
Stella bimbang antara berjalan menuju arah cahaya itu atau tidak. Dia ingin ke sana, tetapi tidak ingin menerima kenyataan bahwa dia menjadi "Putri Stella" di dunia buku dongeng itu. Dia ingin pulang, tetapi ragu apakah cahaya itu adalah jalan pulang menuju tempat asalnya.
Apa yang harus kulakukan...?
Cukup lama Stella berdiri di sana dengan ekspresi ragu. Sesekali dia berjalan, namun berhenti, kemudian kembali mundur. Aksi itu dilakukan Stella berulang-ulang hingga dia memutuskan berjalan ke arah cahaya itu.
Aku ... akan segera pulang ke duniaku!
Tangan Stella terkepal dengan erat, bersamaan dengan langkah kakinya yang semakin dipercepat.
Kalau aku kembali ke dunia itu .... Tidak! Jangan pikirkan hal itu sekarang!
Stella menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis pikirannya yang mengatakan bahwa dia akan kembali menjadi "Putri Stella" di dunia buku dongeng itu. Sesaat kemudian, dirinya memasuki cahaya itu. Kelopak mata Stella secara spontan tertutup.
Tolong, bawa aku kembali ke duniaku!
***
"Huhh ... haahh .... Huhh ... hahh...."
Napas tersengal-sengal yang keluar dari bibir anak kecil itu membuat orang yang duduk di sampingnya tersentak. Dia pun membelai kepala anak itu dengan lembut seraya berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, tidak akan ada yang terjadi, jadi tenanglah...."
"Hn...."
Anak kecil itu, Stella, membuka kelopak matanya dengan berat. Penglihatannya buram. Dia tidak bisa mengenali di mana tempatnya berada saat ini. Lalu, tatapannya mengarah pada orang yang sedang membelai kepalanya.
Aku merasa ... seperti sedang dibelai oleh ayahku.
"Huh ... Ayah?"
Meskipun penglihatannya buram, Stella merasa yakin bahwa dia telah kembali ke dunia asalnya dan sedang dibelai oleh ayahnya.
Di sisi lain, orang yang sedang membelai kepala Stella menjadi terkejut dan secara refleks menghentikan gerakan tangannya, sesaat kemudian dia kembali membelai kepala anak kecil perempuan itu.
"Iya .... Ini Ayah."
Suaranya terdengar lirih, namun Stella tidak memerhatikan kejanggalan itu.
"Ternyata aku benar. Hehe...."
Tanpa sadar, Stella tersenyum, diikuti dengan kelopak matanya yang tertutup. Suara napas yang pelan pun terdengar.
Sementara itu, orang yang membelai rambut Stella, Raja Shavir, bergumam dengan nada rendah, "Stella...." Sudut bibirnya terangkat dan membentuk seulas senyum. Ada perasaan hangat dan bahagia mengalir di hatinya. "Aku sangat senang. Akhirnya ... kau memanggilku ayah."
Tidak bisa menahan kegembiraannya, Raja Shavir tertawa seorang diri di ruangan itu.
***
Tiga hari pun berlalu dalam sekejap mata.
Masih berada di dalam kamar sang raja, Stella menatap mangkuk berisi bubur yang disodorkan Suzy padanya dengan tatapan tidak suka. Dia segera mengembalikan mangkuk itu pada Suzy.
"Aku tidak mau makan ini," kata Stella, kemudian cemberut. "Aku tidak suka."
Suzy memandang ke arah mangkuk dan Stella secara bergantian, dalam pandangannya terjadi konflik, antara mengikuti perintah Stella atau mementingkan kesehatan Stella.
"Tapi, Tuan Putri...."
"Aku bilang tidak, ya, tidak!"
Stella bersikukuh tidak ingin memakan bubur itu, membuat Suzy kehilangan kata-kata, dan akhirnya melangkah pergi mengeluari kamar sang raja dengan perasaan berat.
