
Apa? Sahabat?
Stella memandang Xylia dengan tatapan aneh.
Dia dan Xylia menjadi sahabat? Tidak mungkin.
Stella menepis kemungkinan seperti itu. Dia dan Xylia tidak cocok menjadi teman, apalagi sahabat. Mereka hanya akan saling berhubungan untuk sementara waktu, hanya menyapa dan saling bertukar kata, dan tidak lebih dari itu.
Tapi....
Stella tiba-tiba merasakan sensasi aneh menggelitik hatinya. Perasaannya mengungkapkan bahwa dia sangat senang, tapi ekspresi wajahnya bingung karena perasaan seperti itu tiba-tiba muncul dan membuat alisnya mengerut.
Tidak. Aku tidak boleh terlalu egois.
Meskipun mungkin untuk menerima Xylia sebagai sahabatnya, Stella tidak ingin melakukan itu.
"Tidak bisa."
Stella menolak dengan datar. Rasa sakit segera menyebar di dada Xylia.
"Kenapa...?"
Mata hijau itu bergetar. Padahal dia sangat yakin bahwa putri itu memperlakukannya dengan berbeda, seolah-olah hanya dia teman satu-satunya yang putri itu punya. Jadi apa salahnya jika hubungannya dengan dia lebih dalam dan menjadi sepasang sahabat?
"Kenapa, Tuan Putri? Padahal jika kita menjadi sahabat, kita bisa saling membantu. Jadi aku dan Tuan Putri tidak perlu merasa harus balas budi satu sama lain. Karena kita sahabat, jadi wajar kalau kita saling membantu. Tapi kenapa ... kenapa Tuan Putri menolakku?"
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Xylia, menatap Stella dengan mata berkaca-kaca.
Alasannya karena aku bukan Putri Stella, orang yang pantas memutuskannya.
Stella menelan kalimat itu yang ada di ujung lidah. Sebaliknya, dia menatap Xylia, ekspresinya diatur sedemikian rupa sehingga terlihat bahwa dia tidak merasa bersalah sama sekali dengan ucapannya.
"Kita tidak boleh terlalu dekat. Aku tidak ingin orang-orang melihatmu sebagai kelemahanku. Kau sudah cukup dijadikan sasaran, sekarang tidak boleh lagi."
"Tuan Putri ... sudah tahu hal itu?"
"Ya."
Xylia berkedip karena terkejut. Meskipun dia sudah memberitahukan Stella bahwa dia menjalin kontrak dengan Raja Shavir untuk melindunginya, tapi Xylia tidak mengatakan kalau dia dijadikan target dari musuh-musuh sang raja. Sensasi hangat segera menyebar di hatinya, itu adalah perasaan yang sama dengan yang dia rasakan saat bersama dengan ibunya. Senyumnya sedikit mengembang ketika sebuah harapan terlintas di pikirannya.
"Apa itu artinya ... Tuan Putri mengkhawatirkanku?"
"... Tidak."
__ADS_1
Stella memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat ekspresi Xylia yang sangat mengganggunya. Dia segera membuat alasan yang logis.
"Aku hanya merasa kasihan kalau kau mati di usia yang begitu muda setelah berhasil memperbaiki sedikit kehidupanmu."
"Oh...."
Xylia menundukkan kepalanya, tampak murung saat berimajinasi bahwa harapannya hancur seperti kaca yang dipecahkan, kemudian dia mengangguk dan tersenyum, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Aku mengerti. Tuan Putri pasti kesulitan kalau aku menjadi beban Tuan Putri. Aku senang karena Tuan Putri peduli padaku. Itu sudah cukup. Aku tidak apa-apa."
Ukh, jangan buat ekspresi seperti itu.
Stella, yang mengintip ekspresi Xylia karena khawatir dengan ucapannya yang terlalu tajam, dibuat merasakan sensasi menyakitkan di sudut hatinya.
Aneh. Rasanya sangat tidak nyaman.
Dia tiba-tiba merasa gelisah, seolah-olah telah melakukan kesalahan besar. Lalu Stella segera tertawa kaku dan memulai percakapan.
"Kalau begitu ... ayo kita kembali ke aula."
"Baik."
Semoga perasaan ini cepat hilang.
Ketika Xylia pertama kali memintanya untuk menjadi lebih dekat dengannya, Stella merasa biasa saja karena dulu juga banyak orang-orang terkenal yang ingin berteman dengannya. Tapi kali ini, ketika Xylia memintanya menjadi sahabatnya, Stella merasakan perasaan aneh muncul di hatinya, antara senang dan terharu.
