
Sepasang mata ungu itu mengamati sekelilingnya.
Raja Shavir tidak tahu apa yang membawanya masuk ke kamar ini dan mengapa dia tidak bisa mengabaikan ruangan ini begitu saja. Ada sesuatu yang terasa aneh. Ingatannya seolah dibatasi oleh dinding penghalang yang begitu kokoh sehingga dia sendiri pun tidak tahu apa yang sudah dia lupakan.
Sebelum datang ke sini, dia tak sengaja melewati sebuah taman yang berada di halaman belakang istana ini. Saat itu, istana ini sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat, membuatnya berpikir bahwa tempat ini adalah istana terbengkalai. Namun, dibanding terbengkalai, istana ini sangat bersih dan rapi. Itu menunjukkan bahwa ada beberapa pelayan yang membersihkan istana ini setiap saat, meskipun pemilik istana ini tidak ada.
'Tapi, sebenarnya ini istana apa? Aku ingat kalau Dhemiel tidak tinggal di sini.'
Raja Shavir, yang penasaran, melangkah masuk ke dalam istana dan menjelajahi tempat itu, hingga dia tiba di depan pintu kamar seseorang dan masuk ke kamar itu. Di dalam kamar, beberapa boneka berbulu yang terlihat lucu dan berwarna cerah disusun dengan rapi di dekat tempat tidur, yang dihiasi dengan seprai merah muda polos.
Tanpa berpikir pun, dia tahu bahwa tempat ini adalah kamar seorang anak perempuan.
'Sejak kapan aku punya anak perempuan?'
Tidak ada satu pun dalam ingatannya tentang seorang putri yang tinggal di istana ini. Dan hal itu membuatnya merasa kosong.
'Kenapa aku ... merasa kosong seperti ini?'
Rasanya seperti sesuatu yang sangat berharga baginya direbut dengan paksa oleh seseorang.
Dengan langkah terhuyung, Raja Shavir duduk di tepi tempat tidur. Mata ungunya menatap tempat tidur itu tanpa berkedip.
Jika memang benar bahwa dia memiliki seorang anak perempuan, maka di mana anak itu sekarang? Dia tidak melihat siapa pun di istana ini.
Tak.
Saat itu, jari-jari tangannya yang mengusap tempat tidur tanpa sengaja bertabrakan dengan sesuatu.
Raja Shavir melirik, mendapati sebuah benda kotak yang timbul dari bawah bantal. Dia mengambil benda itu dan mengetahui bahwa itu adalah sebuah buku.
"Buku? Apakah ini adalah buku harian milik ... anak perempuan yang tinggal di kamar ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, kemudian tulisan berwarna emas yang tercetak di sampul depan buku itu membuktikan bahwa buku merah muda itu bukanlah buku harian seseorang. "[The Poor Princess]?"
Arti dari judul buku itu sangat sederhana: Putri Yang Malang.
"Judul buku ini menggunakan bahasa kuno. Apakah buku ini adalah buku cerita untuk anak-anak?"
Secepat dia berpikir demikian, secepat itu pula Raja Shavir menyangkal pemikirannya. Dilihat dari judulnya saja, dia sudah tahu bahwa buku itu tidak berakhir dengan bahagia, yang artinya tidak cocok untuk bacaan anak-anak.
"Hmm."
Pria berambut hitam itu membuka buku itu dan membalik beberapa halaman, kemudian alisnya mengerut keheranan ketika mengetahui bahwa buku itu kosong; tanpa ada satu pun kalimat. Lalu, Raja Shavir kembali membalik beberapa halaman, hingga tibalah dia di pertengahan isi buku. Di situ, sebuah baris kalimat tampak, menggunakan bahasa kuno.
"[Apa aku boleh memanggilmu ayah, meskipun aku bukanlah putrimu?]"
Bibirnya berucap tanpa sadar, membaca isi kalimat itu. Tak berapa lama kemudian, mata ungunya bergetar bersamaan dengan tumpukan ingatan yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Aaarrrghh!"
