerja pada Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi sekarang, mereka sudah tidak berada di bawah pengaruh sihir jahat ini, karena Tuan Putri sudah memurnikannya."
Ketika Xylia menjelaskan bahwa sihir jahat yang ditanam di tubuhnya sudah tidak memengaruhi Raja Shavir dan Pangeran Dhemiel lagi, Daneen segera mengembuskan napas panjang. Dia merasa sangat lega. Kini akhirnya, putrinya bisa terbebas dari belenggu rantai boneka suaminya.
Di sisi lain, Levon, yang menyembunyikan dirinya dari Daneen dan Xyilia, segera mengepalkan tangannya setelah mendengar ucapan putrinya. Dia merasa sangat marah. Bisa-bisanya sihir jahat yang ditanam oleh penyihir tertinggi dari Guild Penyihir kehilangan pengaruh terhadap Raja Shavir dan Pangeran Dhemiel.
Jika rencananya mendekatkan Xylia dengan sang raja menjadi gagal, maka bagaimana caranya dia bisa duduk di singgasana tertinggi Kerajaan Evergard?
'Bukankah tadi Xylia bilang kalau si putri sampah itu bisa memurnikan sihir jahat milik penyihir tertinggi? Heh, maka aku harus menghilangkan batu besar itu,' batin Levon sambil menyeringai.
Rencana-rencana jahat untuk melenyapkan anak perempuan satu-satunya sang raja Kerajaan Evergard segera tersusun di kepalanya.
'Stella, besok pamanmu ini pastikan kau tidak akan bisa melihat matahari lagi.'
...―――...
Setelah menemui Daneen, Xylia pamit pergi mengunjungi sang putri bersama Zhio. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju Istana Everstell.
"Apa kau sudah benar-benar menghilangkan sihir jahat yang ada di tubuhku?"
Xylia bertanya pada Zhio yang berjalan di sampingnya. Meskipun sudah tahu jawabannya, Xylia tetap saja merasa cemas.
"Ya, sudah," Zhio menjawab dengan singkat, tetapi sepertinya jawaban penyihir itu tidak memuaskan Xylia.
Gadis kecil itu menatap Zhio dengan intens tanpa berkedip, menunjukkan bahwa dia menginginkan penjelasan panjang dari Zhio, dan bukannya jawaban singkat seperti tadi.
Lalu Zhio menghela napas, dia pun menjelaskan, "Kau tenang saja. Sihir jahat itu sudah tidak ada di tubuhmu. Raja dan pangeran itu juga sudah bebas dari pengaruh sihir jahat itu."
"Syukurlah."
Xylia menghela napas lega. Dia menatap Zhio dengan pandangan tulus.
Zhio terdiam sesaat, kemudian melirik Xylia yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Kalau begitu, berikan aku hadiah."
"Apa maumu?"
"Berikan aku kue stroberi setiap hari."
"Baiklah. Apa ada lagi?"
"Dan jangan menyeretku ke pasar lagi."
"... Oke."
Xylia dengan enggan menyetujui permintaan Zhio. Tiba-tiba di tengah perjalanan, dia mengingat seseorang.
"Bagaimana dengan Tuan Putri?"
"Apa?"
"Maksudku, apakah tidak ada sihir jahat yang menempel di tubuh Tuan Putri?"
"Tidak," Zhio langsung menjawab dengan cepat. "Dia memiliki sihir pemurnian yang hebat. Itu sebabnya sihir jahat yang ada di tubuh raja dan pangeran itu menghilang setelah berdekatan dengan gadis itu."
__ADS_1
"Pantas saja perilaku Pangeran Dhemiel menjadi berubah setelah bersama Tuan Putri. Tapi, bukankah ini bagus? Jadi secara perlahan, posisi Tuan Putri akan menjadi kuat."
"Ya."
Zhio mengangguk.
'Mungkin sihir pemurnian itu diturunkan dari keluarga ibunya,' batinnya.
Beberapa menit kemudian, Xylia dan Zhio―yang berjalan kaki dari kediaman Duke Fictin menuju Istana Everstell―akhirnya tiba di sana. Mereka pun melangkah menuju gerbang istana itu. Penjaga gerbang segera membuka gerbang karena sudah terbiasa dengan kunjungan dua anak kecil itu. Setelah itu, Xylia dan Zhio memasuki halaman Istana Everstell.
"Hm?"
Suara seseorang yang bergumam mengambil alih perhatian Xylia dan Zhio. Melihat orang itu, Xylia segera memberi penghormatan.
"Memberi hormat pada Pangeran Dhemiel. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."
Berbeda dengan Xylia, Zhio justru tidak bergerak dari tempatnya. Dia hanya menatap malas ke arah sang pangeran, orang yang sering menyeretnya berjalan-jalan sebagai alasan untuk bersama Stella.
"Kalian datang lagi?"
Dhemiel bertanya ke arah merah, yang dibalas anggukan dari Xylia.
"Kupikir kalian tidak akan datang lagi. Kalau begitu, ayo kita masuk!"
Setelah itu, mereka bertiga memasuki Istana Everstell yang sedang kosong, tanpa ada pelayan sama sekali.
"Ke mana para pelayan?"
Dhemiel bergumam dengan nada kesal.
"Bagaimana jika Stella diculik atau diserang orang asing?"
Tak lama kemudian, suara teriakan orang-orang terdengar sampai ke luar Istana Everstell. Ketiga anak kecil itu, yang penasaran, segera mendekati asal teriakan-teriakan melengking itu.
"Uwooo! Kalahkan Tuan Jesriel, Tuan Putri!"
"Kyaaa! Kami mendukungmu, Tuan Putri!"
"Ya! Serang Tuan Jesriel seperti itu!"
"Akk! Tuan Putri, di belakang Anda!"
"Ah! Ah! Serang ke samping juga!"
"Lihat itu, lihat! Tuan Jesriel kalah!"
"Yeah! Tuan Putri kita menang!!"
"Uwooo! Selamat, Tuan Putri!"
Pemandangan mengesankan di depan ketiga anak kecil itu membuat mereka tercengang.
Di lapangan, tempat di mana pelatihan berpedang secara terbuka berada, terdapat dua orang di sana.
Jesriel tergeletak di lapangan dengan sebuah pedang yang di arahkan di lehernya, sedangkan yang mengarahkan pedang itu adalah Stella, yang berdiri sambil tersenyum penuh kemenangan ke arah gurunya yang sangat tampan.
__ADS_1
――――――――――――――
TBC!