Di kehidupannya dulu, ada banyak orang munafik, yang selalu tersenyum di hadapan semua orang, tapi memiliki sifat buruk yang sangat menakutkan, sama seperti di dunia ini. Terkadang ada banyak wanita yang pandai membuat ekspresi, jadi sangat sulit mencari seorang teman yang tulus.
Stella, yang lahir di keluarga kerajaan, harus berhati-hati dalam pergaulan sosial. Ada banyak musuh di sekitarnya yang menjadi teman, dan ada banyak orang yang ingin memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.
Jadi sampai sekarang, aku tidak punya teman ataupun sahabat.
Dulu, orang-orang luar yang dekat dengan Stella menganggapnya sebagai teman, tapi dia tidak. Karena niat asli mereka sudah diketahui Stella sejak dia memasuki organisasi pembunuh bayaran di negaranya.
Aku hanya punya rekan-rekan kerja dan para mahasiswa yang lebih tua dariku. Tidak ada teman satu pun.
Dulu Stella tidak terlalu memikirkan hal itu karena dia memiliki dua kakak perempuan yang selalu bersamanya. Waktunya lebih banyak dihabiskan bersama keluarganya daripada bersosialisasi.
Maaf, Xylia.
Stella mengalihkan tatapannya dari Xylia.
Aku terlahir sebagai Putri Stella di sini, jadi aku harus menerima kasih sayang diberikan oleh keluargaku. Tapi jika ada orang yang ingin berteman denganku, maka aku akan menolak mereka. Hak ini hanya boleh digunakan oleh Putri Stella yang asli, karena ada kemungkinan bahwa dia akan kembali ke tubuh aslinya dan aku harus pergi dari sini untuk selamanya.
__ADS_1
Dia tidak boleh terlalu egois. Mereka yang terlalu dekat dengannya mungkin akan merasa curiga jika sikap Putri Stella tiba-tiba berubah suatu saat nanti, seperti bukan Putri Stella yang selama ini mereka kenal.
―――
Seseorang dengan rambut merah menyala berjalan di bawah langit yang menjelang malam. Warna kemerahan bercampur kuning dan oranye menjadi pemandangan yang indah di hamparan langit sore.
Guru bilang aku harus berhenti mencari putrinya. Tapi aku menemukan beberapa petunjuk, jadi aku akan tetap menjalankan tugasku.
Beberapa hari yang lalu, gurunya, yang tidak pernah dia temui selama beberapa tahun, tiba-tiba memanggilnya melalui perangkat sihir dan mengatakan bahwa dia harus berhenti melakukan tugas yang diberikan dan menjalani kehidupan damai seperti yang dia inginkan. Namun itu sudah terlambat, karena dia sudah menemukan beberapa petunjuk yang menuntutnya untuk menyelesaikan tugasnya.
Lalu mata birunya menoleh ke belakang, menatap bangunan megah yang pernah dia tinggali dan bermain di sana bersama seorang gadis kecil yang berusia satu tahun di bawahnya.
Mungkin ini akan lama.
Lalu pandangan matanya beralih ke depan. Dia kembali berjalan, sebelum akhirnya lingkaran sihir dengan pola-pola rumit berwarna biru terang muncul di bawah kakinya.
Aku sudah menghilangkan sihir jahat itu, jadi tidak akan terjadi apa pun selama aku pergi.
Dia tidak tahu bahwa situasi sudah terbalik. Dengan ketidaktahuan itu, dia akan meninggalkan wilayah kerajaan ini untuk sementara waktu demi menyelesaikan tugasnya yang nyaris dia lupakan.
Lagi pula, dia sudah punya teman baru yang akan menemaninya selama aku tidak ada.
Ingatannya terpaku pada dua orang bersaudara yang selalu dia temui di istana. Dia yakin bahwa gadis itu tidak akan kesepian selama ada mereka.
Sekarang aku harus pergi. Sampai jumpa lagi, Xylia.
Dengan begitu, Zhio menghilang untuk sementara waktu.
―――
Ketika Stella dan Xylia keluar dari balkon, mereka berpapasan dengan seorang wanita muda dengan rambut biru tua bergelombang yang tampak mencolok. Mata hitam wanita itu terus memandang Stella dengan intens.
Stella merasa tidak nyaman dengan tatapan wanita itu, lalu ia berkata pada Xylia, "Kau duluan saja. Aku akan menyusul nanti."
Xylia menatap Stella dan wanita itu secara bergantian, kemudian mengangguk.
"Baiklah."
Setelah kepergian Xylia, Stella menghampiri wanita itu.
"Apakah ada yang bisa kubantu?"
――――――――――――――
__ADS_1
TBC!