Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fifty Five (55)


__ADS_3

Pada pagi hari yang cerah, burung-burung berkicau, seolah-olah sedang bernyanyi. Di taman bunga mawar, yang terletak di halaman depan Istana Evercius, dua orang anak kecil duduk di sana. Mereka menggelar pesta teh yang tergolong sederhana. Suasana pagi hari yang dingin membuat mereka merasakan kehangatan teh yang mengalir melalui tenggorokan.


"Aku tidak menyangka bisa minum teh bersama dengan Tuan Putri!" ujar Xylia dengan wajah cerah.


"Ya. Aku juga," balas Stella sambil meminum teh hijaunya dengan gerakan elegan.


Meskipun Stella tidak pernah diajari tata krama seorang bangsawan sejak datang ke dunia ini, dia tetaplah seorang putri kerajaan dari dunia modern, jadi badannya bergerak dengan sendirinya karena sudah terbiasa.


"Untungnya, Yang Mulia Raja mengizinkan Tuan Putri bermain denganku," kata Xylia sambil tersenyum lebar.


"Iya."


Mendapatkan izin dari raja memang butuh perjuangan, batin Stella dengan air mata imajiner mengalir di pipinya.


Mengingat kembali apa yang dilakukannya dan Xylia beberapa saat lalu, Stella hampir mengibarkan bendera kematiannya. Dengan temperamen Raja Shavir yang sangat melindungi sesuatu yang dimilikinya, Stella mati-matian mendapatkan izin.


Meskipun dokter kerajaan telah mengatakan berulang kali bahwa Stella sudah sembuh, Raja Shavir tetap tidak percaya dan tidak mengizinkan Stella keluar dari Istana Evercius.


Ada banyak cara untuk membujuk Raja Shavir, tetapi semua cara itu tidak ada yang berhasil. Ketika yang dilakukan Stella sia-sia, dia mendapatkan sebuah ide brilian (bagi Raja Shavir) sekaligus memalukan (bagi Stella).


"Kalau Ayah mengizinkanku bermain dengan Xylia, aku akan melakukan apa yang seharusnya ayah dan anak lakukan! Seperti main bersama, makan bersama, tidur bersama, jalan-jalan di tempat yang seru, dan lain-lain!"


"Oke."


Alhasil, ucapan Stella saat itu berhasil membuat sang raja memberi izin, tetapi syaratnya Stella tidak diperbolehkan pergi dari wilayah Istana Evercius. Setelah itu, Stella berakhir di taman bunga mawar milik Raja Shavir.


"Kapan-kapan aku ingin main lagi bersama Tuan Putri," kata Xylia sambil membayangkan momen indah itu di kepalanya, dia senyum-senyum sendiri.


Lebih baik kau saja yang minta izin! timpal Stella di dalam hatinya.


"Oh, ya. Ngomong-ngomong...." Stella melihat sekelilingnya yang tampak sepi, tanpa ada satu pun pelayan. "... Ke mana semua pelayan?"


"Mereka sedang kerja."


"Soal itu aku juga tahu, sih." Stella menatap datar ke arah Xylia yang sedang tertawa. "Maksudku, setidaknya ada yang menjaga kita walaupun cuma satu pelayan."


"Hmm. Setahuku semua pelayan sedang sibuk sekarang," jawab Xylia sambil meletakkan cangkir tehnya. "Mereka sibuk mempersiapkan perayaan natal, tahun baru, dan ulang tahun Pangeran Mahkota."


"Ulang tahun Kak Dhemiel...?"


"Benar, Tuan Putri. Seminggu lagi adalah perayaan natal, enam hari setelah natal adalah tahun baru, dan dua minggu setelah tahun baru adalah ulang tahun Pangeran Mahkota," jelas Xylia dengan singkat tetapi rinci. 


"Begitu, ya."


Berarti ulang tahun Dhemiel tanggal 14 Januari.


