
Ketua dari Agen Tentara Bayaran "Eternal Flame" bernama Leonard Whitey. Tujuannya membentuk komunitas tersebut tak lain adalah untuk mencari anak perempuan tunggalnya, yaitu Alexa Axellia Whitey.
Hanya ada tiga orang yang berhasil selamat dari "kepunahan" keluarga bangsawan penyihir yang terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu Leonard bersama dengan anak perempuannya dan muridnya.
Namun, Leonard terpisah dengan putrinya―Alexa―saat dia beranjak dewasa. Bersama dengan muridnya, Leonard membentuk Agen Tentara Bayaran terkuat di Kerajaan Evergard, yang diberi nama "Eternal Flame".
Setelah Eternal Flame terbentuk, Leonard mulai merekrut anggota sebanyak mungkin guna mencari keberadaan putrinya. Namun sayangnya, usahanya sia-sia.
Leonard yang saat itu dilanda keputusasaan dibantu oleh muridnya. Muridnya berjanji bahwa dia akan mencari putrinya dan membawanya ke hadapan Leonard. Tetapi bertahun-tahun kemudian, muridnya tidak pernah mengunjunginya ataupun memberikan kabar.
Saat itu, rasa frustrasi dan keputusasaan yang besar membuatnya menjalani hidupnya dengan perasaan kosong.
Hingga hari di mana seorang anak kecil perempuan datang dan berdiri di depannya dengan wajah yang sangat mirip dengan putrinya, Alexa. Namun, yang membedakan di antara mereka adalah warna matanya.
Anak ini memiliki mata merah dan rambut pirang, jelas bahwa dia adalah keturunan keluarga bangsawan penyihir.
Pemikiran seperti itu muncul di kepala Leonard. Namun, yang membuatnya bingung adalah anak kecil di depannya berasal dari keturunan suku mana, sebab setahunya hanya ada tiga orang yang selamat dari insiden kepunahan bertahun-tahun yang lalu.
Aku tidak bisa percaya kalau putriku sudah menikah dan memiliki anak perempuan.
Ketika memikirkan itu, Leonard merasa depresi. Dia kehilangan anak perempuannya saat anak itu beranjak dewasa, setelah itu menemukan bahwa putrinya sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Jika itu benar, maka bagaimana perasaannya?
Semoga saja anak ini bukan anak dari putriku. Aku bahkan belum melihat putriku berdiri di altar pernikahan, tapi justru melihat cucuku sendiri? Tidak, itu buruk. Aku harap anak kecil itu hanya memiliki wajah yang mirip dengan putriku.
Ketika Leonard masih menyelami pikirannya, seseorang mengatakan hal-hal yang tidak terduga.
"Aku merasa bahwa Ketua dan Tuan Putri mirip dalam segala hal, jadi aku merekrut Tuan Putri." Perkataan seseorang mengambil alih perhatian kedua orang itu. Rielle, yang berkata demikian, tersenyum sambil menatap ketuanya dan Stella secara bergantian. "Hm, hm. Dilihat dari arah mana pun, kalian berdua memang terlihat mirip."
"Apa maksudmu, Rielle?"
Mata pria tua itu menajam ketika mendengar perkataan Rielle, dia merasa bahwa orang kepercayaannya menyembunyikan sesuatu darinya.
Mendengar pertanyaan ketuanya, Rielle tersenyum dan menjawab dengan santai, "Tuan Putri adalah orang yang kukatakan hari itu; aku merasakan sesuatu yang istimewa di dalam dirinya. Apa Ketua ingat kalimat itu?"
"Apa .... Jadi, orang yang kau maksud hari itu adalah anak kecil ini...?"
"Tepat sekali."
Leonard merasa tidak percaya. Tatapannya kembali mengarah pada Stella.
Anak kecil ini?
Dan akhirnya, pertanyaan yang membuatnya penasaran dengan identitas anak perempuan itu terlontar dari mulutnya.
"Siapa sebenarnya dirimu?"
"Ya?"
"Kenapa kau sangat mirip dengan putriku?"
"Aku...."
Di sisi lain, Stella tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah dia memberitahunya bahwa dia adalah seorang putri kerajaan?
Leonard, yang melihat anak perempuan itu ragu-ragu, segera berucap, "Aku hanya ingin tahu dari mana asalmu."
Mendengar itu, Stella tidak bisa berbuat apa-apa selain jujur di depan pria tua itu.
Aku sudah menjadi bagian dari Eternal Flame, jadi ayo membangun kepercayaan.
