Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Eighty Five (85)


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak Stella menjalin kontrak dengan Thev. Naga hitam itu mendapatkan kembali kekuatan sihirnya secara perlahan.


Selama seminggu itu pula, Thev mewariskan pengetahuannya tentang sihir kepada Stella, yang kini menjadi tuannya. Lalu Stella berlatih menerapkan berbagai macam sihir yang diwariskan Thev dengan serius dan cekatan. Dan tak butuh lama, Stella berhasil menguasai semua jenis sihir tersebut.


Kemudian, agar tidak menciptakan kehebohan, Thev mengubah bentuknya menjadi gelang dan hidup melingkar di pergelangan tangan Stella di sebelah kanan. Bentuknya saat ini dibuat tidak terlalu mewah dan cocok untuk seorang putri, jadi tidak akan ada yang menganggap bahwa gelang itu terlihat aneh atau unik.


Sekarang, semua persiapan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup sudah selesai.


"Ibu."


Anak perempuan yang jenius dan hebat dalam sihir itu, kini duduk berlutut di dekat peti kaca, tempat di mana ibunya terbaring. Mata merahnya memandang ibunya dengan lembut, sementara kedua telapak tangannya yang menyentuh kaca peti itu mengeluarkan pancaran sinar biru yang indah.


"Aku akan pergi. Tapi Ibu tenang saja, aku akan segera kembali. Karena itu, tunggu aku di sini."


Bibirnya yang kecil bersuara dengan lembut, tidak ada jejak dingin dan tajam dalam nada suaranya, yang biasanya berbicara dengan nada seperti itu. Hanya ada kasih sayang yang terlihat untuk seorang wanita yang sangat berharga baginya.


Namun demikian, tidak ada jawaban yang datang, tetapi anak perempuan itu tetap melanjutkan ucapannya.


"Aku sudah memperlambat waktu di sini, jadi tidak akan terjadi apa-apa selama aku pergi. Kalau begitu...."


Stella bangkit, lalu mencium peti kaca itu.


"Aku pergi dulu, Bu. Sampai jumpa lagi."


Segera setelah itu, Thev mengubah bentuknya menjadi seekor naga. Stella naik ke punggung Thev dan terbang meninggalkan dimensi bawah. Angin sejuk yang bertiup dengan pelan menyambut kedatangan mereka. Setelah mendarat di tanah bersalju yang ada di Pegunungan Aros, lubang yang menjadi pintu keluar itu tertutup, seolah-olah tidak pernah ada.


"...."


Meskipun lubang itu sudah tertutup, Stella masih memandang tempat itu dengan mata kosong. Sesaat kemudian, dia mengedipkan matanya beberapa kali.


'Tidak. Aku tidak boleh goyah. Kalau mau melihat Ibu lagi, aku harus cepat menemukan penawar racun itu.'


Dia ingat perkataan Thev tentang penawar racun Lakshire. Itu hanya ada di wilayah iblis dan merupakan bahan yang sangat langka. Stella tahu bahwa dia tidak mungkin pergi ke tempat di mana para iblis hidup, jadi cara tercepatnya adalah meminta bantuan pada keluarganya untuk mencari penawar racun itu. Barangkali penawar racun itu bisa dibuat oleh seorang penyihir agung kerajaan atau merupakan harta berharga kerajaan. Kebetulan semacam itu juga bisa saja terjadi. Oleh sebab itulah, dia harus kembali ke istana hari ini.


Lagi pula, orang-orang yang di sana juga berhak tahu bahwa ratu kerajaan, istri sah raja satu-satunya, dan ibu dari seorang pangeran dan putri, yang dikabarkan sudah meninggal, nyatanya masih hidup.


Mereka punya hak untuk mengetahui kenyataan itu. Terutama....


Stella kembali mengingat salah satu bagian di buku dongeng The Poor Princess, yang menggambarkan tentang bagaimana Raja Shavir sangat mencintai istrinya, Alexa, yang ditegaskan berulang kali di buku itu sebagai awal dari penderitaan yang dialami oleh Putri Stella yang asli.


'Dia juga harus tahu kenyataan ini....'


Lalu Stella melihat ke arah Thev dan memintanya kembali berubah menjadi gelang. Setelah itu, dia berbalik tetapi kemudian berhenti.


Deg.


Alangkah terkejutnya ketika Stella bertemu dengan dua orang yang tidak terduga di tempat seperti ini.


