
"Ah, aku yakin lewat sini. Lalu mengikuti jalan ini. Setelah itu sampai di sini. Tapi pintunya tidak ada. Berarti ingatanku salah dan aku tersesat. Begitu?"
Stella menggambar dengan kasar di tanah yang diselimuti salju sambil bergumam dan berpikir.
Dia sudah membuang begitu banyak waktu dengan sia-sia hanya untuk menelusuri ingatannya tentang jalan yang dilewatinya bersama dengan Lilith.
Sebenarnya, dia tidak perlu mencari pintu itu atau mengikuti jalan yang ada di ingatannya, karena dia hanya perlu menjelajahi pegunungan ini untuk mencari Buah Kristal Merah. Namun, bisa jadi alasan di balik keberadaan pintu itu adalah karena tempat itu dekat dengan lokasi buah yang dicarinya.
Tidak mungkin pintu itu ada di sana tanpa alasan, bukan?
Lilith memberitahunya bahwa pintu itu adalah penghubung antara kediaman Nidlock di Evergard dengan kediaman keluarganya yang ada di Sora, yang sudah ada sejak Raja Evergard ke-1.
Pegunungan Aros yang ada di Sora sangat dilindungi oleh kedua belah pihak (Evergard dan Sora), karena di sana tumbuh buah legendaris yang diincar para penyihir. Buah itu hanya tumbuh sekali dalam sepuluh tahun dan selalu dijaga oleh hewan raksasa yang berbeda-beda.
Tidak semua buah yang tumbuh di sana bisa diambil, terkadang pasukan penyihir perang tidak bisa melawan hewan raksasa itu dan berakhir tragis.
Buah legendaris yang paling langka adalah Buah Kristal Merah, yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun. Kebanyakan buah yang muncul di tahun-tahun sebelumnya adalah buah dengan warna hijau, biru, kuning, ungu, dan merah muda. Jadi ketika beredar kabar bahwa yang tumbuh adalah Buah Kristal Merah, keluarga Nidlock, yang mulanya berada di ibukota, sekarang ada di wilayah Kerajaan Sora.
Perjalanan yang ditempuh dalam waktu singkat itu tentu saja karena adanya Pintu Pelangi, yaitu nama pintu yang membawa Stella ke Pegunungan Aros.
'Dan alasan pintu itu berada di tempat itu pasti berhubungan dengan lokasi buah kristal yang kucari.'
Berpikir demikian sambil mengangguk kecil, Stella berdiri dari duduknya dan melihat sekeliling. Dia harus mencari keberadaan pintu itu.
'Hmm, apa aku harus lewat sini?'
Sementara Stella berpikir dengan ragu, suara sekelompok orang mengagetkannya.
'Ada orang!'
Ia menoleh ke arah sumber suara, sebelum akhirnya bersembunyi.
"Kita berpisah di sini. Kelompok 1 ke utara, kelompok 2 ke timur laut, kelompok 3 ke barat, dan kelompok 4 ke barat laut. Sisanya ikut denganku ke selatan."
"Baik, Penyihir Agung!"
"Untuk kelompok pendeta, kalian akan berada di bawah pengawalan kesatria Duke Ronnight."
"Ya, Penyihir Agung. Ayo, semuanya! Persiapkan kekuatan suci kalian dengan baik!"
"Ya, Pendeta Ilamor!"
Mengintip dari balik bebatuan tempatnya bersembunyi, Stella menatap mereka dengan mata terbuka lebar. Beberapa meter di depannya, ada sekelompok penyihir, pendeta, dan kesatria elit dari keluarga berpangkat duke!
'Celaka. Sainganku untuk mendapatkan buah itu banyak sekali.'
Mata ungu Stella yang terbuka lebar menjadi tajam. Dia mengamati sekelilingnya, kemudian mengubah tempat persembunyiannya.
'Nah, sekarang aku harus mengikuti salah satu dari kelompok itu.'
Stella diam-diam menyeringai. Lalu dia mengenakan tudung jubahnya.
Buah Kristal Merah adalah miliknya, dan tidak ada seorang pun yang bisa merebut buah itu darinya. Meskipun seseorang menemukan buah itu lebih dulu, Stella tidak akan ragu untuk mengotori tangannya dengan darah demi mendapat buah itu.
Dia harus mendapatkannya!
__ADS_1
―――
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan Muda? Bukankah berjalan di tanah bersalju sangat melelahkan? Saya tidak mengerti dengan isi pikiran Tuan Duke."
Seseorang menahan tubuh tuannya yang terhuyung. Dia menatap sosok kecil di pelukannya dengan sedih. Meskipun kehidupan yang dijalani tuannya telah berubah, tetap saja beban berat itu masih dia pikul di kedua pundaknya seorang diri.
"Sebaiknya, Anda duduk di kereta salju ini. Saya akan membawa Anda dengan ini," kata kesatria itu sambil memperlihatkan kereta salju yang dibawanya.
"Aku tidak apa-apa."
Tuannya menolak sambil menggeleng.
"Tapi, Tuan Muda...."
"Ini adalah kesempatanku untuk membuktikan pada Paman dan Kakek bahwa aku berguna!" ucapnya dengan penuh tekad, kemudian dia menunduk, sementara telinganya memerah. "Juga ... juga agar aku menjadi kuat...."
'H-hah? Aku tidak salah lihat, 'kan?!'
Nicole tercengang dengan ekspresi tidak percaya, setelah itu menatap telinga dan wajah tuannya yang memerah secara bergantian.
'Tidak mungkin. Apakah tuanku yang pendiam dan pemalu ... akhirnya menyukai seseorang?!'
