
Pada tengah malam menjelang fajar, Stella terbangun dari tidurnya, kemudian mendapati bahwa rambutnya telah berubah warna, begitu juga dengan warna matanya.
Sebelumnya, di saat usianya menginjak 3 tahun, Stella mengetahui suatu fakta tentang dirinya, yaitu bahwa warna rambut dan matanya bukanlah menyerupai ayahnya, melainkan menyerupai penampilan Stella Elliathania Elliot Evergard di kehidupannya sebelumnya. Pada saat itu, Stella mengetahui bahwa ada sihir seseorang yang telah memalsukan warna rambut dan matanya, namun Stella tidak mengetahui siapa orang itu.
Waktu itu, Stella merasa emosi menyelimutinya tatkala para pelayan di istananya berlagak sombong dan tidak mau menuruti perkataannya. Stella ingat, emosi itulah yang menyebabkan warna rambut dan matanya berubah ke wujud aslinya.
Pada saat itu, para pelayan dan pengawal yang bekerja di istananya bersikap dingin pada Stella. Namun, ketika Stella telah menguasai teknik berpedang yang diajarkan Jesriel padanya dan meningkatkan aura mengintimidasi miliknya, para pelayan dan pengawal di istananya menjadi takut padanya, kemudian berbalik arah menghormatinya.
Sejak saat itu, Stella tidak pernah merasakan perasaan emosi lagi, karena semua orang di Istana Everstell menghormatinya, sejak saat itu pula wujud asli rambut dan matanya tidak pernah terungkap.
Seingat Stella, rambut pirangnya akan berubah menjadi normal kembali dalam waktu dua puluh empat jam, setara dengan sehari, sedangkan untuk menormalkan warna matanya menjadi warna ungu memerlukan waktu empat puluh delapan jam, setara dengan dua hari.
Setelah mengingat-ingat bagaimana caranya mengembalikan warna rambut dan matanya, Stella bernapas lega.
Setelah itu, Stella bergumam, "Apa yang membuat warna rambut dan mataku berubah kali ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Kini pikirannya berpusat pada ingatannya ketika dia dan Jesriel kembali ke Istana Everstell setelah berjalan-jalan ke ibukota, kemudian mendapati Raja Shavir di dalam istananya, dan mendapat perlakuan aneh dari manusia es itu.
"Setelah itu, si Shavir itu menyentuh dahiku, lalu ... lalu, lalu...!"
Stella tersentak. Ingatannya kembali memutar adegan di mana Raja Shavir menyentuh keningnya dan beranggapan bahwa ia kelelahan, setelah itu Raja Shavir mengalirkan sihirnya pada Stella, saat itu juga Stella merasa nyeri di bagian jantungnya. Kemudian, Stella ingat bahwa dia pingsan, dan terbangun di kamarnya dalam keadaan rambut dan mata yang telah berubah warna ke wujud aslinya.
"Pasti karena itu!" seru Stella dengan nada rendah. "Tapi, apa rambut dan mataku akan berubah ke wujud aslinya kalau si Shavir itu mengalirkan sihirnya padaku?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri. "Kenapa bisa begitu?"
Lama terdiam dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir di kepalanya, Stella memutuskan kembali tertidur dengan menyelimuti dirinya menggunakan selimut.
'Rambutku akan kembali normal dalam waktu beberapa jam lagi, tapi mataku masih butuh waktu lama untuk kembali normal,' batin Stella setelah selesai menyelimuti seluruh tubuhnya, kini ia berbaring di bawah gulungan selimut. 'Pokoknya, Suzy atau siapa pun tidak boleh menemuiku esok pagi hingga hari berikutnya!'
...―――...
Pagi harinya, Suzy sudah menata meja makan dengan beberapa makanan yang baru saja dikirimkan dari Istana Evercius, istana tempat tinggal Raja Shavir. Kini semua pelayan sibuk membersihkan Istana Everstell lantaran dikatakan bahwa Raja Shavir dan Dhemiel akan segera berkunjung guna menjenguk Stella.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Suzy bergegas menuju kamar tuannya. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu kamar Stella dengan pelan seraya bersuara.
"Tuan Putri, waktunya bangun," katanya dari depan pintu, namun tak mendapat jawaban apa pun dari Stella.
Suzy pun mengerutkan alisnya.
"Apakah Tuan Putri belum sadar?" gumamnya, dia kemudian memutuskan memanggil sekali lagi, "Tuan Putri, jika Anda sudah sadar, segera bersiaplah. Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel sebentar lagi akan mengunjungi Tuan Putri."