Energi hitam keabu-abuan, yang menempel di tubuhnya untuk waktu yang cukup lama, perlahan-lahan menghilang. Rasa sakit seolah dipukul oleh benda keras menghantam kepalanya. Dinding penghalang tak kasat mata yang membatasi ingatannya sudah hancur.
"Haahh ... haahh! S-Stella...."
Napas tersengal-sengal mendominasi suasana ruangan di sekitar penguasa kerajaan itu. Lututnya bergetar dan dia tidak bisa mengontrol keseimbangan tubuhnya.
__ADS_1
Bruk.
Begitu dia terjatuh, ingatan manis dari masa lalu yang jauh tiba-tiba menghampirinya. Suara lembut seorang wanita terdengar di telinganya, seolah-olah wanita itu ada di sampingnya dan sedang berbisik padanya.
"Tolong jangan sembarangan membuka buku ini."
"Memangnya kenapa? Haruskah ada rahasia di antara kita?"
"*Bukan begitu. Karena buku ini menulis tentang semua hal yang terjadi di hidupku. Membaca buku ini sama saja dengan melihat secara rinci isi kehidupanku yang hanya diketahui olehku saja."
"Apakah ada buku yang seperti itu?"
"Iya. Karena ini adalah Buku Takdir*."
Samar-samar, buku berwarna biru muda yang ditunjukkan Alexa padanya di masa lalu tampak mirip dengan buku bersampul merah muda di tangannya saat ini.
...―――...
"Di sini sunyi sekali."
Stella mengungkapkan pikirannya, menghela napas singkat, kemudian bersandar pada peti transparan di belakangnya. Thev, naga hitam itu, sedang berburu mangsa untuk dijadikan makan malam mereka.
Saat itu, Stella mengetahui bagaimana caranya keluar dari dimensi bawah. Namun, dia tidak melakukan itu dan memilih tinggal di sisi ibunya untuk sementara waktu. Anggaplah dia sedang mengobati rasa rindunya pada keluarganya di kehidupannya sebelumnya. Itu karena fitur wajah ibunya, yang meskipun tertutup oleh warna biru akibat keracunan, memiliki kemiripan dengan fitur wajah kakak perempuannya yang pertama. Hal itu membuat Stella jadi tidak tega untuk meninggalkan ibunya.
Sembari menunggu Thev, Stella belajar mengendalikan tangan hitam raksasa yang muncul setiap kali dia merasa emosional.
"Ternyata cukup sulit untuk mengendalikannya," gumam Stella seraya mengangkat jari telunjuknya.
Setelah itu, tangan hitam raksasa, yang hanya muncul di belakangnya, kini tampak di depannya dan bergoyang, seolah baru saja menyapanya.
Stella menjentikkan jarinya, kemudian tangan hitam raksasa itu menghilang tanpa jejak. Dia menjentikkan jarinya lagi, lalu tangan hitam raksasa itu kembali muncul. Stella terus melakukan itu sampai dia terbiasa mengendalikan kekuatan dari aura Dewi Kematian miliknya.
"Kalau begitu, mulai sekarang namamu adalah Nigreos. Kau kupanggil Niggy," kata Stella pada tangan hitam raksasa itu, yang kini bernama Nigreos.
Stella berbicara pada Niggy seolah-olah dia adalah makhluk hidup. Itu karena Stella tidak sepenuhnya salah. Niggy memang hidup, tetapi dia bukan makhluk hidup.
"Hmm. Kupikir aku salah, tapi sepertinya benar. Kau semacam iblis, 'kan?"
Kesimpulan bahwa Niggy adalah semacam iblis didapat Stella karena merasakan hawa gelap yang tidak biasa dari tangan hitam raksasa itu.
"Yah, tapi tidak apa-apa kalau kau tidak mau menjawab."
Stella menjentikkan jarinya, sesaat kemudian Niggy menghilang dari pandangannya.
