
Sesuatu yang seharusnya disimpan Xylia seumur hidupnya tiba-tiba tak sengaja keluar dari mulutnya. Wajahnya menjadi pucat kala mengetahui bahwa orang di depannya mendengar rahasianya.
Bagaimana ini?
Pertanyaan itu seketika terlintas di pikirannya. Tubuh Xylia bergetar, dia menggigit bibir bawahnya, sedangkan otaknya berusaha mencari cara keluar dari situasi menegangkan ini.
Saat itu, pikiran Xylia terfokus pada sesuatu, dia tidak ingin mati hari ini, dia tidak ingin mati di sini sampai tujuan hidupnya untuk membuat sang putri bahagia tercapai.
...―――...
Ketika mendengar kalimat yang dikatakan Xylia, Stella hampir kehilangan akal sehatnya. Perkataan gadis kecil di depannya membuat Stella berpikir bahwa ada sesuatu yang janggal.
Kalau dipikirkan kembali, dalam buku dongeng itu, Xylia sangat jahat terhadap Putri Stella yang asli, dan ambisinya adalah menjadi putri kerajaan, posisi yang dimiliki Putri Stella asli pada waktu itu. Namun, kepribadian "Xylia" yang di buku dongeng berbeda dengan kepribadian "Xylia" yang ada di depannya.
Xylia yang berdiri di depannya tampak polos, lugu, ceria, manis, dan lucu.
Tetapi ... bukankah ini aneh?
Seharusnya, setelah Xylia menghabiskan waktu bersama dengan Raja Shavir, dia akan mengunjungi manusia es itu dan mencari perhatian darinya. Berkebalikan dengan pemikirannya, alih-alih pergi mengunjungi Raja Shavir, gadis kecil itu justru mengunjungi Stella dan meminta maaf, seolah-olah dia mengetahui bahwa Stella akan bersedih ketika melihatnya menempel dengan manusia es itu.
Dia bersikap seolah dia mengetahui perasaannya, seolah-olah ... seolah-olah Xylia mengetahui kehidupannya.
Apa maksudnya ini?
"A-anu Tu-tuan Putri, a-aku .... Bukan itu y-yang kumaksud! Aku tidak―"
"Xylia."
Stella memanggil gadis kecil itu dengan dingin. Aura mengintimidasi segera menguar dari tubuhnya, menyebabkan suasana di sekitar mereka menjadi semakin tegang.
Mendengar Stella memanggil namanya dengan nada dingin dan aura mengintimidasi yang pekat, Xylia menjadi ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa orang yang sama dengan yang ada di masa lalunya bisa bersikap sangat berbeda dengan yang diketahuinya.
"Tu-tuan Putri...."
"Siapa sebenarnya dirimu?"
Pertanyaan dari Stella membuat Xylia tersentak. Pupil matanya membesar, tidak menyangka bahwa Stella akan meragukan identitasnya.
"Kau sama sekali bukan Xylia yang kukenal."
'Apa?'
Tubuh Xylia seketika menegang.
'Tuan Putri mengenalku? Bagaimana bisa? Ini adalah ketiga kalinya aku dan Tuan Putri bertemu, tapi kenapa Tuan Putri berbicara seolah-olah mengenalku dengan baik?'
Pada saat ini, kedua orang itu memiliki keraguan yang sama, yaitu tentang identitas asli orang yang ada di hadapan mereka.
Dengan kata lain, Stella meragukan identitas Xylia dan Xylia meragukan identitas Stella.
Setelah itu, Xylia menenangkan tubuhnya yang bergetar, dia sebisa mungkin memberanikan dirinya bertatapan dengan Stella.
"Aku juga ... aku juga memiliki pertanyaan yang sama," ucap Xylia secara tiba-tiba.
__ADS_1
Mata hijaunya memerhatikan orang yang berdiri di hadapannya dengan saksama, kemudian dia menjadi semakin yakin bahwa Stella yang dikenalnya sangat berbeda dengan Stella yang berdiri di depannya.
"Siapa sebenarnya dirimu? Tuan Putri yang kukenal sangat rapuh, tapi masih memiliki ketegasan di matanya. Sedangkan Tuan Putri yang berdiri di depanku saat ini tidak mudah didekati, tegas, pendiam, misterius, dan ... sedikit berbahaya."
Kilatan terkejut melintas di mata Stella kala mendengar ucapan Xylia.
Setelah itu, Stella dan Xylia sama-sama membuka mulut, dan yang pertama kali berbicara adalah Stella.
"Jangan bilang―"
Kata-kata yang ingin dikatakan Stella tiba-tiba tercekat di tenggorokannya, membuatnya tidak bisa melanjutkan perkataannya, kemudian Xylia melanjutkan dengan hati-hati.
