
Di halaman belakang Istana Everstell, lebih tepatnya di taman bunga yang indah itu, keheningan yang mencekam menyelimuti suasana di sekitar tempat itu.
Di depan Stella, Raja Shavir duduk sambil meminum secangkir teh, sedangkan di samping Stella ada Dhemiel yang sedang memakan beberapa makanan ringan.
Stella tidak tahu sejak kapan mereka berkumpul seperti sebuah keluarga yang harmonis seperti saat ini.
Duduk di depan Stella, Raja Shavir memerhatikan gadis kecil itu, kemudian bibirnya secara tidak terkendali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Kenapa kau diam saja?"
Tatapannya mengarah pada beberapa piring makanan ringan yang ada di atas meja putih itu.
"Biasanya, anak-anak seusiamu menyukai makanan seperti itu. Contohnya, Dhemiel."
Dhemiel, yang mendengar sang raja menyebutnya sebagai salah satu di antara semua anak kecil yang menyukai makanan manis, seketika menjadi cemberut.
"Jangan jadikan aku sebagai contoh," kata Dhemiel dengan nada kesal, masih cemberut, bahkan cara berbicaranya dengan makanan yang penuh di mulutnya membuat anak itu tampak menggemaskan.
Raja Shavir berpura-pura tidak mendengar perkataan Dhemiel, dia mengalihkan tatapannya ke arah Stella.
Lalu, Stella berucap dengan nada tidak menyukai sesuatu seperti makanan manis, "Saya tidak suka makanan seperti itu."
"Ah...."
Mendengar ucapan Stella, Raja Shavir sedikit tercengang. Dia tidak menyangka jika ketidaksukaannya terhadap makanan manis menular kepada anak bungsunya.
Dhemiel, yang ada di samping Stella, tiba-tiba menghentikan gerakannya memakan makanan ringan itu ketika dia mendengar ucapan Stella. Dhemiel pun menatap Stella dengan pandangan tidak percaya.
"Aku tidak menyangka kalau kau juga tidak suka makanan manis, seperti Ayah."
Sebelah alis Stella terangkat kala mendengar kata-kata Dhemiel.
'Apa si Shavir itu juga tidak menyukai makanan manis, sama sepertiku?' batinnya dengan nada terkejut. 'Ini benar-benar konyol.'
"Lalu apa yang kau suka?"
Pertanyaan dari Raja Shavir mengejutkan Stella. Dia terbangun dari lamunannya. Mata ungunya menatap Raja Shavir dengan pandangan kosong.
Stella tidak menyangka jika manusia es itu akan menanyakan hal seperti itu padanya. Sesaat setelahnya, sesuatu seketika melintas di pikirannya. Stella tiba-tiba mengingat halaman pertama dari buku dongeng "The Poor Princess" yang baru dibacanya ulang tadi saat berada di toko buku. Kemudian, kilatan kemarahan melintas di mata ungunya.
"Apakah sekarang Yang Mulia sedang berusaha mendekati saya?"
Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Mata ungunya menajam.
Raja Shavir seketika terdiam. Dhemiel mematung. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti taman bunga yang indah itu.
"Saya sudah pernah mengatakan hal ini sebelumnya pada Anda, Yang Mulia: Anda tidak perlu mengurusi saya, karena saya tidak membutuhkan perhatian Anda."
'Kalau kau tidak menunjukkan perhatianmu padaku, maka aku tidak akan merasa menyesal ketika harus meninggalkan dunia ini saat waktunya tiba,' lanjut Stella di dalam hatinya.
__ADS_1
Ya, itu adalah alasan mengapa Stella selalu mengabaikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dia tidak membutuhkan perhatian dan kasih sayang seperti itu dari orang-orang di dunia ini. Ketika saatnya tiba, dia akan meninggalkan dunia ini tanpa perasaan menyesal menggerogoti hatinya.
Jika dia menerima semua perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya, bukankah akan menjadi sulit baginya untuk meninggalkan dunia ini?
Juga, tidak ada seorang pun yang rela meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi.
Dengan demikian, Stella harus bertahan hidup di dunia ini tanpa perhatian dan kasih sayang.
...―――...
Acara minum teh dadakan yang diadakan di taman bunga Istana Everstell dibubarkan dengan alasan bahwa sang raja dan pangeran akan menghadiri beberapa pertemuan penting. Stella mengatakan bahwa tidak apa-apa baginya jika Raja Shavir dan Dhemiel harus pergi. Pada akhirnya, dia ditinggalkan seorang diri di tempat yang sunyi itu.
Di tempat yang sunyi itu, Stella duduk sambil membaca sebuah buku sihir yang terlihat tebal. Itu adalah buku sihir yang dibelinya di toko buku tadi. Tidak ada makanan ringan di atas meja putih itu, hanya ada secangkir teh hijau dan buku dongeng "The Poor Princess" yang diletakkan di sana.
"Hm...."
Stella membaca setiap halaman yang ada di buku sihir itu dengan serius, sesekali dia akan menyesap teh hijau yang telah disiapkan Suzy, kemudian kembali melanjutkan bacaannya. Setelah cukup lama membaca, pikiran Stella terfokus pada keanehan yang baru-baru ini terjadi padanya, lalu dia bertekad mencari penyebab keanehan itu melalui buku sihir tebal yang ada di tangannya.
"Mungkin, ada beberapa penjelasan di buku ini tentang sihir yang dapat mengubah warna mata dan rambut."
