
Suara langkah kaki seseorang terdengar di lorong kediaman Duke Fictin.
"Hm, hm~ Hm, hm~"
Dia bersenandung dengan riang. Rambut pirangnya bergoyang setiap kali dia berjalan. Mata hijaunya yang seperti daun menatap ke depan dengan tatapan bersemangat.
Tidak butuh waktu lama, dia akhirnya mencapai pintu ruang makan. Segera, dua orang pelayan membuka pintu besar itu, memperlihatkan sepasang suami-istri dan nuansa harmonis di sekitar mereka. Ini adalah pemandangan yang sangat langka.
"Ayah! Ibu!" Xylia memanggil mereka dengan wajah cerah. Senyuman lebar tampak di wajahnya. Ia berlari dengan kaki kecilnya, menghampiri orang tuanya. "Apakah kita akan makan siang bersama? Sungguh?"
"Tentu saja." Yang menjawab adalah Levon. Dia tersenyum lebar. Matanya menatap Daneen yang duduk di sampingnya. "Aku merasa sudah mengabaikan kalian selama ini karena sibuk memenuhi ambisiku. Aku benar-benar menyesal. Aku sungguh minta maaf."
Daneen menggelengkan kepalanya dan meraih tangan suaminya. "Aku senang karena kau sudah tahu kesalahanmu. Aku sudah memaafkanmu," katanya dengan tulus sambil tersenyum.
Berdiri di samping Levon, Xylia ikut mengangguk dan menghibur ayahnya. "Iya, Ayah, tidak apa-apa. Xylia juga sudah memaafkan Ayah!"
Mendengar hal itu, Levon semakin melebarkan senyumannya. Dia kemudian meraih tubuh mungil Xylia, mengangkatnya, dan mendudukkan gadis berambut pirang itu di pangkuannya.
"Ayo kita makan bersama."
"Benar. Ayo kita makan."
Daneen dengan cekatan mengambil piring yang telah diisi dengan makanan buatannya dan meletakkannya di depan Xylia. Lalu Levon menyendokkan makanan yang ada di piring itu dan bersuara.
"Ayo buka mulutmu, Xylia."
"Ayah akan menyuapiku?"
"Tentu saja."
"Baiklah!"
Xylia pun membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya. Wajahnya terlihat berseri-seri. Daneen yang melihat mereka langsung tersenyum senang.
Andai kejadian ini terjadi setiap hari, mungkin aku akan merasa sangat bahagia.
"Oh, iya." Levon menatap istrinya sambil bertanya, "Bisakah aku mengambil darah Xylia?"
Ekspresi Daneen seketika mengeras. Senyumannya langsung sirna. "Untuk apa?" Wanita itu balik bertanya dengan nada dingin.
"Kenapa reaksimu begitu dingin?" Levon tampak tenang, seolah-olah sudah memperkirakan reaksi istrinya. Pria itu tersenyum sambil menjelaskan, "Aku ingin membuat sihir pelindung untuk Xylia. Pada tiga perayaan besar yang akan terjadi sebentar lagi, aku yakin kalau beberapa musuh Yang Mulia Raja akan menargetkan Xylia, jadi aku berpikir untuk membuat sihir pelindung yang melindungi Xylia."
Daneen terdiam. Dia menatap suaminya seraya berpikir keras. Apakah mungkin hanya karena ingin membuat sihir pelindung dia sampai ingin meminta darah putrinya sendiri? Daneen segera menepis pikiran itu. Dia tidak percaya jika suaminya bisa berubah menjadi orang yang lembut dan perhatian dalam waktu singkat.
"Kenapa kau membutuhkan darah Xylia?"
"Sebagai orang yang memiliki aura Dewi Kehidupan, darah Xylia pasti bisa menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk luka yang ada di tubuhnya sendiri. Jadi aku akan mencoba menggabungkan darah Xylia dengan sihir pelindung yang aku buat, sehingga nanti Xylia bisa melindungi dirinya sendiri sekaligus menyembuhkan tubuhnya yang terluka."
