Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Seventy Nine (79)


__ADS_3

"Mundur, semuanya!"


Seorang penyihir berjalan maju dan menginstruksikan semuanya agar berada di belakangnya. Setelah itu, para penyihir lain berdiri di sisi penyihir itu, sedangkan para kesatria melindungi para pendeta yang ada di barisan paling belakang.


"Roaaarrr!!"


Brak!


Saat itu, segerombolan kucing besar keluar dari dalam tanah, mengeluarkan cakar dan memperlihatkan gigi taring mereka yang tajam. Sepasang sayap seperti burung terlihat di kedua sisi tubuh mereka. Gerombolan kucing besar itu berdiri di hadapan para penyihir sambil mengaum. Mata hitam mereka menyala dengan cahaya dingin.


"Siapkan perisai sihir tingkat tinggi!"


"Buka penjara hewan iblis dan panggil mereka sekarang!"


"Gunakan mantra sihir baru yang kita pelajari!"


"Sekarang, serang!!"


Swosh. Swosh. Swosh!


Wuuush!


Medan perang segera tercipta. Serangan-serangan sihir dilontarkan para penyihir kepada segerombolan kucing besar itu, sedangkan makhluk aneh bersayap itu menembak para penyihir dengan cakar-cakar kuat mereka yang tak terhitung jumlahnya.


"Ini beracun! Semuanya, segera menghindar!"


Para penyihir ketakutan ketika melihat segerombolan kucing besar itu menembak mereka dengan ratusan cakar yang sangat tajam dan beracun. Mereka segera menghindar dan memanggil bala bantuan dari kelompok-kelompok penyihir lainnya menggunakan perangkat komunikasi sihir.


―――


Sementara itu, Stella, yang menyaksikan pertarungan sengit di depannya dengan pandangan kosong, tidak bisa tidak merasa takjub. Dia belum pernah melihat hewan seperti harimau yang memiliki sepasang sayap dan berukuran seperti gajah. Sekarang dia benar-benar yakin bahwa dunia ini adalah dunia fantasi yang menakjubkan.


'Ah, buahnya!'


Kemudian dia menyadari sesuatu, lalu Stella diam-diam melarikan diri sambil menyembunyikan pedangnya, setelah itu dia pergi ke arah lain. Ke tempat di belakang segerombolan kucing besar itu.


Swiiish!


Stella berlari menuju ke sana.


Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi saat ini.


Bagaimana mungkin penjaga Buah Kristal Merah bertarung di sini dan membiarkan buah itu tergeletak di tempat persembunyian tanpa dijaga oleh siapa pun?


Pasti ada sesuatu yang aneh.


'Apa mungkin mereka monster yang menguasai pegunungan ini?'


Bisa saja itu benar. Namun, daripada penasaran seperti ini, lebih baik dia segera mencari jawaban atas pertanyaannya.


Stella menoleh ke belakang sesaat, lantas kembali berpaling.


'Semoga kalian selamat. Semangat, ya.'

__ADS_1


Stella menyemangati para penyihir itu di dalam hatinya, sama sekali merasa tidak bersalah karena tidak membantu mereka bertarung.


"Huh?"


Sepanjang perjalanannya, Stella melihat sebuah gua dengan bebatuan warna hitam yang diselimuti salju. Dia menyadari bahwa gua itu sangat aneh karena bebatuan, yang seharusnya sedikit berdebu atau terlihat kusam dan kotor, justru terlihat hitam mengilat, seperti selalu dibersihkan setiap hari.


Saat itu, keanehan bebatuan itu memunculkan spekulasi di pikiran Stella.


'Jangan-jangan ... buah itu ada di sana?'


Firasatnya mengatakan bahwa dia benar. Dia pun berjalan menuju gua itu sambil mengeluarkan pedangnya, berjaga-jaga kalau ada hewan raksasa fantasi yang disebut monster.


Tidak butuh waktu lama bagi Stella untuk masuk ke gua itu, dia segera menghilang dalam kegelapan.


Namun, apa yang selanjutnya terjadi di luar gua sungguh mengejutkan. Di salah satu celah gua, sesuatu terlihat bergerak, kemudian bola mata bulat berwarna biru tua yang terbuka lebar terlihat di sana, perlahan menjadi tajam dan dingin.


Faktanya, gua itu bukanlah sebuah tempat, melainkan tubuh raksasa seekor hewan.


―――


Crassshh!


Sebuah bola api seukuran telapak tangan orang dewasa muncul di samping Stella, menjadi penerang jalannya. Gua yang dimasukinya sangat gelap, tak ada seberkas cahaya sekalipun. Sambil berjalan, Stella juga menggunakan indra pendengarannya untuk bisa mendengar sesuatu yang mendekat, tetapi yang terdengar hanya suara langkah kakinya saja.


