
Stella tidak bisa membayangkan bahwa dia bisa pulang ke dunianya setelah memantapkan hatinya untuk memulai hidup baru di dunia ini.
Pilihan manakah yang harus dia pilih?
Stella bimbang.
Di satu sisi, dia merindukan keluarganya yang sangat menyayanginya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa meninggalkan dunia ini, karena "Putri Stella" yang asli tidak ada di sini.
Barbiel mengatakan padanya bahwa jiwanya memasuki tubuh Putri Stella yang tanpa jiwa. Artinya, jika dia ingin kembali ke dunianya, maka dia harus menemukan jiwa asli Putri Stella.
Tapi bagaimana caranya?
Menemukan seseorang yang bisa dilihat oleh mata telanjang memang mudah, namun bagaimana dengan menemukan jiwa seseorang yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang?
Stella tidak yakin apakah dia bisa menemukan jiwa Putri Stella. Kini bebannya bertambah satu. Bahunya, yang dipegang oleh Dhemiel, merosot dengan mudah.
"Stella? Stella!"
Dhemiel memanggilnya beberapa kali, tapi Stella tidak ingin melakukan apa pun sekarang. Dia masih bimbang, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu dirasakannya seseorang menarik tangannya hingga dia berdiri, kemudian Dhemiel memapah Stella.
"Maafkan saya. Sepertinya adik saya sedang kurang sehat," kata Dhemiel pada Eigel. "Saya pamit undur diri dulu. Diberkatilah, Matahari Eclate."
"Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati. Bulan Merah selalu menyertai kalian," balas Eigel.
"Dada!"
Barbiel melambaikan tangannya. Dhemiel pun pergi sambil memapah Stella. Setelah itu, mata merah Eigel menatap putrinya dengan pandangan curiga.
"Barbie sayang, kau tidak melakukan apa pun pada Putri Stella, 'kan?"
"Uung."
Barbiel menggelengkan kepalanya, pura-pura tidak tahu.
―――
Stella didudukkan di atas tempat tidurnya, sedangkan Dhemiel langsung pergi, katanya dia akan memanggil dokter. Bersandar di kepala tempat tidur, Stella memejamkan matanya.
"Barbiel...," gumam Stella, mengucapkan nama balita perempuan tadi.
Barbiel memberitahunya bahwa dia adalah putri mahkota dari Kerajaan Eclate, salah satu kerajaan yang bertetangga dengan Kerajaan Evergard.
Barbiel juga punya banyak bakat istimewa, katanya itu adalah bakatnya di kehidupannya sebelumnya.
Dia bisa membaca pikiran orang, mengetahui masa lalu orang itu, memanipulasi pikiran seseorang sesuai yang dia inginkan, dan juga ia bisa melihat sekilas gambaran tentang masa depan. Jika dia adalah musuh, maka dia akan menjadi musuh yang sangat berbahaya, tapi untungnya dia ada di pihak Kerajaan Evergard.
Sama seperti yang diucapkan Barbiel, dirinya dan dia masuk ke tubuh seseorang yang masih bayi. Tapi bedanya, sebelum Barbiel memasuki tubuh itu, ia sudah mati, sedangkan dirinya sendiri belum mati. Itu artinya, sekarang Stella sedang koma di dunianya karena jiwanya memasuki tubuh orang lain yang tanpa jiwa.
"Di mana aku harus mencari jiwa Putri Stella...?"
Pikirannya saat ini sedang dilanda badai yang membuatnya merasa pusing.
Stella ingin menyerah, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Keputusannya saat ini akan mempengaruhi masa depannya, jadi dia tidak boleh bertindak gegabah.
__ADS_1
Aku sudah memutuskan bahwa aku akan ... mencari jiwa Putri Stella agar bisa pulang ke duniaku.
Itu adalah keputusan paling tepat menurut Stella. Dia tidak bisa hidup bahagia di sini, sementara keluarga aslinya berharap dia bangun dari koma. Lagi pula, seharusnya Stella tidak datang ke dunia ini. Karena hanya dengan Xylia yang mengulang kembali masa lalunya saja sudah mengubah nasib buruk Putri Stella.
Ya, seharusnya begitu sejak awal, jika saja dia tidak datang ke dunia ini.
Tapi sebelum melakukan itu, aku harus mencari Ibu dan kakak keduaku, agar nantinya ketika jiwa Putri Stella yang asli sudah kutemukan dan kembali ke tubuhnya, dia akan bisa merasakan kasih sayang dari keluarganya. Jadi aku bisa pergi dengan tenang.
Stella tersenyum tanpa sadar, namun setetes air mata mengalir ke pipinya.
Tapi kenapa ... terasa berat untuk pergi dari sini?
Sesaat setelahnya, Stella mendengar suara langkah kaki beberapa orang. Ia segera menghapus air matanya, lalu memusatkan perhatiannya pada pintu kamarnya yang perlahan terbuka.
"Stella!"
Dia bisa mendengar suara khawatir dari Raja Shavir, yang datang menghampirinya seperti kilat.
"Di mana yang sakit? Dokter! Cepat periksa putriku!"
"Kalau begitu permisi, Yang Mulia."
Dokter kerajaan memeriksa Stella, tapi tubuh Stella tidak panas, dia baik-baik saja.
