
Zayden membawa Raja Shavir ke ruangannya, yang dulunya digunakan olehnya saat sedang bekerja, sedangkan Stella dan Dhemiel menunggu di luar karena Zayden tidak mengizinkan mereka masuk.
"Kenapa Ayah mau menghukumku?" tanya Raja Shavir langsung pada intinya.
"Karena kau sudah membuat kesalahan," jawab Zayden dengan penuh misteri.
Raja Shavir menjadi bingung ketika mendengarnya. Alisnya mengerut. "Kesalahan apa? Memangnya, apa yang aku perbuat?" tanyanya.
"Kau masih belum menyadari kesalahanmu?" Zayden balik bertanya. Dia menatap tajam ke arah putranya.
Sial. Bisa-bisanya istriku ysng cantik dan bijak melahirkan anak tidak bertanggung jawab seperti dia. Dari mana dia mendapat sifat buruk itu? Dari aku? Tidak mungkin, batinnya sambil menggeram.
"Tidak." Raja Shavir menggeleng. Tatapannya menjadi tegas. "Aku tidak pernah melakukan kesalahan dalam mengurus rakyatku. Aku juga tidak menggunakan statusku dengan sewenang-wenang―"
Buk!
Suara pukulan terdengar, diikuti dengan suara jeritan seseorang.
"Akkhh! Apa yang Ayah lakukan?!"
"Memukulmu," jawab Zayden singkat sambil menatap Raja Shavir dengan tatapan menakutkan. Kepalan tangannya yang digunakan untuk memukul kepala putranya masih berada di tempat, tidak bergerak sama sekali. Lalu pria tua itu kembali berbicara. "Kau adalah raja yang bijak bagi rakyat, tapi ayah yang buruk bagi cucuku. Jadi aku memukulmu agar ingatanmu kembali. Apa kau mengerti?" Setiap kata-katanya dipenuhi dengan penekanan dan emosi.
"...."
Raja Shavir terdiam, menutup nulutnya rapat-rapat. Setiap kalimat yang dikatakan ayahnya memang benar. Dia salah memperhitungkan masa depan. Seharusnya dia tidak berencana mengabaikan anak-anaknya. Itu adalah cara perlindungan yang salah. Setelah itu, Raja Shavir menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Aku memang salah. Itu sebabnya aku mencoba memperbaiki kesalahanku, tapi sepertinya aku memang pantas dibenci," katanya diselingi dengan tawa getir yang keluar dari mulutnya.
Tapi setidaknya, kau berhasil mengubah pola pikirmu walaupun terlambat.
Zayden menatap putranya, kemudian tatapannya menurun, sedangkan ingatannya menerawang jauh dan memasuki sebuah memori pahit yang seharusnya tidak pernah ada jika saja dia tidak pergi mengembara.
Jika saja aku tidak segera membalikkan ruang dan waktu, maka kau akan hidup dalam penyesalan seperti di masa itu, putraku. Dan aku tidak menyesal telah menggunakan sihir ini yang mengorbankan nyawaku.
Lalu tatapan Zayden mengarah pada putranya. "Kau memang pantas dibenci," sambungnya, kemudian tangannya menepuk pundak Raja Shavir, memberinya semangat. "Tapi, tidak mungkin untuk selamanya, 'kan? Kau tenang saja, Ayah akan membantumu dekat dengan Stella."
"... Benarkah?"
"Ya," jawab Zayden seraya tersenyum lebar. "Memangnya, apa yang tidak bisa Ayah lakukan? Selain itu, Ayah kasihan melihatmu murung seperti itu. Kau terlihat menyedihkan sekali."
Mulut ayahku memang tajam sampai bisa menusuk hatiku, batin Raja Shavir, merasa kesal ketika mendengar kalimat "Kau terlihat menyedihkan sekali" dari Zayden.
"Oh, ya." Zayden tampak mengingat sesuatu, kemudian dia memunculkan sebuah kertas yang telah diisi dengan beberapa kalimat, dilengkapi dengan tanda tangannya, lalu Zayden menyerahkan kertas itu pada Shavir. "Ini, terimalah."
"Apa ini?" tanya Raja Shavir seraya menerima kertas yang diberikan Zayden. Matanya mulai memindai isi kertas itu, setelahnya dia melotot. "A-apa?!"
"Itu adalah hukumanmu~" Zayden tampak bahagia ketika melihat ekspresi putranya yang tampak membeku. "Hak raja milikmu akan dicabut untuk sementara waktu. Nah, Ayah tidak tahu sampai kapan, pokoknya dicabut. Jadi, Ayah memberimu kesempatan untuk menjadi rakyat di kerajaanmu sendiri~ Habiskanlah waktumu bersama Stella! Mengerti?"
