Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Sixty Three (63)


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan Putri."


Para pelayan sudah berbaris dengan rapi di depan pintu kamar Stella, mereka memberi salam dan menunduk hormat. Stella melambaikan tangannya dan berbalik, lalu mereka semua masuk dan segera mempersiapkan gaun, perhiasan, dan segala macam keperluan lainnya untuk dandanan seorang putri.


Pagi apanya. Ini namanya fajar.


Stella masih mengantuk, tapi tidak punya pilihan lain selain melakukan semua yang sedang dipersiapkan. Acara ulang tahun Dhemiel sudah seperti pemilihan kepala pemerintahan baginya, begitu sibuk dan melelahkan.


"Tutup mata Anda!"


"Lemaskan bahu Anda!"


"Kita butuh minyak aroma!"


"Tambah kelopak bunganya dan ambil olesan rambut!"


Mereka semua ribut di kamar mandi, padahal hanya memandikan tubuh Stella saja.


"Setelah mandi, Anda akan dipijat untuk menghindari bengkak."


Perawatan pijat dimulai, diikuti dengan perawatan kulit wajah.


"Sekarang Anda harus tidur selama satu jam."


Lalu suara ketukan terdengar. Seseorang masuk dengan wajah gelisah.


"Apakah sudah selesai?"


"Ah, Suzy! Kami belum selesai!"


"Biar kubantu! Kalian butuh air mawar, 'kan?"


Bonnie menawari bantuan pada Lucca.


"Sisir juga, tolong!" balas Lucca yang sedang merapikan rambut Stella.


"Gaunnya sudah siap? Tiaranya? Perhiasannya bagaimana?"


"Semua sudah siap!"


"Cepat, cepat!"


Seperti yang kuharapkan. Adegan ini sama dengan saat pesta debutku dulu.


Stella sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini, bahkan dulu ibunya dan para pelayan yang menghebohkan kamar mandinya, jadi dia tidak terlalu terkejut. Sekitar dua jam kemudian, Stella akhirnya selesai didandani.


"Astaga!"


"Ya ampun!"


"Lucu!"


Para pelayan bersorak gembira, puas dengan hasil mahakarya mereka. Melihat reaksi mereka, Stella menatap dirinya di cermin. Ia tampak seperti bintang paling bersinar yang dikelilingi oleh bintang-bintang lain, membuatnya mencolok.


Oh, lihatlah anak manis yang ada di kaca itu.


Stella senang dengan pikirannya. Mata ungunya memandang Suzy dan para pelayan lainnya, kemudian memberikan senyum profesional, senyum yang sama saat dia menyambut tamu-tamu undangan di pesta debutnya dulu.


"Kalian sudah bekerja keras. Terima kasih."


"Kyaaa! Jantungku!"


Mereka berteriak girang sambil mencengkeram tempat di mana jantung mereka berada. Rona merah terang menjalar di wajah mereka.


"Keretanya sudah datang, Tuan Putri."


Bonnie datang ke kamar Stella, memberitahukan bahwa kereta kuda keluarga kerajaan yang dikirim Raja Shavir telah tiba.


Stella mengangguk sebagai tanggapan, lantas berjalan pelan-pelan namun anggun, dibantu oleh Suzy.


"Tuan Putri."

__ADS_1


Suzy memanggilnya, berbisik. Ia tersenyum. Mata birunya memandang Stella dengan hangat.


"Tidak peduli apa yang orang lain pikirkan dan bicarakan tentang Tuan Putri, Anda hanya perlu berjalan sambil menatap ke depan. Tunjukkan bagaimana sikap Anda saat Anda pertama kali bertemu dengan Yang Mulia! Sikap angkuh dan dingin itu―!"


"Aku paham," kata Stella, memotong perkataan Suzy yang ujung-ujungnya akan memujinya dengan berlebihan.


Dia tidak mau kembali mengingat bagaimana Ester memujinya hingga wajahnya memerah. Kali ini pujian seperti itu tidak akan mempan padanya.


"... Baik, Tuan Putri."