"Aku akan memberitahumu identitasku, tapi aku punya permintaan."
Sebelah alis Leonard naik setelah mendengar kata-kata Stella.
"Apa itu?"
Setelah itu, Stella tersenyum simpul dan menjawab, "Aku ingin kepercayaanmu."
"Lalu?"
"Lalu aku ingin Eternal Flame bekerja sama denganku."
"Kerja sama seperti apa?"
"Bekerja sama memberontak Kerajaan Evergard sebelum hari kematianku datang."
Stella, yang menjatuhkan kata-kata itu seperti bom, masih tersenyum. Namun, tatapannya berubah menjadi dingin.
Baik Leonard maupun Rielle tidak bisa berkata-kata setelah mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang anak kecil.
__ADS_1
***
"Aku hanya bercanda. Haha."
Stella mengucapkan kata-kata itu sambil berpura-pura tertawa. Mustahil baginya membeberkan rencananya yang dia susun kepada seseorang yang tidak dikenal. Stella melakukan itu karena ingin menunjukkan pada Leonard bahwa dia bukanlah sekadar anak kecil yang polos, tetapi seorang anak kecil yang tidak bisa diremehkan.
Kemudian Stella menatap Rielle dan Leonard secara bergantian.
"Kenapa wajah kalian masih tegang?"
"A-ah, itu ...." Rielle menggaruk lehernya, tidak tahu harus menjawab apa. Dia terkejut karena tidak menyangka bahwa putri raja itu memiliki sisi berbeda yang menakutkan. "Tentu saja karena Tuan Putri mengatakan kata-kata itu sambil tersenyum. Aku bahkan sampai merinding...."
Leonard, yang memiliki wajah tegang, segera mendapatkan ketenangannya kembali.
"Aku terkesan dengan caramu berbicara," pujinya. Dia pun bangkit dari tempat duduknya, meraih tubuh kecil Stella dan menggendongnya. "Permintaanmu yang tadi, aku setuju. Sekarang kau sudah mendapat kepercayaan dariku. Jadi, apalagi yang kau butuhkan?"
Ketika Leonard menggendong Stella, Stella merasakan hatinya menggelitik. Dia merasa sedang mengadakan reuni dengan seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya. Di sisi lain, Stella merasa bahwa adegan saat ini tampak familier.
Aku ingat kalau ayah si Shavir itu juga menggendongku seperti ini.
Apakah ini hanya kebetulan? Sepertinya begitu.
Setelah itu, Stella memikirkan kata-kata Leonard. Sesuatu yang brilian segera muncul di pikirannya.
"Aku punya permintaan terakhir," kata Stella sesaat kemudian.
"Apa itu?"
"Berikan aku hak penuh atas Eternal Flame," jawab Stella seraya tersenyum, membuat Leonard dan Rielle seperti tersambar petir. "Jadikan posisiku setara dengan Paman Rielle. Apa boleh?"
"En, anu ... Tuan Putri." Rielle memanggil Stella, wajahnya dipenuhi keraguan yang mendalam. "Permintaan itu sepertinya agak ... terlalu sulit."
"Terlalu sulit, ya?"
Stella memiringkan kepalanya, berpura-pura bersikap seperti sedang berpikir. Setelah itu, Stella mengatakan beberapa kalimat dengan nada dramatis, terdengar menyedihkan dan menyayat hati.
"Benar juga. Aku terlalu memaksa, ya. Padahal, ini adalah permintaan pertamaku. Ayah bahkan tidak pernah memberikan apa yang kuinginkan, hiks .... Yah, ini mungkin takdirku karena tidak punya ibu. Huhuhu...."
Air mata palsu segera turun dari kelopak mata Stella, namun di dalam hatinya dia menyeringai.
Oke, ayo jalani akting salah satu kakak perempuanku di duniaku dulu.
Tu-tuan Putri, perubahan ekspresi Anda sangat menakjubkan. Aku merasa ngeri dengan sandiwara yang Anda buat.
Setelah itu, Rielle merasa ada garis-garis berwarna hitam di belakangnya.
Memangnya, apa boleh menjelekkan Yang Mulia Raja di depan orang lain?
Sementara itu, Leonard tampak mempertimbangkan permintaan anak kecil perempuan yang sedang digendongnya. Setelah itu, Leonard mengangguk.
"Aku akan memenuhi permintaanmu."
"Wahh!"
"Apa?!"
Stella menatap Leonard dengan riang, sedangkan Rielle menatap tidak percaya pada ketuanya. Namun, Leonard tidak akan mengatakan hal itu tanpa ada alasan.