Klik.
Pintu ruangan tertutup. Di luar kamar, Suzy tidak sengaja berpapasan dengan Raja Shavir. Dia segera memberi penghormatan.
"Memberi hormat pada Yang Mulia Raja. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."
"Ya." Raja Shavir mengangguk. Dia menatap ke arah pintu yang tertutup. "Apakah Stella sudah makan?"
__ADS_1
Suzy menundukkan kepalanya. "Belum, Yang Mulia. Tuan Putri tidak ingin memakan bubur yang saya bawa," jawabnya dengan tubuh gemetar, takut kalau sang raja justru menghukumnya.
Berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan Suzy, Raja Shavir mengambil mangkuk berisi bubur itu dari Suzy.
"Aku akan memaksa Stella memakan ini, jadi pergilah."
"Maaf?" Suzy berkedip, tidak percaya dengan perkataan Raja Shavir. Tatapan tajam segera dilayangkan padanya. Suzy tersentak, lalu berkata dengan terburu-buru, "B-baik! Saya akan pergi! Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati!" Dia pun berjalan dengan cepat, menjauh dari sana.
Setelah itu, Raja Shavir memasuki ruang kamarnya. Tatapannya beradu pandang dengan Stella, yang saat itu sedang memandang pintu kamar. Langkah kaki lebar Raja Shavir segera membuatnya sampai di tempat tidur. Dia menyodorkan mangkuk berisi bubur itu pada Stella.
"Makan," perintahnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Stella segera menolak. "Tidak!"
"Makan."
"Aku tidak mau!"
"Makan."
"Kubilang tidak, ya, tidak!"
"Kubilang makan, ya, makan."
"Tapi aku tidak mau!"
Pertengkaran itu terus berlanjut selama beberapa menit, hingga akhirnya kedua belah pihak berhenti saling menyahut dan menghela napas panjang.
Raja Shavir mengusap wajahnya sambil menghela napas kasar, kemudian duduk di samping Stella. Jarinya bergerak, mengambil sendok yang ada di mangkuk itu dan menyuapi bubur itu ke mulut Stella dengan paksa.
"Heup!"
Stella ingin menghindar, tetapi sendok yang terbuat dari perak itu telah memasuki mulutnya. Alisnya mengerut karena merasa kesal.
"Makanlah," ujar Raja Shavir, berusaha mengontrol nada suaranya agar menjadi lembut.
Pria itu tidak berniat mengeluarkan sendok itu dari mulut Stella sebelum Stella menelan bubur itu.
"Pfftt...." Raja Shavir terkekeh ketika mendengar ucapan Stella yang terdengar lucu. "Lucu," tambahnya.
Melihat sang raja menertawakannya, Stella menjadi bertambah kesal. Mau tidak mau, dia menelan bubur itu. Setelah bubur itu ditelan olehnya, Stella segera mengeluarkan keluhannya.
"Buburnya pahit. Tidak enak!" ucap Stella seraya mengusap-usap mulutnya. "Bleh ... bleh. Ugh, pahit!"
Reaksi kekanak-kanakan yang ditunjukkan Stella membuat Raja Shavir kembali terkekeh.
"Namanya juga bubur untuk orang sakit." Pria itu kembali menyendokkan bubur ke mulut Stella. "Makan atau semua pelayanmu akan mati."
"Eum―!"
Stella cemberut setelah mendengar ancaman pria di depannya. Dengan enggan, Stella menelan bubur itu. Setelah itu, Raja Shavir kembali menyuapinya, Stella menelan bubur itu, disuapi, ditelan, dan seterusnya hingga isi mangkuk itu kosong. Setelah selesai makan bubur, Stella langsung meneguk dua gelas air.
"Pwah...." Stella bernapas lega seraya membersihkan mulutnya dari bekas-bekas air. Meskipun telah meminum dua gelas air, Stella tetap merasa bahwa lidahnya masih terasa pahit. "Aku butuh makanan yang manis-manis...," gumamnya secara tidak sadar.