"I-ini tidak masuk akal...." Raja Shavir tampak tidak percaya. "Kesempatan menjadi rakyat di kerajaanku sendiri? Tidak mungkin."
Sejak Ibu meninggal, Ayah menjadi tidak waras. Ya, dia sudah tidak waras! Sampai-sampai mencabut hak rajaku yang dulunya diberikan langsung olehnya!
"Oho, Ayah tidak peduli~" Zayden mengangkat bahunya dengan wajah cuek, membuat Raja Shavir semakin kesal. "Tapi, harusnya kau berterima kasih pada Ayah."
"Kenapa aku harus berterima kasih pada Ayah?"
"Karena jika Ayah tidak datang ke sini, maka pagi ini kau tidak akan bisa melihat Stella ... untuk selamanya."
"Apa?" Rahang Raja Shavir mengeras ketika mendengar perkataan ayahnya. Matanya berubah menjadi tajam. Hawa membunuh segera menguar dari tubuhnya. "Siapa yang berani melukai Stella?"
"Siapa lagi kalau bukan Guild Penyihir."
"Mereka lagi?"
__ADS_1
"Ya." Zayden mengangguk. Ekspresi wajahnya berubah menjadi serius. "Mereka sudah mencoba melenyapkan Stella dua kali, jadi aku memberi mereka pelajaran."
***
Sementara itu, Stella, yang tidak diperbolehkan memasuki ruangan kerja Zayden, berdiri di luar ruangan dengan raut wajah kecewa.
Bisa-bisanya aku tidak melihat si Shavir itu dihukum!
Kesempatan emas itu hilang berkeping-keping.
Stella menghela napas, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa lain kali kesempatan itu akan datang kembali, jadi dia tidak akan terlalu kecewa.
"Stella."
Seseorang memanggilnya.
Stella segera menatap orang itu dan membalas, "Ya, Kak?"
"Jangan dekat-dekat dengan Kakek," kata Dhemiel dengan raut wajah serius.
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku akan menjadi cemburu saat melihat kalian berdua bersama!" jawab Dhemiel tanpa pikir panjang.
Jujur sekali, batin Stella.
"Aku tidak bisa berjanji, karena aku sangat menyaya―"
"Tuan Putri!"
Sebelum Stella selesai berbicara, seseorang memotong perkataannya, ada yang memanggilnya. Dia adalah Suzy. Suzy datang dari Istana Everstell menuju Istana Everyden hanya untuk menemui tuannya, karena ada hal penting yang harus dia katakan kepada Stella.
"Ada sesuatu yang sangat penting yang harus saya katakan pada Tuan Putri!" ucapnya, tidak menyadari keberadaan Dhemiel dan Creed yang ada di dekat Stella.
Dhemiel, yang tidak sengaja mendengar ucapan Suzy, seketika menjadi bingung. Apa itu? tanyanya di dalam hati, merasa penasaran.
Di sisi lain, Stella segera menghampiri Suzy. Pelayan pribadinya itu pun membisikkan beberapa kalimat di telinga Stella, membuat sang putri mengangguk, lalu tatapan Stella mengarah pada Dhemiel.
"Aku pergi dulu, Kak," ucap Stella, berpamitan, setelah itu dia pergi bersama Suzy, meninggalkan Dhemiel dan Creed di sana.
Setelah Stella tidak terlihat dalam pandangannya, Dhemiel langsung memberi perintah pada Creed. "Cari tahu apa yang sedang dilakukan Stella," katanya dengan tajam.
Namun, Creed langsung menolak perintah Dhemiel dengan halus. "Maafkan kelancangan saya, Pangeran Mahkota. Tapi, saya adalah pengawal Yang Mulia Raja dan bukannya pengawal Anda," katanya.
"Cih." Dhemiel berdecih, dia merasa kesal karena statusnya sebagai "Pangeran Mahkota" tidak berpengaruh sama sekali di depan Creed. "Ya sudahlah, aku akan mencari tahu sendiri."
"Begitu lebih bagus," balas Creed sambil tersenyum.
Pangeran, Anda tidak tahu saja seberapa banyak tumpukan dokumen yang ada di meja kerja saya, batin Creed seraya mengeluarkan air mata tidak berdaya. Saya minta maaf karena tidak bisa membantu, huhuhu....
