Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fourty One (41)


__ADS_3

Orang itu terlihat mirip dengan kakek Stella di dunia modern. Namun perbedaannya, orang itu memiliki warna rambut dan mata yang berbeda dengan kakeknya. Tetapi tetap saja, fitur wajahnya tampak mirip.


"Kau mengenaliku?"


Suara orang itu menyentak pikiran Stella. Dia dengan cepat membuyarkan isi kepalanya.


"Oh, tidak. Kupikir aku bertemu dengan orang yang kukenal...," jawab Stella sambil menggelengkan kepalanya.


Kupikir Kakek datang menjemputku, tapi aku salah. Dia bukan kakek, dia hanya orang lain yang mirip Kakek .... Tapi, kenapa rasanya hatiku berkata kalau dia adalah kakekku?


Di saat Stella sedang melamun, orang itu mengulurkan tangannya, meraih tubuh kecil Stella dan mengangkatnya, sehingga tinggi mereka menjadi sejajar.


"Eh?"


Stella terkejut karena gerakan tiba-tiba dari orang itu. Dia kebingungan.


Ke-kenapa dia...?


"Kakek senang bisa bertemu denganmu, cucuku," kata orang itu, mengagetkan Stella.


H-hah? Apa dia tidak salah orang? tanya Stella di dalam hatinya. Sesaat setelahnya, kebenaran terungkap. Tunggu, mata itu ... kenapa seperti warna mata si Shavir? Rambutnya juga. Kalau dilihat-lihat, mereka terlihat mirip .... Ehhh―mirip?!


"Anda...."


"Aku adalah kakekmu dari keluarga ayahmu," sela orang itu, lalu dia tersenyum.


Deg! Deg! Deg!


Stella terpaku kala melihat senyuman orang itu. Jantungnya berdegup dengan kencang. Seketika matanya terasa lembab, lalu air mata mulai menuruni pipinya.


"Hik, hik, hik...." Stella cegukan karena berusaha menahan tangisannya, tetapi dia tidak bisa menahannya. Akhirnya, perasaan rindu itu meluap. "Huwaaa! Kakek...!"


Stella pun menangis sambil memeluk orang itu. Kakek Stella, Zayden Al-Thorea Evergard, membalas pelukan Stella seraya membelai kepala cucunya dengan lembut. Mata ungunya menjadi basah karena perasaan rindu. Sepasang kakek dan cucu itu pun menghabiskan waktu dengan pelukan disertai air mata.


Setengah jam kemudian, Stella melepaskan pelukannya. Tubuh kecilnya masih berada di gendongan Zayden. Lalu rona kemerahan menjalar di wajah Stella.


Uhh ... tadi itu kekanak-kanakan sekali, batin Stella. Seketika wajahnya menjadi semakin merah karena malu kala mengingat kejadian tadi. Bisa-bisanya aku bertingkah seperti anak kecil. Tapi ... aku merasa senang!


Kemudian tatapan Stella mengarah pada Zayden, yang sedang menatapnya dengan lekat-lekat, setelah itu Stella tersenyum lebar.


Walaupun dia bukan kakekku, tapi aku senang karena ada orang yang mirip dengan orang yang kukenal di duniaku.


"Selamat pagi, Kakek!" sapa Stella disertai senyuman.


Hari hampir menjelang siang, tetapi masih termasuk pagi hari, jadi Stella mengucapkan salam dengan sapaan.


Saat ini, Stella tampak seperti orang yang berbeda.


Tidak ada lagi wajah tanpa ekspresi yang selalu terpasang di wajahnya. Tidak ada lagi bibir tertutup rapat yang tidak pernah tersenyum. Juga tidak ada lagi tatapan tajam yang menghunus seperti pedang. Semua itu runtuh di hadapan orang yang mirip dengan kakeknya di dunianya dulu.


"Ya, selamat pagi juga," balas Zayden, dia juga ikut tersenyum, lalu dia mulai berjalan. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sekitar istana Kakek, cucuku tersayang?"


"Ya! Aku mau!"


Kemudian Zayden mulai berjalan menuju istananya―yaitu Istana Everyden―sambil menggendong Stella.


***


"A-apa?! Yang Mulia Raja terdahulu?!"


"Hah?! Di mana? Di mana?"


"Beliau bersama Tuan Putri di taman Istana Everyden!"


"Sungguh?! Wah, Tuan Putri hebat sekali bisa menarik perhatian Yang Mulia Raja terdahulu!"


"Tadi aku melihat mereka sedang berkeliling taman. Mereka terlihat sangat bahagia!"