Dari dalam kamar, Stella menggigit bibirnya, masih dengan tubuh yang digulung selimut. Rambut pirangnya sudah kembali menjadi warna hitam, namun tidak dengan warna matanya yang masih berwarna merah. Kemudian Stella sedikit menurunkan selimutnya dari pandangannya, memandang pintu kamarnya dengan waspada, kalau-kalau ada yang mendobrak pintu kamarnya secara mendadak.
__ADS_1
'Tidak mungkin aku bertemu si Shavir dan Dhemiel dengan warna mata seperti ini!' batin Stella, hendak menjerit.
"Tuan Putri, apakah Anda sudah sadar?"
Pertanyaan dari Suzy kembali terdengar di telinga Stella. Sesaat kemudian, Stella mengembuskan napasnya, mengumpulkan oksigen di paru-parunya.
Setelah dirasa cukup, Stella kemudian berseru, "Tinggalkan aku sendiri! Jangan biarkan siapa pun masuk! Jika tidak, aku akan memenggal kepala kalian!!"
Deg!
Suzy yang berada di depan pintu kamar Stella seketika merinding kala mendengar ancaman Stella. Keringat dingin langsung membasahi tubuhnya, sedangkan beberapa pelayan yang tak sengaja melewati Suzy dan mendengar seruan penuh ancaman dari Stella segera berhenti beraktivitas, membeku.
"T-tapi...! T-tuan P-putri―"
"Pilih mati atau hidup?!"
Jeritan Stella yang memotong perkataan Suzy kembali terdengar, membuat Suzy dan para pelayan lainnya merinding.
"Apa yang terjadi?"
Suara dingin dan tajam seseorang mengagetkan Suzy dan para pelayan lainnya. Mereka serentak membalikkan badan, kemudian menjerit tertahan kala mendapati wajah beku Raja Shavir mengintimidasi semuanya, namun tidak dengan Dhemiel yang hanya terkikik tidak jelas.
"Mem-memberi hormat pada Yang Mulia Raja Shavir dan Pangeran Dhemiel! Semoga Kerajaan Evergard selalu di―"
Suzy, yang bertanggung jawab atas Stella sedari bayi hingga sekarang, segera menjawab, "Yang Mulia, Tuan Putri mengatakan bahwa beliau ingin sendiri dan tidak mengizinkan siapa pun menemuinya, jika tidak ... jika tidak...."
"Jika tidak apa?" sela Dhemiel.
Suzy meneguk salivanya dengan susah payah, sebelum akhirnya menjawab, "Jika tidak, jika tidak Tuan Putri akan memenggal kepala ... kami."
"Pfft!"
Dhemiel mengatupkan bibirnya, hendak tertawa.
Dia kemudian berkata dengan nada menyindir, "Aku tidak percaya dia bisa melakukannya. Memangnya, apa yang bisa dilakukan anak kecil berumur 5 tahun? Huh."
Beberapa pelayan yang tersinggung dengan ucapan Dhemiel segera membalas dengan serentak, "Pangeran, jaga bicara Anda! Anda berkata seperti itu karena Anda tidak mengetahui apa pun tentang Putri Jenius!"
"Ya, Pangeran jangan asal bicara!"
"Tuan Putri kami sangat mahir berpedang, bahkan Pelatih Jesriel pernah dikalahkan olehnya!"
__ADS_1
Seketika dua tatapan yang berbeda mengarah pada mereka, itu adalah Suzy yang menatap para pelayan itu dengan tatapan peringatan, sedangkan Raja Shavir memandang mereka dengan tajam.
'Ups! Kami keceplosan!' batin mereka serentak dengan wajah pucat.
"Stella bisa berpedang? Sejak kapan?" tanya Raja Shavir dengan nada tajam, lengkap dengan wajah dingin dan aura mengintimidasinya. "Kenapa tak ada seorang pun yang melaporkan hal sepenting itu pada―"
"Berisik! Kubilang, tinggalkan aku sendiri! Tapi, kenapa berisik sekali di depan kamarku?!"
Jeritan dari Stella kembali terdengar, memotong perkataan Raja Shavir yang belum selesai.
"Suzy! Ancaman penggal kepala yang kukatakan tadi masih berlaku!!"
Suasana mencekam segera menyelimuti semua orang yang berada di depan kamar Stella.
'O-oh, ti-tidak. Tu-tuan Putri .... Anda me-melakukan kesalah besar di depan Yang Mulia Raja,' batin Suzy dan para pelayan lainnya dengan serentak, ketakutan tampak di wajah mereka.
――――――――――――――
setelah aku baca berulang kali novel ini, aku baru inget klo aku....
.
.
.
.
.
.
.
.
belum tambahin satu pun DESKRIPSI tentang WARNA RAMBUT DAN MATA DHEMIEL😭
sorry, Miel, kamu terlupakan olehku😭
ya udh klo gitu, aku tambahin di next chapter aja, see you~ (^^♪
__ADS_1
TBC!