Itu berarti tidak ada monster di tempat ini.


Namun, Stella tidak bisa lega begitu saja karena firasatnya mengatakan bahwa bahaya yang besar akan datang sebentar lagi.


'Kenapa gua ini sangat panjang?'


'Rasanya, seperti berjalan di terowongan panjang.'


Saat itu, langkahnya terhenti. Stella kembali mengingat pikirannya yang tadi.


'Terowongan? Tunggu ... ini gua, 'kan?'


Ketidakpercayaan melintas di matanya. Adakah gua yang begitu panjang seperti tempat ini? Stella yakin bahwa gua seperti itu tidak ada di mana pun.


'Jadi, sekarang aku ada di mana?'


Ketika pikiran itu muncul, tempatnya berpijak saat ini bergetar, seperti gempa bumi.


"Ada apa ini? Sial, aku harus cari jangan keluar."


Stella berbalik dengan cepat dan berlari ke tempat dia pertama kali masuk ke area ini.


Buk. Buk. Buk!


"A-apa?"


Namun sayangnya, jalan masuk itu tertutup.


Stella menggertakkan giginya.

__ADS_1


"Sial," keluhnya kesal, kemudian berlari memutar dari tempatnya, mencoba mencari jalan lain.


Pada saat itu, ketika dia berlari, sensasi mana sihir yang kuat terasa di sekitarnya. Stella berhenti dan menatap sekelilingnya, kemudian mengikuti arah mana sihir kuat yang menariknya.


'Ada cahaya?'


Di tempat gelap ini, ada seberkas cahaya kemerahan terlihat beberapa meter dari tempatnya. Stella mempercepat langkahnya dan menghampiri cahaya merah itu. Sesampainya di sana, mata merahnya melebar, tidak percaya dengan pemandangan di depannya.


Di sana ada sebuah pohon kecil setinggi tubuhnya, yang seperti pohon mangga dari Asia. Dedaunan hijau yang berkilau itu diselimuti bunga putih yang indah berukuran kecil. Dan di sana, ada sebuah buah dengan warna merah seperti apel, berkilau seperti permata rubi.


Buah legendaris yang langka, berwarna merah cerah dan berkilau seperti permata, dipenuhi mana sihir yang melimpah. Sudah pasti bahwa itu adalah Buah Kristal Merah!


Stella tertegun sesaat, berpikir apakah hari ini adalah hari keberuntungannya. Setelah itu, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman. Mata merahnya bersinar.


"Akhirnya ketemu juga."


Tidak peduli apakah tempat ini akan runtuh atau tidak, buah itu harus jatuh ke tangannya!


Pada dasarnya, manusia bisa bersikap serakah dan egois untuk keberlangsungan hidupnya. Tidak ada manusia yang sempurna karena semuanya memiliki kekurangan dan sisi buruknya masing-masing.


Mengulurkan tangannya ke arah buah itu, Stella berhasil menggapainya. Buah di tangannya bersinar, kemudian berangsur-angsur meredup, hingga kegelapan kembali menyelimutinya.


"Apa...?"


Kebingungan melanda Stella. Sesaat kemudian, getaran yang dirasakan kakinya bertambah hebat.


"Roarrr!!!"


Suara raungan yang tidak asing pun terdengar. Saat itu, "gua" yang gelap itu bergerak. Segera, cahaya matahari menerobos masuk ke area itu.


"H-hah?"


Kini yang ada di sekitar Stella bukan tempat gelap seperti tadi, melainkan tanah bersalju yang akrab di matanya.


'Tidak mungkin. Jadi, yang tadi itu bukan gua?'


Stella menatap kosong pada hewan raksasa di depannya, yang semula adalah "gua". Hewan itu mirip dengan makhluk mitologi di dunianya. Tubuhnya yang mengilat dipenuhi sisik seperti ikan, namun terlihat samar-samar dan berbentuk seperti pecahan kaca, berwarna hitam pekat seperti tinta. Ukuran tubuh hewan itu berkali-kali lipat lebih besar daripada kucing raksasa tadi.


"...."


'Ah, jadi ini penjaga sesungguhnya Buah Kristal Merah....'


Stella mengangguk sambil tersenyum tanpa daya.


'Aku tahu kalau ini adalah dunia fantasi yang didominasi oleh sihir. Tapi....'


Dia menatap hewan raksasa itu.


'Haruskah hewan mitos yang legendaris, naga, ada di sini?!' batinnya sambil menjerit di dalam hati.


Setelah itu, situasi mereka menjadi seperti ini.


――――――――――――――

__ADS_1


TBC!


__ADS_2