"Tapi, bisakah kau memberitahuku identitasnu?"
Stella segera menjawab dengan cepat, "Tentu saja!"
Dengan begini, rencanaku yang kedua dan ketiga sudah selesai! Aku hanya perlu menjalankan rencana pertama dan keempat!
***
"Ah .... Ini adalah teh hijau yang sangat menyegarkan~"
Stella meminum secangkir teh hijau yang diberikan Rielle padanya. Saat ini, Stella sedang berada di ruangan Rielle.
"Aku senang karena Tuan Putri menyukainya," balas Rielle sambil tersenyum.
Alasan mengapa dia memanggil Stella ke ruangannya adalah untuk membahas posisi yang didapat Stella dari Leonard.
"Nah, Tuan Putri, sekarang dengarkan penjelasanku."
Karena sekarang Tuan Putri sudah mendapat posisi yang tinggi di Eternal Flame, maka aku tidak perlu berbicara formal dengannya, batin Rielle seraya mengangguk dua kali.
Lalu Stella menjawab, "Baik," jawabnya di sela-sela meminum teh kesukaannya.
__ADS_1
"Karena aku adalah Wakil Ketua Eternal Flame, dan Tuan Putri mendapat posisi yang sama denganku, maka tidak mungkin jika Eternal Flame punya dua wakil ketua."
"Jadi?"
"Jadi, Tuan Putri tidak akan menjadi wakil ketua, tapi menjadi komandan."
Gerakan Stella yang sedang meminum tehnya seketika berhenti. Suara cangkir teh yang diletakkan di atas meja kemudian terdengar.
Sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu.
Ingatan Stella menjelajahi sebuah memori yang tidak pernah tersingkirkan dari kepalanya.
"Kami siap beraksi, Komandan Stella!"
Lalu Stella menghela napas berat.
Rasanya menyakitkan saat mengingat kenangan itu, apalagi karena aku tidak tahu jalan pulang, aku merasa seperti dipisahkan dari sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Tidak pernah terbayangkan oleh Stella bahwa dia akan memasuki dunia asing ini setelah menikmati kehidupan bahagianya di dunia modern.
Ayah, Ibu, Kakek, semuanya, aku merindukan kalian....
Deg! Deg! Deg!
Emosi yang tidak biasanya dirasakan Stella kini mengelilingi hatinya.
Apa Kak Larson masih mengerjakan tugas-tugas negara daripada bertunangan atau menikah?
Apa Kak Eliza masih sering berdebat dengan Profesor Cain karena perbedaan pendapat?
*Apa Kak Belle masih sering mengadakan pesta dan membolos saat pelajaran tata krama dan sejarah?
Apa Kak Zenos masih sering berlatih berpedang walaupun aku tidak ada?
Dan ... apa kembaranku, Kak Jevon, masih bersikap konyol dan kekanak-kanakan walaupun umurnya sudah 20 tahun*?
"Apa kalian merindukanku...?"
Suara itu terdengar lirih dan sedih, sehingga membuat Rielle menatap Stella dengan penasaran.
"Ada apa, Tuan Putri?"
"... Tidak ada," jawab Stella setelah menyadari bahwa dia mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.
Rielle terdiam. Mata cokelatnya menatap anak kecil perempuan di depannya dengan intens. Apakah dia salah melihat? Sepertinya tadi ada kekosongan dan kesedihan di mata merah tajam itu. Rielle tidak tahu apakah dia salah melihat atau tidak.
"Begitu." Rielle hanya mengangguk sebagai tanggapan, berpura-pura tidak melihat kekosongan dan kesedihan di mata merah Stella. Dia pun kembali melanjutkan, "Kalau begitu, aku akan―"
Brak!
"Wakil Ketua!!"
Suara dobrakan pintu dan seruan seseorang memotong perkataan Rielle. Orang itu masih berdiri di ambang pintu sambil menetralkan pernapasannya, dia terengah-engah.
Rielle tampak terganggu ketika seseorang memasuki ruangannya tanpa seizinnya.
"Sudah kubilang, jangan mendobrak pintu ruanganku, ketuklah terlebih dahulu. Apa kau tidak me―"
Bruk!
Orang itu bersujud di lantai.
"Tolong selamatkan saya, Wakil Ketua!"
"Apa-apaan ini?"
"Yang Mulia Raja akan membunuh saya!"
"Hah?"
――――――――――――――
Next chapter~
Bab 45. Fourty Five (45).
"Berani-beraninya pelayan rendah sepertimu berbohong di hadapanku."
TBC!
__ADS_1