
Setelah kepergian Rielle, Dhemiel dan dua anak kecil lainnya segera menghampiri Stella. Dengan cepat, Stella menyembunyikan peta, kartu, dan batu sihir yang diberikan Rielle di dalam bajunya. Lalu dia menyarungkan pedangnya sambil menatap ketiga anak kecil itu dengan pandangan menusuk.
"Kenapa kalian ke sini lagi?"
Pertanyaan dengan nada dingin dari Stella membuat Dhemiel dan yang lainnya bergidik.
"Eh, itu, aku ke sini karena ... karena...." Dhemiel tergagap, dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Karena apa?"
Pandangan menusuk dan tajam dari Stella membuat Dhemiel tertekan, dan akhirnya dia menjawab dengan asal-asalan, "Karena aku merindukanmu! Eh, bukan! Karena Ayahanda yang menyuruhku datang! Eh, bukan, bukan! Maksudku, aku ke sini karena ingin mengundangmu ke istanaku! Ah, tidak, tidak! Itu karena aku ingin bermain denganmu! Ups, aku keceplosan! Aih ... hancur sudah penampilan kerenku, huhu...."
Dhemiel, yang menjawab pertanyaan Stella dengan asal-asalan, tidak sengaja menumpahkan isi hatinya, akhirnya dia tertekan karena aksi konyolnya ditonton oleh semua pelayan yang masih menunggu Stella di tepi lapangan. Wajahnya memerah karena malu.
"Bermain? Maksud Kakak, mengelilingi tiap-tiap istana dan pergi ke ibukota? Kalau begitu, aku tidak ikut. Aku sibuk," Stella langsung membalas dengan nada tidak peduli.
Ya, dia memang sibuk. Stella harus mempersiapkan keberangkatannya menuju markas utama Eternal Flame. Rencananya, dia akan memberitahu Suzy mengenai kepergiannya, agar nantinya jika ada yang mendatangi istananya, Suzy bisa membuat alasan bagus bahwa Stella sedang sibuk dan tidak ingin diganggu.
Mendengar balasan Stella, Dhemiel menjadi cemberut. Dia menggerutu, "Kau tidak seru sama sekali, Stella!"
"Memang," tukas Stella tanpa beban, alhasil membuat Dhemiel melotot tajam ke arahnya.
Sementara Dhemiel cemberut, Xylia menghampiri Stella. Raut wajahnya tampak gugup. Gelagat anehnya itu berhasil menarik perhatian Stella.
"Tuan Putri...," panggil Xylia dengan pelan.
"Apa?"
"Aku ... aku ingin, aku ingin ... aku ingin membicarakan hal penting dengan Tuan Putri," kata Xylia dengan hati-hati, nadanya sepelan mungkin agar tak ada seorang pun yang bisa mendengarnya kecuali Stella.
Stella tidak membalas. Dia memerhatikan Xylia dengan saksama.
Melihat Stella yang tidak bergeming setelah mendengar perkataannya, Xylia menjadi panik. Dia pun mendekati Stella dengan terburu-buru. "Maafkan sikap lancang saya, Tuan Putri." Nada bicaranya berubah menjadi formal, lalu Xylia berbisik, "Saya akan memberitahukan identitas asli saya pada Tuan Putri. Jadi Tuan Putri harus mendengar ini, karena saya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita di masa depan."
Ketika mendengar kata "identitas asli" dan "masa depan", Stella melirik Xylia, yang masih berdiri di sampingnya. Jantung Stella berdebar berulang kali. Dia mulai menumbuhkan kecurigaan di hatinya. Seketika ada banyak pertanyaan melintas di kepalanya.
Aku ingin tahu, Stella membatin. Aku ingin tahu rahasia apa yang dimiliki Xylia sampai-sampai wajahnya terlihat gugup dan ketakutan. Aku sangat penasaran.
Setelah keheningan panjang di antara mereka berdua, Stella membuka mulutnya dan berbicara. "Ikut denganku," katanya, lalu Xylia mengikutinya sambil melirik ke arah Zhio, memberinya instruksi.
__ADS_1
Zhio segera memahami situasinya. Dia memandang Dhemiel. "Pangeran Dhemiel yang terhormat, sepertinya Tuan Putri memiliki urusan penting, jadi ayo main saja denganku," ucapnya disertai senyum palsu.
Dhemiel, yang cemberut, tiba-tiba menegakkan punggungnya. "Apa? Adikku punya urusan penting? Ke mana dia?" tanyanya pada Zhio.
Zhio mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Dia pergi bersama Xylia," jawabnya sambil menunjuk ke arah Stella dan Xylia yang hampir tidak terlihat.
"Apa! Dia bersama Xylia lagi?! Xylia itu, berani-beraninya dia memonopoli Stella!" Dhemiel tampak emosi. Dia tidak terima jika Stella "bermain" bersama Xylia, sedangkan dia ditolak mentah-mentah. Laki-laki kecil itu mengambil langkah lebar, hendak menyusul Stella dan Xylia. "Aku harus memisahkan mereka!"
Sebelum dia melangkah lebih jauh, Zhio sudah terlebih dahulu menghadangnya.
