
Ketika Stella akan bertanya lebih banyak pada wanita tua itu, seseorang datang dari pintu belakang toko, mengambil alih perhatian semuanya. Dia adalah pria tua yang ditemui Stella hari itu.
Pria tua itu tampak terkejut dengan kedatangan Stella dan Dhemiel. Ia segera menghampiri mereka dan membungkuk rendah.
"Selamat datang kembali, Pangeran Mahkota dan Tuan Putri. Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati."
"Hormat diterima," balas Dhemiel, sedangkan Stella hanya mengangguk.
Pria tua itu segera menegakkan punggungnya. Dia bertanya dengan sopan, "Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Ini."
Stella memperlihatkan buku dongeng yang dibawanya pada pria tua itu.
"Kata istri Anda, Anda yang menemukan buku ini, bukan? Saya ingin tahu di mana Anda menemukannya."
Pria tua itu mengangguk.
"Jika itu yang Tuan Putri inginkan, maka saya akan memberitahu Anda. Tapi sebelum itu, saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Albert, dan ini adalah istri saya, Alisha," katanya seraya memperkenalkan dirinya dan istrinya.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Albert dan Nyonya Alisha," sapa Dhemiel dan Stella serentak.
"Ah ... tidak perlu. Orang rendahan seperti kami tidak pantas menerima salam dari Pangeran Mahkota dan Tuan Putri," kata Alisha dengan panik.
"Anggap saja diri Anda beruntung," tukas Stella yang membuat Dhemiel tertawa canggung.
"Tolong maklumi sikap putri yang satu ini."
"Kakak!"
Stella mendelik tajam ke arah Dhemiel, sedangkan anak laki-laki berambut hitam itu hanya memalingkan wajah seraya bersiul, seolah-olah tidak pernah melakukan apa pun sebelumnya.
"Haha .... Baiklah."
Pasangan tua suami-istri itu hanya bisa tertawa rendah ketika melihat kelakuan kedua anak raja itu.
"Kalau begitu, mari masuk ke rumah kami. Akan lebih baik jika kita berbincang di tempat yang nyaman," kata Albert, lalu menuntun Dhemiel dan Stella memasuki rumahnya yang berada di belakang toko. Itu hanya dibatasi oleh sebuah pintu.
Dhemiel mengikuti mereka lebih dulu, sedangkan Stella berjalan di belakangnya sambil memeluk dengan erat buku dongeng yang dibawanya.
***
"Lima tahun yang lalu, kami bekerja di istana Yang Mulia Ratu. Saya bekerja sebagai tukang kebun yang merawat taman-taman beliau, sedangkan istri saya bekerja sebagai kepala pelayan yang melayani Yang Mulia Ratu."
Albert mulai menjelaskan tentang pekerjaannya di Istana Everlexa hingga menemukan buku dongeng itu.
"Ketika Yang Mulia Ratu akan melahirkan, saya sedang bekerja dan tidak sengaja menemukan buku itu. Saat saya ingin bertanya apakah buku itu milik Yang Mulia Ratu atau bukan, saat itulah saya mendengar bahwa Yang Mulia Ratu ... menghilang."
Albert menundukkan kepalanya dengan ekspresi sedih. Melihat suaminya yang tidak sanggup untuk menjelaskan, Alisha melanjutkan.
"Saat itu saya tidak ada di sisi Yang Mulia Ratu, jadi saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami hanya tahu bahwa Yang Mulia Ratu menghilang dan meninggalkan seorang bayi perempuan. Setelah itu, Yang Mulia Raja pulang dari medan perang dan memecat semua pekerja, termasuk kami."
Stella berkedip. Cerita yang baru saja diceritakan oleh pasangan tua itu sama sekali tidak bisa dia tebak. Stella hanya tahu bahwa Alexa, ibunya di dunia ini, dikabarkan menghilang dan banyak yang menganggapnya sudah meninggal. Namun, Stella tidak tahu bahwa ibunya menghilang di istananya sendiri, terlebih setelah melahirkan Putri Stella yang asli.
Tapi, kenapa dia menghilang dan meninggalkan Putri Stella seorang diri di dunia yang begitu kejam ini?
Kenapa...?
Ketika memikirkan hal itu, jantung Stella berdenyut. Rasanya menyakitkan, tetapi Stella mengabaikan rasa sakit itu dan menutup mulutnya rapat-rapat, membisu, hingga waktu berlalu dan dia sampai di dalam kereta.
Jangan pikirkan apa pun. Aku hanya perlu hidup dengan tenang di dunia ini. Jangan pikirkan apa pun. Jangan―
"Ha...."