"Benarkah? Sungguh momen yang sangat langka. Bahkan Raja Shavir tidak bisa seperti itu bersama Tuan Putri!"


"Ya, kau benar! Yang Mulia Raja dan Pangeran tidak bisa mendekati Tuan Putri, tapi Yang Mulia Raja terdahulu bisa mendekati Tuan Putri dalam sekejap! Benar-benar hebat!"


"Oho~ Kita punya gosip baru!"


Lalu para pelayan dan prajurit yang sedang bergosip itu saling memandang dan tersenyum licik.

__ADS_1


Hohoho, ayo kita sedikit memanas-manasi Yang Mulia Raja! batin mereka serentak.


Dan akhirnya, gosip tentang Stella dan Zayden yang sedang berkeliling di taman Istana Everyden dengan wajah bahagia sampai ke telinga Raja Shavir dan Dhemiel.


Kedua tokoh besar kerajaan itu, yang sedang melihat pemandangan harmonis antara Stella dan Zayden, seketika merasa kesal dan emosi.


"Bisa-bisanya mereka bahagia tanpa aku," kata Raja Shavir sambil menatap tajam pada pemandangan di depannya.


"Ya. Mereka tega sekali. Aku bahkan tidak pernah seperti itu saat bersama Stella!" balas Dhemiel. Raut wajahnya tampak kesal. "Apa-apaan ini? Kenapa sainganku bertambah banyak? Sudah Ayahanda, Xylia, Suzy, Jesriel, Azalea, sekarang Kakek juga menjadi sainganku!!"


"Aku juga berpikir begitu," timpal Raja Shavir.


Keduanya pun mulai melototi Stella dan Zayden dengan pandangan kesal, yang sayangnya tidak diperhatikan sama sekali oleh sepasang kakek dan cucu itu. Mereka saling melempar tawa dan candaan, membuat Raja Shavir dan Dhemiel menjadi semakin cemburu juga kesal.


"Ekhm ... uhuk, uhuk! Anu .... Bukankah lebih baik kalau kalian berdua menghampiri Tuan Putri dan Yang Mulia Raja terdahulu...?" Creed terbatuk. Dia menatap malu ke arah Raja Shavir dan Dhemiel yang sedang berjongkok di balik semak belukar. "... Daripada kalian berjongkok seperti itu. Kalian terlihat―err ... maafkan kelancangan saya―kalian terlihat memalukan...."


Zzt!


Dua pandangan tajam segera menatap Creed, membuat laki-laki itu membungkam mulutnya. Papan putih bertuliskan "Aku tidak melihat apa-apa" terpampang jelas di atas kepalanya. 


Sesaat setelahnya, suara deheman seseorang terdengar.


"Ekhm, ekhm!" Raja Shavir berdehem setelah menyadari bahwa dia sedang berjongkok, kemudian pria itu berdiri dengan elegan seraya memasang wajah tanpa ekspresi andalannya. Mata ungunya menatap Dhemiel, yang juga sedang menatapnya. "Dhemiel, ayo kita pisahkan mereka berdua."


Mengerti dengan perkataan ayahnya, Dhemiel segera mengangguk, lalu berdiri. "Ya, ayo kita pisahkan mereka!"


Keduanya bertekad, lalu mulai berjalan menghampiri Stella dan Zayden.


Dari tadi, dong, batin Creed seraya menepuk keningnya.


***


"Aku suka Kakek!"


"Kakek juga."


"Aku sayang Kakek!"


"Kakek juga."


Lalu Stella tersenyum lebar seraya membentuk tanda hati dengan jarinya.


Zayden juga ikut tersenyum dan membentuk tanda hati dengan jarinya.


"Kakek juga. Muach~"


Oi, oi. Berhenti. Aku jadi makin panas, nih!


Dhemiel menatap mereka dengan mata menyala karena cemburu. Di sampingnya, Raja Shavir juga berekspresi sama.


Kenapa Ayah muncul di saat-saat seperti ini?!


Raja Shavir menatap Zayden dengan tatapan cemburu yang membara.


Tak jauh di belakang mereka, Creed mengembuskan napas pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menatap prihatin ke arah tuannya dan Dhemiel.


Itulah nasib seorang "sad boy", batinnya dengan blak-blakan.


Tentu saja kata "sad boy" merujuk pada Raja Shavir dan Dhemiel.


*(woi, woi😂)


Sementara itu, Zayden, yang menyadari kehadiran putranya dan cucu laki-lakinya, segera tersenyum licik. Tanpa aba-aba, dia menggendong Stella, dan mulai memprovokasi kedua orang itu yang sedang dilanda api kecemburuan.


