Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fourty Seven (47)


__ADS_3

Maaf telat!!! Aku pikir udh up, tpi ternyata blm dipost di noveltoon T^T dari kemaren pagi baterai hpku drop, di cas berjam-jam pun cuma dpt 49%, hik🀧 jadi ya, baru bisa up skrng🀧


――――――――――――――


[Sebelum perkumpulan di aula]


"Yang Mulia Raja datang ke markas cabang Eternal Flame yang ada di dekat wilayah istana kerajaan."


Marko mulai menjelaskan mengenai situasi yang sedang terjadi dengan wajah serius.


"Kebetulan, di sana hanya ada aku yang tidak memiliki tugas, jadi beliau memintaku mencari Tuan Putri yang menghilang lagi! Dan jika aku tidak bisa menemukan Tuan Putri, maka aku akan dihukum mati dan Eternal Flame kita akan dikeluarkan dari Kerajaan Evergard! Ini gawat!!!"


"Hukumannya separah itu?" Rielle tercengang. Pupil matanya bergetar. "Ini tidak bisa dibiarkan. Kita masih belum mengalahkan Eternal Snow, tapi kita harus keluar dari wilayah Kerajaan Evergard? Tidak mungkin!"


Eternal Snow? Apa itu saingan Eternal Flame?


Stella bertanya di dalam hati, meyakini dugaannya benar, kemudian mengangguk dua kali, lalu percakapan kedua orang itu kembali terdengar.


"Ya! Itu benar, Wakil Ketua!"


"Kalau begitu, aku akan segera memberitahu Ketua!"


"Ya, ya! Cepatlah, Wakil Ketua!"


Mereka berdua tergesa-gesa mengeluari ruangan, melupakan keberadaan Stella. Setelah itu, Stella mengikuti Rielle dalam diam seraya berpikir mengenai penjelasan dari Marko.


Jadi, aku sudah ketahuan?


Sebelumnya, Stella belajar membuat boneka sihir yang menyerupai dirinya dari buku sihir yang dibelikan Dhemiel. Tidak mungkin jika dia pergi dari istana begitu saja, bukan?


Oleh sebab itu, Stella membuat boneka sihir yang amat mirip dengannya. Namun, Stella tidak menyangka jika Raja Shavir mengetahui bahwa dia pergi dari istana dan menjadikan boneka sihir itu sebagai penggantinya.


Aku tidak cemas jika aku ketahuan. Tapi....


Pikiran Stella mengarah pada Suzy dan semua pelayan di istananya yang berkomplot dengannya. Mereka menatapnya seraya tersenyum tulus dan bersedia membantunya pergi dari istana, tanpa tahu bahwa nyawa mereka bisa melayang nantinya.


Jika mereka semua dihukum mati karena berbohong di depan si Shavir itu, maka artinya aku akan dapat pelayan baru yang merupakan mata-matanya. Ini bukan kabar baik.


Sudah bisa diperkirakan.


Jika sang raja menghukum mati para pelayan dengan alasan telah membohongi raja dan membahayakan nyawa sang putri, lalu mengirimkan pelayan-pelayan baru ke Istana Everstell, maka mereka semua adalah mata-mata manusia es itu yang senantisa melaporkan kegiatan apa saja yang dilakukan Stella.


Bukankah ini berarti kebebasan Stella di istananya sendiri menjadi terkekang?


Aku minta maaf pada kalian. Aku akan segera kembali. Jadi, tunggu aku.


Pada mulanya, Stella berniat kembali ke Istana Everstell dengan alibi "Tadi aku sedang berjalan-jalan di ibukota", tetapi kemudian Leonard menghancurkan rencananya.


Apa-apaan pak tua itu!


Di ruangan Leonard, Stella mengetahui bahwa orang itu tidak berniat membiarkannya mengeluari markas utama Eternal Flame begitu saja. Dia berencana memperkenalkan Stella pada seluruh anggota Eternal Flame sebagai komandan mereka.


Aku tidak bisa pulang kalau begini!


Mau tidak mau, Stella akhirnya tidak membantah ketika Leonard memperkenalkannya pada seluruh anggota Eternal Flame dengan gelar "Komandan" sebagai statusnya. Meskipun statusnya di Eternal Flame meningkat, yang mulanya tamu istimewa menjadi komandan, tetapi tetap saja tidak akan ada yang memercayai seorang anak kecil sebagai komandan.