Sekarang Daneen mengerti maksud dari perkataan Levon. Suaminya ingin menciptakan sihir pelindung sekaligus sihir penyembuh untuk Xylia.
Jadi ketika seseorang dengan kekuatan sihir yang besar menembus sihir pelindung Xylia, dan kebetulan pada saat itu Xylia terluka dan tidak ada seorang pun di sekitarnya, dia bisa segera menyembuhkan dirinya tanpa bantuan orang lain. Lalu setelah itu, Xylia memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari orang yang menyerangnya.
Itu adalah rencana yang strategis dan berguna.
"Oke. Kau boleh mengambil darah Xylia."
Daneen mengangguk, menyetujui rencana Levon. Lagi pula, dia percaya bahwa suaminya tidak akan menyakiti Xylia, karena Daneen tahu bahwa keberadaan Xylia sangat penting bagi kelancaran rencana Levon yang bertujuan mengambil alih takhta kerajaan.
"Terima kasih, sayangku."
__ADS_1
Levon tersenyum, tetapi di dalam hatinya dia menyeringai.
Tentu saja tujuanku mengambil darah Xylia bukan hanya untuk itu.
***
Raja Shavir bersikukuh tidak ingin membiarkan Stella pergi. Sifat kepala batu pria itu membuat Stella harus memutar otak agar bisa diizinkan pergi ke ibukota. Suara "ding!" pun berdering di pikiran Stella sesaat setelahnya. Lagi, ide brilian sekaligus memalukan muncul di kepala Stella seperti air yang mengalir. Ia mengepalkan tangannya.
Aku harus pakai cara itu! Masa bodoh dengan harga diri!
Lalu Stella, yang duduk di sofa ruang kerja Raja Shavir, bangkit dari tempatnya dan menuju pria bermata ungu itu sambil berlari kecil.
"Ayah~! Aku menyayangimu!" Stella merentangkan kedua tangannya seraya tersenyum lebar, wajahnya dibuat berseri-seri, dan "grep!". Stella memeluk Raja Shavir dan menggosokkan pipinya yang lembut di pipi pria itu. "Izinkan aku pergi, ya~?"
"...!"
"...?!"
Reaksi Raja Shavir dan Leonard sama, mereka terkejut. Tetapi bedanya, Raja Shavir terkejut lalu membeku, sedangkan Leonard melototkan matanya, tidak percaya dengan pemandangan yang disuguhkan Tuhan padanya.
Beberapa saat setelahnya, Raja Shavir menormalkan ekspresinya dan menarik Stella dari pelukannya, memegang kedua bahu gadis kecil itu, dia menatapnya dengan wajah serius.
"Stella."
"Ya?"
"Lain kali, kalau kau ingin pergi ke suatu tempat tanpa Ayah, minta izinnya seperti ini saja. Oke?"
Dia malah menikmati! Aku melakukan ini demi diriku sendiri, oke?!
Berbanding terbalik dengan isi pikirannya, Stella tersenyum dan mengangguk. "Baik!"
***
Stella berseru sambil meregangkan otot-otot tangannya. Lalu dia mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras.
"Astaga. Kelakukan putri yang satu ini sungguh ajaib." Di samping Stella, Dhemiel menyindir dengan halus lalu tertawa. "Aku penasaran bagaimana kau membujuk Ayah."
Stella mendelik tajam ke arah Dhemiel. Dia menjawab dengan ketus, "Kau tidak perlu tahu."
"Kenapa panggilanku tidak ada, ya?"
Dhemiel berpura-pura berpikir sambil bersiul, membuat Stella mendecakkan lidahnya karena kesal.
Ayah dan anak ini memang sama. Mereka benar-benar meresahkan.
Stella menimpali di dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya. Namun, karena sekarang dia memiliki tujuan untuk hidup di dunia ini, Stella tidak akan mengabaikan orang-orang di sekitarnya.
