Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Thirty Six (36)


__ADS_3

Pagi itu, duel antara Stella dan Jesriel terjadi. Mereka bertarung di lapangan, tempat di mana pelatihan berpedang secara terbuka berada.


Trang. Trang. Siiing!


Suara kedua pedang yang saling berbenturan terdengar.


"Uwooo! Kalahkan Tuan Jesriel, Tuan Putri!"


"Kyaaa! Kami mendukungmu, Tuan Putri!"


Sorak-sorai dari para pelayan yang menonton pertarungan antara Stella dan Jesriel terdengar, memanaskan suasana di lapangan. Meski begitu, Stella maupun Jesriel sama sekali tidak terganggu, mereka tetap fokus pada duel hari ini.


Stella menatap ke arah Jesriel dengan tatapan menantang, sedangkan Jesriel membalas tatapannya dengan senyuman.


Pedang Stella dan Jesriel kembali berbenturan. Stella mengayunkan pedangnya ke arah Jesriel, Jesriel menangkisnya, lalu Stella membalik badannya dan terus mengayunkan pedangnya ke arah Jesriel.


"Haa!"


Ketika Stella membalik badannya dan mengayunkan pedangnya ke arah Jesriel, pria berambut oranye itu dengan cepat menghindar dan menyerang Stella dari arah belakang.


"Ya! Serang Tuan Jesriel seperti itu!"


"Ack! Tuan Putri, di belakang Anda!"


Kemudian Stella melirik melalui ekor matanya, berbalik, lalu mengayunkan pedangnya ke arah Jesriel.


Trang.


Pedang keduanya kembali saling berbenturan.


"Ayo selesaikan duel ini lebih cepat, Guru," ucap Stella sambil memberi tekanan pada pedangnya, mendorong pedang Jesriel.


"Hoho, kalau kau bisa," balas Jesriel sambil menangkis serangan dari Stella.


"Ah! Ah! Serang ke samping juga!"


Trang. Trang. Swoosh!


Stella berlari ke arah Jesriel, mengayunkan pedangnya ke segala arah dengan cepat, membalik badannya, kemudian kembali menyerang.


Di sisi lain, Jesriel sedikit merasa kesulitan dengan kecepatan Stella. Tubuh kecil gadis itu membuatnya bisa bergerak bebas, bahkan melompat.


Bertumpu pada tanah, Stella mengambil ancang-ancang sebelum akhirnya melompat ke arah Jesriel, lalu mengayunkan pedangnya.


"Haa!"


Siiing!


Pedang itu terlepas dari genggaman Jesriel. Melihat kesempatan itu, Stella segera mendarat di belakang Jesriel dan mendorong pria itu hingga terjatuh di tanah.


"Ack!"


Jesriel mengeluarkan suara kesakitan. Pria itu berusaha membalik badannya yang telungkup di tanah. Ketika tubuhnya menghadap langit, sebuah pedang ramping dengan perpaduan warna hitam dan biru mendarat beberapa senti dari lehernya.


Glek.


Jesriel meneguk salivanya dengan susah payah, sedangkan napasnya terengah-engah, tidak beraturan. Di hadapannya, dia bisa melihat muridnya yang cantik berdiri sambil menodongkan pedang ke arahnya, senyum kemenangan tercetak jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Lihat itu, lihat! Tuan Jesriel kalah!"


"Yeah! Tuan Putri kita menang!!"


"Uwooo! Selamat, Tuan Putri!"


Berbagai ucapan selamat untuk Stella datang dari seluruh pelayan. Mereka kembali menyoraki kemenangan Stella.


Sementara itu, Rielle, yang sedari awal menonton duel antara Stella dan Jesriel, langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendatangi Stella dengan wajah cerah, tak lupa dengan tepuk tangan nyaring yang menyertai kedatangannya.


"Tuan Putri sangat berbakat dalam hal berpedang! Saya sungguh terkesan!" katanya berupa pujian.


"Terima kasih atas pujiannya," balas Stella seraya membantu Jesriel berdiri. "Apa Guru tidak apa-apa?"


"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Jesriel sambil tersenyum lebar, lalu dia memeluk Stella seraya berkata dengan nada dramatis, "Huhu .... Muridku yang cantik dan sedikit berekspresi, kau akhirnya mengalahkan gurumu yang tampan ini di pertarungan resmi! Aku sangat bahagia, sampai-sampai air mataku tidak berhenti mengalir!"


