
"Pergi dari sini."
"Baik, Yang Mulia. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati. Bulan Merah menyertai Anda."
Harold dan Laurabelle memberikan penghormatan, kemudian berbalik. Dua pasang mata cokelat muda itu melirik Ester dengan tajam, setelah itu mereka pergi.
Ester mengembuskan napas lega setelah mereka pergi. Ia tersenyum pada Raja Shavir yang telah menyelamatkannya dari lingkaran neraka tadi.
"Terima kasih, Yang Muli―"
"Tidak perlu."
Pria berambut hitam itu memotong kata-kata terima kasih dari Ester.
Aku juga tidak suka mereka. Sifat mereka sama dengan pria b*r*ngs*k itu.
"Ikut denganku."
Lalu dia berbalik dan berjalan. Ester mengikutinya dari belakang dengan patuh seperti anak ayam.
"Bagaimana―tidak. Apa yang sebenarnya terjadi pada Tuan Putri?"
"Aku juga tidak tahu. Dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar."
"... Saya tidak menyangka bahwa Yang Mulia tidak tahu alasan mengapa Tuan Putri menghilang."
Deg, deg, deg!
Degup jantung Raja Shavir berdebar dengan cepat daripada biasanya. Keringat tipis mengalir di pelipisnya.
"Sejujurnya, aku terpikir satu alasan."
"Apa itu?"
"Tapi sebelum itu, kita harus menemui para saksi."
"Para ... saksi?"
Raja Shavir membawa Ester menuju Istana Everina, tempat di mana para utusan dari kerajaan lain menginap selama berada di Evergard. Para pelayan yang melihat mereka segera membungkuk rendah sambil mengucapkan salam, memberi penghormatan. Keduanya berjalan menuju sebuah ruangan yang memiliki dua pasang pintu besar dan tinggi. Pintu itu terbuat dari kayu dan diukir dengan cara tradisional, terlihat elegan.
Klik.
"Yang Mulia Raja Shavir telah tiba."
Suara seorang kesatria yang menjaga pintu menyentak orang-orang yang berkumpul di dalam ruangan. Mereka membungkuk rendah sambil mengucapkan salam.
Duduk di sebuah sofa panjang yang berhadapan dengan para utusan dari kerajaan lain, Raja Shavir memandang mereka satu per satu.
"Aku mengumpulkan kalian karena kalian adalah orang-orang yang terlibat dengan putriku sebelum dia menghilang."
Jika dulu dia akan mengerahkan seluruh pasukan elit kerajaan untuk mencari Stella, maka kali ini tidak. Mencari diam-diam tanpa menimbulkan keributan adalah cara yang paling efektif.
"Saksi pertama, para pelayan."
Suzy dan Lucca melangkah dan berdiri di samping pria bermata ungu itu.
"Ya, Yang Mulia."
"Jelaskan mengapa Stella ingin menemuiku."
"Tuan Putri ingin menemui Yang Mulia untuk meminta izin agar diperbolehkan keluar dari istana."
"Kenapa dia ingin keluar?"
"Itu ... mungkin Tuan Putri ingin menemui Nona Nidlock."
"Apa? Lilith?"
Dhemiel menyela dengan wajah terkejut, lantas segera menutup mulutnya.
"Maafkan aku, Ayah."
"Lain kali jangan bertindak seperti itu," tegur Raja Shavir dengan halus.
"Baik...," jawab Dhemiel patuh.
Lantas Raja Shavir melirik Suzy.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena Tuan Putri meminta informasi tentang Nona Nidlock dari Lucca, Yang Mulia."
"Lucca?"
__ADS_1
"Itu saya, Yang Mulia."
Raja Shavir meliriknya sekilas, lalu melambaikan tangannya.
"Pergilah."
"Baik, Yang Mulia."
Mereka berdua membungkuk rendah dan melangkah mundur. Kemudian Raja Shavir, yang memandang Elvin dan Aurora, berbicara.
"Saksi kedua, Pangeran Mahkota dan Putri Mahkota Eleanor."
"Ya, Yang Mulia."
Aurora menjadi gugup. Dia sudah mendengar banyak tentang penguasa Evergard yang terkenal berdarah dingin, melebihi kakak iparnya. Elvin, yang ada di sampingnya, menyadari hal itu dan menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Seorang pelayan mengatakan bahwa putriku datang kemari. Apa itu benar?"
"Itu benar," jawab Elvin.
"Apakah kalian tahu alasan dia datang?"
"Tidak, Yang Mulia. Putri Stella tiba-tiba muncul di depan kami."
"... Tiba-tiba muncul?"
Jadi dia sudah menguasai sihir teleportasi? Itu bagus.
"Tapi...."
Pikiran Raja Shavir dengan cepat berubah arah ketika suara ragu-ragu datang dari Elvin.
"Tapi?"
"Dia menangis."
Suasana di dalam ruangan menjadi sunyi. Ekspresi Raja Shavir mengeras. Dhemiel dan Ester memiliki ekspresi tertegun dengan mata melebar. Sementara Suzy dan Lucca saling berpelukan dengan wajah berlinang air mata.
"Apa?"
"Dia terlihat seperti akan menangis."
Kali ini yang menjawab adalah Aurora.
"Siapa orang terakhir yang bersama putriku?"
"Itu...."
Pandangan Elvin dan Aurora mengarah pada Barbiel, yang duduk di pangkuan Eigel.
"Setahu kami Putri Barbiel."
"Putriku?"
Eigel menatap putrinya, kemudian menjadi serius.
"Barbie sayang, apakah kau bertemu dengan Putri Stella hari ini?"
