
Pada pagi hari, Raja Shavir dan Dhemiel mengunjungi Istana Everstell guna bertemu dengan Stella. Namun, Stella mengusir mereka secara terang-terangan melalui Suzy yang terkena ancaman penggal kepala jika tidak menuruti perintahnya.
Setelah itu, sebuah kejadian konyol terjadi. Dhemiel dan Stella berdebat, saling mengejek satu sama lain. Raja Shavir yang terganggu dengan perbuatan tidak sopan dari kedua anaknya segera memutuskan membuka pintu kamar Stella secara mendadak.
Kemudian, Stella yang terkejut langsung menyembunyikan dirinya di dalam gulungan selimut tanpa bergerak sedikit pun. Waktu berlalu, sesaat kemudian Jesriel datang dengan senyum lebar yang secerah matahari, membuat suasana di dalam kamar Stella berubah menjadi lebih canggung.
"Mem-memberi hormat pada Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel!" ucap Jesriel dengan gugup, memberi penghormatan pada dua tokoh besar kerajaan yang kini memandangnya. "Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati!" Setelah itu, Jesriel berdiri dengan tegap, lantas memandang sekelilingnya. "Lho? Di mana Putri Stella?"
"Dia sedang tidur!"
Dhemiel langsung menjawab sambil menunjuk Stella yang masih berpura-pura tertidur, kemudian Dhemiel memiringkan kepalanya, lantas kedua alisnya merajut.
"Tapi, aneh. Padahal tadi aku dan Stella masih berdebat, tapi sekarang tiba-tiba dia sudah tertidur."
"Begitu?" gumam Jesriel, menanggapi.
Dia kemudian tertawa dengan halus.
"Haha .... Muridku tidak mungkin tertidur. Di saat jadwal latihan berpedangnya, dia selalu bangun pagi-pagi sekali. Tidak mungkin kalau muridku lupa," katanya seraya mengibaskan tangannya, menyangkal jawaban Dhemiel.
Mendengar perkataan Jesriel yang terdengar meyakinkan, pandangan Raja Shavir dan Dhemiel serentak diarahkan ke Stella, sedangkan Stella semakin berkeringat dingin kala mendengar perkataan Jesriel yang kelewat jujur.
'Situasi saat ini ... sangat sulit!' batin Stella dengan gelisah.
Sikapnya yang tidak biasa tak luput dari pandangan Raja Shavir. Manusia es itu tersenyum dengan samar.
"Berpura-pura tidur itu tidak baik, apalagi di depan tamu yang sedang berkunjung ke sini."
Alih-alih mengatakan "keluarga", Raja Shavir justru mengatakan "tamu yang sedang berkunjung", sedangkan Stella yang mendengarnya langsung membatin dengan frustrasi.
'Tamu apanya! Kalian masuk tanpa seizinku!' batinnya dengan jeritan.
Keheningan segera merayap masuk ke ruangan itu, menyisakan Stella dengan otak yang sedang berpikir keras. Setelah itu, sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikirannya.
'Baiklah. Sekarang saatnya menjadi anak kecil yang nakal!'
"Tidak. Aku beneran tidur, kok," kata Stella akhirnya, masih mempertahankan aktingnya walaupun sudah ketahuan. "Beneran. Aku sedang tidur."
'Ini bagus! Sekarang, lihat! Anakmu menjadi sangat nakal dengan berpura-pura tidur dan berbohong padamu! Jadi, cepatlah pergi dari kamar ini! Dan jangan temui aku lagi!' batin Stella dengan gembira, berimajinasi bahwa pemikirannya akan menjadi kenyataan.
"Pfft!"
Dhemiel nyaris menyemburkan tawanya. Dia memandang Stella dengan pandangan tertarik.
"Betapa tidak tahu malunya kau, Stella," sindirnya tanpa pikir panjang.
Sesaat, Stella nyaris membuka matanya dan memarahi Dhemiel, namun dia segera mengurungkan niatnya.
Menghiraukan sindiran Dhemiel, Stella berucap tanpa membuka matanya, "Guru, hari ini dan esoknya aku libur latihan. Sampai jumpa."
__ADS_1
"H-huh?"
Jesriel menganga.
Matanya mengerjap selama beberapa saat, kemudian laki-laki itu bergumam, "Apa aku diusir?"
...―――...
Stella berpikir bahwa rencananya menjadi anak perempuan yang nakal dan berani berbohong pada ayahnya sendiri akan membuat Raja Shavir meninggalkan kamarnya.
Tetapi apa-apaan ini?
Raja Shavir dan Dhemiel masih berada di kamarnya. Mereka berdua benar-benar keras kepala.
Dari dalam selimut, Stella mengintip, memerhatikan Raja Shavir yang duduk di kursi putih yang ada di balkon kamarnya. Manusia es itu bahkan membawa dokumen-dokumen penting kerajaan ke kamarnya dan bekerja dengan tekun di sana. Stella benar-benar tidak memercayai semua ini.
