
Terkejut, Stella tidak bisa berkata-kata. Dia hanya memandang ayahnya dan sekelompok orang berbaju putih itu secara bergantian.
'Mengembalikan ingatanku?'
Bisakah ingatan seseorang kembali begitu cepat? Ini tidak bisa dipercaya.
Stella tidak tahu harus melakukan apa. Tanpa sadar tubuh kecilnya bersembunyi di belakang Raja Shavir. Pria itu merasakan sentuhan kecil di belakangnya dan menoleh, menatap anak perempuan itu.
"Stella? Ada apa?"
'Kenapa, ya? Aku merasa seperti harus menjauh dari orang-orang itu....'
Dia merasakan firasat tidak enak, apalagi masalah ini menyangkut tentang ingatannya. Stella tahu bahwa ayahnya tidak mungkin membawa orang-orang yang berbahaya atau yang punya niat jahat, tapi dia tidak bisa menghentikan kewaspadaannya terhadap orang-orang asing itu. Mereka terlalu mencurigakan untuk bisa dipercaya.
"Tidak apa-apa."
Saat itu, dia merasakan sentuhan tangan seseorang menepuk-nepuk kepalanya. Stella mendongak, bertatapan dengan mata ungu ayahnya.
"Mereka akan mengembalikan ingatanmu. Jadi tidak apa-apa, Stella."
"Benarkah...?" tanyanya dengan ragu.
"Iya."
Stella menatap pria berambut hitam itu sesaat, setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah orang-orang berbaju putih itu. Setelah itu, seseorang di antara mereka berjalan ke arahnya. Rambut ungu muda wanita itu mengingatkan Stella pada bunga lavender, lalu mata oranye itu memperlihatkan kelembutan yang tulus, tidak terlihat kebohongan atau kepalsuan di matanya. Itu murni niat baik.
"Tuan Putri," panggil orang itu dan berjongkok di depannya, dia tersenyum hangat. "Saya Azalea Orma. Guru sihir Tuan Putri."
"Guru?"
'Dan sihir?'
Azalea mengangguk. Dia meraih tangan Stella dan menggenggamnya.
"Izinkan saya dan teman-teman saya mengembalikan ingatan Tuan Putri. Anda bisa percaya pada saya karena sebelumnya kita sudah saling kenal," ucapnya, yang entah kenapa terdengar membujuk. "Apakah Anda tidak penasaran dengan apa yang Anda lupakan? Mungkin saja itu adalah hal yang sangat penting."
'Sesuatu yang kulupakan ... dan terasa sangat penting.'
Hati kecil Stella tergerak oleh bujukan manis wanita bermata oranye itu. Mata merahnya menunjukkan ketertarikan pada apa yang dikatakan Azalea. Melihat hal itu, Azalea tersenyum dan melanjutkan bujukannya.
"Jika Tuan Putri memberi kami izin, maka ingatan Anda akan kembali. Apakah Tuan Putri tidak mau hal itu terjadi?"
Stella ingin menjawab "ya" tetapi kemudian berhenti. Dia memandang sekelilingnya. Reaksi orang-orang di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda penuh harap. Mereka menatapnya dengan intens, seolah-olah mendesaknya untuk menyetujui ucapan Azalea. Bahkan ayahnya juga menatapnya dengan tatapan seperti itu. Reaksi aneh mereka membuat Stella merasa curiga.
'Harusnya mereka cemas, 'kan? Karena bisa saja percobaan ini gagal.'
Lantas pandangan Stella tertuju pada Azalea, yang tersenyum percaya diri.
'Tapi mereka bersikap seolah-olah ingatanku akan kembali dengan lancar tanpa gagal.'
Aneh rasanya saat perasaannya tidak henti-hentinya mewaspadai orang-orang yang datang menemuinya, padahal dia yakin bahwa mereka adalah orang yang baik.
__ADS_1
"Stella?"
"Tuan Putri?"
Dua orang yang berbeda memanggilnya. Stella menatap ayahnya dan guru sihirnya. Tangan kecilnya mengepal.
'Karena aku percaya kalian....'
"Ya. Aku mau ingatanku kembali!"
Setelah dia berkata demikian, ekspresi ayahnya terlihat cerah, begitu juga dengan Azalea dan orang-orang di sekitarnya.
Stella tersenyum polos ke arah mereka, menyembunyikan isi hatinya.
'Tolong jangan merusak kepercayaanku.'
...―――...
Anak perempuan berambut pirang itu duduk di tempat tidurnya, matanya terpejam.
Sementara itu, Azalea dan para penyihir lainnya berdiri mengelilingi Stella, sedangkan Raja Shavir mengawasi mereka di ambang pintu kamar. Setelah semuanya merasa bahwa persiapan mereka sudah selesai, para penyihir saling memandang dan mengangguk kecil. Mereka mulai melafal mantra.
Criiingg!
Lingkaran sihir putih muncul di bawah kaki mereka, berputar-putar. Lalu lingkaran sihir putih yang sama dengan bentuk yang kecil muncul di atas kepala sang putri, itu juga berputar-putar.
Tepat pada saat itu, cahaya biru muda mengelilingi mereka, kemudian masuk ke kepala Stella seperti air yang mengalir.
Cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Hingga akhirnya cahaya biru tadi, yang sudah sepenuhnya masuk ke kepala Stella, menghilang tanpa meninggalkan bekas.
