
Salah satu kelompok penyihir mencari Buah Kristal Merah di daerah timur laut. Itu adalah kelompok 2. Mereka baru saja berpencar dari kelompok besar tadi. Sekitar sepuluh kesatria elit mengawal mereka, dan ada sekitar lebih dari sepuluh pendeta ikut bersama mereka. Para pendeta itu berada di barisan belakang, dan hanya ada empat kesatria yang bertugas menjaga mereka.
'Hmm, situasinya sudah kupantau. Aha, apa aku bergabung saja dalam kelompok mereka? Hehehe.'
Tawa aneh segera menyebar di sekitar Stella, disertai dengan sebuah ide yang muncul di pikirannya. Dia mengawasi kelompok penyihir itu dari tempat persembunyiannya, kemudian gadis kecil bak boneka itu terpikir satu hal.
'Aku hanya perlu menunjukkan mata merahku sekali.'
Ia sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi terkejut mereka ketika dirinya memperlihatkan mata merahnya yang langka. Dengan alasan "langka" ini, maka Stella bisa bergabung dengan mereka, tanpa mencurigai identitasnya sedikit pun.
"Sudah saatnya beraksi."
Stella menutup matanya dan berpikir, setelah itu sesuatu yang bersinar muncul di telapak tangannya. Itu adalah batu kristal merah miliknya. Stella tidak menunda lebih lama lagi dan mengetuknya dua kali.
Tuk, tuk.
Bunyi ketukan ringan merayap masuk ke telinganya. Sesaat kemudian, dia bisa merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya, seolah-olah ada angin hangat yang meniupnya. Inilah yang dirasakan Stella ketika rambut dan matanya berubah.
"Ah, rasanya menyegarkan."
Stella langsung merasa nyaman. Rasanya seperti energi di dalam tubuhnya kembali terisi penuh. Aliran mana berkumpul di jantungnya, yang sempat kosong. Sekarang kebugaran dan kekuatan sihirnya sudah kembali.
Sudah saatnya menjalankan rencananya.
Setelah itu, Stella menarik tudungnya agar wajahnya menjadi lebih tersembunyi.
―――
"Tidak ada apa-apa di sini," kata seorang penyihir sambil berdecak. "Aku yakin sekali kalau buah itu tidak ada di sini."
"Benar. Kemungkinan ada di tempat tinggi atau di tempat tersembunyi," timpal penyihir lainnya.
"Haa...."
Kelompok penyihir itu menghela napas panjang di saat yang bersamaan, mengeluhkan nasib mereka.
Sudah menjadi tradisi umum selama ratusan tahun lalu bagi para penyihir yang ditugaskan untuk mencari Buah Kristal ketika buah itu telah muncul, jadi mereka tidak bisa mengabaikan tradisi itu, juga karena pencetus tradisi itu adalah Raja Evergard ke-1, yang kini hanya tinggal nama.
Jika Raja Evergard ke-1 masih hidup, maka mereka mungkin akan berusaha menolak tradisi itu.
Pertama, karena habitat buah itu sangat ekstrem dan berbahaya. Kedua, karena buah itu sangat sulit ditemukan. Dan yang terakhir, karena ada hewan raksasa yang menjaga buah itu.
Namun, meski kesulitan mereka untuk mendapatkan buah itu sangat banyak....
"Hehe. Ayo kita berusaha menemukan buah itu."
Para penyihir tadi, yang menghela napas, menyeringai lebar berjamaah.
... Itu karena manfaat Buah Kristal sepadan dengan pengorbanan mereka mendapatkan buah itu, yang tidak diketahui orang biasa selain para penyihir.
'Hiii! Mereka adalah orang-orang yang menyeramkan dan gila!'
Para pendeta merasa merinding ketika melihat seringai lebar para penyihir dan ambisi kuat mereka. Tapi perhatian mereka segera teralihkan pasa sosok hitam kecil yang berjalan di samping mereka.
'Hah? Kenapa di sini ada anak kecil?'
Para pendeta saling pandang dengan wajah bingung, begitu juga dengan empat kesatria elit yang mengawal mereka. Setelahnya, sosok hitam kecil itu berjalan mendahului mereka, kemudian mendapat perhatian yang lebih intens dari para penyihir.
__ADS_1
"Hah? Ada anak kecil di sini?"
"Dia berasal dari mana? Tidak mungkin Count Nidlock atau Duke Ronnight yang mengirimnya, 'kan...?"
Para penyihir berbisik keheranan, sedangkan sosok hitam kecil itu tampak tak peduli. Akhirnya, seseorang di antara para penyihir menghampiri sosok hitam kecil itu.
"Apakah kau tersesat, Nak? Salah satu di antara kami akan membawamu pulang jika kau memang tersesat. Tapi jika tidak, kenapa kau ada di sini? Ini tempat yang berbahaya, lebih baik kau pulang. Selain itu, di tempat ini sangat dingin dan...."
Penyihir itu mengoceh panjang lebar, seolah-olah dia adalah seorang guru yang sedang menasehati anak muridnya yang nakal.
"Apa kau berbicara denganku?"
Tapi respons dari sosok hitam kecil itu di luar dugaan. Nada suaranya sangat dingin, lebih dingin dari suhu di tempat ini.
Sang penyihir merinding sesaat, kemudian ia merasa tersinggung setelah mencermati maksud dari perkataan sosok itu.