Stella mengembuskan napas berat. Meskipun terus mengulangi kata-kata itu di dalam hatinya, pikirannya tetap tidak bisa jernih. Dia seolah-olah dipaksa memikirkan hal itu sampai menemukan jawabannya.
Di sampingnya, Dhemiel juga diam dan tidak mengatakan apa pun. Kereta pun berjalan, meninggalkan toko buku itu. Tak lama kemudian, suasana hening di dalam kereta seketika sirna saat Dhemiel membuka mulutnya dan berbicara.
"Setelah melahirkanmu, ibu kita ... ibu kita diserang...."
Deg! Nyut....
Rasa sakit yang sama ketika Stella memikirkan tentang mengapa ibunya di dunia ini menghilang kembali muncul, menyerang jantungnya, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk di bagian itu.
"... Oleh orang yang tidak dikenal."
__ADS_1
Kepala Stella seketika terasa sakit, seperti ada sesuatu yang memukul kepalanya.
"*Dia sudah mati."
"Itu sudah pasti, karena kita yang membunuhnya*."
"*Ya. Meski dia menghilang sekalipun, dia tidak akan bisa bertahan hidup."
"Aku yakin kalau si Alexa itu sudah mati."
"Kita hanya perlu membunuh putrinya."
"Benar*."
Bats―!
Lagi, ingatan asing dengan nuansa gelap dan dingin tiba-tiba muncul di pikiran Stella seperti air yang mengalir.
Tepat pada saat itu, kebencian yang tidak diketahui asalnya mengelilingi Stella. Matanya yang berwarna ungu berkilat dengan dingin, dan dengan cepat berubah warna menjadi merah menyala.
Perasaan apa ini...?
Stella bingung dengan keadaannya sekarang. Ia merasa bahwa hatinya dikelilingi oleh kebencian yang amat besar dan dirinya tenggelam di lautan penuh kebencian itu. Suara-suara aneh tiba-tiba terdengar, berbisik di telinganya seperti iblis.
[Balas ... dendam.]
[Bunuh ... mereka semua.]
[Ayo, balas ... dendam.]
Tangan Stella terkepal dengan erat. Ia menggertakkan giginya.
Jangan terbawa suasana! Jangan terpengaruh!
Stella berusaha menghilangkan suara-suara aneh itu agar dia tidak terpengaruh dengan perasaan kebencian yang sedang mengelilingi hatinya.
Jangan terpe―!
"Stella?"
Bola mata Stella terbuka lebar. Suara-suara aneh yang mengganggunya seketika lenyap.
Stella segera menoleh ke arah Dhemiel. Keduanya bertatapan.
"S-Stella...."
Mata biru dengan gradasi ungu milik Dhemiel bergetar. Ia terkesiap.
"Ma-matamu...."
"Hah!"
Stella segera menarik tatapannya dari Dhemiel. Ia menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Kakak salah lihat. Aku―"
Grep!
Dhemiel menarik lengan tangan Stella dengan kasar hingga Stella harus menolehkan kepalanya. Mata keduanya kembali bertatapan. Lalu Dhemiel mendekatkan wajahnya dan menatap mata Stella lekat-lekat, sedangkan Stella langsung menjadi kaku, setelah itu Dhemiel membulatkan matanya.
"Apa .... Sepertinya tadi aku salah lihat."
"Memangnya ap-apa ... yang Kakak lihat?" tanya Stella dengan hati-hati.
"Aku melihat matamu yang berwarna merah, padahal seharusnya tetap warna ungu," jawab Dhemiel seraya menjauhkan wajahnya dari Stella, lalu dia tersenyum. "Bukankah itu aneh?"
"Oh...."
Stella mengalihkan pandangannya dari Dhemiel, kemudian berusaha tertawa.
"Iya. Haha ... memang aneh."
Sementara Stella menghindari pandangan Dhemiel, anak laki-laki itu justru menatap Stella dengan tajam.
Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Stella, tapi aku tidak tahu apa itu.
__ADS_1
***
Tahun berganti dengan cepat. Perayaan natal dan tahun baru yang mendebarkan telah usai seminggu yang lalu.
Menjelang ulang tahun Dhemiel yang akan dirayakan untuk pertama kalinya di aula Istana Everora, tempat di mana pesta dansa dan acara sosial lainnya diselenggarakan, para pelayan semakin sibuk menghias tempat itu. Mereka mondar-mandir di sekitar sana.
Undangan-undangan pesta telah dikirim ke rumah para bangsawan, bahkan beberapa di antaranya juga dikirim ke kerajaan-kerajaan tetangga. Suasana di ibukota sangat ramai karena beberapa kereta dari kerajaan-kerajaan tetangga telah tiba.