Para penyihir berseru girang di dalam hati, tersenyum bangga, begitu juga dengan Azalea. Karena ini pertama kalinya mereka mencoba sihir ini, bisa dibilang tingkat keberhasilannya hampir mustahil. Namun, tidak disangka mereka berhasil bahkan pada percobaan pertama.
Wuuungg!
Lingkaran sihir putih itu berputar lagi dan menghilang, begitu juga dengan yang ada di atas kepala Stella. Setelah itu, kelopak mata Stella yang terpejam perlahan terbuka, memperlihatkan mata merahnya dalam suasana yang berbeda.
Mengirim ingatan palsu kepada sang putri telah selesai dilakukan.
Mereka berpikir bahwa tugas mereka sudah selesai karena Stella sudah menerima ingatan palsu itu. Mereka juga berpikir bahwa dengan cara seperti ini, sang putri akan membuka hatinya sepenuhnya pada keluarganya, berbeda dengan sikapnya dulu.
Namun nyatanya, pikiran mereka salah.
Stella menjadi lebih curiga daripada sebelumnya.
'Siapa orang di dalam ingatan ini? Kurasa aku tidak pernah bersikap seperti itu. Apalagi tidak ada satu pun dari ingatan ini yang sama dengan memori asing itu.'
Mata merah Stella menunjukkan kecurigaan besar yang tidak diketahui siapa pun.
...―――...
"Di mana dia?"
__ADS_1
"Dia ada di Penjara Sihir, Yang Mulia. Para penyihir sudah menyegelnya, tapi itu tidak akan bertahan selama lebih dari lima hari," jelas Creed sambil mengikuti langkah kaki tuannya yang menuju ke Penjara Sihir. "Jika dia sangat kuat, maka segel sihir itu akan dengan mudah dipatahkan."
"Begitu."
"Benar. Makanya kita harus memanfaatkan waktu dengan sangat baik sebelum dia kabur."
Seringai kecil terbentuk di wajah tampan Raja Shavir.
"Tapi aku percaya kalau Penjara Sihir-ku bisa menyegel baj*ngan itu sampai lima hari."
'Terserah Anda saja, yang penting saya sudah memperingatkan Anda untuk jangan terlalu bergantung pada penjara sihir itu,' batin Creed dengan tatapan tidak puas tertuju pada tuannya.
Dia hanya berani mengutarakan pendapatnya di dalam hati karena tahu bahwa saat ini suasana hati sang raja sedang tidak baik.
'Orang bodoh mana yang begitu berani mencari mati dengan membuat Tuan Putri terluka? Dasar sampah,' maki kesatria itu, kesal dengan tindakan bodoh dari orang yang sekarang ada di balik jeruji besi. 'Tak heran jika Yang Mulia langsung turun tangan dengan memenjarakan baj*ngan itu di Penjara Sihir.'
Sesuai dengan namanya, "Penjara Sihir" adalah tempat bagi orang-orang yang memiliki kekuatan sihir dihukum karena sudah menyalahgunakan kekuatan sihirnya atau melukai anggota keluarga kerajaan.
Penjara ini terletak di ruang bawah tanah paling terpencil dan terpisah dari penjara-penjara lainnya. Dan orang yang bisa memasuki penjara ini hanya anggota keluarga kerajaan.
Penjara Sihir juga dilengkapi dengan sihir kuat yang sudah ada sejak penjara ini dibangun, berasal dari Raja Evergard ke-1.
Biasanya, sihir yang menyegel seorang tawanan di dalam Penjara Sihir tidak bisa dipatahkan. Namun, ada satu pengecualian. Sihir itu bisa dengan mudah dipatahkan jika tawanan itu memiliki sihir yang lebih kuat dari sihir Raja Evergard ke-1.
Dan satu-satunya orang yang bisa mematahkan sihir itu adalah orang yang berasal dari keluarga bangsawan penyihir.
Drrkk!
Pintu ruang bawah tanah menuju Penjara Sihir terbuka ketika sihir yang melindungi penjara itu memverifikasi Raja Shavir sebagai anggota keluarga kerajaan.
"Saya akan menunggu di sini, Yang Mulia."
Creed berhenti berjalan dan menunggu di dekat pintu, tahu bahwa dia tidak bisa masuk ke sana.
"Tolong berhati-hatilah."
"Iya."
Begitu Raja Shavir memasuki tempat itu, pintu ruang bawah tanah kembali tertutup.
Di dalam, obor-obor kayu yang ditempatkan dengan jarak yang cukup lebar ditempel di dinding-dinding ruangan, menghasilkan cahaya lampu yang samar-samar.
Bau asap tercium ketika dia melewati tempat itu, namun hal itu tidak mengganggunya. Mata ungunya terpaku pada sebuah jeruji besi besar yang terletak jauh di depannya. Di sanalah Penjara Sihir berada.
Tak butuh waktu lama, Raja Shavir akhirnya sampai di depan Penjara Sihir. Mata ungunya berkilat, menatap dingin pada seorang pria yang dirantai di dalam sana.
"Hei. Masih hidup?"
Tidak ada jawaban yang datang, tapi Raja Shavir melihat pria berambut merah gelap itu mengangkat kepalanya. Dua pasang mata yang berbeda warna saling bertatapan. Lalu seringai lebar terbentuk di wajah kurus pria bermata merah itu.
"Halo, Yang Mulia. Bagaimana keadaan putrimu? Apa dia sudah mati?"
__ADS_1
―――――――――――――――
TBC!