Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fourty Nine (49)


__ADS_3

⚠️Peringatan! Ada adegan berdarah! Bisa diskip, atau baca sambil sesekali tutup mata!⚠️


*(Diperuntukkan bagi yang memiliki trauma terhadap adegan atau sesuatu yang berkaitan dengan darah)


――――――――――――――


Saat itu, Hutan Whiteback dipenuhi dengan jeritan dan tangisan pilu dari anggota-anggota Eternal Flame. Stella "membantai" mereka sampai tuntas, alias mengalahkan mereka dengan sekali serang. Saat ini, Stella sedang dalam perjalanan menuju tempat terakhir pertarungan, yang berada di bagian paling dalam Hutan Whiteback.


Jika Stella bisa menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat, maka peresmian gelarnya akan dilaksanakan dengan cepat, dan dia akan kembali ke Istana Everstell dengan cepat juga.


Drap. Drap. Drap.


"Hap!"


Stella berlari sambil melompati beberapa dahan pohon yang runtuh. Ekor matanya senantiasa melirik sekitarnya dengan waspada, kalau-kalau ada yang menyerangnya dari arah belakang dan samping secara bersembunyi.


Shut―


Swoosh! Swoosh! Swoosh!


Saat itulah, tiga buah anak panah dengan kecepatan tinggi menerjang Stella.


Dengan mengandalkan pengalamannya di dunia berdarah―sebutan yang dibuat Stella untuk dunia pembunuh bayaran―Stella berhasil menghindari dua anak panah, tetapi bagian pipinya tergores karena anak panah ketiga.


Meskipun profesinya dulu adalah sebagai pembunuh bayaran yang cakap, namun dengan tubuh kecil seperti saat ini, melakukan aksi bela diri dengan tangan kosong sangat mustahil, jadi yang bisa dilakukan Stella hanya menghindar seraya mencari kesempatan untuk melenyapkan orang yang menerjangnya dengan tiga buah anak panah.


"Hmph!"


Stella mendengkus kecil seraya menyeringai. Mata merahnya kembali menyala sembari melirik beberapa tempat yang diyakininya sebagai tempat persembunyian pemanah itu.


Pemanah adalah penyerang jarak jauh, sedangkan pengguna pedang adalah penyerang jarak dekat. Jadi, siapa yang diuntungkan dan dirugikan?


"Tentu saja aku yang diuntungkan. Hehehehe...." Stella bergumam, lalu tertawa cekikikan.


Setelah itu, Stella berbalik, mengambil pedangnya, dan melesat menuju tempat persembunyian pemanah itu. Kemudian, suara "swoosh" terdengar bersamaan dengan suara ayunan pedang seseorang.


"Uwaakhh!"


"Hai~"


Di balik semak-semak rimbun itu, terdapat dua orang pemanah, masing-masing adalah pria dan wanita. Mereka secara spontan berteriak ketika Stella muncul secara tiba-tiba dari arah samping sambil mengayunkan pedangnya yang tampak mencolok.


Stella tersenyum, tetapi menatap mereka dengan dingin.


"Apakah sangat menyenangkan saat menggores wajahku yang cantik?"


Kata-kata seolah sangat peduli terhadap wajahnya terlontar begitu saja dari bibir Stella. Itu adalah triknya, yaitu menganggap wajahnya adalah bagian yang paling penting dan harus dilindungi dengan sekuat tenaga. Namun nyatanya, Stella tidak benar-benar berpikir demikian.


Kalau Suzy atau si Shavir itu melihat wajahku tergores, maka mereka akan meledak dan menyebabkan ibukota hancur! Maka alibiku tentang berjalan-jalan di ibukota akan tidak berguna!


Mata merah Stella tetap menatap kedua orang itu, tetapi perlahan-lahan semakin tajam dan dingin.


"Ini semua karena kalian."


"...?"


Kedua orang itu saling pandang dan tidak mengerti dengan ucapan Stella yang tiba-tiba, meski begitu mereka merasakan hawa berbahaya mengelilingi mereka.


"Membereskan kalian sepertinya mudah."


Stella bersiap mengayunkan pedangnya, tetapi hal tidak terduga terjadi.


Poof―


Sesuatu muncul dari udara―menyerupai kabut―dan mengaburkan penglihatan Stella selama beberapa menit.


"Ukh!"


Stella menajamkan alisnya ketika indra penciumannya tiba-tiba menjadi sensitif karena kemunculan kabut itu.


"Uhuk, uhuk! Uhuk―"


Selain itu, ternyata kabut itu beracun. Pernapasan Stella menjadi sesak. Hidungnya tersumbat. Kabut beracun itu membuatnya tidak bisa bernapas. Jika Stella membuka mulutnya guna bernapas―alternatif lain selain bernapas melalui hidung―maka kabut beracun itu bisa saja memasuki paru-parunya dan menimbulkan efek yang cukup parah, jadi Stella memilih untuk tidak bernapas selama beberapa menit.


