Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Ninety (90)


__ADS_3

"Uhh...."


Anak perempuan itu mengerang. Kelopak matanya bergetar, kemudian terbuka secara perlahan. Mata merahnya menatap langit-langit ruangan tempatnya berada, lalu bangun dari posisi tidurnya.


'Sudah berapa lama aku tidur?'


Stella mengusap matanya, kemudian menatap sekitarnya. Dia masih berada di ruangan asing ini. Lalu Stella beranjak dari tempat tidur. Kaki kecilnya perlahan berjalan.


"Woah, ruangan ini sangat luas," katanya dengan seruan kecil seraya melirik sekitarnya.


Karpet hitam dengan pola bunga mawar merah terbentang di lantai, menjadi pijakan kakinya. Lampu gantung berbahan kristal tergantung di langit-langit kamar. Ada juga sebuah peta benua berukuran besar ditempel di dinding, menyilaukan mata karena terbuat dari emas.


Stella menatap peta benua itu lekat-lekat.


'Sepertinya aku baru pertama kali melihat peta seperti ini.'


Dia merasa asing dengan gambar yang ada di peta benua itu, rasanya seperti dia sudah pernah melihat peta benua yang lain tapi tidak bisa diingat, bukannya peta benua yang seperti itu.


"Eh?"


Stella memiringkan kepalanya ketika mengetahui isi pikirannya yang membingungkan.


"Peta benua yang lain? Memangnya ada benua lain di sini?" gumamnya bingung sambil melihat peta benua itu lagi, namun hanya ada satu benua besar di dalam peta itu dan tidak ada benua yang lainnya. "Kenapa aku terus bertingkah aneh, ya...?"


Stella berpikir dalam diam, setelah itu menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran seperti itu dari kepalanya.


'Percuma juga aku berpikir. Aku tetap tidak bisa mengingat apa-apa.'


Akhirnya, Stella memutuskan berkeliling kamar itu yang sangat luas dan didekorasi dengan benda-benda menarik, menyerupai bangunan abad pertengahan Eropa.


Saat itu, Stella berhenti melangkah.


'Abad pertengahan Eropa? Apa lagi itu?'


Sepertinya dia tahu apa itu, tapi dia tidak mengingatnya sama sekali. Sekali lagi, Stella menggelengkan kepalanya lalu menghela napas. Tidak ada gunanya bertanya-tanya pada dirinya sendiri, lebih baik dia langsung mencari tahu. Mungkin saja hal itu bisa membantunya mendapatkan ingatannya kembali.


'Tapi akan kulakukan nanti. Sekarang aku mau istirahat dulu.'


Tap, tap, tap.


Stella berkeliling.


Mata merahnya menatap takjub pada kamar yang ditempatinya. Jendela-jendela panjang berjejer di dekat tempat tidurnya, memperlihatkan langit biru yang cerah dan pemandangan hijau dan asri sebuah taman. Tirai-tirai putih transparan yang ada di kedua sisi jendela-jendela itu sedikit bergoyang, tertiup angin.


'Kamar ini sangat nyaman.'


Stella berpikir bahwa akan lebih baik jika kamarnya seperti ini, tetapi sepertinya ruangan ini bukan kamarnya. Tidak ada tanda-tanda kamar anak perempuan di ruangan ini.


'Apa kamar ini milik pria tadi?'


"Mungkin saja," jawabnya pada dirinya sendiri, setelah itu melanjutkan jalan-jalannya.


Saat itu, sesuatu yang ada di pojok ruangan, yang berdekatan dengan tempat tidurnya, menarik perhatiannya. Tirai merah menutupi tempat itu, membuat Stella merasa penasaran.


Dia melangkah menuju tempat itu dengan pelan sambil menebak-nebak apa yang ada di balik tirai merah itu. Setibanya di sana, tangannya sedikit menyingkap tirai itu, memperlihatkan sesuatu berbentuk persegi panjang dengan beragam warna menghiasi benda itu.


'Lukisan?'


Stella menatap benda itu lekat-lekat, meyakinkan penglihatannya. Itu benar-benar sebuah lukisan.

__ADS_1


'Lukisan siapa, ya?'


Bertepatan dengan apa yang dia pikirkan, Stella menyingkap tirai merah yang menutupi lukisan itu sepenuhnya. Ketika dia melihat apa yang ada di dalam lukisan itu, tubuhnya tiba-tiba membeku.


Di sana, di dalam lukisan, tampak seorang bayi perempuan berambut hitam duduk di pangkuan seorang pria yang juga berambut hitam. Di samping pria itu, seorang anak kecil laki-laki berdiri sambil tersenyum, yang juga berambut hitam. Hanya anak laki-laki itu yang tersenyum, sedangkan pria dan bayi perempuan itu tidak memasang ekspresi apa pun.


'Siapa yang ada di lukisan itu....'


Pats―!


Ketika rasa pusing menyerbu kepalanya, Stella terhuyung dan hampir jatuh, untungnya dia bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Saat itu, lagi-lagi memori asing yang tidak dikenal muncul di kepalanya. 


"Di mana bayi itu? Aku akan membuat potret keluarga kerajaan."


Seorang pria yang wajahnya buram terlihat di dalam memori itu, berbicara kepada seorang pelayan wanita yang juga berwajah buram.


