Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Eighty Two (82)


__ADS_3

Selama ini Zhio tidak menyadarinya karena terlihat samar-samar. Tetapi sekarang dia menyadari bahwa mana merah gelap yang mengelilingi Xylia adalah mana sihir yang berasal dari keluarganya. Mana itu menggumpal sehingga terlihat mencolok di matanya. Dan setelah mengamati mana itu, dia akhirnya tahu bahwa itu adalah mana sihir ayahnya.


'Bagaimana bisa mana sihir Ayah ada di tubuh Xylia? Tunggu. Ayah masih hidup?'


Zhio membeku di tempat.


Dia pikir keluarganya tidak ada yang selamat setelah tragedi itu, tetapi ternyata ada satu orang yang selamat. Dan orang itu adalah ayahnya, pemimpin suku Merah dari kelompok bangsawan penyihir.


'Aku bersyukur Ayah selamat, tapi apa-apaan dengan mana-nya yang mengelilingi Xylia?'


Padahal dia baru pulang dari misinya, namun sekarang sesuatu yang tidak terduga terjadi. Ini membuktikan bahwa ayahnya ada hubungannya dengan Xylia yang kebingungan saat melihatnya. Lalu, jika mana sihir ayahnya mengelilingi Xylia, maka artinya sihir jahat yang sudah musnah itu....


Deg.


'Bagaimana dengan putri itu?'


Sang putri, seorang gadis kecil yang termasuk keturunan bangsawan penyihir, adalah penyebab mengapa Xylia ingin memperbaiki masa lalunya yang buruk setelah dihidupkan kembali.


Dalam ingatannya, dia memberitahu Xylia bahwa ada sihir jahat di tubuh gadis itu yang membuat sang putri menderita. Dan sebelum dia pergi menyelesaikan misi yang diberikan gurunya, dia sudah memusnahkan sihir jahat itu sehingga semuanya akan berjalan lancar.


Xylia yang memperbaiki hubungannya dengan sang putri akan merasa bahagia.


Sang putri yang menerima kasih sayang dari keluarganya akan hidup dengan bahagia.


Dan akhir dari hidup mereka adalah kebahagiaan, berbeda dengan di masa lalu yang di ada dalam ingatan Xylia.


Seharusnya begitu. Seharusnya seperti itu.


Tapi kenapa sihir jahat itu muncul lagi?! Apa sebenarnya pemicunya?


"Sial. Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi?"


Dia menggeram kesal sambil mengacak rambut merahnya. Kemudian matanya yang menyipit tertuju ke arah Xylia, yang juga memandangnya dengan ekspresi waspada.


'Pertama-tama, aku harus menyelesaikan masalah ini dulu.'


Zhio mendekati Xylia dan mengulurkan tangannya. Lalu sesuatu yang bersinar muncul di atas telapak tangannya.


...―――...


Beberapa menit kemudian.


"Hah? Kenapa tiba-tiba aku sudah ada di kamarku? Bukannya hari masih pagi―sudah malam?!"


Xylia memandang jendela kamarnya yang hanya ditutupi gorden tipis dengan mata membelalak kaget. Langit kehitaman dengan warna biru menyatu terbentang di luar jendela kamarnya. Bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya tampak berkedip dengan cepat. Mulutnya tergagap dan wajahnya menjadi pucat.


"S-sudah malam...?"


Ingatan terakhir yang dimiliki Xylia adalah dia pulang ke rumahnya setelah mengunjungi sang raja dan pangeran yang bersikap aneh kepadanya. Pada awalnya dia ingin menemui sang putri, tapi akhirnya tidak bisa.


Namun, mengapa waktu berlalu dengan cepat?


Tangannya tanpa sadar memegang kepalanya.


"Kenapa rasanya seperti ingatanku berhenti sampai di sini? Apa yang terjadi padaku?" gumamnya dengan raut wajah shock.