"Tapi tidak semudah itu untuk membereskan kami, bocah."


Suara arogan terdengar sesaat setelahnya, diikuti dengan tawa puas dari mereka. Mereka tertawa dengan gembira karena mengira berhasil mengalahkan Stella.


Mendengar ejekan terang-terangan seperti itu, Stella menjadi naik pitam. Namun, dia tidak marah karena telah diracuni, melainkan Stella marah karena sedari tadi orang-orang memanggilnya "bocah"!

__ADS_1


Si*lan kalian semua!!


Aura hitam pekat segera menguar, melenyapkan kabut beracun itu. Kedua pemanah itu, yang sedang tertawa, seketika membeku.


Crash―!


Bola api berukuran besar dan sangat panas muncul dari telapak tangan Stella, itu sangat besar sehingga ukurannya melebihi tinggi Stella. Perlahan-lahan, bola api itu semakin membesar.


"Apa kalian pikir aku hanya bisa menggunakan pedang?"


Suaranya begitu dingin.


Seolah-olah semuanya membeku, seolah-olah hanya ada Stella di sana dan menjadi pusat perhatian, kedua pemanah itu tidak bisa bergerak sama sekali, kaki mereka terasa gemetar. Tubuh mereka langsung merinding bersamaan dengan tekanan kuat itu yang terus menekan mereka.


"Aku tidak berniat membiarkan orang lain tahu identitasku, jadi maaf, kalian harus mati di sini."


"Ti-tidak!!"


"Kau tidak bisa melakukannya!"


Seakan tidak pernah mendengar suara kedua orang itu, Stella menatap mereka dengan tak acuh dan segera melayangkan apinya. Api besar yang merah menyala itu membakar semuanya.


"TIDAAAK!!"


Suara jeritan terdengar, tetapi perlahan-lahan terendam oleh api besar itu.


Di dalam bola api itu, tubuh kedua pemanah itu dibakar secara paksa. Tidak ada darah yang keluar. Tidak ada daging yang terkelupas. Hanya ada kata "hangus" yang cocok untuk menggambarkan kematian mereka.


Berdiri seraya menyaksikan pemandangan itu, Stella tidak memiliki simpati sedikit pun. Mulutnya kemudian terbuka, dan dia berbicara dengan nada rendah.


"Siapa pun yang berani menyinggung Stella Elliathania Elliot Evergard, maka hanya ada satu jalan, yaitu kehancuran."


Lalu Stella berbalik. Jari tangannya membentuk sebuah tanda, setelah itu api besar yang menyala-nyala itu padam, seolah-olah api tadi tidak pernah ada.


Hanya ada tumpukan abu di tanah, menandakan bahwa itu adalah abu dari kedua pemanah yang dibakar Stella.


Kerusakan yang ditimbulkan oleh kebakaran itu cukup parah, hampir semua pepohonan di sekitar Stella hangus, tanah tempat Stella berpijak juga menjadi gosong.


Namun, seperti saat dia membakar kedua pemanah itu, mata merah Stella tetap tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun.


"Baiklah, saatnya pergi."


***


"Dasar kep*rat! Cepat menyingkirlah dan serahkan semua harta yang kalian miliki!!"


Suara umpatan dan geraman seseorang terdengar bersamaan dengan kapak besarnya yang berbenturan dengan pedang milik seorang kesatria.


Kesatria berambut hitam itu, Nicole, menatap marah pada pemimpin bandit hutan yang kini sedang bertarung dengannya.


"Mimpi saja!"


Dengan gerakan lihai, Nicole berputar dan mengayunkan pedang itu tepat ke arah leher pemimpin bandit hutan.


Slash―


Darah segar segera muncrat setelah pedang Nicole menggores leher pemimpin bandit hutan, luka itu kian membesar dan akhirnya melebar hingga tampak seperti sobekan.


Pemimpin bandit hutan semakin marah kala merasakan sensasi hangat menyebar di sekitar lehernya.


"Si*lan! Berani-beraninya kau melayangkan pedang kotor itu padaku!!"


Dia segera mengangkat kapaknya dan mengarahkannya ke arah Nicole.


"Argh!"


Nicole gagal menghindar. Bahunya terasa runtuh ketika kapak besar itu melewatinya. Mata lemonnya perlahan meredup, kesadarannya kian menipis.


"Nicole!!"