Swooosh!
Setelah itu, bola api kecil muncul di atas jari telunjuk Stella, tampak berkobar dan mengeluarkan hawa panas di sekitar jarinya.
"Aku belum terbiasa menyerang menggunakan api ini."
Stella merenung, lalu terdengar suara kepakan sayap dari atas. Dia mendongak, menatap lubang yang terbentuk akibat jatuhnya dirinya dan Thev saat akan bertarung. Di atas, naga kecil hitam itu tampak mengepakkan sayapnya seraya membawa dua ekor rusa kecil di cakar kakinya.
"Wah, Thev. Itu rusa? Eh, memangnya di pegunungan bersalju ada rusa?"
__ADS_1
"Aku mencuri ini di peternakan yang ada di dekat pegunungan," jawab Thev dengan wajah cuek tanpa dosa.
'Tidak terlalu mengejutkan. Aku juga tidak berpikir kau akan mendapat dua rusa itu dengan cara baik-baik.'
"Ngomong-ngomong, kemampuan sihirmu cukup baik."
Stella menyadari arah pandang naga itu dan mengangguk, tetapi kemudian dia sedikit cemberut dan berkata, "Tapi aku belum terbiasa menyerang dengan api ini. Lagi pula, api seperti ini tidak terlalu berefek."
"Hmm."
Thev mengikuti tatapan Stella dan mengangguk setuju. Itu hanya api biasa yang tidak terlalu membawa efek besar jika digunakan dalam pertarungan, kecuali jika ditambah dengan minyak. Di matanya, anak sekecil itu membutuhkan kekuatan yang lebih besar jika ingin bertahan hidup.
"Oh, ya."
Thev teringat sesuatu dan memandang ke belakang Stella.
"Jika tidak salah, kau punya kemampuan bayangan, 'kan?"
"Kemampuan bayangan?"
"Iya. Bukankah si hitam besar yang muncul saat kau marah itu termasuk kemampuan bayangan?"
'Si hitam besar?'
Stella tampak memikirkan panggilan unik dari naga itu dengan serius, kemudian kata "hitam" dan "besar" mengingatkannya pada Nigreous, sesuatu yang hidup dan satu spesies dengan iblis.
"Maksudmu Niggy?"
"Iya. Itu .... Apa?"
"Ini. Niggy," kata Stella seraya menjentikkan jarinya, dan muncullah Niggy, yang melambai-lambai ke arah Thev. "Niggy, katakan halo."
Thev memandang Stella tak percaya sementara sekujur tubuhnya merinding. Matanya seakan bertanya "Apa kau sudah gila?" sehingga membuat Stella terkikik.
"Aku bercanda. Mana mungkin Niggy bisa ngomong."
"Syukurlah kau masih waras," sindir Thev sambil menghampiri Niggy dan memandang tangan hitam besar itu dari berbagai arah. "Dilihat dari arah mana pun, dia memang iblis bayangan."
"Iblis bayangan? Apakah ada sesuatu seperti itu?"
"Iya. Kalau kekuatan aura Dewi Kematian milikmu meningkat, dia bisa memiliki wujud."
"Lalu, cara meningkatkannya bagaimana?"
"Itu...."
Tatapan Thev mengarah pada sesuatu yang ada di dalam jubah Stella. Dia tampak mengatakan dengan matanya bahwa apa yang ada di dalam jubah Stella bisa meningkatkan kekuatan aura Dewi Kematian. Stella yang cepat tanggap terhadap situasi segera mengerti arti tatapan itu. Dia merogoh bagian dalam jubahnya dan mengambil sesuatu yang seukuran buah apel.
"Maksudmu ini?" tanyanya sambil memperlihatkan Buah Kristal Merah yang didapatnya dengan susah payah. "Apakah kekuatan aura Dewi Kematian-ku bisa ditingkatkan dengan memakan buah ini?"
"Ya. Benar."
――――――――――――――
__ADS_1
TBC!