Semua orang memandang Barbiel dengan binar harapan. Tapi Barbiel, yang berpura-pura tidak tahu dengan situasi saat ini, memiringkan kepalanya.
"Uung? Baabiyel gak tau apah yang kalean bilang." (Barbiel tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan.)
"Barbie sayang, jangan berbohong."
"Atu gak bo'ong. Hiks...." (Aku tidak berbohong.)
Ekspresi Barbiel dengan cepat berubah. Mata merah mudanya berkaca-kaca, air mata yang memenuhi kelopak matanya sudah siap tumpah.
Eigel panik, tidak menyangka bahwa putrinya akan menangis. Ia segera mengusap punggung putrinya.
"Barbie sayang, jangan menangis. Kita hanya sedang bermain. Benar, 'kan?"
"Huwaaaaaa!"
Pria berambut oranye panjang itu, yang putus asa karena Barbiel menangis dengan keras, menatap semua orang dengan pandangan "Tolong aku!" yang terlihat menyedihkan. Aurora yang mengetahui arti pandangan Eigel segera bertindak.
"Oh, benar. Kita hanya bercanda. Benar, 'kan, sayang?"
"Ya, ya. Itu benar."
Elvin mengangguk, tapi wajahnya terlihat kesal. Ia meratap di dalam hati.
Di saat-saat seperti ini saja baru dia memanggilku "sayang". Kenapa istriku seperti ini, Tuhan?
__ADS_1
"Jangan menangis, Putri Barbiel."
"Kami hanya bercanda."
Yang lainnya juga ikut menghibur Barbiel.
Raja Shavir menatap balita berambut pirang itu dengan tajam, berharap bahwa dia berhenti menangis. Tapi Barbiel tidak takut dan semakin mengeraskan suara tangisannya. Pria bermata ungu itu hanya mampu menghela napas berat. Satu-satunya orang yang menjadi kunci dari menghilangnya Stella tidak mau bercerita. Saat itu, sesuatu terlintas di pikirannya.
Mungkin karena itu dia pergi.
Di sisi lain, Barbiel, yang wajahnya diusap oleh ayahnya menggunakan sapu tangan, menangis di dalam hati.
Aku mengorbankan harga diriku demi kau, Stella. Cepat jernihkanlah pikiranmu dan pulang!
―――
Swooosh!
Cahaya emas yang sangat bersinar menerangi sebuah tempat yang dikelilingi bebatuan besar dan kokoh. Sosok anak kecil segera tampak begitu cahaya emas itu menghilang. Mata ungu cerah seperti batu ametis terlihat. Rambut hitamnya mengilat di bawah sinar matahari.
"Di mana ini?"
Stella memandang sekitarnya. Kata-kata yang diucapkan Barbiel beberapa saat lalu kini bergema di pikirannya.
["Aku akan membawamu ke suatu tempat. Dua hari kemudian, sihirku akan secara otomatis membawamu pulang. Saat itu terjadi, aku mungkin sudah kembali ke tempatku."]
"Huh."
Stella mengembuskan napas pendek. Perasaannya menjadi kesal.
"Seharusnya sebelum dia mengirimku kemari, beritahu aku dulu tempat apa itu, atau kirim aku ke tempat yang kukenal. Tapi, ini...? Haah...."
Tidak ada gunanya juga dia mengeluh sekarang. Yang harus dilakukan Stella adalah mengetahui di mana dia berada saat ini. Ia mengamati sekitarnya. Di sini adalah alam terbuka, tapi tidak ada tanda-tanda bekas turun salju, udara di sini juga hangat.
Apa aku bukan berada di wilayah Evergard?
Stella memiringkan kepalanya, kemudian memutuskan berkeliling. Di sekitarnya hanya ada batu, batu, dan batu. Selain bebatuan tidak ada apa pun di sini.
"Sebenarnya Barbiel mengirimku ke mana, sih?!"
Lelah berkeliling, Stella memutuskan mencari tempat berteduh. Sesuatu dengan bentuk persegi panjang menarik perhatiannya. Stella menatap ke sana.
"Pintu?"
Beberapa meter di depannya berdiri sebuah pintu besar berbentuk persegi panjang. Itu terbuat dari kaca-kaca berwarna-warni, dihias dengan bunga-bunga indah di sekitarnya.
"Apakah itu jalan keluar dari tempat ini?"
Stella berjalan menuju pintu itu. Setibanya di sana, ia menyentuh gagang pintu dan menariknya. Pintu besar itu terbuka.
Swooosh!
Angin dingin yang membawa butiran-butiran salju berembus kencang.
Di ambang pintu, Stella membeku kala melihat pemandangan yang terpapar di matanya.
Hanya ada salju, salju, dan salju. Area di sekitarnya tertutupi salju putih yang sangat dingin.
Sebenarnya aku ada di mana sekarang?!
Stella, yang masih membeku, dikejutkan oleh suara manis seseorang yang sepertinya sedang berbicara padanya.
"Siapa Anda?"
Tersentak, Stella segera memandang seseorang yang berbicara padanya.
"Ini bukan wilayah yang bisa dimasuki orang asing seperti Anda .... Hah! Tuan Putri?!"
"Lilith?"
Seorang anak perempuan yang lebih tinggi darinya, berambut cokelat muda panjang dan memiliki mata ungu transparan adalah orang yang berbicara dengan Stella.
Lilith Nidlock.
Stella menggumamkan nama itu di dalam hatinya.
Tapi kenapa Lilitu bisa ada di sini juga?
――――――――――――――
maaf telat updatenya, ya~~~~
TBC!
__ADS_1