Suzy mengangguk, seolah-olah mengerti dengan isi pikiran Stella. Dia tahu kalau dari dulu Stella selalu memotong ucapan para pelayan yang memujinya, jadi dia akan menutup mulutnya rapat-rapat. Biarlah sang raja dan pangeran mahkota yang mendapatkan giliran "pertama" memuji Stella.


Keluar dari pintu utama Istana Everstell, Stella berpapasan dengan Jesriel, yang berdiri di samping kereta, mengenakan pakaian resmi kesatria yang lebih mewah dibandingkan sebelumnya.


Jesriel tersenyum lebar, wajahnya secerah matahari yang bersinar.


"Selamat pagi, Tuan Putri. Muridku terlihat sangat cantik hari ini. Gurumu ini sangat bangga."


Sambil memberi salam dan memuji, Jesriel mengulurkan tangannya. Stella menerima uluran tangannya dan tersenyum profesional.


"Guru juga sangat tampan hari ini."


"Hohoho, tentu saja. Aku adalah pria tertampan di kerajaan setelah Yang Mulia Raja dan Pangeran Mahkota."


Jesriel mengakui ketampanannya, yang masih di bawah Raja Shavir dan Dhemiel. Lalu dia tersenyum sedih, seperti kelinci yang menurunkan telinganya.


"Tapi sepertinya posisiku akan tergeser. Karena Tuan Muda Ester dan Nicole datang ke sini! Hiks!"


Stella menepuk-nepuk bahu Jesriel, memberinya dukungan, kemudian membicarakan tentang pengawal pribadi Raja Shavir.


"Tapi bukankah Creed juga tampan?"


Jesriel langsung berhenti menangis begitu muridnya membicarakan tentang pria berambut biru muda itu. Lalu dia mengerutkan alis dengan ekspresi tidak senang.


"Ha, dia? Si wajah lurus itu? Dia tidak layak disebut tampan!"


"Memangnya kenapa?"


"Karena dia selalu menempel pada Yang Mulia dan hanya mengikuti perintah Yang Mulia saja! Dia terlalu kaku!"


Itu karena dia adalah pengawal pribadi Ayah.


"Dia juga selalu memikat para wanita di setiap pesta! Dia benar-benar...!"


"Saingan guru, 'kan?"


"Ukh...."


Jesriel menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi terluka, malu karena rahasianya sudah diketahui oleh muridnya dengan begitu mudahnya.


"Ah, apa yang baru saja kita bicarakan? Kita harus bergegas ke Istana Everora!"


Stella mengalihkan topik pembicaraan, berpura-pura tidak ingat kejadian tadi.


"Muridku...."


"Ayo, Guru. Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku."


"T-tolong rahasiakan! Jika tidak―"


"Nicole akan mengejekmu, 'kan?"


"Aaakh! Kok bisa ketahuan lagi?!"


Stella sudah masuk ke kereta, berusaha menahan tawa. Sementara Jesriel memaksa kakinya ikut masuk ke kereta, wajahnya tampak frustrasi. Kereta akhirnya bergerak dengan suasana yang berbeda.


―――


Kereta berhenti di halaman Istana Everora. Jesriel turun dari kereta, menormalkan ekspresinya, lantas tersenyum cerah seperti biasa. Dia mengulurkan tangannya ke arah pintu kereta yang terbuka, kemudian digapai oleh tangan mungil seseorang.


"Aku tak sabar melihat raut wajah mereka, muridku yang sangat cantik."

__ADS_1


Stella turun dari kereta, menanggapi pujian gurunya dengan senyuman. Mereka melangkah hingga berhenti di depan pintu utama Istana Everora.


"Selamat bersenang-senang, Tuan Jesriel."


"Begitu juga dengan Tuan Putri."


Stella melepaskan tangannya dari Jesriel, mereka kemudian masuk melalui pintu yang berbeda. Jesriel masuk ke aula dan menghebohkan para tamu undangan wanita, sedangkan Stella masuk ke pintu lain yang terletak cukup jauh dari pintu utama. Di sana sudah ada Raja Shavir dan Dhemiel yang menunggunya.


"Wah! Kau sangat cantik, Stella!"


"Benar. Kau sangat cantik hari ini, Stella."


Dhemiel menghampirinya dan mulai memuji. Raja Shavir juga mengikuti sikap Dhemiel. Mereka mengobrol dengan santai, hingga akhirnya acara dimulai.