Sementara itu, di Istana Everstell.
"Stella! Selamat pagiii!"
Dhemiel berseru, memeluk Stella sambil mengucapkan sapaan selamat pagi, lalu memerkan pakaian khas pangeran yang dia pakai sekarang untuk menyambut para tamu dari kerajaan-kerajaan tetangga.
"Bagaimana penampilanku?" tanyanya sambil berputar. "Bukankah aku terlihat keren?"
"Iya...."
Stella menganggukkan kepalanya. Ekspresinya tidak terlihat seperti sedang memuji seseorang.
"Seharusnya kau tersenyum sambil bilang "Benar! Kakak terlihat keren!", begitu. Bukannya seperti ini."
Dhemiel berpura-pura cemberut. Ia ingin mendengar pujian dari adiknya, tapi sepertinya harapan itu tidak akan terwujud.
Melihat mata Dhemiel yang menatapnya dengan penuh harap, Stella kembali menganggukkan kepalanya.
"Oke, baiklah."
Lalu Stella bertepuk tangan seraya memasang tampang tersenyum yang terlihat manis.
"Wow! Kakak sangat keren! Kakak adalah orang terkeren di dunia!"
Ekspresi Dhemiel langsung menjadi cerah. Ia kembali memeluk Stella sambil menggosok-gosokkan pipinya di pipi Stella.
"Aku menjadi bersemangat! Kalau begitu, apa kau mau menemaniku menyambut para tamu dari kerajaan lain? Ya? Ya~?"
"Emm...."
Stella bergumam, kemudian mendorong Dhemiel dari pelukannya.
"Kakak, aku minta maaf. Tapi Ayah memanggilku ke istananya."
"Yaaahh...."
Ekspresi Dhemiel tiba-tiba menjadi lesu. Matanya berair seperti hendak menangis. Dia pun mengangguk dengan lemah.
"Baiklah, aku pergi dulu...," katanya sambil berjalan dengan pelan, menjauh dari Stella.
"Dadah~!"
Stella melambaikan tangannya, tapi Dhemiel tidak membalas, sepertinya dia benar-benar sedih.
Tahun sudah berganti. Meski aku penasaran tentang perasaan benci yang mengelilingiku saat itu, aku tidak bisa melakukan apa pun. Karena aku tidak tahu harus mulai penyelidikan dari mana.
Lalu Stella berjalan mengeluari istananya dan menuju Istana Evercius. Raja Shavir memintanya ke sana karena ada tamu penting yang datang.
Sejujurnya, Stella juga tidak tahu kenapa dia dipanggil, tapi dia tetap menerima permintaan itu, karena sekarang Raja Shavir bukan orang lain, melainkan ayahnya, dan mereka adalah keluarga. Untuk mencapai Istana Evercius, Stella harus melewati Istana Everlexa, tempat tinggal ibunya dulu.
Sekarang aku tahu kenapa ibuku meninggalkan aku sendirian di sini.
Ya, Stella sudah tahu tentang hal itu. Sepulang dari toko buku seminggu yang lalu, Stella meminta Raja Shavir menceritakan kejadian lima tahun yang lalu padanya.
Dia tidak meninggalkan aku, tapi dia kehilangan aku.
Tangan Stella terkepal dengan erat.
Sekarang aku sudah tahu kalau Ibu masih hidup. Tidak peduli bagaimanapun caranya, aku harus menemukan Ibu sebelum berumur 10 tahun. Dan juga ... kakakku yang lain.
Fakta tentang Alexa yang masih hidup dan entah tinggal di mana tidak pernah diceritakan Stella pada orang lain. Dia ingin memastikan apakah ibunya memang benar-benar masih hidup atau tidak, karena dia tidak ingin memberi harapan palsu pada semuanya, terutama pada ayahnya.
Jika ibunya masih hidup, maka Stella akan berusaha menemukan ibunya dan membawanya pulang sebagai kejutan besar kepada semua orang.
――――――――――――――
A/N: kalimat "Dia tidak meninggalkan aku, tapi dia kehilangan aku" punya arti kalau saat itu Alexa akan pergi bersama bayi kembarnya dan Dhemiel melalui portal teleportasi, tapi Dhemiel dan bayi perempuannya (Stella) kena serang oleh seseorang, tapi berhasil diselamatkan oleh Suzy. Tepat saat itu, portal teleportasinya hampir hilang, jadi Alexa terpaksa pergi bersama orang-orang dengan membawa bayinya yg satunya. Dia terpaksa meninggalkan dua anaknya yg lain karena tahu kalau mereka akan selamat.
__ADS_1
*(Pada ch. 39)
TBC!