"Setelah ulang tahun Pangeran Mahkota, seisi istana juga pasti akan heboh untuk mempersiapkan ulang tahun Tuan Putri." Stella memandang Xylia yang tertawa lebar. "Aku benar, 'kan?"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu .... Ah, iya. Kau, 'kan, kembali ke masa lalu," kata Stella setelah mengingat kembali hari di mana Xylia menceritakan rahasianya.


"Uhm, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan." Xylia berbicara dengan nada pelan. Dia mencodongkan tubuhnya ke arah Stella, menjadi lebih dekat. "Padahal aku sudah menceritakan rahasia terbesarku, tapi sepertinya Tuan Putri tidak merasa terlalu terkejut. Kenapa bisa begitu?"


Sudah kuduga kalau dia akan bertanya seperti itu....


Lalu Stella tersenyum sambil menjawab, "Karena aku pernah bermimpi tentang masa depan yang kau ceritakan. Seperti pengasinganku sebagai putri raja, dimusuhi olehmu, dijebak oleh ayahmu, dan berakhir mati saat eksekusi. Aku sudah tahu semuanya."


... Jadi sebelumnya aku sudah mempersiapkan jawaban seperti ini.


Menghapus senyum di wajahnya, Stella mengamati ekspresi Xylia yang menunjukkan keterkejutan sekaligus kagum.


"Woah! Pantas saja Tuan Putri berubah begitu banyak!"


"Ya, begitulah."


Dia langsung percaya, baguslah.


"Nah, karena Tuan Putri sudah tahu masa depan yang kualami dulu, jadi ayo kita bekerja sama untuk menghindari tragedi-tragedi itu!" lanjut Xylia dengan penuh semangat.


"Baiklah."


Setelah mendengar perkataan Xylia, Stella merasa bahwa ada beban yang terangkat dari bahunya. Dia merasa lega.


Aku juga ingin menghindari tragedi itu, terutama kejadian keracunan Xylia yang menyeret nama Putri Stella.


"Oh, iya. Tumben kau tidak datang bersama Zhio."


"Oh, begitu."


***


Usai menghabiskan waktunya bersama Xylia, Stella membaringkan tubuhnya di tempat tidur milik Raja Shavir. Sebuah buku berwarna merah muda tampak di samping Stella.


Gara-gara membahas tentang tragedi-tragedi yang terjadi di buku dongeng itu, aku jadi ingin membaca ulang buku dongengnya. Lagi pula, aku belum membaca buku itu lagi setelah hari di mana saat aku membelinya.


Lalu Stella menatap buku dongeng "The Poor Princess" yang terletak di sampingnya. Beberapa saat lalu, Stella meminta Suzy membawakan buku itu, Suzy pun melaksanakan perintah Stella tanpa mengatakan apa pun.


Mengambil buku bersampul merah muda itu, Stella duduk dan mulai membuka lembaran pertama.


Namun, semuanya kosong!


Stella tercengang dengan mata membulat. Dia kembali menutup buku itu, lalu membukanya, tetapi hasilnya tetap sama!


"Bagaimana bisa?"


Stella bergumam seraya membalik semua halaman, namun tidak ada satu pun kalimat. Semuanya kosong. Stella kembali menatap judul buku itu. Jelas-jelas buku itu berjudul "The Poor Princess", tetapi Stella tidak mengerti mengapa isi buku itu kosong.

__ADS_1


Beberapa saat setelahnya, Stella kembali membuka buku itu dengan pelan. Sungguh keajaiban, kini buku itu tidak lagi kosong, melainkan diisi dengan tulisan tangan seseorang yang sangat dikenal Stella.


"Apa tadi aku berhalusinasi, ya?" Dia bergumam dengan ekspresi ragu. "Ya, mungkin aku hanya berhalusinasi."


Meyakini dugaannya, Stella mengangguk, kemudian mulai membaca dari bab awal hingga dia sampai pada salah satu bab yang berisi kejadian setelah Putri Stella yang asli dieksekusi.


[Kepemimpinan Kerajaan Evergard diserahkan pada Duke Fictin secara langsung oleh Yang Mulia Raja. Xylia kemudian diangkat menjadi putri kerajaan, lalu bertunangan dengan Pangeran Xander seminggu setelah pengeksekusian Putri Stella, sedangkan Pangeran Dhemiel diketahui mulai aktif mengikuti peperangan.