"Ester?"


Mata merahnya bertatapan dengan mata biru Ester yang juga terlihat kaget. Kemudian, seseorang yang berdiri di samping Ester membuat Stella membeku.


Dan....


'Kakak?'


Stella hampir mengucapkan panggilan itu. Di depannya, Ester dan Dhemiel berdiri sambil menatapnya dengan pandangan terkejut.


'Kenapa mereka bisa ada di sini?'


...―――...


Kegagalan mendapatkan Buah Kristal Merah menyebabkan pukulan besar bagi para penyihir yang datang ke Pegunungan Aros. Apalagi mereka dikalahkan oleh segerombolan kucing raksasa sebelum mendapatkan buah itu. Berita besar itu membuat kediaman Duke Ronnight dan Count Nidlock menjadi suram untuk sementara waktu. Namun, kesuraman itu tidak berlangsung lama ketika mereka mendapat berita lain yang tak kalah jauh lebih heboh daripada berita sebelumnya.


Seorang anak kecil dengan mata merah telah muncul!!


Berita itu menyebabkan keributan besar di antara para penyihir, terutama beberapa penyihir yang pernah bertemu langsung dengan pemilik mata merah itu. Kabar itu dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, hingga akhirnya tersiar sampai ke ibukota, yang kini menjadi topik perbincangan terpanas tahun ini.


Kemudian, Ester, yang mendengar berita itu dari Nicole, meminta izin pada pamannya untuk pergi ke Pegunungan Aros. Dia sangat bersemangat karena cinta pertamanya yang susah ditemui akhirnya akan segera bertemu dengannya. Dan begitulah kisah bagaimana Ester ada di Pegunungan Aros berakhir.


"Nona Ellia! Sudah lama tidak bertemu! Apakah Anda masih mengingat saya?"


Tata krama bangsawan yang susah payah dipelajari Ester menghilang dalam sekejap. Dia berbicara dengan ceria sambil menggenggam tangan anak perempuan cantik di depannya, bahkan menggunakan bahasa formal, menunjukkan rasa hormat. Senyuman lebar di wajahnya tampak memesona. Wajah dan telinganya sudah merah saking senangnya bertemu dengan orang yang disukainya setelah sekian lama.


"Saya ... saya yang Nona Ellia selamatkan di hutan! Apakah Anda ingat saya?"


Tatapan berbinar yang membebankan itu membuat Stella terpaksa mengangguk, meski pada awalnya dia ingin berpura-pura tidak kenal, tetapi sepertinya hal itu mustahil.


"Ah, iya. Aku ingat."


"Benarkah?! Saya sangat senang Anda mengingat saya!"

__ADS_1


Entah kenapa, tiba-tiba Stella menjadi kesal. Meskipun "Putri Stella" dan "Nona Ellia" adalah orang yang sama, tapi tetap saja secara sah Ester adalah tunangannya. Jika dia melihat secara langsung bahwa tunangannya bertemu dengan wanita lain dan terlihat sangat bahagia, maka dia pasti akan sangat kesal.


'Eh, kenapa aku tiba-tiba kesal? Ini, 'kan, pertunangan politik!'


Setelah sadar dengan apa yang baru saja dia pikirkan, Stella tanpa sadar menepis tangan Ester yang menggenggam tangannya.


"Ah! Maafkan saya!"


Ester dengan cepat meminta maaf dengan mata berair, mengira bahwa dirinya melakukan kesalahan. Namun, hal itu lagi-lagi membuat Stella kesal.


"Tidak usah minta maaf," balas Stella dengan nada ketus, lalu berjalan melewati Ester. "Minggir. Kau menghalangi jalanku."


Perkataan sinis itu membuat Ester menepi dengan ekspresi bingung, lalu dia tampak gelisah dan mencoba mengikuti Stella.


"Apakah saya melakukan kesalahan?"


"Iya. Kesalahan besar."


Bukan Stella yang menjawab, melainkan Dhemiel, yang sedari tadi mengamati drama percintaan bertepuk sebelah tangan di depannya. Ekspresi anak laki-laki itu begitu dingin.


"Beraninya kau menyukai perempuan lain setelah bertunangan dengan adikku."


'Dia mewakili isi hatiku.'


Stella diam-diam menyetujui ucapan Dhemiel, kemudian melirik Ester, yang memasang wajah tegas.