***
"Terima kasih sudah mendapatkan apa yang kuminta," kata Stella pada Suzy. Dia merasa puas dengan cara kerja Suzy yang rapi dan tanpa dicurigai oleh siapa pun. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Hati-hati, Tuan Putri," balas Suzy sambil membungkuk, memberi penghormatan. Setelah itu, Stella menghilang di udara. Di ruangan yang sunyi itu, setelah Suzy selesai memberi penghormatan, dia tersenyum seraya bergumam, "Saya pasti akan menjaga Istana Everstell selama Anda pergi, Tuan Putri. Jadi, saya mohon, kembalilah dengan selamat."
Sesaat kemudian, "pengganti Stella" muncul di ruangan itu.
***
Swoosh―
Suara embusan angin terdengar. Setelah itu, seorang gadis kecil muncul di sudut terpencil yang ada di ibukota. Pakaian yang dikenakannya berwarna hitam dengan celana panjang yang melilit kedua kaki kecilnya. Rambut hitamnya diikat ke belakang. Mata ungunya ditutupi dengan topeng setengah wajah berwarna putih polos.
__ADS_1
Tidak salah lagi, dia adalah Stella, yang berhasil pergi dari Istana Everstell menggunakan sihir teleportasi.
"Wah, tak disangka aku bisa menggunakan sihir teleportasi," kata Stella dengan bangga.
Kemudian, Stella melihat sekelilingnya. Setelah dirasa tidak ada seorang pun di sekitarnya, Stella mengeluarkan sebuah batu kristal dari dalam pakaiannya. Itu adalah batu kristal yang diberikan Rielle padanya. Setelah itu, Stella mengetuk batu kristal itu sebanyak dua kali.
Tuk, tuk.
Suara ketukannya terdengar, diikuti dengan perubahan warna pada rambut dan matanya.
Rambut hitamnya, yang diikat ke belakang, berganti warna menjadi pirang keemasan. Sedangkan mata ungunya, yang ditutupi oleh topeng setengah wajah berwarna putih, seketika berubah menjadi warna merah delima.
"Apakah berhasil?" tanya Stella seraya mengambil rambutnya yang digulung dan menatapnya. "Oh, ini berhasil!"
Stella merasa senang karena batu kristal yang diberikan Rielle berguna, kemudian Stella meletakkan batu itu di kantong yang ada di dalam pakaiannya seraya mengambil peta yang diberikan Rielle.
"Hm~ Mari kita lihat di mana aku berada sekarang," gumam Stella sambil memindai peta yang ada di tangannya. "Oh, sekarang aku ada di sudut terpencil yang ada di ibukota. Kalau ingin ke markas utama Eternal Flame, berarti aku harus berjalan ke arah...." Stella memerhatikan sekitarnya, kemudian menemukan tiga persimpangan jalan di depannya. "... Sana! Ya, aku harus ke sana!" lanjut Stella sambil menunjuk jalan yang ada di sebelah kanan.
Setelah itu, Stella berjalan sambil membawa peta di tangannya. Berbagai macam kedai makanan dilewati Stella, membuatnya beristirahat sejenak dan makan di sebuah kedai makanan. Untungnya, Stella membawa sekantong koin emas, jadi dia tidak perlu khawatir bagaimana membayar makanannya.
Setengah jam kemudian, Stella akhirnya tiba di depan sebuah bangunan bertuliskan "Markas Utama Eternal Flame".
"Wow! Markas utama Eternal Flame terlihat aestetik!" Stella memuji rupa bangunan itu.
Sementara Stella sibuk mengagumi keindahan markas utama Eternal Flame, sekelompok orang mendekatinya.
"Kenapa ada anak kecil di sini?"
"Benar juga. Hei, gadis kecil. Kenapa kau ada di sini? Di mana orang tuamu?"
Siapa?
Stella mengalihkan pandangannya pada sekelompok orang yang tiba-tiba menghampirinya.
Sekelompok orang itu, yang melihat penampilan Stella, seketika tercengang.
"Rambut pirang keemasan!"
"Mata merah!"
"Bertopeng setengah wajah!"
"Dan memakai pakaian hitam!"
Hah? Ada apa dengan orang-orang ini? batin Stella dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.
"Apakah gadis kecil itu adalah tamu istimewa Wakil Ketua?!"
Sekelompok orang itu menunjuk Stella dengan pandangan tidak percaya.
Ada apa dengan mereka? tanya Stella di dalam hatinya, masih kebingungan.
――――――――――――――
Halo! (≧▽≦)
jadi gini, aku berencana ubah jadwal updatenya, aku usahain tiga kali seminggu, nah, ada yg setuju?
Next chapter~
Bab 43. Fourty Three (43).
"... Aku tahu wajah itu. Kenapa ... kau sangat mirip dengan putriku?"
__ADS_1
TBC!