[Meskipun sudah seharusnya kembali beraktivitas ke seharian masing-masing, tapi bukankah terlalu tidak berperasaan mengadakan acara bahagia itu seminggu setelah kematian Putri Stella?]


"Ya! Kau benar! Mereka memang tidak berperasaan!" ucap Stella spontan dengan nada kesal. Memang, membaca buku dongeng itu selalu saja membuatnya merasa kesal setengah mati. "Oke, ayo kita lanjut baca lagi!"


[Ada beberapa orang yang menganggap bahwa karma itu ada, sedangkan yang lainnya menganggap bahwa karma itu tidak ada. Tapi sepertinya karma memang benar-benar ada dan sedang terjadi saat ini.]


"Ha, rasakan!" timpal Stella sambil tertawa ala iblis. Setelah puas tertawa, dia kembali membaca paragraf selanjutnya dengan antusias.


[Tidak butuh waktu lama, Kerajaan Evergard mengalami bencana beruntun yang memakan korban jiwa. Perang besar memperebutkan suatu wilayah pun terjadi. Dalang di balik kejadian itu adalah Pangeran Xander. Dia menjadikan tunangannya, Xylia, sebagai tawanan.]


"Oh, inikah yang namanya bahagia~? Aku sangat bahagia~ Melihat mereka menderita, karena kena karma~"


Stella justru bernyanyi sambil cekikikan tidak jelas. Walaupun Xylia telah berubah menjadi baik, tetapi tetap saja Stella merasa puas ketika membaca bagian itu.


"Akhirnya wanita jahat itu merasakan bagaimana rasanya dipenjara. Hihihi!" sambung Stella sambil tertawa maniak, kemudian melanjutkan bacaannya.


[Perang besar itu tidak hanya menyeret nama Evergard dan Aelo, tetapi juga kerajaan-kerajaan yang bersekutu dengan Evergard. Peperangan dahsyat itu juga bisa disebut sebagai "Perang Kutukan dari Kematian". Dinamakan demikian, karena sebagian orang meyakini bahwa perang itu dipicu oleh kutukan yang diberikan Putri Stella pada Evergard.]


"Wow. Aku rasa itu benar," komentar Stella, lalu membalik halaman selanjutnya, dan mulai membaca, hingga akhirnya buku dongeng "The Poor Princess" dengan isi yang baru itu habis dibacanya. "Hm. Ada hal yang tidak bisa kupahami. Ada yang berbeda dengan isi buku ini," kata Stella sambil meletakkan buku itu di pangkuannya.


Buku dongeng yang dibaca Stella ketika berada di dunia modern sangat berbeda dengan buku dongeng yang baru saja dibaca. Di bab-bab awal memang sama persis, tetapi semakin mendekati akhir cerita semakin berbeda. Yang diketahui Stella, ada beberapa bab baru yang ditambahkan di dalam buku dongeng itu, namun mengapa hal itu bisa terjadi masih menjadi misteri.


"Baiklah. Akan kubaca ulang."


Stella pun kembali membaca buku itu, berharap dapat menemukan beberapa petunjuk. Sekitar sepuluh menit kemudian, Stella menghela napas seraya menutup buku yang ada di tangannya.


"Aku tetap tidak mendapat petunjuk satu pun."


Stella kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil merentangkan kedua tangannya. Tanpa disengaja, buku yang dipegang Stella terbuka dan jatuh di sampingnya. Lalu Stella mengambil buku itu, hendak menutupnya. Namun, gerakan Stella terhenti tatkala matanya melihat isi buku itu.


"...."


Eh?


Mata ungu Stella melebar.


Isi buku itu kosong, tanpa ada satu pun baris kalimat.


――――――――――――――

__ADS_1


maklumi aja, ya. di bagian ini Stella―err―agak sedikit gila. yah, kalian pasti tahu kan rasanya kelewat bahagia?😂


TBC!


__ADS_2