Stella, yang dipeluk secara tiba-tiba oleh Jesriel, seketika merasa kaku, tetapi kemudian alisnya mengerut, ekspresi wajahnya mendadak suram.


Guru, apa maksud dari panggilan "Muridku yang cantik dan sedikit berekspresi"? batin Stella sambil mengeluh di dalam hatinya. Dia tidak tahu mengapa nama panggilannya akhir-akhir ini sangat unik. Dan, air matamu tidak berhenti mengalir? Hei, aku hanya melihat air mata imajiner yang kau keluarkan.


Setelah selesai "menumpahkan" isi hatinya, Jesriel melepaskan pelukannya dan mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Stella.


Tak lama kemudian, ketika Jesriel berjalan mengambil pedangnya yang terpental tak jauh dari tempatnya, Rielle segera mendekati Stella.


"Aku ingin merekrutmu, Tuan Putri."


Perkataan Rielle yang tiba-tiba membuat Stella mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud dari ucapan itu.


"Apa maksud Paman?"


"Apa Tuan Putri bersedia bergabung dengan Agen Tentara Bayaran "Eternal Flame"?"


Satu pertanyaan itu membuat Stella menatap ke arah Rielle dengan tatapan tidak percaya.


"Maksudmu, agen tentara bayaran yang sedang mencari anggota baru itu?"


"Benar," jawab Rielle sambil tersenyum. "Aku adalah wakil ketuanya."


Stella terdiam. Dia tidak menyangka bahwa Rielle adalah wakil ketua dari Agen Tentara Bayaran "Eternal Flame", sebuah komunitas tentara bayaran dari Kerajaan Evergard yang hendak diikuti Stella.


Setelah terdiam selama beberapa saat, Stella berucap dengan nada pura-pura tidak tertarik, "Aku tidak tertarik. Memang, apa keuntunganku bergabung dengan Eternal Flame?"


Mendengar itu, Rielle tersenyum lebar. Itu adalah pertanyaan yang dinanti-nantikannya, lalu Rielle menjawab dengan nada percaya diri, "Aku tahu kalau kau akan bertanya seperti itu, jadi aku sudah mencari jawaban. Keuntungannya, kau bisa mengendalikan sihir yang ada di tubuhmu."


"Apa? Mengendalikan?" Stella bergumam, masih tidak mengerti.


"Ya, termasuk mengendalikan sihir yang mengubah wujud aslimu―" Lalu Rielle berbisik dengan nada rendah, "―wahai Tuan Putri dengan rambut pirang dan mata merah."


Deg!


Stella membeku. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Kata-kata tidak terduga dari Rielle membuatnya kehilangan akal sehat selama beberapa detik.


Ba-bagaimanaa bisa dia tahu...?


***


Pembicaraan antara Stella dan Rielle yang tampak serius membuat Jesriel menjauhi keduanya, dia tidak ingin menganggu percakapan mereka berdua. Sementara Jesriel menjauh dan beristirahat, aksi saling tatap-menatap yang terjadi antara Stella dan Rielle masih berlanjut. Tidak ada yang berbicara. Semilir angin pagi yang berembus menambah keheningan panjang di antara mereka.

__ADS_1


Ketika pertama kali bertemu Stella, Rielle merasakan kekuatan sihir yang tidak biasa dari gadis kecil itu. Kekuatan itu bukan mengenai elemen sihir yang dimiliki Stella, tetapi kekuatan sihir yang mengelilingi gadis itu, secara perlahan-lahan Rielle dapat merasakan kekuatan sihir yang sangat akrab baginya melindungi gadis kecil itu.


Itu adalah sihir yang sama dengan sihir yang dimiliki oleh ketua "Eternal Flame".


Merasakan kesamaan antara sihir Stella dengan ketuanya, Rielle menumbuhkan kecurigaan di dalam hatinya. Dia tidak yakin apakah kecurigaannya ini adalah fakta atau bukan, namun yang pasti dia merasa bahwa ketuanya dan Stella memiliki hubungan darah yang erat, layaknya sebuah keluarga.


Oleh karena itu, Rielle bertekad merekrut Stella menjadi anggota "Eternal Flame". Jika diketahui bahwa Stella dan ketuanya memiliki hubungan darah, maka Rielle akan sangat bahagia, dia ingin agar ketuanya hidup dalam kebahagiaan.


