
'Apa yang harus kulakukan sekarang?'
Stella memutar otaknya agar bisa lepas dari cengkeraman naga angkuh itu. Hewan itu jelas tahu bahwa dia tidak akan bisa lari darinya, jadi sepasang mata dingin itu terang-terangan menatapnya dengan angkuh.
'Ck. Ini menjengkelkan.'
Stella berdecak. Dalam hal kekuatan, dia kalah lebih banyak dari naga hitam itu, jelas bahwa dia harus memikirkan sebuah cara yang menguntungkan.
'Cara untuk menang. Cara untuk menang. Berpikirlah! Ayo, pikirkan caranya! Pikir. Pikir. Pikir.'
Stella terus menggumamkan kalimat itu di dalam hatinya, kemudian pikirannya terpaku pada kata "pikir", setelah itu otaknya bekerja dengan cepat.
'Ini dia!'
Sebuah ide brilian muncul. Mata merah Stella bersinar terang, puas dengan idenya.
"Huh."
Lalu, Stella menatap naga hitam itu dan berbicara dengan nada provokasi, disertai senyuman jahat.
"Kalau kau menyerangku, ini tidak adil. Kau tidak bisa menindas manusia lemah sepertiku," ucapnya dengan nada dibuat-buat seraya menekankan kata "lemah".
Mata biru naga hitam itu semakin tajam setelah mendengar kata-katanya. Stella tersenyum miring, puas melihat mata tajam itu.
"Jadi, bagaimana kalau kita bertarung dengan cara yang berbeda?"
"Apa itu?"
"Ayo adu kepintaran!" jawab Stella dengan riang.
'Hewan memang punya kepala, tapi mereka tidak punya otak!'
Stella masih mengingat dengan jelas perkataan ibunya saat dia masih kecil.
'Kalau mereka punya kepintaran seperti manusia, maka dunia ini pasti sudah hancur.'
Jika di dunia buku dongeng ini ada hewan yang seperti itu, maka pasti ayahnya sudah turun dari takhta dan digantikan oleh hewan-hewan yang punya kepintaran tinggi. Tetapi sepertinya di dunia mana pun, hewan tetaplah menjadi hewan.
"Apakah kau menyetujui tantanganku ini, wahai naga hitam yang agung?"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku terima!"
'Bagus. Dia terjebak.'
Stella menyeringai di dalam hati dan memberitahukan aturan yang tidak boleh dilanggar.
Segera, mereka jatuh dalam kesibukan masing-masing.
...―――...
"Berapakah satu tambah dua?"
"Satu ... tambah dua? Ah, hasilnya empat!"
"Tet! Kau salah," kata Stella seraya menyilangkan jarinya membentuk huruf X. "Jawabannya tiga."
"Apa? Sial!"
Naga hitam itu meraung kesal sambil menaik-turunkan ekornya dengan gerakan cepat, sementara Stella tersenyum senang atas kemenangannya.
'Anak TK saja bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah. Tak kusangka dia sebodoh itu.'
"Pffft."
"Hei! Jangan tertawa!"
Stella tidak peduli dan menertawakan kebodohan naga hitam itu. Karena marah, sang naga melotot ganas ke arah manusia kecil itu.
"Ayo kita ulangi lagi!"
"Waktunya sudah habis."
"Aku tidak peduli! Pokoknya, kau harus memberiku pertanyaan lagi! Karena aku harus menang!"
Naga hitam itu mengentak-entakkan ekornya dengan keras. Harga dirinya sebagai hewan paling agung sekarang jatuh ke titik terendah gara-gara seorang manusia kecil yang belum bertumbuh.
"Hei, manusia kecil! Apa yang kau tunggu? Cepat beri aku pertanyaan!" perintahnya dengan angkuh.
__ADS_1
"Hm?"
Tatapan Stella langsung menjadi tajam. Dia melotot horor ke arah naga hitam itu. Wajahnya menghitam.