Sesaat kemudian, Leonard mengusulkan saran secara mendadak.


Dan akhirnya, inilah situasi yang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Nak, aku akan mengirimmu ke Hutan Whiteback yang terletak di perbatasan antara Evergard dan Risteard. Semua bawahanku akan menjadi musuhmu di sana."


*(Author: kata "Evergard" saja berarti wilayah, Kerajaan Evergard berarti tempat kepemimpinan raja berada, sdngkn Istana Everstell dll. adalah kediaman masing-masing anggota keluarga kerajaan yg ada di dalam Kerajaan Evergard)


Leonard, yang mengatakan kata-kata kejam itu kepada seorang anak kecil, tetap tersenyum hingga matanya menyipit, seolah-olah dia sedang memberitahukan keberadaan segerombolan semut.


Orang yang satu ini ngomongnya enteng banget.


"Jadi, berhati-hatilah. Semoga berhasil."


Setelah itu, Stella tertawa lebar sambil membalas, "Iya! Aku akan berusaha keras!" Dia berseru dengan gembira. "Dan jangan salahkan aku kalau semua bawahanmu kubuat mati atau tidak bisa menggunakan salah satu anggota badannya!"


"Hoho, lakukan saja sesukamu."


"Baik! Hehe~"


Baik Rielle maupun semua anggota Eternal Flame, yang menyaksikan interaksi antara sang ketua dengan calon komandan mereka, seketika merinding dan menjerit sedih di dalam hati.


Tolong kalian jangan katakan kata-kata berbahaya seperti itu sambil tersenyum! Ini tidak lucu, tahu!


***


Latar tempat berubah, yang mulanya berfokus pada Evergard, kini berfokus pada tempat lain dengan arsitektur mewah. Dekorasi yang diisi permata menghiasi semua dinding. Lampu-lampu gantung berbahan logam dengan warna emas menghiasi langit-langit ruangan itu.


Ada sebuah keluarga berkumpul di sana. Mereka memang keluarga, tetapi tidak memiliki ikatan darah yang sama.


"Pergi dari sini!"


Kata-kata kejam itu keluar begitu saja dari mulut seorang pria yang mengenakan jubah berwarna merah dengan kerlap-kerlip keemasan, seolah-olah dia sedang membuang sekumpulan sampah yang tidak berarti.


"Heh...."


Di belakang pria itu, beberapa wanita tersenyum lebar di balik kipas berisi permata yang mereka pegang, di sekitar para wanita itu juga dikelilingi dengan beberapa laki-laki dan perempuan remaja yang berpakaian mewah. Ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan yang kentara.


Orang yang dibicarakan oleh pria itu berdiri dengan tatapan kosong. Rambutnya yang berwarna merah muda lembut menutupi mata birunya yang hampa. Tidak ada lagi kilau cahaya di mata itu. Di belakangnya, ada sebuah peti mati yang diisi oleh mayat seseorang. Mayat itu adalah ibunya, satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangi dan mencintainya.


Setelah mengetahui bahwa ibunya meninggal karena keracunan, dia pergi ke hadapan sang raja dan meminta keadilan untuk menghukum orang yang telah meracuni ibunya.


Namun, sekeras apa pun dia mencoba, pria itu bahkan tidak merespons. Itu karena orang yang telah meracuni ibunya adalah selir-selir pria itu, mereka berkomplot membunuh ibunya.


Meskipun dia adalah seorang pangeran, namun di tempat ini tidak ada yang menganggapnya seperti itu, alasannya karena ibunya bukan berasal dari daerah ini. Jadi, dia, yang tidak memiliki kekuasaaan sama sekali, dikucilkan oleh semua orang.


"Saya akan pergi."


Kata-kata tanpa nada itu terlontar dari bibirnya. Dia pun berbalik, diikuti dengan peti mati ibunya yang diangkat oleh seseorang. Orang yang mengangkatnya adalah pengawal pribadinya.


Dan setelah itu, beredar kabar bahwa pangeran kelima diusir dari wilayah Kerajaan Risteard atas percobaan pembunuhan terhadap salah satu anggota keluarga kerajaan.


Di sisi lain, sebuah kereta sederhana yang tidak memiliki penjagaan melaju dengan kecepatan sedang, mengeluari wilayah Risteard dan menuju wilayah Evergard, yang diharuskan melalui Hutan Whiteback.


"Pangeran...."


