Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Ninety Six (96)


__ADS_3

Sriiingg!


Tiga lingkaran sihir kecil berpola rumit dengan warna putih perak berputar di sekeliling sebuah tanah bersalju. Tak lama kemudian, dimensi bawah yang tersembunyi di bawah tanah bersalju itu retak sedikit demi sedikit, kemudian terbelah. Anak-anak tangga yang terbuat dari es pun muncul bersamaan dengan terbukanya dimensi tersembunyi itu.


Seorang anak laki-laki menjentikkan jarinya. Ia menghilangkan tiga lingkaran sihir kecil tadi, lalu berjalan masuk, menuruni anak-anak tangga dan menuju ke dasar dimensi bawah.


Tanah bersalju tempatnya berpijak berganti menjadi permukaan es yang tidak akan pernah cair. Bayangannya yang sedang berjalan terpantul di bawah kakinya. Samar-samar warna pirang keemasan yang tampak buram memantul dari lantai kaca itu.


Tap, tap, tap.


Anak laki-laki itu berhenti melangkah ketika ia berdiri di depan sebuah benda yang mirip dengan peti mati.


Benda berbahan kaca yang tampak transparan itu memperlihatkan siluet seorang wanita yang berbaring di dalamnya dengan keadaan memprihatinkan. Wajahnya kebiru-biruan disertai urat-urat tubuhnya yang menonjol dan hampir menutupi seluruh permukaan kulitnya.


Bocah laki-laki itu mengernyitkan alisnya saat merasakan matanya terasa sembab. Ia berusaha menggosok matanya yang hampir meneteskan air mata, kemudian tangan kecilnya mengusap peti kaca itu.


"Ibu. Aku datang," katanya lirih.


Isak tangisnya berusaha ia tahan dengan menggigit bibirnya. Tangannya yang lain mengepal dan sepasang mata merahnya memperlihatkan tekad yang kuat.


"Aku pasti bakal menyelamatkan Ibu. Aku janji. Soalnya aku sudah tahu di mana tempat penawar racun Lakshire berada."


'Lakshire'.


Itu adalah racun pelumpuh paling mematikan dan langka. Racun ini juga termasuk ke dalam 'tiga racun kuno dunia iblis', yang artinya benar-benar sangat langka dan hanya bisa dibuat oleh iblis tingkat tinggi. 


Cara kerja racun Lakshire adalah dengan menggerogoti nyawa seseorang secara perlahan-lahan dan menyebabkan semua organ di dalam tubuh meleleh, sehingga orang yang terkena racun itu tertidur dalam kondisi tubuh membiru, tapi masih bernapas. Sama saja dengan mengatakan menjadi mayat hidup.


Lakshire tidak bisa disembuhkan dengan sihir, apalagi jika racun itu sudah menggerogoti tubuh selama bertahun-tahun. Dan penawar racun ini hanya bisa ditemukam di wilayah iblis, tetapi tidak ada jaminan bahwa penawarnya ada karena di wilayah iblis pun, penawar racun Lakshire sangat langka.


Namun, sekarang penawar racun Lakshire sudah ditemukan.


"Kalau aku menang di Turnamen Guild Internasional, aku bakal bisa mendapatkan penawarnya dan menyelamatkan Ibu."


Satu-satunya cara untuk mendapatkan penawar racun Lakshire adalah dengan memenangkan Turnamen Guild Internasional yang akan diadakan beberapa bulan lagi.


Karena hadiah bagi seorang pemenang pada turnamen itu adalah bisa 'mendapatkan apa pun yang diinginkan', termasuk kekuasaan dan hal-hal lainnya.


'Makanya aku harus menang.'


Anak laki-laki itu memperkuat tekadnya dan melirik wajah ibunya yang berbaring. Mata merahnya menjadi lebih lembut daripada sebelumnya, memancarkan kehangatan dan kerinduan yang dalam.


"Bu, aku pasti menang. Jadi, tunggu aku, ya."


Cup.


Lalu kecupan singkat diberikan anak laki-laki itu pada kaca peti, berharap tersampaikan kepada ibunya. Ia terdiam cukup lama sambil memandangi wajah ibunya, setelah itu keluar dari tempat itu.

__ADS_1


...―――...


Dua hari sebelum pesta ulang tahun putri pertama Kerajaan Evergard diadakan, kesibukan sudah memadati para pelayan dari tiap istana.


Para pelayan dari Istana Everstell berbaur dengan para pelayan dari Istana Evercius, Everiel, dan Everlexa. Mereka berbondong-bondong membawa puluhan gaun, aksesoris permata, dan sepatu mewah untuk dipilih Putri Stella agar dipakai di hari ulang tahunnya.


"Apa para penjahit sudah tiba?"


"Mereka sudah menunggu di ruang ganti!"