Setelah itu, Stella dengan gencar mencari topik yang membahas tentang mengubah warna mata dan rambut.
Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, di halaman ke-231, ada beberapa penjelasan mengenai mengubah warna mata dan rambut. Namun, itu terkait dengan penyamaran. Artinya, penyihir mana pun bisa mencoba sihir penyamaran seperti itu. Faktanya, sihir itu tidak bisa bertahan lebih dari satu hari, sedangkan sihir seperti itu bertahan di tubuh Stella selama bertahun-tahun, jadi tidak mungkin penjelasan itu yang dicarinya.
Setelah itu, dengan tekad yang kuat, Stella kembali mencari, hingga akhirnya tatapannya berhenti di halaman ke-501. Penjelasan mengenai sihir mengubah warna mata dan rambut yang ada di halaman itu membuatnya penasaran.
Kata "bangsawan penyihir" membuat Stella bingung sekaligus penasaran.
Kemudian, Stella membaca kalimat selanjutnya yang tertera di buku itu.
[Sihir mengubah warna mata dan rambut ini bisa ditanamkan di tubuh seseorang, sihir ini bisa bertahan selama bertahun-tahun, bahkan selamanya.]
"Apa?"
Stella dibuat tidak bisa berkata-kata. Dia tercengang. Fakta itu membuatnya kehilangan akal sehatnya selama beberapa menit. Setelah itu, Stella akhirnya kembali pada kenyataan.
"Sihirnya ... bisa bertahan selamanya?"
Lalu matanya bergerak cepat, membaca kalimat selanjutnya mengenai cara membatalkan sihir semacam itu.
[Untuk membatalkan sihir ini, bisa dilakukan dengan menggunakan sihir yang lebih kuat. Ketika sihir yang lebih kuat itu bertabrakan dengan sihir ini, maka bisa mengembalikan warna mata dan rambut seperti semula, namun itu hanya bertahan selama beberapa hari.]
Tiba-tiba, adegan yang terjadi ketika Raja Shavir mengalirkan sihirnya pada Stella muncul di kepalanya. Kejadian itu persis seperti yang dijelaskan di dalam buku sihir itu.
Lalu Stella menggelengkan kepalanya sambil bergumam, "Tidak. Aku tidak mungkin meminta bantuan si Shavir itu untuk membatalkan sihir yang tertanam di tubuhku ini."
Bagaimanapun situasinya, Stella tidak akan pernah meminta bantuan pada manusia es itu.
Setelah itu, tatapan Stella mengarah pada kalimat selanjutnya yang dijelaskan buku sihir itu.
__ADS_1
[Selain cara di atas, ada lagi sebuah cara lainnya, tetapi ini sedikit berbahaya. Untuk membatalkan sihir ini, seseorang harus memakan Buah Kristal Merah yang hanya tumbuh di Pegunungan Aros, pegunungan tertinggi dan ditutupi salju tebal.]
"Pegunungan Aros?"
Stella mengulang nama pegunungan itu. Alisnya mengerut.
"Di mana itu?"
...―――...
"Aku tidak tahu bagaimana caranya melelehkan hati anak itu."
Suara seseorang terdengar, nadanya tampak suram, dia seperti sedang menumpahkan isi hatinya.
"Katakan, bagaimana caranya melelehkan hati anak itu?"
Dhemiel, yang mendengar pertanyaan ayahnya, langsung mengangkat kedua bahu kecilnya, membuat Raja Shavir berdecak. Setelah itu, Dhemiel tiba-tiba mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan panggilan yang disematkan Raja Shavir pada Stella. Dia pun mengoreksi.
"Ayah, nama adikku Stella, dan bukannya "anak itu". Lalu, Ayah harus memanggilnya "anakku" atau "putriku". Mengerti?"
Creed, yang berdiri di samping Raja Shavir, seketika terkekeh ketika mendengar sang pangeran mahkota menegur tuannya.
Dia pun berkata, "Apa yang dikatakan Pangeran Dhemiel memang benar, Yang Mulia."
"Aku tidak memintamu berbicara."
Suara dingin itu langsung membuat Creed menutup mulutnya rapat-rapat. Kemudian, pandangan Raja Shavir terjatuh pada Dhemiel.
"Jadi, putriku sudah menjadi adikmu, ya?"
"Oho, tentu saja!" balas Dhemiel dengan bangga, kemudian dia mulai memerkan apa yang terjadi di pasar ibukota. "Apakah Ayah tahu? Tadi di pasar, Stella bilang begini, "Aku ingin makan itu lagi, Kakak. Kumohon belikan aku lagi, ya~?", lalu aku membelikannya sepuluh tusuk makanan itu, dan dia bilang terima kasih padaku sambil tersenyum! Argh, andai saja aku bisa merekam senyumnya yang manis itu!!"
Mendengar Dhemiel, yang bercerita dengan penuh semangat tentang kejadian yang terjadi di pasar ibukota tadi, seketika membuat mood Raja Shavir yang tadinya buruk semakin buruk hingga jatuh ke titik terendah.
"Stella terlihat gembira saat itu, aku juga membelikannya sebuah buku dongeng, dan dia tersenyum ke arahku! Uhh ... senyumnya itu manis sekali! Sangat-sangat manis!!"
"Dhemiel, berhenti bercerita."
"... Ya?"
"Kubilang, berhenti pamer!"
"...."
Mendengar itu, Dhemiel segera memakan makanan ringan yang sudah ada di atas meja, berpura-pura tidak pernah menceritakan hal itu pada ayahnya.
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1