"Aku bukan pangeran lagi."


Pria berpakaian kesatria itu memandang tuannya dengan sedih, kemudian tidak mengatakan apa-apa lagi.


Aku merasa simpati pada Tuan Muda yang dicampakkan oleh raja b*r*ngs*k itu. Dan juga, berani-beraninya wanita-wanita ular itu meracuni nyonyaku...!


Tangan kesatria itu mengepal, dia menggertakkan giginya, kemarahan segera menyelimutinya.

__ADS_1


Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun! Aku tidak bisa diandalkan! Jika saja aku bisa...!


Dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi majikannya. Bukankah itu berarti dia tidak pantas disebut kesatria?


Sesaat setelahnya, sebuah ide terlintas di pikiran kesatria itu, lalu senyuman licik bertebaran di wajahnya.


Ha, aku baru ingat kalau raja b*r*ngs*k itu sangat patuh dengan raja di wilayah Kerajaan Evergard. Aku akan meminta bantuan raja itu. Hm, ini adalah rencana yang bagus.


Setelah itu, keheningan yang mencekam berlangsung cukup lama, sampai akhirnya pangeran itu―tidak, anak laki-laki itu―membuka mulutnya dan berbicara.


"Aku harap keluargaku di Evergard menerimaku dan mengizinkan aku mengadakan upacara pemakaman untuk Ibu," katanya, mencurahkan isi hatinya.


"Itu pasti, Tuan Muda."


Kesatria itu mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Aku harap begitu," balas anak laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian, kereta sederhana itu memasuki wilayah Hutan Whiteback. Meskipun hutan itu terlihat rimbun dari luar, tetapi di dalamnya terlihat gelap karena pepohonan tumbuh di segala arah, menghalangi sinar matahari masuk ke sana.


Tak, tak, tak.


Suara langkah kaki seekor kuda dan roda kereta menggema secara bersamaan. Sesekali ada suara semak-belukar yang terdengar.


Drap. Drap. Drap.


Suara langkah kaki segerombolan orang tiba-tiba terdengar. Sekumpulan bandit hutan memblokir jalan kereta sederhana itu. Mereka semua memiliki persenjataan yang lengkap, beberapa di antara mereka ada yang menggunakan pedang dan kapak.


"Serahkan semua harta yang kalian miliki!!"


Salah satu di antara mereka berbicara dengan lantang sambil memasang tampang ganas.


Di dalam kereta, orang yang menjadi kusir memberitahu keadaan yang sedang terjadi.Β 


"Tu-tuan Kesatria, bandit hutan memblokir jalan kereta. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan," ucap kusir itu, tubuhnya gemetar karena ketakutan.


Mendengar ucapan kusir itu, kesatria itu, Nicole, mengerutkan alisnya. Nicole pun mengintip melalui tirai kereta, matanya yang berwarna seperti buah lemon menatap serius pada segerombolan bandit hutan yang berkumpul di depan kereta, kemudian dia menatap tuannya.


"Tuan Muda, saya akan segera membereskan mereka, jadi tolong tunggu di sini."


Ketika Nicole akan turun dari kereta, anak laki-laki itu mencegatnya dengan memegang lengan tangannya. Mata birunya yang seperti langit dipenuhi ketidaksetujuan.


"Nicole tidak akan menang jika bertarung dengan mereka, jadi jangan pergi."


"Tuan Muda...."


Nicole merasa terharu karena tuannya mengkhawatirkan dirinya, tetapi dia tidak akan diam saja. Sebagai seorang kesatria, dia harus melindungi majikannya, tidak peduli jika harus mengorbankan nyawanya.


"Saya akan tetap pergi, Tuan Muda."


"Nicole!!"


Setengah jam kemudian, bau darah menguar dari segala arah. Jalanan yang mulanya didominasi oleh tanah kini digenangi oleh genangan darah. Suara pedang yang saling bertabrakan terdengar. Bersamaan dengan terjadinya pertarungan itu, seseorang dengan pakaian hitam melintas di sana. Rambut pirangnya yang seperti cahaya matahari menyinari kegelapan di Hutan Whiteback.


――――――――――――――


Hah? male lead? male lead? male lead?! MALE LEAD?!


🎊🎊🎊🎊🎊MALE LEAD!!πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰

__ADS_1


Hiks, gk nyangka, butuh 47 chapter, sobs🀧


TBC!


__ADS_2