"Ah, Suzy! Pangeran Mahkota memberikan kunci gudang hartanya yang ke-5! Katanya Tuan Putri bebas memilih perhiasan mewah yang ada di sana!"


"Bagus! Kalau begitu pilihlah perhiasan yang sama dengan puluhan gaun yang diberikan oleh Yang Mulia!"


"Baik!"


"Lalu penata rambutnya? Apa Madam Ariel sudah tiba?"


"Prajurit yang menjaga gerbang bilang kalau kereta Madam Ariel baru saja tiba!"


"Kalau begitu aku harus membangunkan Tuan Putri. Kalian lanjutkan pekerjaan kalian, ya!"


"Kau juga, Suzy!"


Rombongan pelayan yang mendapat instruksi dari Suzy segera terpecah, mereka buru-buru bekerja.


Namun, hening.


Suzy tidak mendapat jawaban apa pun. Padahal biasanya ia selalu mendapat jawaban walaupun terdengar samar-samar.


'Apa Tuan Putri masih belum bangun?' pikir Suzy positif.


Lalu ia tersenyum kecil.


'Tuan Putri... ternyata Anda masih punya sifat anak-anak yang akan bangun kalau dibangunkan.'


Lantas Suzy tertawa sendiri sewaktu menyadari isi pikirannya, setelah itu ia berucap meminta izin, "Tuan Putri, saya akan masuk, ya. Permisi...."


Akhirnya pelayan wanita itu berinisiatif membuka pintu untuk melihat apakah Putri Stella sudah bangun atau masih tertidur.


Krettt....


Pintu kamar sang putri terbuka dengan pelan. Suzy masuk sambil tersenyum ceria, bersiap memanggil.


"Tuan Pu―"


Deg.

__ADS_1


Suzy mendadak menghentikan langkahnya, ia tersentak.


Di atas tempat tidur, Putri Stella duduk dan menatapnya lurus, seakan membiusnya. Tatapannya berbeda. Tampak sedikit dingin dan tajam, bukan terlihat seperti tatapan hangat yang biasanya diperlihatkan sang putri.


"Tuan Putri...?" panggil Suzy lagi, nadanya terdengar ragu dan gelisah.


Jujur saja, ia amat ketakutan saat ini, bayangan buruk segera menerpa pikirannya. Sepasang kakinya gemetar dan ia mencoba mundur dengan gerakan patah-patah.


"A-anda... sudah bangun?"


Suasana saat ini sama seperti dulu, di saat umur sang putri 5 tahun. Perasaan dingin dan mencekam ini datang lagi setelah hari-hari yang bahagia berlalu.


"Ah."


Lalu Putri Stella tampak berkedip berulang kali, setelah itu tersenyum cerah seperti biasanya.


"Selamat pagi, Suzy!"


Tatapan mata yang lurus dan suasana mencekam tadi hilang dengan alami, seakan tidak pernah ada. Suzy dibuat tercengang hingga tidak bisa berkata-kata.


"Duh, sepertinya aku tadi masih bengong. Aku baru bangun dan tidak ada tenaga buat turun, jadi aku duduk sebentar sambil berpikir bakal melakukan apa nanti," oceh Putri Stella seperti anak kecil pada umumnya, lalu ia berseru kecil seolah baru saja mengingat sesuatu. "Hari ini aku bakal mencoba gaun buat ulang tahunku, 'kan? Ayo kita bersiap-siap!"


"A-ah...."


Akhirnya Suzy tersadar dari pikirannya. Bibirnya terbuka lalu tertutup, bingung harus mengatakan apa. Setelah sekian lama, akhirnya ia mengangguk paham sambil tersenyum.


"Kalau begitu tunggulah sebentar, Tuan Putri. Saya akan panggil pelayan untuk membantu Anda mandi."


"Ya! Hati-hati, ya!"


Kemudian Suzy keluar dari kamar dengan langkah goyah, menyisakan Stella seorang diri di kamarnya dengan tangan kirinya yang masih melambai di udara.


"...."


Stella menurunkan tangan kirinya dan beralih memandang tangan kanannya yang berada di balik selimut. Ia perlahan membuka selimut merah tua yang membalut setengah badannya, memperlihatkan mata merahnya yang terpantul pada benda yang ia pegang.


"Wah." Stella tersenyum seperti seorang penjahat. Tersirat sedikit kemarahan di mata merahnya. "Sudah lama aku tidak memegang pedang."


Stella pun membawa pedang itu ke pangkuannya. Ia pun tak sengaja menatap sebuah kalimat yang ada pada pedang itu. Bibirnya tersenyum manis saat melihatnya.


"Stella Elliathania Elliot Evergard," ucapnya mengeja kalimat itu, nadanya lembut dan tulus.


'Sekarang aku ingat nama ini.'


―――――――――――――――


TBC!

__ADS_1


__ADS_2