Samar-samar, Nicole bisa merasakan suara tuannya memanggil namanya. Napasnya terengah-engah. Nicole bertekad untuk melindungi tuannya, tetapi dia justru tidak bisa melindungi dirinya sendiri hanya karena terluka oleh sebuah kapak.


Jadi, bagaimana dia bisa melindungi tuannya?


Jangan menyerah! Ayo bangkit!


Nicole menyemangati dirinya sendiri. Tubuhnya yang lemas dipaksa bergerak.


"Ayo ... bang ... kit―!"

__ADS_1


Bruk!


"Akh!"


Sayangnya, pemimpin bandit hutan tidak membiarkan Nicole bergerak. Dia dengan kejam mendorong tubuh Nicole hingga ambruk di tanah. Rasa nyeri di punggung segera dirasakan Nicole.


Sementara itu, pemimpin bandit hutan tersenyum puas seraya memerintahkan para bawahannya.


"Tahan anak kecil yang ada di dalam kereta beserta kusirnya! Lalu ambil semua yang mereka miliki!"


"Baik, Tuan!"


Dengan jawaban serentak, para bawahan pemimpin bandit hutan itu segera menuju kereta, kemudian menggeledah isinya.


Mereka menangkap seorang anak kecil laki-laki yang kira-kira berusia 7 tahun beserta kusir kereta. Peti mati berisi mayat seorang wanita juga dibuka dengan paksa, mencoba mencari benda-benda berharga seperti perhiasan atau emas. Namun, di dalam kereta itu tidak terdapat barang-barang berharga sedikit pun.


Dengan langkah tergesa-gesa, seorang pria menghampiri tuannya.


"Tidak ada apa-apa di dalam kereta itu, Tuan."


"Apa?!" Pemimpin bandit hutan terkejut, matanya membelalak, sesaat setelahnya dia menjadi emosi. "Mustahil! Pasti ada sesuatu! Cepat cari dengan baik!"


"Ba-baik, Tuan."


Mereka kembali menggeledah kereta, tetapi tetap tidak bisa menemukan sesuatu yang berharga. Mengetahui hal itu, pemimpin bandit hutan menjadi marah. Dia melampiaskan amarahnya pada Nicole yang terbaring di tanah, menendang-nendang perut kesatria itu dengan kasar.


"Sial! Ternyata mereka hanya orang miskin! Waktuku menjadi sia-sia karena orang-orang miskin ini!"


"Argh...!"


Nicole mengerang. Bahunya belum pulih, punggungnya terasa nyeri, tetapi sekarang perutnya menjadi sakit.


T-tolong....


Pada saat itulah, seseorang dengan pakaian hitam melintas di sana. Rambut pirangnya yang seperti cahaya matahari menyinari kegelapan di Hutan Whiteback.


"Kenapa ribut sekali? Apakah dalam pertarungan ini juga terdapat pembantaian?"


Perhatian semua orang teralihkan pada suara manis itu, bahkan Nicole yang setengah sadar juga mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara itu.


"Apa? Kenapa ada anak kecil di sini?" Pemimpin bandit hutan mengerutkan alisnya ketika melihat kedatangan seorang anak kecil perempuan secara tiba-tiba. "Oi, bocah. Tidak usah ikut campur. Pergi sana."


Orang ini memanggilku bocah!!


Stella menggertakkan giginya ketika mendengar panggilan itu untuk yang ke sekian kalinya. Wajahnya, yang tidak ditutupi oleh topeng, menjadi suram. Mata merahnya menyala. Aura Dewi Kematian, yang tadinya telah memudar, kini kembali menguar.


"Berani-beraninya, orang sepertimu memanggilku bocah."


Tanda bahaya segera berdering di pikiran para bandit hutan, membuat mental mereka menjadi menyusut.


"Silakan dipilih. Kalian ingin mati karena terbakar, ditusuk pedang, atau di tangan ayahku?"


Suara dingin dan tajam segera menembus pikiran semua orang.


――――――――――――――


Bonus - Percakapan Unfaedah


Stella: "Btw, gais. Mau tanya. Siapa yg lebih uwu, aku atau Xylia? Jawab yg jujur, ya!"


Author: "Ga usah narsis juga kali."


Stella: "Iri bilang bos!"


Author: "Kagak yeee."


Stella: "Halah, halah. Aghu ga percaya."


Author: "Hooo, udh mulai ngelunjuk kamu, ya." *senyum, senyum*


Stella: "Nyenyenye." *buat muka ngejek*


Siiing!


Author: "Aduh, maaf. Pisau yg aku pegang ga sengaja belah meja." *senyum, senyum*


Stella: "Atas gw ga waras, ga usah dipikirin. Jawab aja pertanyaan yg tadi, oke!" *habis itu kabur*


TBC!

__ADS_1


__ADS_2