Siapa pun pasti akan kebingungan dan merasa takut. Rasanya mengerikan saat membayangkan ingatannya sendiri dipotong sehingga tidak mengetahui apa saja yang dia lakukan sebelumnya.


Xylia menggerakkan matanya dengan cepat, berusaha mengingat sesuatu. Tapi usahanya sia-sia. Dia tidak bisa mengingat apa pun.


"Bagaimana ini? Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku berbuat yang tidak pantas di hadapan Tuan Putri lagi? Eh, lagi...?"

__ADS_1


Seolah tersadar akan sesuatu, Xylia menegang. Kakinya mendadak lemas dan dia terduduk di lantai kamarnya yang dingin.


"Benar! Apakah Tuan Putri baik-baik saja? Apakah aku melakukan hal yang sama seperti di masa lalu? Bagaimana ini?! Putri pasti kesulitan karena aku!"


"Kau tenanglah dulu, Xylia."


Suara seseorang yang terdengar akrab di telinganya berdengung di kamarnya. Xylia mengangkat wajahnya, memandang orang itu yang berjongkok di depannya.


"Zhio!"


"Akhirnya kau mengingatku."


"Kau dari mana saja? Aku khawatir tahu!"


"Aku senang kau khawatir."


Zhio tersenyum, terus tersenyum tanpa henti. Xylia yang melihatnya memasang wajah datar. Dia akhirnya menyesal sudah mengkhawatirkan anak laki-laki itu, yang kembali pulang dengan anggota tubuh lengkap, tanpa terluka sedikit pun.


"Hentikan senyuman itu. Oh, lalu ... apakah kau tahu apa yang terjadi padaku?"


Xylia mengalihkan topik pembicaraan. Mata hijaunya yang tampak serius membuat Zhio tidak tega jika harus menyembunyikan fakta darinya bahwa sihir jahat itu muncul lagi.


'Yah, aku juga sudah kembali, jadi apa yang perlu dikhawatirkan? Aku akan membantu kedua gadis malang ini.'


"Nah, soal itu...."


Akhirnya Zhio memberitahukan apa saja yang diketahuinya tanpa menyembunyikan apa pun.


Malam itu, mereka berdua saling berdiskusi untuk mengubah masa depan menyedihkan yang mungkin saja akan datang.


...―――...


Orang yang merasa namanya dipanggil, Xylia, menoleh ke asal suara dengan wajah sedikit terkejut. Dia tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Dhemiel di pintu masuk Istana Everstell. Sebenarnya ini tidak terlalu mengejutkan. Karena biasanya dia juga bertemu dengan pangeran kecil ini saat akan mengunjungi sang putri.


Tetapi ada yang aneh.


Suasana di sekitar mereka yang membuat Xylia merasa aneh.


Itu karena Dhemiel memanggilnya dengan wajah riang dan berseri-seri. Sejak dulu, dia juga selalu begitu setiap kali menyapanya. Namun, sejak mereka bertemu dengan Putri Stella untuk pertama kalinya, Dhemiel berhenti memanggilnya seperti itu. Dan setelah mereka menjadi akrab dengan Putri Stella, Dhemiel mulai menunjukkan sikap permusuhan padanya dengan alasan karena dirinya "sudah mengambil adik satu-satunya".


Tapi sekarang, ekspresi wajah yang sudah lama tidak terlihat di matanya, kembali muncul.


"Wah, kau ke sini lagi? Untuk mengunjungiku, ya? Ah, tapi kenapa kau ke arah sini? Istanaku, 'kan, bukan di sini."


Dhemiel bertanya-tanya dengan wajah keheranan, sedangkan Xylia yang mendengarnya sudah pucat pasi.


'L-lagi?'


"A-aku sering mengunjungi Pangeran Dhemiel?" tanyanya, tergagap.


Mendengar pertanyaan Xylia yang gagap, Dhemiel memandangnya bingung dan langsung menjawab, "Iya. Kita, 'kan, sudah sering bermain. Bersama Ayah juga. Apa kau lupa?"


Jeder!