"Ayo, kita ke aula," kata Raja Shavir sambil berjalan ke arah sebuah pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan aula istana.


Di aula, semua tamu undangan memandang ke arah pintu besar dan tinggi yang perlahan terbuka. Seseorang segera mengumumkan kedatangan keluarga kerajaan.


"Yang Mulia Raja Shavir, Pangeran Mahkota Dhemiel, dan Tuan Putri Stella telah tiba!"


Sosok-sosok yang jarang muncul di pergaulan kelas atas dan pesta sosial akhirnya muncul. Para tamu undangan membungkuk dengan hormat.


Dhemiel mengulurkan tangannya ke arah Stella, yang disambut dengan baik olehnya. Kemudian mereka menuruni anak tangga dengan anggun. Setibanya di aula, Raja Shavir dan kedua anaknya segera duduk di kursi mereka masing-masing di atas podium.


"Angkat kepala kalian."


Nada tegas dan dingin milik Raja Shavir membuat semuanya kembali ke posisi semula. Mereka segera berbondong-bondong menuju podium untuk memberi ucapan selamat pada Dhemiel.


"Terima kasih sudah mengundang kami yang rendahan ini, Yang Mulia dan Pangeran Mahkota."


"Ini adalah hadiah dari kami untuk Pangeran Mahkota. Ini diambil dari lembah api yang sangat terkenal itu."


"Keluarga saya membawa ini sebagai hadiah...."


"Terima ini juga...."


Mereka semua memberi Dhemiel hadiah dan mulai menyanjungnya dan Raja Shavir, sedangkan Stella menatap mereka dengan tangan yang ditopang di pelipisnya. Mata ungunya jelas-jelas mencemooh mereka, yang tidak pernah menyebut namanya, bahkan meliriknya pun tidak.


"Yang Mulia Raja Eigel dan Putri Mahkota Barbiel dari Kerajaan Eclate masuk!"


Pengumuman tidak terduga segera menjadi pusat perhatian semua orang. Para tamu undangan memandang ke arah pintu utama Istana Everora dengan terkejut, tidak menyangka bahwa raja dari kerajaan lain pun diundang.


"Pangeran Mahkota Elvin dan Putri Mahkota Aurora dari Kerajaan Eleanor masuk!"


"Pangeran Mahkota Harold dan Tuan Putri Laurabelle dari Kerajaan Risteard masuk!"


"Yang Mulia Ratu Rosette dari Kerajaan Sora masuk!"


Mereka tercengang. Para orang tua yang hadir segera memandang anak-anak mereka dengan mata berbinar. Ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk menjalin hubungan dengan kerajaan lain melalui pernikahan!


Cih. Mereka langsung mengalihkan pandangan dari Kak Dhemiel.


Stella mencemooh mereka di dalam hatinya, kemudian tidak sengaja bertemu pandang dengan Barbiel, yang melambaikan tangan ke arahnya. Suara yang tidak asing lagi segera berdering di pikirannya.


[Berhati-hatilah. Ada yang tidak beres dengan anak perempuan bergaun hijau yang berambut pirang itu.]


Apa maksudnya?


Stella mengalihkan pandangannya dengan cepat, mencari sosok dengan ciri-ciri yang disebut oleh Barbiel.


"Xylia?"


Tatapannya jatuh pada seorang anak perempuan dengan gaun hijau. Pita berwarna merah muda terikat di pinggangnya. Rambut pirangnya disanggul menjadi dua bagian kecil di sisi kanan dan kiri kepalanya, dihias dengan bunga-bunga kecil dengan warna cerah.


Stella tidak begitu mengerti dengan ucapan Barbiel, yang memintanya berhati-hati dengan Xylia. Namun tiba-tiba, sesuatu menarik perhatiannya.


Matanya menjadi tajam begitu merasakan sesuatu yang gelap dan kelam di sekitar Xylia, yang perlahan-lahan memikat para bangsawan di sekitarnya dan mereka mulai mengobrol, seolah-olah sudah saling berteman dengan akrab.


Aku merasakan firasat buruk sekarang.


――――――――――――――

__ADS_1


TBC!


__ADS_2