
Tangan Stella digenggam oleh seseorang, menuntunnya menuju sebuah ruangan. Ya, saat ini Stella sedang diantar oleh beberapa anggota Eternal Flame―yang tidak sengaja ditemui Stella beberapa saat lalu―menuju ruangan Rielle, si wakil ketua.
Orang-orang itu beranggapan bahwa Stella adalah tamu istimewa yang sedang ditunggu Rielle, jadi mereka mengantarnya menuju tempat Rielle berada, sementara itu Stella tidak bisa menolak karena tangannya sudah terlebih dahulu digenggam oleh seseorang.
"Nah, kita sudah sampai," ucap orang yang menggenggam tangan Stella.
Stella tidak membalas, mata merahnya tertuju pada pintu berukuran besar dan berwarna hitam yang ada di depannya.
Orang itu, yang mengantar Stella, tersenyum lebar. "Jadi, apa kita boleh tahu namamu sekarang, Nona Muda?" tanyanya, yang disetujui oleh teman-temannya.
"Ya! Beritahu namamu, Nona Muda! Kami ingin tahu namamu!"
"... Panggil saja Ellia," jawab Stella sesaat setelahnya.
Setelah itu, orang-orang itu mulai berseru kegirangan, hingga Stella dapat melihat dengan jelas rona kemerahan di wajah mereka.
"Tidak bisa dipercaya, aku tahu namamu, Nona Ellia!"
"Kita sangat beruntung sekali bisa bertemu denganmu, Nona Ellia!"
"Eternal Flame kita sekarang sudah diberkati sejak kedatangan Nona Ellia!"
"Ya, ya! Aku yakin sekali kalau Nona Ellia memiliki sihir api yang hebat!"
"Dengan begitu, Eternal Flame kita akan abadi!"
"Hohoho~!"
Ada apa dengan mereka?
Stella bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati seraya menatap orang-orang itu dengan tatapan aneh.
Aku hanya memberikan nama tengahku sebagai nama samaran, tapi reaksi mereka seperti itu. Benar-benar aneh.
Sesaat setelahnya, pengakuan dari mereka membuat Stella tercengang.
"Nona Ellia, sekarang kami adalah penggemar beratmu!"
"Hah...?"
"Benar, benar! Sekarang kami adalah penggemar berat Nona Ellia!"
Balasan dari mereka semakin membuat Stella tercengang serta kebingungan.
Stella tidak bisa menghilangkan ekspresi kebingungannya, jadi dia bertanya, "Kenapa kalian berbicara seperti itu? Aku tidak mengerti...."
"Ya ampun! Ternyata Nona Ellia sangat polos!"
Setelahnya, tatapan berbinar dari orang-orang itu membuat Stella depresi berat.
Aku sungguh tidak paham jalan pemikiran mereka....
Di saat Stella sedang berpikir keras, seseorang menjawab pertanyaannya.
"Suatu keberuntungan bisa melihat seseorang yang memiliki rambut pirang keemasan dan mata merah, apalagi aku berbicara dengan orang itu dan tahu namanya!"
Yang menjawab adalah orang yang menggenggam tangan Stella tadi.
"Tentu saja aku harus menjadi penggemarmu, Nona Ellia! Tidak peduli kau masih kecil atau masih bayi!"
Setelah itu, mereka kembali berteriak kegirangan.
Di sisi lain, Stella, yang mendengar jawaban orang itu, seketika tertegun.
__ADS_1
Aku melupakan mitos itu.
Stella akhirnya mengingat kembali sebuah mitos yang beredar di dunia ini tentang seseorang dengan rambut pirang dan mata merah yang sangat diagung-agungkan oleh seluruh rakyat Kerajaan Evergard.
Selain itu, aku dapat petunjuk lagi.
Stella berasumsi bahwa seseorang dengan rambut pirang dan mata merah yang sangat diagung-agungkan di dunia ini merupakan keturunan dari keluarga bangsawan penyihir. Entah itu dari keturunan campuran antara suku Putih-Kuning atau suku Merah-Kuning.
Namun yang pasti, alasan orang seperti itu sangat diagung-agungkan adalah karena berasal dari keturunan keluarga bangsawan penyihir yang terkenal mampu mengendalikan apa pun dengan sihir mereka.
Tapi, kalau orang lain tahu ada anak seperti itu lahir di dunia ini, apa mereka akan menghormatiku atau justru memburuku?
Itulah masalahnya.
Ada rumor yang beredar bahwa orang dengan rambut pirang dan mata merah sangat diagung-agungkan, namun hal itu belum bisa dipastikan sepenuhnya, karena orang dengan katareristik seperti itu nyaris tidak pernah lahir selama beratus-ratus tahun.
Tidak semua orang di dunia ini baik.
Jadi, tentu saja, ketika seseorang dengan karakteristik seperti itu lahir, maka sudah dipastikan bahwa bayang-bayang kematian selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi.