"Kalau kau adalah―"
Ada keheningan panjang di sekitar mereka, sebelum akhirnya Stella dan Xylia berbicara dengan serentak.
"... Orang yang berbeda?"
Sebelum keduanya dapat mencerna apa yang baru saja terjadi, suara seseorang terdengar.
"Sungguh pertunjukan yang menarik!"
Serentak, Stella dan Xylia menatap ke arah sumber suara. Seorang anak kecil laki-laki muncul, rambutnya yang berwarna merah menjadi lebih cerah ketika berada di bawah sinar matahari, sedangkan matanya yang berwarna biru menatap Stella dan Xylia secara bergantian.
"Siapa?"
Stella bertanya pada anak laki-laki yang seenaknya memasuki taman bunga miliknya tanpa seizinnya.
"Selamat siang."
Anak laki-laki itu menyapa Stella dengan sopan. Meskipun nadanya sopan, tatapannya yang menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam terhadap Stella masih bisa dilihat oleh siapa pun, itu menunjukkan bahwa kesopanannya hanya kepalsuan belaka.
"Apa kau adalah Stella Al-Teona Evergard?"
"Zhio!"
Suara seseorang terdengar, memanggil anak kecil itu. Stella menolehkan kepalanya, menatap Xylia yang tampak tidak senang dengan kedatangan anak laki-laki itu.
"Kenapa kau bisa ada di istana Tuan Putri? Apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya, matanya yang menatap anak laki-laki itu menyipit dengan curiga.
Zhio melirik Stella, kemudian menjawab dengan ringan, "Oh, aku hanya melindungimu dari orang berbahaya itu."
Kata "orang berbahaya" merujuk pada Stella.
Mendengar jawaban Zhio, Xylia segera menyangkal dengan nada emosional.
"Aku sudah pernah mengatakan padamu berulang kali bahwa Tuan Putri bukan orang yang berbahaya!"
'Tapi kau baru saja mengatakannya padaku tadi,' balas Stella di dalam hatinya.
Dia kemudian memandang dua orang itu, setelah itu suaranya yang tajam menembus pikiran mereka.
"Aku butuh penjelasan dari kalian."
__ADS_1
...―――...
"Bagaimana?"
Pertanyaan dari orang itu membuat wanita yang berdiri di depannya menundukkan kepalanya semakin dalam. Melihat sikap wanita di hadapannya, Raja Shavir berdecak.
"Aku memperkerjakanmu bukan untuk menjadi orang bisu."
Kata-kata dingin segera dilayangkan padanya.
Wanita itu, Azalea Orma, segera menjawab, "Tuan Putri tidak menyukai saya."
Ada jejak kesuraman di dalam kalimatnya.
"Saya tidak bisa menunjukkan wajah saya lagi di hadapan Tuan Putri. Saya merasa tidak berguna."
"Oh?"
Raja Shavir menaikkan sebelah alisnya, bertanya-tanya mengapa penyihir berbakat dan kuat seperti Azalea bisa mendapatkan depresi berat dari seorang anak kecil.
"Apa yang terjadi?"
"...."
Azalea tidak menjawab, dia semakin menundukkan kepalanya. Adegan terakhir yang terjadi di tempat pelatihan sihir tadi kembali berputar di kepalanya. Azalea masih mengingat dengan jelas bagaimana tatapan kebencian itu dilayangkan padanya, mencabik hatinya.
Melihat Azalea yang memilih bungkam daripada menjawab pertanyaannya, Raja Shavir melirik Creed yang berdiri di sampingnya.
"Creed," panggilnya.
"Ya, Yang Mulia," balas Creed dengan cepat.
"Putar kejadian yang terjadi di pelatihan sihir Istana Everstell."
"Baik, Yang Mulia."
Setelah itu, sebuah alat sihir berbentuk persegi muncul di tangan Creed. Alat sihir itu seperti kaca, tetapi sebenarnya itu adalah alat yang digunakan untuk merekam suatu peristiwa. Di seluruh wilayah Kerajaan Evergard, Raja Shavir telah memasang sihir perekam di sekitarnya, jadi dia bisa mengetahui kejadian apa yang terjadi hari ini maupun kemarin.
Kemudian, Creed memutar kejadian di area pelatihan sihir Istana Everstell yang terjadi beberapa waktu lalu. Lalu suara tajam Stella memenuhi seisi ruangan kerja Raja Shavir.
[Pergi .... Tinggalkan aku sendiri.]
"...."
[Kubilang pergi. Jangan bersikap seolah kau mengenalku.]
"...."
Baik Raja Shavir maupun Creed tidak bisa berkata-kata ketika rekaman itu selesai.
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1