"Apa tadi kau bilang?"
Nadanya terdengar suram dan menyeramkan.
Sang naga, yang belum menyadari situasi berbahaya saat ini, membalas dengan malas, "Apa? Cepat beri aku pertanyaan!"
"Tidak. Sebelum kalimat itu."
"Hm ... manusia kecil?"
Mata merah Stella segera bersinar dengan cahaya berbahaya.
"Manusia kecil itu sama dengan bocah, 'kan? Beraninya kau memanggilku seperti itu lagi."
"A-apa, sih? Hei! Memang apa yang salah dengan ucapanku?"
Naga hitam itu kebingungan ketika melihat manusia kecil di depannya mengeluarkan hawa membunuh yang pekat. Memang dia salah apa? Dia yakin bahwa kata-katanya tadi tidak menyinggung siapa pun!
"Ada apa denganmu? Kau marah-marah tidak jelas sambil menatapku seperti itu. Aneh sekali."
"Ini gara-gara kau! Dengarkan ucapanku baik-baik!"
Stella menatapnya dengan tegas, sedangkan naga hitam itu mengangguk malas sebagai tanggapan.
"Ya, ya. Cepat katakanlah."
"Jangan memanggilku bocah!"
"Apa? Lucu sekali. Kau, 'kan, memang kecil," sahut sang naga sambil terkikik sendiri.
"...."
'Iya, sih. Itu memang benar,' pikir Stella sambil memasang tampang cemberut. 'Tapi tetap saja, umurku ini sudah mau 21 tahun, loh! Masa iya aku dipanggil bocah?'
"Pokoknya, aku tidak suka panggilan itu," kata Stella kemudian, memberi tekanan pada setiap kata yang diucapkan olehnya. "Namaku Stella, bukan manusia kecil. Ingat itu baik-baik."
"Oho~ Jadi, namamu Stella, ya?"
"Tapi aku, 'kan, tidak tanya namamu."
'Ukh....'
Stella merasa kesal ketika naga hitam itu berbicara, disertai dengan wajah tanpa dosa yang terlihat menyebalkan.
"Aku tidak peduli. Kalau begitu, selamat tinggal!"
"Kau mau ke mana, heh?"
"Mau pulang lah."
"Apa?"
Sang naga menatap manusia bernama Stella itu dengan tatapan tidak percaya.
"Apanya yang apa? Aku sudah mendapat buah yang kuincar, jadi bukankah aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu di sini?"
Stella tersenyum licik.
Baru pada saat itulah, naga hitam itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Setelah itu, mata birunya melotot dengan ganas. Dia ditipu mentah-mentah!
"Apa! Beraninya kau menipuku, bocah tengik!"
Keceplosan berbicara, naga hitam itu segera mengatupkan mulutnya. Sesaat kemudian, dia menyadari bahwa dirinya terlalu penurut pada manusia kecil itu.
"Benar. Untuk apa aku menuruti ucapanmu? Dasar bocah!"
Sekarang, dia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada dirinya nanti. Mengejek manusia itu lebih penting sekarang. Dia tidak akan membiarkan Buah Kristal Merah jatuh ke tangan seorang manusia! Jika itu terjadi, maka―
"Kau tuli, ya? Aku, 'kan, sudah bilang tadi. Jangan panggil aku bocah, naga bodoh."
Suara seseorang yang memotong pikirannya terdengar dingin dan membekukan. Sepasang mata merah itu menyala dengan terang.
Pats―!
__ADS_1
Dalam sekejap, dua buah tangan berukuran besar dengan warna hitam yang pekat muncul di belakang Stella. Aura hitam lalu muncul seperti bayangan dan mengelilinginya.
"Aku. Bukan. Bocah," katanya dengan penuh penekanan.
"Bukan itu masalahnya sekarang, bocah!"