"Apa? Beraninya kau...!"
Deg!
Sebelum dia bisa menyelesaikan ucapannya, wajah di balik tudung hitam itu terlihat. Namun, yang terlihat jelas hanya sepasang mata merah menyala di dalam kegelapan, bersinar dengan cahaya mengintimidasi yang menakutkan.
Penyihir itu terdiam kaku. Apa yang sedang dia pikirkan tergambar jelas di wajahnya. Setelah itu, dia membungkuk hormat.
"Maafkan saya! Maafkan saya! Saya sudah lancang tadi! Maafkan saya!"
Dia berteriak dengan putus asa, meminta pengampunan. Para penyihir lainnya sangat terkejut dengan perilakunya yang berubah cepat dalam waktu singkat.
"Jangan berisik. Aku hanya lewat," balas sosok hitam kecil itu tanpa nada, membuat sang penyihir yang meminta maaf segera tersenyum senang.
Kemudian dia memberikan pujian berkali-kali, setelah itu membawa sosok hitam kecil itu ke kelompoknya dengan ramah.
"Semuanya, beliau akan bergabung dengan kita! Kumohon hormatilah dia seperti kita menghormati Tuan Duke!"
Setelah penyihir itu mengumumkan sesuatu yang mengejutkan, para penyihir lainnya bereaksi dengan cepat.
"Hah? Kau bercanda, ya?"
"Otakmu bergeser, ya?"
"Anak kecil ini? Dihormati?"
"Apa kau masih waras?"
"Ini tidak masuk akal."
Mereka memprotes tanpa henti. Lalu suara tepukan tangan terdengar.
"Tenang, semuanya!"
Itu adalah penyihir tadi yang meminta maaf. Dia tersenyum bangga dan memperkenalkan sosok hitam itu dengan semangat, seolah-olah dia adalah muridnya yang paling berharga.
"Beliau adalah orang yang HARUS kalian hormati! Tapi, kenapa? Tentu saja karena beliau adalah pemilik MATA MERAH yang sangaaattt langka!!"
Begitu kata-katanya jatuh, kelompok itu menjadi heboh.
"APA?"
__ADS_1
Dan reaksi mereka lebih heboh daripada sebelumnya.
―――
'Berhasil dengan mudah.'
Salah satu sudut bibir Stella naik. Hanya dengan memperlihatkan sepasang mata merahnya, dia berhasil menyusup ke kelompok ini, dan bahkan diperlakukan dengan sangat hormat. Meskipun dia berhasil, tindakan yang dia ambil hari ini memiliki dampak yang tidak bisa diprediksi. Dengan Stella memperlihatkan sepasang mata merahnya, hidupnya sudah jatuh ke jurang bernama "kematian". Tetapi dia belum jatuh terlalu dalam, jadi masih ada cara untuk naik ke daratan.
'Pokoknya, aku harus menjadi kuat selama ada di sini.'
Satu-satunya jalan adalah dengan memperkuat kekuatan sihirnya.
'Ngomong-ngomong, saat aku menolong Ester ... waktu itu kenapa ada tangan hitam besar seperti bayangan, ya?'
Stella tidak terlalu memperhatikan apa itu saat kejadian itu berlangsung, tapi sekarang dia menjadi penasaran.
Bisakah elemen api miliknya berubah jadi eleman gelap? Tidak mungkin, karena tidak ada fenomena seperti itu di dalam sihir, kecuali jika dia memiliki elemen ganda. Jadi, hanya ada satu jawaban yang didapat Stella.
'Aura Dewi Kematian.'
Itu pasti berasal dari aura Dewi Kematian yang dimilikinya. Jika benar begitu, maka artinya itu bukan sekadar "aura" seseorang, tetapi bisa digunakan sebagai "kekuatan" yang tidak ada batasnya.
Nah, sekarang, yang harus dipikirkan Stella adalah bagaimana caranya supaya aura itu bisa berubah menjadi kekuatan sesuai dengan keinginannya.
Kratak, kratak.
Namun, sebelum Stella bisa berpikir lebih jauh, suara retakan terdengar cukup keras di sekitarnya.
"Apa ini?" gumamnya ketika melihat tanah bersalju di depannya mulai retak.
"Persiapkan sihir serangan! Lindungi para pendeta!"
Suara perintah terdengar dari belakang Stella.
Para penyihir ribut satu sama lain, mempersiapkan sihir serangan terbaik yang mereka punya, sementara para pendeta yang berada di barisan paling belakang dilindungi dengan sihir perlindungan.
Mengamati situasi serius di depannya, Stella bisa tahu bahwa ada sesuatu yang akan menyerangnya dan kelompok penyihir itu.
Swooosh!
Pedang indah miliknya muncul di telapak tangan kanannya, kemudian Stella mengeluarkan api merah menyala dari telapak tangan kirinya, lantas melapisi pedang itu dengan apinya.
'Ini efektif untuk menyerang.'
Setelah itu, tanah bersalju yang retak mulai terbelah. Semakin lama terbelah jadi semakin lebar.
"Roaaarrr!!"
Suara raungan hewan bisa terdengar dari dalam tanah yang terbelah.
Stella menggenggam pedangnya dengat erat. Suara yang seperti bukan suara manusia ini ... pasti adalah suara milik hewan raksasa yang melindungi Buah Kristal Merah!
Itu berarti lokasi buah itu berada tak jauh dari tempatnya.
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1