"Eits! Pangeran tidak boleh mengganggu waktu Tuan Putri. Biarkan saja dia bermain sepuasnya bersama Xylia," kata Zhio mengompori. Dia menyunggingkan senyum setelah melihat reaksi Dhemiel yang termakan dengan provokasinya. "Lebih baik Pangeran bermain denganku. Ayo, kita bermain."
"Aku tidak sudi bermain denganmu! Yang ada nanti kau menyihirku!"
"Ide yang bagus!" Zhio menambahkan sambil bertepuk tangan. Dia segera menyeret Dhemiel pergi bersamanya. "Pangeran, 'kan, sangat senang memaksa orang lain bermain, jadi sekarang aku yang akan memaksa Pangeran bermain," lanjutnya dengan senyuman yang terlihat mengerikan.
Saatnya balas dendam!
Melihat Zhio yang tiba-tiba tersenyum, Dhemiel bergidik. Dia berusaha kabur, tetapi Zhio menangkapnya. "Aku tidak mau pergi! Tidak! Huwaaa! Ayahanda, tolong akuuu!"
Suara teriakan histeris Dhemiel terdengar di setiap bangunan istana, namun tidak ada yang berani mengganggu penyihir kecil itu bersenang-senang bersama sang pangeran mahkota.
***
Aku tidak percaya ada hari di mana aku harus membocorkan rahasiaku pada orang lain selain Zhio.
Setelah merasa sedikit tenang, Xylia membuka kelopak matanya, menatap Stella yang duduk dalam diam di hadapannya.
Tapi, aku tidak bisa mengubur rahasia ini selamanya. Aku ingin dekat dengan Tuan Putri, untuk itu aku ingin memberikan kepercayaanku padanya, karena kunci dari sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan.
"Sekarang, bicaralah."
Suara tegas Stella membuat Xylia menelan salivanya dengan susah payah. Punggungnya menjadi kaku.
"Se-sebelum itu ... berjanjilah kalau Tuan Putri ti-tidak akan me-menganggapku gila...."
Xylia kembali memejamkan matanya.
Mengatakan kalimat itu saja dia sudah tergagap, jadi bagaimana dia bisa mengungkapkan rahasianya?
__ADS_1
Seketika Xylia menjadi cemas. Dia cemas jika dia tidak bisa mengungkapkan rahasianya di situasi saat ini.
"Ya." Xylia segera membuka matanya ketika mendengar balasan dari Stella. "Aku tidak akan menganggapmu gila."
Mendengar itu, ada dorongan dari dalam hati Xylia untuk mengungkapkan rahasianya.
Terdiam selama beberapa saat, Xylia membuka mulutnya dan berusaha berbicara.
"Sebenarnya aku, aku ... dilahirkan kembali."
Kalimat singkat dari Xylia berhasil membuat Stella membeku.
Xylia, yang tidak menyadari perubahan ekspresi pada wajah Stella, kembali melanjutkan, "Tidak. Aku tidak tahu apakah ini dinamakan kelahiran kembali atau bukan. Sebenarnya, aku kembali ke masa lalu."
Setelah itu, Xylia memeriksa ekspresi Stella dengan hati-hati, mendapati bahwa Stella tidak bergerak sama sekali.
"... Bagaimana bisa?"
Untuk sesaat, Xylia tidak menjawab. Tubuhnya semakin bergetar. Itu karena dia melihat ekspresi sang putri yang tampak menakutkan.
Akhirnya, Xylia menjawab, "Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu...."
"Ceritakan apa yang kau tahu."
"Ah? Um .... Saat itu adalah malam yang dingin. Aku berusia sekitar 17 tahun waktu itu, duduk di dalam penjara seorang diri tanpa diberi makan sedikit pun. Karena tidak makan selama berhari-hari, aku mati. Tuan Putri mungkin tidak mengerti, tapi ini adalah kenyataannya."
"...."
"Tapi kemudian, secara tiba-tiba, aku kembali ke masa lalu saat aku berumur 4 tahun! Awalnya aku tidak percaya, tapi ini adalah kenyataan! Karena aku tahu di masa depan Tuan Putri akan menderita, jadi aku bertekad untuk membahagiakan Tuan Putri di kehidupan ini sekaligus sebagai permohonan maafku! Lalu aku membuat kontrak dengan Yang Mulia Raja. Ringkasan isinya adalah Pangeran Dhemiel dan Tuan Putri tidak akan menjadi sasaran para musuh Kerajaan Evergard. Singkatnya, mereka akan menargetkan aku, bukan Tuan Putri dan Pangeran Dhemiel."
"... Tapi, kenapa kau selalu dekat-dekat dengan Yang Mulia Raja?"
"Itu, itu ... itu dulu! Sekarang tidak! Setelah bertemu dengan Tuan Putri untuk pertama kalinya, aku baru tahu kalau ada sihir jahat di tubuhku, jadi aku meminta Zhio menyingkirkan sihir jahat itu...."
Kemudian Xylia menceritakan rahasianya pada Stella, yang membuat Stella merasa yakin bahwa sesuatu yang membawanya ke dunia buku dongeng ini juga ada kaitannya dengan kembalinya Xylia ke masa lalu.
Namun, apa itu?
――――――――――――――
__ADS_1
siapa tebakannya yg bener klo Xylia balik ke masa lalu/reinkarnasi/hidup lagi/lahir lagi? selamat, jawabanmu benar!🎉
TBC!