Duduk di samping Stella, Raja Shavir secara tidak sengaja mendengar gumaman anak kecil perempuan itu. Dia segera menolak dengan tegas.
"Tidak boleh. Kau masih sakit. Dokter bilang tidak boleh makan yang manis-manis."
"Tapi―"
"Tetap. Tidak. Boleh," tukas Raja Shavir dengan menekankan setiap kata yang dilontarkan dari mulutnya.
"Hnngg!" Stella membuang wajahnya ke arah lain. Tangannya terlipat di depan dadanya. "Kalau begitu, keluarlah."
"...."
Keheningan meraja.
"Ekhm." Raja Shavir berdehem, mengambil alih perhatian Stella. "Kau bisa makan makanan manis, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
__ADS_1
Raja Shavir menyeringai kecil, membuat Stella merasakan firasat buruk.
"Panggil aku "ayah" dan aku akan memberimu banyak makanan manis. Ekspresi wajahmu juga harus terlihat alami dan menggemaskan."
"...."
Aku merasa adegan ini pernah terjadi sebelumnya.
Stella merasa depresi berat ketika ingatan tentang Dhemiel yang sebelumnya pernah meminta dirinya bersikap imut dan memanggil anak laki-laki itu dengan panggilan "kakak" melintas di pikirannya.
Kupikir hal itu tidak akan terjadi lagi, tapi nyatanya tidak. Ukh, harga diriku terluka....
"Bagaimana?"
Pertanyaan dari Raja Shavir membuyarkan lamunan Stella. Senyuman miring terukir di wajahnya.
Ugh ... lihat wajahnya yang percaya diri sekali itu.
Stella menggerakkan kepalanya ke samping dan menutupi bagian samping wajahnya sambil membuat ekspresi ingin muntah, setelah itu Stella kembali menatap Raja Shavir dengan gerakan cepat, seolah-olah dia tidak pernah berekspresi seperti itu sebelumnya.
"Aku bisa!"
Aku pasti bisa! Ini tidak sulit!
"Kalau begitu, cobalah."
Kemudian, kedua alis Stella melengkung ke atas, matanya berair dengan lucu, bibirnya diperkecil, dan akhirnya Stella berucap dengan nada manis, "Aku ingin makan makanan manis, Ayah. Bolehkah~?"
"Ulangi lagi."
Tsk.
Stella merasa kesal, tetapi tetap mengulangi adegan tadi.
"Aku ingin makan makanan manis, Ayah. Bolehkah~?"
"Hm. Ulangi lagi."
Hah! Kau mengerjaiku, ya?!
Karena terbawa emosi, Stella tidak sengaja berseru.
"Ayah! Aku ingin makan makanan manis!"
"Lebih keras lagi."
Ah, sudahlah! Sekarang aku harus berteriak! Berteriak!
"Ayah! Aku! Mau! Makanan! Manis!"
"Aku tidak dengar. Katakan lebih keras lagi."
"Huwaaa! Aku mau makan makanan manis!"
"Kenapa tidak ada nama panggilanku?"
"Ayah b*re―oh! Ayahku yang sangat tampan~ Aku mau makan makanan manis!!"
"Baiklah. Aku akan mengambilkannya untukmu. Tunggu sebentar."
Setelah Raja Shavir beranjak pergi, Stella merebahkan tubuhnya sambil bergumam, "Haahh ... aku butuh pemeriksaan psikologi sekarang."
――――――――――――――
Antara sedih ama lucu🙄😂
Next chapter~
Bab 53. Fifty Three (53).
"Apa kau tega menelantarkan buah cintamu dari wanita yang kau cintai? Apa kau tidak punya hati sampai-sampai memberikan kasih sayang yang berbeda pada putrimu sendiri dan keponakanmu?"
__ADS_1
TBC!