Stella pun tersenyum seraya menjawab, "Kakak tidak perlu tahu. Dilarang plagiat."
"Kau berkata seakan-akan aku tidak punya pekerjaan sampai melakukan hal seperti itu," balas Dhemiel sambil tersenyum miring.
Stella mengangkat bahunya. "Yah, masa depan, 'kan, tidak bisa diprediksi," tukasnya dengan cepat sambil memasang wajah tidak peduli.
"Wah, aku sangat kesal."
"Aku terharu, Kakak."
Mereka berdua saling tersenyum hingga mata keduanya menyipit, namun beberapa kesatria yang bertugas menjaga mereka dapat merasakan atmosfer panas yang mengelilingi dua anak raja itu.
__ADS_1
Aku mengajak Dhe―tidak, maksudku Kak Dhemiel. Aku mengajaknya karena tidak sengaja berpapasan saat aku keluar dari istana si Shav―tidak, ayahku.
Mengalihkan pandangannya dari Dhemiel, Stella menarik lengan tangan anak laki-laki itu sambil berjalan.
"Ayo, cepatlah. Kita harus cepat sampai ke sana!"
"Wow. Aku tercengang. Hanya kau yang bisa memerintah pangeran mahkota sepertiku dengan kelakuan seperti ini."
"Ini bukan saatnya mencibirku!"
"Baiklah, baiklah."
***
Stella dan Dhemiel akhirnya tiba di depan toko buku yang ada di sudut ibukota. Toko buku itu tetap sama seperti saat pertama kali Stella mengunjunginya.
"Ayo masuk, Kak."
"Ya, berhati-hatilah."
Keduanya memasuki toko itu, sedangkan para kesatria yang mereka bawa menunggu di depan pintu masuk toko. Suara bel yang dipasang di atas pintu pun berbunyi, mengambil alih perhatian seorang wanita tua yang sedang membersihkan toko. Wanita tua itu tersenyum dan membungkuk rendah. Dia pun menyapa dengan ramah.
"Selamat datang kembali, Pangeran Mahkota dan Tuan Putri. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."
Dia tahu?
Stella berkedip, lalu menertawakan dirinya sendiri.
Tentu saja dia tahu. Aku, 'kan, sedang tidak menyamar.
Setelah itu, wanita tua itu mempersilakan Stella dan Dhemiel duduk di sebuah sofa, lalu mulai menyiapkan dua cangkir teh dan beberapa makanan ringan.
"Silakan dinikmati. Saya minta maaf jika tidak sesuai selera, karena hanya ini yang kami miliki."
"Tidak apa-apa," balas Dhemiel dengan sopan sambil tersenyum, Stella yang duduk di sampingnya bahkan terkejut karena anak laki-laki bar-bar itu bisa bersikap sopan.
Mengalihkan perhatiannya dari Dhemiel, Stella beralih menatap wanita tua itu. "Anda siapa?" tanyanya seraya melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan pria tua yang ditemuinya sebelummya.
"Saya istri dari pemilik toko ini," jawab wanita tua itu sambil tersenyum.
"Begitu." Stella mengangguk, lalu memperlihatkan buku dongeng "The Poor Princess" yang dia beli di toko buku ini. "Di mana Anda mendapatkan buku ini?"
Wanita tua itu memandang buku yang diperlihatkan Stella dalam diam, lalu menjawab, "Suami saya menemukan buku itu di istana."
"Apa?"
"Suami saya menemukannya di istana Yang Mulia Ratu lima tahun yang lalu."
"Istana ... Yang Mulia Ratu?"
Keterkejutan yang amat dalam tampak pada ekspresi Stella dan Dhemiel. Kedua mata mereka sempurna membulat.
"Benar."
Apa hubungan pasangan tua suami-istri ini dengan ibuku? Dan bagaimana buku dongeng ini bisa ditemukan di istana ibuku?
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1