"Maaf, Pangeran. Tapi sudah saya katakan sebelumnya, saya tidak menyukai Tuan Putri dan pertunangan ini hanya sebatas kesepakatan politik saja."


"Walau begitu, seharusnya kau menjaga martabat adikku. Kalau kau ingin bermesraan dengan wanita lain, lakukanlah secara diam-diam."


"Tapi, Pangeran. Hanya ada kita bertiga di sini. Jadi, saya mau melakukan apa saja di sini, tidak akan ada yang melihat. Apalagi bermesraan."


Ctarrr!


Kedua mata laki-laki itu bertemu dan saling menatap dengan tajam. Sinar laser dan petir menjadi ciri khas suasana mereka.


'Idiot. Dua orang itu adalah orang yang sama, tahu.'


Stella mengutuk kedua orang itu di dalam hatinya, kemudian beranjak pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti ketika sebuah fakta tiba-tiba terlintas di pikirannya. Dia menoleh ke arah Dhemiel, yang masih adu mulut dengan Ester.


'Dia tahu kalau dia punya adik perempuan?'


Ingatan pahit di hari ketika dia melihat pemandangan harmonis antara Raja Shavir dan Dhemiel bersama Xylia muncul di kepalanya. Saat itu, mereka saling berbicara dengan akrab, seolah-olah lupa tentang kehadirannya. Tetapi sekarang, Dhemiel ingat tentangnya.


Suara Dhemiel yang datang selanjutnya mengacaukan isi pikiran Stella.


"Kau tidak boleh bermesraan sekarang. Ingatlah tujuan kita datang ke sini. Katanya kau ingin membantuku mencari Stella, ingat tidak?"


"Tentu saja saya ingat, Pangeran. Tapi izinkan saya berbicara dengannya sebentar...."


Suara percakapan mereka perlahan mulai kabur. Stella menajamkan telinganya ketika mendengar tujuan kedatangan kedua orang itu kemari. Ekspresi bingung terpancar di wajahnya meski sesaat. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di istana ketika dia berada di dimensi bawah, dan sesuatu itu pasti berkaitan dengannya.


'Aku harus menyelidiki hal ini.'


Perlahan langkah kakinya menghampiri kedua anak laki-laki itu, yang masih mengobrol.


"Hei."


Perhatian Ester dan Dhemiel dengan cepat beralih ke Stella, yang menyilangkan tangannya.


"Apa yang terjadi pada Tuan Putri?"


Dhemiel tidak menjawab, tetapi justru balik bertanya, "Kau mengenal Stella?"


Stella sudah memprediksi bahwa pertanyaan seperti itu akan datang, jadi dia mengangguk dan mulai menjelaskan, yang tentu saja merupakan kebohongan, "Jadi begini, aku mengenal Tuan Putri tapi kami tidak dekat."


Keheningan muncul. Dhemiel menatapnya dengan pandangan ragu-ragu karena mengetahui bahwa adiknya tidak mungkin berteman dengan seseorang di luar istana karena kepribadiannya yang dingin. Lalu Stella yang mengerti arti pandangan anak laki-laki itu segera memberi penjelasan lagi.


"Aku sempat bertemu dengannya di sini...."


"Apa? Benarkah?! Lalu apa yang terjadi? Apakah Stella baik-baik saja?!"


Ucapan Stella yang belum selesai segera dipotong dengan pertanyaan bertubi-tubi yang bernada tinggi. Dhemiel mendesaknya menjawab dengan pandangan berapi-api.


"Ah, iya. Saat kami bertemu di sini, di situlah kami saling kenal. Tapi seperti yang sudah kubilang, kami tidak dekat," jawab Stella dengan lancar, menambahkan banyak kebohongan di dalam kalimatnya. "Dia juga terlihat sedih...."


"Apa? Apakah Stella menangis?!"


"Ck. Makanya jangan potong ucapanku dulu!" balas Stella dengan kesal sambil menyingkirkan tangan Dhemiel yang mengguncang tubuhnya. "Dia hanya terlihat sedih. Tapi aku tidak tahu kenapa dia sedih."


'Ya karena kalian, lah,' timpalnya di dalam hati yang merujuk pada sang raja dan pangeran, mewakili perasaan semua pembaca.

__ADS_1


Lalu dilihatnya Dhemiel yang tampak putus asa, seolah-olah membayangkan di pikirannya bagaimana rupa adiknya yang jarang berekspresi tiba-tiba memiliki raut wajah sedih di wajahnya.