"Di mana yang sakit, Tuan Putri?"
"Aku pusing."
"Apa?! Dokter, Stella bilang kalau dia pusing! Cepat berikan obat pereda pusing!"
Dhemiel dan Raja Shavir mendesak dokter pria itu agar memberikan obat untuk Stella.
"Aku pusing karena tidak tahu harus menghadiahkan apa untuk Kak Dhemiel."
Lalu Stella tersenyum, kedua alisnya melengkung ke atas dan ekspresinya seakan mengatakan "Maaf membuat kalian khawatir".
Mendengar ucapan Stella, Dhemiel meneteskan air mata karena terharu. Ia pun menggenggam tangan Stella.
"Stella, seharusnya kau ... tidak perlu memberiku kado. Aku dapat ciuman darimu juga bisa dianggap sebagai kado."
"Hanya itu saja?"
"Iya! Iya!"
Dhemiel menjawab dengan semangat, lalu Stella mendekatkan wajahnya, hendak mencium pipi Dhemiel yang disodorkan padanya. Tapi sebelum itu terjadi, Raja Shavir segera memisahkan mereka.
"Ayah dulu yang pertama, baru setelah itu kau, Dhemiel," ucapnya dengan penuh penekanan.
Ish, Ayah mengganggu saja, batin Dhemiel sambil cemberut.
***
Selama beberapa hari, Stella menjernihkan pikirannya. Sambil melakukan itu, ia memilih gaun yang akan dia pakai untuk menghadiri ulang tahun Dhemiel, lebih tepatnya memilih tiga pasang baju untuk dipakai olehnya, Dhemiel, dan Raja Shavir.
__ADS_1
Sebenarnya, Raja Shavir sudah memberikannya sepuluh baju pasangan untuk keluarga, dia ingin mereka memakai baju dengan warna yang sama agar terlihat seperti keluarga yang harmonis, dan Stella diminta memilih baju yang terbaik untuk mereka pakai.
Memilih baju yang menarik. Hmm....
Nyatanya, itu cukup sulit untuk Stella, karena semua baju yang ada di hadapannya sekarang sangat bagus.
"Baju apa yang harus kupilih, ya? Ini cocok untuk Ayah, tapi ini juga. Semuanya cocok!"
Stella berpikir keras sambil membayangkan baju-baju itu dipakai olehnya, Dhemiel, dan Raja Shavir. Karena warna rambut mereka semua sama, yaitu hitam, maka akan cocok jika dipadukan dengan warna gelap.
Lalu tatapan Stella mengarah pada sebuah gaun berwarna ungu tua yang dihiasi kerlap-kerlip berbentuk bunga dengan warna putih transparan.
"Ini cocok untukku."
Stella mengambil gaun itu, diikuti dengan seuntai kalung perak yang memiliki mata kalung berbentuk oval yang terbuat dari batu rubi, ia pun mengambil sebuah bros dengan lambang bunga mawar yang terbuat dari batu rubi juga, lalu memberikannya pada Suzy.
"Tolong simpan ini untuk kupakai."
"Baik, Tuan Putri."
Sekarang Stella kembali memusatkan perhatiannya pada baju-baju itu.
Ia mengambil pakaian laki-laki berukuran besar dengan warna hitam yang mendominasi dan sedikit dipoles dengan warna ungu tua, serta dihiasi dengan kancing-kancing berwarna emas yang bermotif bulan purnama.
Stella mengetahui bahwa motif bulan purnama adalah julukan Kerajaan Evergard sejak pertama kali didirikan, yang diberi nama Bulan Merah Evergard. Itu adalah bentuk pengucapan salam yang biasanya diberikan raja dari kerajaan tetangga kepada raja dari Kerajaan Evergard, seperti yang diucapkan oleh ayah Barbiel tadi.
Lalu Stella mengambil jubah berwarna merah tua dan ornamen-ornamen berwarna emas lainnya seperti bros dengan lambang Kerajaan Evergard yang terbuat dari batu ametis dan sebagainya.
Kemudian ia menyerahkan pakaian itu pada Bonnie.
"Bungkus ini dan kirim pada ayahku."
"Baik, Tuan Putri."
"Nah, sekarang hanya perlu memilih pakaian untuk Kakak."
Tangannya mengambil salah satu pakaian yang seukuran Dhemiel dengan warna ungu velvet mendominasi dan sedikit dipoles dengan warna biru muda, juga dihiasi dengan kancing-kancing berwarna emas yang bermotif bunga mawar. Lalu Stella mengambil bros dengan lambang Kerajaan Evergard yang terbuat dari batu topaz dan ornamen-ornamen lainnya.
Kemudian ia menyerahkan pakaian itu pada seorang pelayan bernama Lucca yang baru-baru ini akrab dengannya.
"Bungkus ini dan kirim pada kakakku."
"Baik, Tuan Putri."
"Ambil semua gaun yang tersisa dan taruh di ruang gantiku. Sisanya kembalikan pada ayahku."
"Baik, Tuan Putri."
Setelah itu, Stella duduk di sofa yang ada di kamarnya seraya mengembuskan napas.
Pesta ulang tahun Dhemiel akan diadakan besok malam.
――――――――――――――
__ADS_1
TBC!