Naga hitam itu berkeringat dingin. Dia tidak tahu mengapa hati nuraninya mengatakan bahwa dia tidak boleh melukai manusia di depannya.
"Kalau kau membawa buah itu sembarangan, maka―!"
Krak.
Suara retak terdengar. Getaran kecil terasa di bawah kaki mereka. Stella dan sang naga sama-sama memandang ke bawah, memperhatikan tanah bersalju yang sudah retak dan siap hancur.
"Maka, maka dimensi bawah akan terbuka...."
Bersamaan dengan ucapan lanjutan dari naga hitam itu, tanah bersalju tempat mereka berpijak bergetar kencang dan akhirnya terbelah.
"I-ini?! U-uwaaahhh!!"
"Roaaarrr!!"
Buk!
Mereka berdua jatuh ke dasar tanah yang terbelah.
"Aw...."
Stella merintih kesakitan. Punggungnya berdenyut, seperti baru saja terbentur oleh sesuatu yang keras, semoga saja tidak patah. Dia mencoba bangun. Tangannya tanpa sadar memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Eh?"
Stella merasa aneh ketika telapak tangannya yang menyentuh tempatnya berpijak terasa dingin seperti menyentuh bongkahan es. Dia menatap tangannya dengan pelan. Permukaan tanah bersalju, yang menjadi ingatan terakhirnya ketika berada di Pegunungan Aros, sudah tidak ada. Tempatnya duduk saat ini benar-benar terbuat dari es!
"Kenapa bisa...?"
Di saat Stella sedang kebingungan, suara lenguhan panjang terdengar di dekatnya. Lalu, mata merahnya menatap ke arah sumber suara, kemudian sedikit terbelalak ketika mengetahui bahwa naga hitam angkuh tadi menjadi kecil dan terlihat imut.
"Hah? Kau...."
"Kenapa?"
"Itu, tubuhmu...."
Seolah menyadari ucapannya, naga hitam itu mengamati tubuhnya dan berteriak kaget, setelah itu dia menghela napas pasrah dan berguman, "S-sudah kuduga."
"Sebenarnya, kita ada di mana?"
"Di dimensi lain."
Stella diam sejenak. Kata "loading" muncul di atas kepalanya. Beberapa menit kemudian, dia melebarkan matanya dan berteriak, "Apa? Bagaimana bisa? Tapi kenapa harus aku?!"
"Kalau mau tanya satu-satu, kek."
"Kau pikir situasi sekarang lucu―"
Duk!
Naga hitam itu, yang melebarkan sayapnya karena merasa pegal, tak sengaja menabrak sesuatu yang ada di belakangnya. Dia dan Stella sama-sama menatap benda itu, yang mirip dengan sebuah peti mati. Bedanya, peti itu terbuat dari kaca transparan dan terlihat mewah, dihiasi dengan emas dan batu permata.
"Apa i ... tu...."
Stella, yang menghampiri peti itu sambil bergumam, berhenti ketika mengetahui isi peti itu. Sepasang mata merahnya bergetar.
"Hei. Ada apa? Kenapa kau bereaksi seperti itu?"
Sang naga, yang penasaran dan merasa aneh dengan tubuh gemetar manusia kecil itu, ikut menghampiri peti itu dan mengintip isinya.
Di sana, di dalam peti, ada seorang wanita terbaring dengan wajah kebiru-biruan, seperti baru saja diracuni dan sedang sekarat. Rambut pirang wanita itu menyebar di sekitarnya dengan rapi.
Sesaat, mimpi tentang ibunya yang masih hidup dan wajah wanita di dalam peti tumpang tindih di kepala Stella.
――――――――――――――
sahuuurrr! sahur, sahur, sahuuurrr!!!😅
btw, selamat menjalani ibadah puasa, semuanya😁 akhirnya ujian udah selesai, tinggal tunggu pengumuman kelulusan aja. buat yang ujian di bulan puasa, semangat yaaa!!😆
__ADS_1
TBC!