
Di ruangan kerja yang cukup luas itu, Raja Shavir duduk di kursinya sambil meninjau ulang dokumen-dokumen negara yang telah ditandatangani olehnya, tanda persetujuan. Tidak ada siapa pun di sekitarnya. Pengawal pribadinya, Creed, sudah diusir olehnya sejak dia memasuki ruang kerjanya. Meskipun sudah diusir, Creed tetap berdiri di samping kanan pintu ruangan kerja Raja Shavir, menjaga tuannya.
Sementara itu, suara kertas yang dibolak-balik terdengar di setiap penjuru ruangan.
Namun, beberapa saat kemudian, Raja Shavir tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Pikirannya fokus pada seseorang. Seketika beberapa pertanyaan melintas di pikirannya.
"Kenapa bisa begitu?" gumam Raja Shavir, bertanya pada dirinya sendiri.
Dia kebingungan. Pada saat itu, dia jelas-jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau rambut putrinya berubah warna. Namun kemudian, ketika dia mengunjunginya lagi, warna rambutnya berubah seperti semula. Itu membuatnya bingung.
"Apa yang sedang terjadi?"
Namun, seberapa keras dia mencoba, tetap saja tidak ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.
"Ini berarti, selama ini ada seseorang yang menipuku. Tapi, siapa?"
Suara Raja Shavir berubah, terdengar menakutkan.
"Kalau orang itu kutemukan, akan aku cabik-cabik tubuhnya, lalu akan aku gantung di depan gerbang kerajaan. Awas saja."
Bersamaan dengan ucapannya, tangannya mengepal.
"Tapi, sebelum itu, aku harus mencari tahu siapa orang itu," katanya dengan penuh tekad.
Kemudian, Raja Shavir memejamkan matanya, berusaha mencari petunjuk, setelah itu matanya terbuka.
Lalu, mata ungunya yang cerah menatap kosong ke arah dokumen-dokumen kerjanya yang ada di atas mejanya, sedangkan pikirannya mengelana, hingga akhirnya berhenti di sebuah memori yang menyakitkan baginya.
Pada saat itu, musim dingin melanda kawasan Kerajaan Evergard. Butiran-butiran salju yang sangat dingin menutupi rumah-rumah dan jalanan di ibukota maupun di pedesaan.
Saat itu adalah bulan Februari, hari di mana Raja Shavir beserta pasukannya pergi berperang melawan kerajaan tetangga, yaitu Kerajaan Risteard. Peperangan itu dipicu oleh bangsawan dari Kerajaan Risteard yang memonopoli pasar perdagangan Kerajaan Evergard, mengakibatkan sebagian desa-desa yang ada di wilayah Kerajaan Evergard mengalami kemiskinan, hingga akhirnya setengah rakyat yang ada di sana mengalami kematian karena kelaparan.
Sementara Raja Shavir pergi berperang, Dhemiel, yang pada saat itu berusia 2 tahun, ditinggalkan di istana bersama ibunya.
Kondisi di istana sang ratu tidak dalam keadaan yang baik. Di musim dingin yang bersalju itu, Ratu Alexa sedang mengalami persalinan. Bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan sebentar lagi akan keluar, menyebabkan para pelayan mondar-mandir di istana sang ratu, dokter kerajaan wanita pun ditugaskan menangani persalinan itu.
Ketika Raja Shavir kembali ke kerajaan, saat itu sudah malam. Suasana hatinya saat itu sedang tidak baik. Dia sangat tertekan karena tidak bisa menemani istrinya di saat-saat kritis. Sejak saat itulah, dendamnya pada Kerajaan Risteard muncul.
Saat dia melangkahkan kakinya menuju Istana Everlexa―nama istana sang ratu―keheningan yang mencekam menjadi suasana di tempat itu. Sepi. Tidak ada siapa pun yang berkeliaran di sana, bahkan para pelayan pun tidak terlihat. Kecemasan dan ketakutan tiba-tiba melanda hati Raja Shavir, dia pun mempercepat langkahnya, diikuti Creed yang ada di belakangnya.
Ketika dua pria itu sampai di kamar sang ratu, bau darah yang menyengat memenuhi indra penciuman keduanya. Suara tangisan seorang bayi terdengar, mengambil alih perhatian Raja Shavir dan Creed.
__ADS_1
Di lantai ruangan itu, sosok Dhemiel tergeletak di sana dengan mata terpejam, di pelukannya ada seorang bayi yang sedang menangis, tubuh mereka berdua dinodai darah berwarna merah pekat.
Pemandangan mengenaskan itu membuat ekspresi Raja Shavir berubah menjadi gelap. Hawa membunuh yang pekat menguar dari tubuhnya.
Tidak diragukan lagi, ketika dia dan pasukannya berperang, Kerajaan Evergard sedang diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Itu bisa disimpulkan bahwa kejadian itu adalah pembantaian terhadap keluarga kerajaan. Beruntungnya, Dhemiel dan bayi yang baru lahir itu selamat. Namun, yang menyakitkan, sang ratu tidak ada di sana beserta para pelayan dan dokter kerajaan. Mereka tidak bisa ditemukan di mana pun.
Setelah itu, pasukan mata-mata dikerahkan oleh Raja Shavir di setiap penjuru negeri, berharap bisa menemukan jejak istrinya. Namun naasnya, harapan itu tidak pernah terwujud, sampai sekarang.
"Haahh...."
Helaan napas keluar dari bibir Raja Shavir. Ketika dia mengingat memori itu, hatinya dipenuhi kesedihan yang mendalam.
"Wujud asli anak itu ... tidak pernah terbayangkan olehku. Haruskah aku mengubah rencana yang kubuat waktu itu?"