Ya, kesatria itu adalah Nicole, dan tuan yang dia maksud adalah Ester, yang mengikuti pamannya untuk membuktikan kemampuannya bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi pewaris Duke Ronnight berikutnya.
"Tapi, Tuan Putri ... menghilang...."
Ekspresi Ester, yang mulanya merona, kini menjadi gelap.
Nicole, yang tidak menyadari ekspresi tuannya, menjawab dengan ragu, "Mungkin ... Tuan Putri sedang pergi ke suatu tempat. Atau mungkin ... dia pergi ke rumah keluarga ibunya."
Berbanding terbalik dengan ucapannya, Ester diam-diam berpikir.
Dia yakin bahwa menghilangnya sang putri pasti ada penyebabnya.
Tidak mungkin bahwa sang putri, yang akhir-akhir ini hanya berada di istana, tiba-tiba menghilang tanpa diketahui oleh siapa pun. Dia bahkan hanya meninggalkan jejak berupa mantel berbulu yang ditemukan di gerbang istana milik raja.
Sebelum sang putri menghilang, pasti ada sesuatu yang terjadi.
'Selain itu, akhir-akhir ini sikap Yang Mulia dan Pangeran Mahkota sangat aneh.'
Setelah memerintahkan semua pasukan pengintai, yang biasanya bertugas ketika perang berlangsung, untuk mencari keberadaan sang putri, sikap Raja Shavir tiba-tiba berubah.
Dia tidak lagi memberi mereka perintah, seolah-olah menyiratkan bahwa perintahnya sebelumnya dibatalkan.
'Padahal saat itu dia yang paling ingin menemukan Tuan Putri, tapi tiba-tiba menutup mata dan tidak peduli?'
Pangeran Dhemiel juga, yang selalu membicarakan betapa cemasnya dia pada keselamatan sang putri ketika dirinya dan pangeran itu bertemu, tiba-tiba tidak membicarakan tentang sang putri lagi, tetapi justru membicarakan orang yang tidak terduga.
Orang itu adalah Xylia.
'Mereka sangat aneh.'
Setelah Xylia datang dan menanyakan tentang keberadaan sang putri, dua orang berpengaruh itu tiba-tiba menjadi sangat baik pada anak berambut pirang itu.
Mereka mengajaknya minum teh, bermain, berjalan-jalan keliling ibukota, dan hal-hal lainnya, yang biasanya dilakukan oleh sepasang ayah dan anak.
__ADS_1
Setelah itu, Xylia keluar-masuk istana seperti dia memasuki kamarnya sendiri.
Ketika Ester meminta pertemuan pada Raja Shavir untuk mengetahui perkembangan pencarian sang putri, permintaannya selalu ditolak, dan alasannya selalu sama.
Yaitu karena Xylia.
Saat itu, dia akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Putri Stella menghilang dan tempat yang terakhir kali dia kunjungi adalah istana Raja Shavir.
Kepedulian sang raja dan pangeran pada tuan putri, tiba-tiba menghilang dalam sekejap setelah mereka bertemu dengan Xylia.
Dan terakhir, yaitu pengaruh Xylia pada Raja Shavir dan Pangeran Dhemiel yang terkesan mencurigakan.
Semuanya seperti potongan puzzle yang penuh teka-teki. Dan untuk menyempurnakan puzzle itu, Ester membutuhkan dua potong puzzle lagi, yang menjadi kunci di balik kejadian aneh ini.
'Aku ingin tahu apa yang dilihat Tuan Putri di istana Yang Mulia hari itu, dan mengapa Xylia yang ... sangat menyukai Tuan Putri justru mengambil alih posisinya tanpa merasa bersalah sedikit pun.'
Namun, belum sempat Ester menemukan dua potongan puzzle itu, pamannya, yang saat ini adalah Duke Ronnight, memanggilnya untuk pergi ke suatu tempat.
Ester ingin menolak, tapi dia tidak bisa.
Karena saat untuk menunjukkan kemampuannya sebagai seorang pewaris duke berikutnya pada kakek dan pamannya telah tiba.
'Haa, andai saja aku bisa membantu Tuan Putri walau sedikit, tapi waktunya tidak tepat.'
Ester menghela napas.
Di sela-sela perjalanannya mencari buah langka dan sangat berharga, dia berdoa di dalam hatinya untuk keselamatan sang putri di mana pun dia berada.
――――――――――――――
Bonus - Liburan
Leonard: "Ah, nyamannya~ Tiduran di pantai sambil melihat gadis-gadis cantik dengan wajah tampan yang terlihat muda meskipun sudah tua memang menyenangkan." (tertawa sendiri)
Zayden: "Inget umur, woi! Nanti istri tercintamu turun dari surga untuk mencekikmu di sini." (nyindir sambil tertawa cekikikan, padahal matanya sendiri jelajatan ke mana-mana)
Leonard: "Nyadar diri, dong. Udah tua, punya anak, punya cucu, duda pula."
Zayden: "Eh, kamu kan juga begitu!"
Leonard: "Nyenyenye. Gak denger apa-apa~ Mending cuci mata dulu~"
Tiba-tiba....
Istri tercinta Leonard: "Aduh, sayang~ Kamu ngapain di sini, hm~?" (senyum-senyum cantik tapi wajahnya gelap)
Leonard: "Tidaaaaaak." (ngebatin, mukanya udah pucat)
Zayden: "Bwahahaha! Kena karma!"
Author: "Ya elah~ Eh, woi! Cucu kalian lagi berjuang lah kalian enak-enaknya liburan di pantai?!" (padahal dia juga lagi liburan nulis)
Wkwkwkwk😂
__ADS_1
TBC!