Jawaban lancar dari Dhemiel membuat Xylia linglung sejenak, seakan baru saja terkena sambaran petir. 


"L-lalu bagaimana dengan Tuan Putri?" tanyanya harap-harap cemas.


Sekali lagi, kebingungan melanda Dhemiel. Dia mengerutkan alisnya semakin dalam dan menghela napas.


"Apa, sih? Putri apanya? Memangnya di sini ada seorang putri?"

__ADS_1


'Hah? A-apa...?!'


Bibir Xylia terbuka lebar dan dia membeku. Wajah pucatnya yang kentara bisa dilihat oleh siapa pun yang melihatnya. Sesaat setelahnya, dia menoleh ke samping dengan leher kaku.


"Zhio ... ba-bagaimana ini?"


Di sampingnya, Zhio tampak memikirkan sesuatu dengan wajah serius. Kemudian dengan suara "ctak" yang berasal dari jentikan jarinya, Dhemiel tampak kaget untuk sesaat, seolah-olah baru saja menyadari sesuatu yang sangat penting.


"Yah, aku tinggal menyingkirkan bekas sihir jahat yang menempel di tubuh anak itu dan ayahnya," jawabnya sesaat kemudian.


Tepat setelah anak berambut merah itu berbicara, Dhemiel menatap Xylia sejenak, kemudian berteriak kaget, "Ah! Stella! Di mana Stella? Apa dia sudah ditemukan? Aduh! Kenapa aku ada di sini? Aku, 'kan, harus mencari Stella!"


Dia tampak kesal dengan dirinya sendiri, sebelum akhirnya berbalik.


"Pangeran! Tunggu sebentar!"


Xylia, yang mengetahui ada sesuatu yang tidak beres, menghentikan Dhemiel dengan teriakan.


"Apa yang tadi Pangeran bicarakan? Tuan Putri belum ditemukan? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya bertubi-tubi dengan raut wajah khawatir yang sudah siap menangis.


"Kau tidak tahu?"


"A-apanya?"


"Stella menghilang dari istana."


Mata hijau Xylia terlihat terguncang dengan fakta itu. Rasanya seolah-olah dunianya terasa hancur.


["Tidak apa-apa. Kau tidak bersalah, jadi jangan menangis."]


Kata-kata penghiburan itu, yang mampu membuatnya tenang dalam sekejap, seperti menghilang saat ini. Seolah-olah ucapan itu tidak pernah ada, hanya menyisakan perasaan rindu yang mendalam tanpa tahu kapan perasaan ini akan padam.


"Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tapi yang pasti, Stella sudah menghilang cukup lama."


Waktu telah berlalu dengan cepat tanpa dia ketahui. Itu artinya, selama Putri Stella menghilang, dia berada di bawah pengaruh sihir jahat. Rasanya menyedihkan. Dia terpengaruh lagi oleh sesuatu yang membuat hidupnya sengsara.


"T-tunggu, sekarang tanggal berapa?"


Dhemiel tampak berpikir, lalu menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengingat tanggalan hari ini.


Kemudian Zhio, yang selalu mengecek kalender untuk mengetahui kapan gurunya mendatanginya langsung, menjawab tanpa ragu, "Kalau tidak salah sekarang tanggal 19 bulan dua."


Ekspresi Dhemiel dan Xylia mengeras di saat yang bersamaan.


"Apa?" seru mereka serentak, tampak tidak percaya.


Zhio yang melihat reaksi mereka memiringkan kepalanya, tidak mengerti.


"Memangnya kenapa dengan hari ini?"


"Ini, 'kan, hari ulang tahunnya Tuan Putri," jawab Xylia cepat, yang langsung membuat suasana hening muncul di sekitar mereka.


"...."


"...."


Tanpa sadar, sebulan lebih sudah berlalu sejak menghilangnya sang putri dari istana. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-6, pesta perayaan ulang tahun yang seharusnya ada menjadi tidak ada.


――――――――――――――


TBC!

__ADS_1


__ADS_2