'Lihat itu. Apa yang dia pikirkan terlihat di wajahnya.'


Stella kembali menyilangkan tangannya dan bertanya, "Jadi, bagaimana kalian bisa tahu bahwa Tuan Putri ada di sini?"


"Oh, itu...."


Ester melirik Dhemiel, yang masih memiliki ekspresi putus asa di wajahnya, kemudian dia menghela napas dan memberitahu apa yang dia tahu.


"Ada seseorang yang memberitahu kami, bahwa jejak sihir Tuan Putri berakhir di sini."


'Siapa?'


"Bolehkah aku tahu siapa yang bilang?"


Ester tampak mempertimbangkan apakah harus menjawab dengan jujur atau tidak, sebelum akhirnya membuat keputusan.


"Karena saya percaya Nona Ellia, jadi saya yakin Nona tidak akan membocorkan ini kepada siapa pun."


"Oh, oke."


'Lalu cepat katakan!'


"Ada seorang penyihir hebat di istana yang melacak jejak sihir Tuan Putri melalui ... emm, sebuah buku?"


"Buku...?"


'Hah!'


Stella tanpa sadar terkesiap. Pikirannya segera mengarah pada buku dongeng The Poor Princess yang ada di bawah bantalnya. Jika bukan buku itu yang ditemukan, bisa saja buku sihir besar itu yang ditemukan dan buku itulah yang dipakai untuk melacak jejak sihirnya. Namun, entah kenapa, pikirannya tertuju ke arah buku dongeng itu.


"Penyihir itu sangat hebat sampai-sampai dia tahu jejak sihir Tuan Putri yang berakhir di tempat sejauh ini."


'Aku tidak tahu kalau di istana ada penyihir!'


"Jadi, siapa dia?"


"Hmm, saya tidak ingat namanya. Tapi saya ingat kalau dia selalu bersama dengan Nona Fictin."


Kata "Nona Fictin" mengingatkan Stella pada Xylia. Lalu, seseorang yang selalu bersama dengan Xylia, memiliki pengetahuan sihir yang hebat, dan bahkan bisa masuk ke istana tanpa dicurigai oleh siapa pun.... Kalau orang seperti itu ada, maka ciri-ciri seperti itu tertuju pada....


"*Aku penasaran tentangmu."


"Aku tahu kalau kau sedang mengutukku*."


"Anehnya, hanya ada satu keluarga yang memiliki sihir pemurnian yang suci seperti punyamu. Itu adalah keluarga bangsawan penyihir, keluarga penyihir pertama yang sudah punah."


Seseorang dengan rambut merah dan sifatnya yang menyebalkan muncul di pikiran Stella.


'Zhio!'


Itu pasti dia. Tidak ada orang yang dekat dengan Xylia selain bocah berambut merah itu.


"Lalu setelah itu, Yang Mulia Raja ikut mencari Tuan Putri kemari. Beliau ada di daerah lain."


'Hah? Selain pangeran, raja pun ikut?'


"Ada banyak penyihir yang dikerahkan juga. Itu sebabnya kami ada di sini. Ah, beberapa penyihir dari keluarga paman saya juga ikut kemari. Yah, itu karena saya adalah tunangan Tuan Putri."


'Hah? Ada juga bantuan dari bangsawan kelas atas?'


... Tetapi tunggu.


Stella merasa janggal, seolah baru saja melewatkan sesuatu. Dari penjelasan Ester, dia mengetahui bahwa raja turun tangan sendiri untuk mencarinya, dia juga membawa banyak penyihir, dan Dhemiel sebagai pangeran mahkota juga ikut dalam pencarian "Putri Stella di Pegunungan Aros".


Jika sekarang raja dan penerus takhta ada di sini, maka siapa yang melindungi istana selain para kesatria?


Stella tiba-tiba memiliki firasat buruk di hatinya.


'Aku harus kembali ke istana sekarang.'


―――――――――――――――


2000+ kata


karena jarang up, yaudah deh aku sekali up 2000 kata lebih. sebenarnya chapter ini mau dibagi dua, tapi ga jadi.


duh... aku deg-degan sekarang soalnya bentar lagi ambil nilai kelulusan😖


jangan lupa like dan komen, vote juga boleh.

__ADS_1


TBC!


__ADS_2