***


"Aku terima," Stella berucap setelah memikirkan tawaran Rielle. Dia tidak bisa membuang kesempatan emas ini dengan mata tertutup, jadi dia harus menerimanya. Lagi pula, Stella sudah letih mencari informasi tentang sihir yang mengubah wujud aslinya, jadi dia tidak akan menolak tawaran Rielle. "Aku bersedia bergabung dengan Eternal Flame."


"Pilihan yang bagus!" Rielle berseru dengan gembira. Dia pun menjabat tangan Stella. "Aku yakin pilihanmu ini tidaklah salah. Sekarang, Tuan Putri sudah resmi bergabung dengan Eternal Flame. Selamat!"


"Terima kasih, dan mohon bantuannya."


Lalu Rielle melepaskan tangannya dari Stella. Dia merogoh saku celananya, kemudian memberikan sebuah kertas dan kartu pada Stella.


"Kalau begitu, datanglah ke tempat ini, ini adalah markas utama Eternal Flame," ucap Rielle seraya memperlihatkan sebuah kertas pada Stella, yang ternyata adalah peta tempat markas-markas Eternal Flame di seluruh wilayah Kerajaan Evergard berada. "Jangan lupa datang dengan membawa kartu yang kuberikan ini. Kartu ini menunjukkan bahwa kau adalah tamu yang istimewa. Aku tidak ingin anggota-anggota Eternal Flame yang tidak mengenalimu membuat masalah denganmu. Itu akan merepotkan."


"Baik," jawab Stella sembari mengambil peta dan kartu yang diberikan Rielle. "Tapi, aku tidak yakin kalau aku bisa datang besok."


"... Tidak masalah, yang penting kau datang."


"Baiklah."


"Oh, benar!" Rielle tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia pun berbisik, "Pakailah topeng setengah wajah saat kau datang. Juga, bisakah warna rambut dan matamu berubah ke warna aslinya? Ini untuk menghindari kalau-kalau ada yang mengenalimu sebagai seorang putri."


"Untuk yang pertama, aku bisa memakai topeng. Tapi untuk yang kedua, aku tidak yakin."


"Mengapa?"


"Warna rambut dan mataku akan berubah saat aku emosi atau saat si manusia es―eh, maksudku saat Yang Mulia mengalirkan sihirnya ke tubuhku," jawab Stella, dia nyaris menyebut julukan yang disematkannya pada Raja Shavir, beruntung Stella bisa mengontrol mulutnya.


"Begitu." Rielle mengangguk, paham. Lalu dia terdiam seraya berpikir, kemudian mengarahkan telapak tangannya ke arah Stella, setelah itu sebuah batu kristal berwarna merah muncul. Rielle pun memberikan batu kristal itu pada Stella. "Batu ini bisa mengubah warna rambut dan matamu ke warna aslinya. Kau hanya perlu mengetuknya sebanyak dua kali."


Stella mengambil batu kristal itu. Dia tidak tahu kalau ada benda seperti itu yang bisa mengembalikan wujud aslinya.


"Terima kasih," ucap Stella dengan tulus. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa pada Rielle, kata "terima kasih" saja tidak cukup untuk menggambarkan sosok Rielle yang membantunya begitu banyak. "Aku benar-benar berterima kasih."


"Tidak, akulah yang seharusnya berterima kasih," tukas Rielle seraya tersenyum. "Kalau kecurigaanku benar, maka hidup Ketua tidak akan sesuram saat ini, kau mungkin adalah cucunya," lanjutnya dengan gumaman, yang sayangnya tidak didengar oleh Stella.


Setelah itu, Rielle berbincang-bincang dengan Stella sesaat, sebelum akhirnya berpamitan. Kemudian, tiga orang anak kecil datang menghampiri Stella.


――――――――――――――


rekor chapter terpanjang lagi~


niatnya di chapter ini, aku mau jelasin identitas asli Xylia, tapi ideku tiba-tiba berubah '-'


alhasil, aku ngejelasin identitas Rielle yang merupakan wakil ketua dari Agen Tentara Bayaran "Eternal Flame" yang ingin diikuti Stella.


dan ya, nambah satu lagi misteri tentang keluarga Stella~ (tolong jngn hujat aku _(_^_)_ /plak)


kyknya next chapter khusus buat jelasin identitas Xylia(?) biar kalian gk bingung karena misterinya terlalu banyak (salahkan kepalaku yg tiba² munculin ide kyk gitu (T ▽ T))


TBC!

__ADS_1


__ADS_2