Alasan mengapa Raja Shavir tidak pernah menyayangi anak bungsunya, itu karena dia tidak ingin kejadian yang terjadi lima tahun yang lalu kembali terulang. Cintanya yang begitu besar kepada istrinya membuatnya kehilangan pasangan hidupnya. Jika dia mencintai anaknya seperti dia mencintai istrinya, maka kemungkinan besar kejadian itu akan terulang kembali.
Raja Shavir juga tidak terlalu sering mengobrol dengan Dhemiel. Dia akan mengobrol dengan anak itu saat makan malam bersama, atau ketika Xylia memintanya mengobrol dengan Dhemiel, maka dia akan mengobrol dengan anak itu.
Sejauh ini, tidak ada penyerangan secara diam-diam di istana yang melibatkan anggota keluarga kerajaan, hal itu membuatnya bersyukur. Namun, semakin lama perasaan kesepian memasuki hatinya dan tumbuh besar di sana.
Keinginannya hanya untuk melindungi anak-anaknya, namun itu juga membuatnya dibenci oleh anaknya sendiri. Setidaknya, Dhemiel tidak membencinya, karena anak itu mengetahui dan masih mengingat tragedi mengerikan yang terjadi lima tahun yang lalu. Tetapi berbeda dengan anak perempuannya, Stella. Pada saat itu, dia masih bayi, jadi dia masih belum memiliki ingatan tentang kejadian itu, dan ironisnya hal itu membuatnya dibenci oleh putrinya sendiri.
"Aku harus mengubah rencanaku," katanya dengan tegas.
Dia sudah muak dengan rasa kesepian ini. Sekarang, dia harus mengubah rencananya, dia harus memberikan perhatian dan kasih sayang pada anak-anaknya. Jika kejadian lima tahun yang lalu kembali terjadi, maka yang harus dilakukannya adalah melindungi anak-anaknya. Kali ini, dia tidak akan kehilangan orang-orang yang dicintainya lagi.
Setelah menetapkan tujuan hidupnya yang baru, Raja Shavir menatap ke arah pintu ruang kerjanya, kemudian memanggil seseorang, "Creed."
Pintu ruang kerjanya langsung terbuka, menampakkan sosok pria dengan rambut berwarna biru muda berdiri di sana.
"Ya, Yang Mulia," balas Creed.
Raja Shavir langsung memberi perintah.
"Selidiki kembali tragedi lima tahun lalu yang terjadi di Istana Everlexa. Kali ini, rencana penyelidikan akan berubah. Selidiki kegiatan yang dilakukan para bangsawan saat kejadian itu terjadi."
Insting Raja Shavir mengatakan kalau kejadian lima tahun yang lalu berkaitan dengan para bangsawan yang hidup di bawah pengawasannya.
Tidak mungkin kalau musuh-musuhnya hanya menyakiti istrinya dan bukannya pewaris takhta ataupun anaknya yang baru lahir. Selain itu, Raja Shavir mengenal para musuhnya dengan baik, mereka memiliki harga diri yang tinggi, jadi tidak mungkin jika mereka menyakiti seorang wanita.
Jika demikian, maka orang-orang yang patut dicurigai adalah para bangsawan yang ada di wilayah kerajaannya. Akan masuk akal jika seorang bangsawan menyakiti istrinya dan meninggalkan kesan berdarah pada suasana di sekitar anak-anaknya waktu itu, itu bisa dianggap sebagai ambisi untuk mendapatkan takhta kerajaan.
__ADS_1
Mendengar perintah tuannya, Creed mengangguk dengan patuh.
"Baik, Yang Mulia," jawabnya dengan tegas.
...―――...
Sejak Stella memberi izin pada Xylia untuk mengunjungi istananya kapan pun yang diinginkan gadis itu, Xylia menjadi lebih sering berkunjung ke istananya, bahkan hampir setiap hari.
Sekarang, pemandangan di mana Stella, Xylia, dan Zhio berada di satu ruangan yang sama sudah tidak terlihat asing lagi.
Ketika Xylia dan Zhio datang berkunjung, maka Suzy akan menyiapkan beberapa piring makanan ringan, setelah itu meninggalkan mereka.
"Jadi, kenapa kalian datang lagi?" tanya Stella langsung ke intinya.
Dia menatap datar ke arah dua orang itu, merasa jengkel. Lagi, lagi, dan lagi, waktunya membaca buku kembali terganggu karena kehadiran dua orang itu.
"Kami hanya ingin mengunjungi Tuan Putri!"
Xylia menjawab dengan riang, tidak memedulikan tatapan datar Stella yang diarahkan padanya. Gadis kecil itu menoleh ke arah Zhio, kemudian tersenyum.
"Benar, 'kan, Zhio?"
"... Iya," jawab Zhio dengan enggan.
Jelas, dia berbohong. Mana mungkin dia menjawab kalau Xylia menyeretnya ke sini dengan paksa? Itu akan membuat harga dirinya sebagai seorang penyihir turun ke titik terendah.
'Alasan yang sama lagi,' batin Stella, sudah muak dengan alasan itu.
Ketika Stella akan mengatakan kalau dia tidak akan mengizinkan Xylia dan Zhio datang ke istananya lagi, seseorang datang dengan langkah lebar, serta senyumnya yang manis.
"Stella, Stella!"
Orang itu memanggil Stella dengan nada bersemangat. Lagi, Stella menatap datar ke arah orang itu.
"Ayo, kita berkeliling lagi!!" lanjutnya dengan antusias.
Ngomong-ngomong, selain Xylia dan Zhio yang sering datang ke istanya, kakaknya, Dhemiel, juga jadi sering mengunjunginya....
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1