Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Seven (7)


__ADS_3

"Tidak! Bukan aku ... bukan aku yang meracuninya! Aku tidak―"


"Diam!!"


Bentakan mutlak dari seorang pria membuat gadis berusia 15 tahun itu menutup mulutnya. Sorot matanya menunjukkan rasa ketakutan yang mendalam. Tubuhnya tak henti-hentinya bergetar. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa bisa melawan. Kakinya sudah melemas, namun dia berusaha menguatkan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dia tidak boleh berlutut untuk saat ini!


Pria yang membentaknya tadi bergerak membantu gadis yang juga berusia 15 tahun yang dikatakan baru saja diracuni.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk―"


Darah berwarna hitam pekat keluar dari mulut gadis itu. Orang-orang di sekitarnya mulai panik dan langsung memanggil dokter kerajaan, sedangkan pria tadi dengan cekatan menggendong gadis itu, kemudian bergegas membawa gadis itu menuju istananya.


Di sela-sela berjalan menuju istananya, pria itu memberi perintah yang terdengar sampai ke aula.


"Seret pelaku yang meracuni Xylia ke dalam penjara bawah tanah!"


Mendengar perintah dari sang pemimpin, mata gadis yang dituduh sebagai pelaku yang meracuni Xylia itu terbelalak. Dia tidak pernah melakukan itu!


Dua orang kesatria segera berjalan dan mengapit masing-masing lengan gadis itu. Gadis yang nyaris hendak diseret menuju penjara bawah tanah itu segera memberontak.


"Yang Mulia! Saya tidak melakukannya! Itu ... itu bukan saya! Bukan saya pelakunya! Mohon Anda memberi keadilan!!"


Namun, seruan itu tidak digubris oleh orang yang disebut "Yang Mulia".


Para tamu di aula langsung menghina dan merendahkan gadis itu secara terang-terangan.


"Kasihan sekali Nona Xylia, dia diracuni oleh sepupunya sendiri. Putri Stella memang tidak pantas menjadi seorang "putri"!"


"Benar, tega sekali Putri Stella melakukan itu pada Nona Xylia. Padahal Nona Xylia sangat baik padanya."

__ADS_1


"Siapa pun yang ingin disayangi oleh Raja Shavir, itu Raja Shavir sendiri yang memutuskannya! Dan Nona Xylia berhak disayangi oleh Yang Mulia Raja. Tapi, mengapa Putri Stella sangat iri dan begitu tega pada Nona Xylia?"


"Benar, Putri Stella sudah memiliki segalanya, kenapa masih iri dengan Nona Xylia?"


"Dia memang pantas dipenjara!"


Gadis yang sudah diseret menuju penjara bawah tanah itu terdiam kala mendengar gunjingan dari para tamu yang menghinanya. Gadis malang itu tak lain dan tak bukan adalah Stella Al-Teona Evergard, seorang putri yang berasal dari Kerajaan Evergard dan tidak dicintai oleh keluarganya.


Penjara bawah tanah adalah penjara yang diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan kesalahan besar, seperti para penyusup yang membunuh anggota keluarga kerajaan.


Seharusnya, Putri Stella yang dituduh meracuni Xylia, tidak ditempatkan di penjara bawah tanah, melainkan di penjara lantai dua, yaitu penjara yang diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan yang melakukan kesalahan besar, seperti melakukan pemberontakan atau membunuh sesama anggota keluarga kerajaan.


Kriet....


Suara pintu penjara yang terbuka terdengar dalam indra pendengaran Putri Stella. Dia tidak melawan atau memberontak ketika tubuhnya dilemparkan begitu saja ke dalam ruangan pengap itu. Setelah dipastikan Putri Stella sudah masuk ke dalam penjara, dua kesatria itu menutup pintu penjara kemudian berlalu pergi dari sana.


Terduduk di lantai penjara, Putri Stella meratapi nasibnya.


"Ha ... hahaha! Apanya yang "sudah memiliki segalanya"? Aku tidak mendapat kasih sayang dari siapa pun, bahkan ayahku dan kakakku! Aku diasingkan di hati semua rakyat! Aku tidak memiliki seorang ibu! Lalu, bagaimana dengan harta? Huh, orang buta mana yang mengatakan istana kosong itu dengan panggilan "harta"? Tidak ada! Aku tidak memiliki apa pun di dunia ini! Semuanya sudah direbut oleh Xylia si ular licik itu!!"


Putri Stella meluapkan semua emosinya. Dia tidak peduli jika orang-orang mengatakannya gila karena berbicara sendiri. Toh, dia sudah tidak dianggap lagi, jadi mengapa dia harus menjaga tata kramanya?


Memikirkan tidak ada yang memberinya kasih sayang, hati Putri Stella dipenuhi kebencian yang mendalam.


"Bahkan ... bahkan Bibi Suzy juga sudah direbut oleh Xylia...."


Ketika mengatakan kalimat itu, perasaan sedih yang membuncah dari lubuk hatinya membuatnya meraung sedih.


"Hiks .... Bibi Suzy mati karena Xylia, dia dibunuh hingga mati karena Xylia .... Itu semua karena Xylia!! Hiks...!"

__ADS_1


Bulir air mata terus mengaliri kedua pipi Putri Stella, membasahi wajah cantik yang pucat itu.


Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar diikuti dengan suara seorang pria yang menggema di ruangan itu.


"Stella, kau tidak seharusnya melakukan hal keji itu pada Xylia. Aku kecewa denganmu."


Suara yang terdengar tak asing di telinga Putri Stella membuat gadis malang itu mendongakkan kepalanya guna menatap orang yang berbicara dengannya. Ketika melihat orang itu, hatinya dipenuhi kesedihan dan kerinduan di saat yang bersamaan.


"Xander!"


[The Poor Princess - bab 20]


...―――...


"Haah...! Hosh...! Hosh...."


Mata ungu gadis kecil berambut hitam itu terbuka lebar. Keringat sebesar biji jagung menetes di wajahnya. Degup jantungnya berpacu dua kali lebih cepat daripada sebelumnya.


Duduk di tepi tempat tidurnya, Stella mengatur pernapasannya yang memburu. Lalu tangannya diletakkan tepat di jantungnya.


Deg, deg, deg!


Jantungnya masih berpacu dengan cepat.


Mata berwarna ungu itu memandang lantai kamarnya dengan gelisah, sedangkan pikirannya berkeliling ke sana-sini, mencari jawaban atas mimpi buruk yang tadi didapatnya ketika tak sengaja terlelap tidur di kamarnya.


Dia baru saja meningat sesuatu, jika saat ia berusia 15 tahun nanti, bukan hanya dia saja yang mati, tetapi Suzy juga akan mati! Dia harus membuat rencana baru supaya Suzy tetap hidup! Ya, dia harus membuat rencana baru.


Berbalik, Stella mengambil sesuatu di bawah bantalnya, kemudian ia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju balkon istananya. Duduk di kursi, Stella mengambil kuas yang berada di atas meja dan mulai menulis rencana baru.

__ADS_1


――――――――――――――


TBC!


__ADS_2