Sedangkan Dhemiel, dia tak henti-hentinya mengganggu Stella. Dia mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Stella, menggoyang-goyangkan badan Stella, melompat-lompat di atas ranjangnya tanpa urat malu di wajahnya, dan lain-lain lagi kelakuan Dhemiel yang mengganggu Stella.
'Gah! Apa kalian tidak bisa keluar dari kamarku? Yang satunya menganggap kamarku seperti kantor, sedangkan yang satunya lagi menganggap kamarku seperti taman bermain!'
Stella merasa muak. Seenaknya saja mereka memperlakukan kamar orang lain dengan tidak sopan seperti itu.
'Cih. Untung saja, si Xylia itu tidak ada di sini. Jika dia ada, maka lengkap sudah penderitaanku.'
Waktu yang menjengkelkan pun berlalu dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, seseorang masuk ke kamar Stella―yang memang pintunya tidak ditutup―dan mengatakan bahwa ada rapat penting yang harus dihadiri raja pagi ini. Dengan demikian, Raja Shavir beranjak dari tempatnya dan pergi, secara otomatis Dhemiel juga pergi. Pintu kamar Stella pun ditutup.
"Akhirnya, sekarang aku bisa bebas berkeliaran," gumam Stella, lalu menghela napas. "Oh, lembaran yang waktu itu!"
Stella tiba-tiba mengingat lembaran kertas yang dibawanya, dia kemudian memerhatikan penampilannya. Pakaiannya telah diganti.
"Apa kertasnya sudah dibuang oleh Suzy?" tanyanya.
Bisa saja ketika Suzy mengganti pakaiannya, dia melihat kertas itu dan membuangnya. Meyakini dugaannya, Stella menghela napas pasrah, kemudian mulai berjalan menuju ranjangnya.
Srek.
Stella tak sengaja menginjak sesuatu, menimbulkan bunyi yang sangat dikenalnya. Mata merahnya yang semerah buah delima tertuju pada sebuah kertas yang berada di bawah kakinya.
Itu dia!
Stella langsung mengambil kertas itu, kemudian duduk di ranjangnya. Bibirnya bergerak, membaca isi kertas itu tanpa bersuara. Setelah itu, seringai kecil tampak di wajahnya.
"Rencana ketiga sebentar lagi akan berjalan. Hehe."
Rencana ketiganya adalah mencari seseorang dengan latar belakang yang kuat untuk melindunginya ketika dia pergi dari kerajaan.
...―――...
__ADS_1
Rapat penting yang dibicarakan oleh orang yang memberitahukan Raja Shavir di kamar Stella tadi berjalan dengan lancar. Namun, Raja Shavir sama sekali tidak menyimak topik pembicaraan yang didiskusikan oleh bangsawan-bangsawan yang hadir di ruangannya. Pikirannya sedang tertuju pada perubahan warna rambut yang terjadi pada Stella. Ada banyak pertanyaan melintas di benaknya.
"Yang Mulia, bagaimana pendapat Anda?"
Seseorang bertanya ke arah Raja Shavir, menanyakan pendapat sang raja.
Para bangsawan lainnya dengan antusias menanti jawaban dari manusia es itu, namun Raja Shavir berbicara dengan beberapa patah kata.
"Terserah kalian," katanya dengan tenang. "Rapat dibubarkan."
Setelah itu, Raja Shavir bangkit dari kursinya, kemudian melangkah menuju pintu.
Semua orang memiliki ekspresi kosong di wajahnya masing-masing. Sedangkan Creed, orang kepercayaan Raja Shavir sekaligus pengawal pribadinya, terkejut dengan sikap tuannya yang tidak seperti biasanya.
"Y-yang Mulia...!"
Creed berusaha menahan Raja Shavir agar tidak pergi dari ruang rapat.
"Tolong pertimbangkan―"
"Creed," potong Raja Shavir.
Mata tajamnya melirik pria itu.
"Besok, kirimkan penyihir terbaik kerajaan untuk mengajari Stella tentang sihir. Apa kau mengerti?"
"A-apa?"
Creed bertanya dengan bingung.
Segera, tatapan tajam kembali dilayangkan ke arahnya. Creed berkeringat dingin, kemudian segera menjawab dengan lantang, "Baik, Yang Mulia!"
――――――――――――――
Bonus - Obrolan Keluarga
Stella: Lah? Nih orang demam kali, yak?
Dhemiel: Bapak kita udah gila kali.
Shavir: Sembarangan aja kalo ngomong. Mau mati?
Duo saudara: Eh...! Bapak!!
Shavir: Apa?
Duo saudara: Eh ... gak, gak ada. Bapak kita ganteng banget, yak? Hehe. Pantesan otaknya miring sebelah, oh ternyata dipletak fans hohoo.
Shavir: (ngebatin) Nih anak pengen mati kali, yak.
__ADS_1
😂😂
TBC!