"Kakek tidak tahu orang bodoh mana yang mengabaikan anak kecil secantik dan selucu dirimu," kata Zayden sambil menatap Raja Shavir dengan tatapan mengejek. Sudah dipastikan aura tidak sedap menguar di sekitar Raja Shavir. "Dan Kakek tidak tahu orang bodoh mana yang menganggap orang lain sebagai adiknya, padahal dia memiliki seorang adik yang saaangaaat imut!"


Hah? Kenapa dia tiba-tiba berbicara seperti itu?


Stella bingung, tetapi kemudian mengikuti arah pandang Zayden. Tatapannya mendapati Raja Shavir juga Dhemiel yang berdiri tak jauh dari mereka, akhirnya dia mengerti mengapa Zayden mengatakan hal itu.


Aku dapat tontonan gratis, heheheh.


Bersikap pura-pura tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi, Stella menatap Zayden dengan pandangan polos dan membalas, "Ya, Kek. Aku juga tidak tahu kalau ada orang sebodoh itu."


"Benar, 'kan? Mereka memang bodoh."

__ADS_1


"Yup, yup!" Stella mengangguk dengan antusias. "Aku setuju! Mereka memang saaangaaat bodoh!!"


Kemudian keduanya saling memandang dan tertawa, mengabaikan tatapan kesal dari Raja Shavir dan Dhemiel.


Butuh setengah jam untuk mendinginkan suasana yang sedang memanas.


Raja Shavir pun menghampiri Zayden, lalu memberinya tatapan tajam. "Aku tidak tahu kenapa Ayah ke sini. Jadi, bisa tolong dijelaskan?"


"Kenapa? Apa Ayah tidak boleh ada di sini?" balas Zayden dengan nada sarkastik. "Toh, ini masih wilayahku," lanjutnya, menyombongkan diri.


"Aku tahu," sambung Raja Shavir. "Aku hanya tidak suka kalau Ayah memonopoli Stella."


Jujur sekali, timpal Stella di dalam hatinya, tetapi segera alisnya mengerut karena menemukan sesuatu yang janggal di dalam kalimat Raja Shavir. Apa maksudmu "memonopoli Stella"? Apa kau pikir aku adalah barang?


Perasaan kesal segera mengelilingi Stella.


Sementara itu, Zayden mengatakan kalimat berduri.


"Bukankah lima tahun sudah cukup bagimu bersama Stella?"


Jleb!


Rasanya ada sebuah anak panah menusuk jantung Raja Shavir. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


Melihat reaksi putranya, Zayden tersenyum miring. Mata ungunya menatap sinis ke arah Raja Shavir.


"Kenapa kau diam? Apakah Ayah mengatakan sesuatu yang salah?" tanya pria tua itu, lalu Zayden melanjutkan dengan nada menyesal, "Kalau Ayah tahu kau tidak mengurus anak perempuanmu dengan benar, maka Ayah tidak akan mengizinkanmu menikah dengan Alexa. Lebih baik kalau kau melajang seumur hidup."


"... Aku tidak tahu apa yang Ayah bicarakan."


Raja Shavir mengelak. Pandangannya mengarah ke arah lain, tidak ingin menatap mata Zayden.


Bocah ini!


Zayden menatap putranya dengan pandangan kesal. Dia menggeram di dalam hati.


Aku harus memberinya hukuman.


"Kemarilah," katanya sesaat kemudian sambil mengisyaratkan Raja Shavir mendekat. "Ikuti Ayah."


"Ke mana?"


"Ayah akan menghukummu!"


"... Apa?"


Apa? Raja Shavir yang agung, kejam, tidak berperasaan, dan sedingin gunung es itu akan dihukum?!


Stella tercengang, kemudian tersenyum lebar.


Sungguh pemandangan yang sangat langka! Aku harus melihatnya dihukum! Harus!


Lalu Stella tertawa dengan licik di dalam hatinya. Dia sangat bersemangat menonton hukuman yang akan dijalankan Raja Shavir.


――――――――――――――


Q: hukumannya kyk gimana, ya?


A: ↷


a. telinga dijewer


b. kepala ditimpuk


c. diceramahin selama 3 jam


d. hak raja dicabut


e. semua benar🤣


yok, ayok dipilih~


*70 like, 20 komen (boleh spam) besok langsung up (๑•̀ㅂ•́)و✧


TBC!

__ADS_1


__ADS_2