"Benarkah, Yang Mulia?!"


"Ini hanya formalitas. Tidak usah begitu gembira."


"Ya, Yang Mulia! Nah, ini dia Tuan Putri Stella yang cantik!"


"Iii waa? Uwa?"


Setelah itu, seorang bayi perempuan mungil bermata ungu muncul, terlihat berusia kurang dari setahun. Kali ini wajah bayi itu tidak buram. Bayi yang imut itu mengedipkan matanya dengan polos sambil berhadapan dengan pria tadi.


"Ini Yang Mulia Raja. Ayah Tuan Putri."


"Uung? Yah?"


"Benar, Tuan Putri!"


"Beweengg ... ceek!"


"Bewengcek!"


"Bukankah dia baru saja memanggilku "ber*ngsek"?"


"A-ahaha. Anda salah dengar, Yang Mulia. Anda salah dengar."


"Ciaaal ... cialaaann!!"


"Lihat itu. Dia bahkan memanggilku "sialan"?"


"A-ahahaha. Ti-tidak mungkin...."


Suasana di dalam memori itu terasa canggung tapi juga harmonis. Sesaat setelahnya, mata merah Stella berkedip-kedip kala memori asing itu pergi.


"H-hah?"


Mulut kecilnya terbuka, bingung. Dia memfokuskan matanya dan menatap lukisan itu lagi. Jari telunjuknya mengarah pada salah satu orang yang ada di lukisan itu.


"Bayi berambut hitam itu ... adalah aku?"


Tidak bisa dipercaya bahwa bayi perempuan mungil itu adalah dirinya sendiri, sementara rambutnya pirang bukan hitam. Keanehan ini membuatnya merasa bingung.


'Itu aku? Tapi, rambutku pirang bukan hitam....'


Pasti ada sesuatu yang tidak dia tahu. Bisa saja bayi perempuan di dalam lukisan itu adalah anggota keluarganya yang lain. Ya, mungkin saja begitu.

__ADS_1


'Tapi kalau itu orang lain, kenapa ada ingatan asing muncul di kepalaku?'


Adanya ingatan yang mengalir masuk ke kepalanya begitu dia melihat lukisan itu menandakan bahwa bayi berambut hitam di dalam lukisan itu adalah dirinya sendiri, yang entah kenapa saat ini rambutnya menjadi pirang.


"Ah, rasanya kesal saat aku tidak bisa mengingat apa-apa. Seperti orang bodoh saja."


Stella bergumam, mengeluarkan kekesalannya. Dia menutup tirai merah itu dan berjalan menuju tempat tidurnya, lantas berbaring.


"Haaa...."


Helaan napas panjang keluar dari mulutnya saat sensasi lembut dari kasurnya yang empuk menyentuh punggungnya, menghilangkan kelelahannya akibat berpikir keras.


"Kapan, ya, ingatanku bisa kembali...."


Saat dia berpikir seperti itu, suara derap langkah beberapa orang terdengar, kemudian suara pintu yang terbuka mengambil alih perhatian anak perempuan itu. Stella segera duduk, menatap sekelompok orang-orang berbaju putih yang masuk ke kamarnya. Di antara orang-orang itu, ada seorang pria yang dia kenal.


"Stella."


Pria bermata ungu itu memanggil namanya dengan lembut.


Stella berjalan ke arahnya dan menatap orang-orang berbaju putih itu dengan waspada.


"Mereka siapa, Ayah?" tanyanya tanpa sadar.


Mendengar kata terakhir yang diucapkan Stella, beberapa orang tampak saling memandang dengan wajah terkejut.


"S-Stella ... ingatanmu sudah kembali?"


Stella menoleh ketika namanya dipanggil, lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


"Ta-tapi kau memanggilku ayah, benar bukan?"


"Iya. Karena sepertinya kita adalah keluarga."


'Sebenarnya karena aku lihat lukisan tadi.'


Jika memang benar bahwa bayi perempuan yang ada di dalam lukisan itu adalah dirinya sendiri, maka pria bermata ungu yang memangku bayi itu adalah ayahnya. Dan pria yang sekarang berdiri di depannya terlihat mirip dengan pria yang ada di dalam lukisan.


"Apakah aku salah?"


"Tidak. Kau tidak salah. Aku memang benar adalah ayahmu, Stella."


Wajah tegas dari pria itu entah kenapa membuat Stella merasa terbebani. Dia berusaha mengabaikan perasaan itu dan beralih menatap sekelompok orang berbaju putih yang dibawa oleh ayahnya.


"Mereka siapa, Ayah?"


"Mereka adalah para penyihir yang akan mengembalikan ingatanmu, Stella."


"Apa?"


―――――――――――――――


ini bonus bagi yg penasaran sm masa kecil Stella pas bayi (nanti aku buatkan spesial episodenya).


Q: jadi ternyata si Shavir udh pernah ketemu sama Stella, thor?


A: iya, tapi Stella ga inget karena itu udh lama banget. memang kalian masih bisa inget kejadian apa yang terjadi lima tahun yang lalu? :P (kira-kira gitu konsepnya hehe)

__ADS_1


sampai jumpa di next chapter!! (>ω<) (dan sekali lagi chapter ini jadi dalam sehari, horeeeee!! sepertinya ide mulai mengalir dengan lancar)


TBC!


__ADS_2