Ngomong-ngomong, Xylia juga punya rambut pirang. Hm....
Stella berpikir keras, mengabaikan sekitarnya.
Dia adalah sepupuku, 'kan? Tapi, dari mana dia dapat warna pirang di rambutnya?
Sekarang, Stella menjadi ragu dengan wujud asli Xylia. Setahunya, Xylia adalah sepupu Putri Stella. Itu berarti bahwa salah satu di antara orang tuanya adalah anggota keluarga kerajaan. Menurut sejarah Kerajaan Evergard, anggota keluarga kerajaan memiliki rambut berwarna hitam dan mata berwarna ungu. Dengan kata lain, setidaknya Xylia....
Setidaknya Xylia punya rambut hitam atau mata ungu. Tapi, warna rambutnya pirang, sedangkan matanya warna hijau. Nah, dia mengikuti gen siapa? Apakah dari ibunya atau ayahnya?
"Ada apa kalian ribut di sini .... Eh?"
Suara seseorang menyentak Stella dari lamunannya. Dia menatap orang itu, yang juga menatapnya. Orang itu, Rielle, berdiri di depan pintu yang setengah terbuka. Mata cokelatnya melebar karena terkejut.
"Ah, Paman Rielle!"
Stella memotong dengan cepat. Dari balik topengnya, mata merahnya menatap Rielle dengan tajam, memberinya kode untuk tidak memanggilnya "Tuan Putri".
"Lama tidak berjumpa! Hehe~"
Setelah itu, Stella tersenyum lebar.
Ingatlah, Stella. Kali ini kau menjadi Ellia yang ramah, bukan menjadi Stella yang dingin.
Kata-kata itu terus diulang Stella di dalam hatinya.
Sementara itu, Rielle membeku, sedangkan beberapa anggota Eternal Flame yang mengantar Stella tercengang.
"Apaaa?! Paman?!" Mata mereka melotot dengan lebar, nyaris keluar dari tempatnya. Mereka segera menatap Rielle dengan pandangan tidak percaya, dan berkata dengan serentak, "Seharusnya Anda bilang kalau memiliki keponakan!"
"...."
Rielle tidak menjawab, namun keringat dingin mengalir di punggungnya.
Sebenarnya, yang kalian sebut "keponakanku" adalah tuan putri negeri ini, katanya di dalam hati seraya meringis.
Setelah itu, Rielle menghela napas, kemudian membawa Stella ke sisinya.
"Ekhm, ayo masuk. Paman sudah menunggumu dari tadi," ucap Rielle, berpura-pura menjadi paman Stella. Dia pun menatap orang-orang yang tadi mengantar Stella. "Kalian pergilah."
"O-oh .... Baik, Wakil Ketua!"
Setelah mereka pergi, Rielle langsung membungkuk di depan Stella sambil meminta maaf.
__ADS_1
"Maafkan kelancangan saya sebelumnya, Tuan Putri."
"Ya, tidak masalah," balas Stella tanpa nada. "Ini juga salahku karena datang tiba-tiba, padahal sebelumnya aku bilang kalau aku tidak bisa datang dalam waktu dekat," lanjutnya dengan nada bisikan di akhir kalimatnya.
Rielle pun menegakkan punggungnya. Dia tersenyum.
"Tapi, saya senang karena Tuan Putri sudah berkunjung."
Lalu dia menutup pintu ruangannya.
Loh? Bukannya tadi dia memintaku masuk, tapi kenapa...?
"Tuan Putri, mari ikut saya," kata Rielle sesaat setelahnya dengan penuh teka-teki.
"Ke mana?"
"Kita akan pergi bertemu dengan Ketua Eternal Flame," jawab Rielle, kemudian mulai berjalan, meninggalkan Stella yang terdiam di tempat.
Hah?
***
"Siapa anak kecil yang ada di sampingmu?"
Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini.
Stella menatap pria tua di depannya, masih tidak mengerti mengapa Rielle membawanya ke tempat ini.
Di sampingnya, Rielle tampak bersemangat ketika mendengar ketuanya menanyakan identitas Stella, seolah-olah dia sudah menantikan pertanyaan itu.
"Ini adalah orang yang aku rekrut, Ketua."
Kata-kata Rielle mengejutkan pria tua itu. Alisnya mengerut, sedangkan mata merahnya menatap Stella dengan pandangan meneliti.
"Anak kecil ini? Jangan bercanda, Rielle."
"Tidak. Aku tidak bercanda, Ketua," tukas Rielle, kemudian menatap Stella. "Tolong buka topeng Anda, Tuan Putri," bisiknya.
Stella menuruti permintaan Rielle. Dia membuka topengnya, memperlihatkan sepasang mata merahnya yang menyerupai mata pria tua itu.
Deg!
Pria tua itu tersentak. Mata merahnya bergetar kala melihat wajah anak kecil perempuan yang berdiri di depannya. Setelah itu, bayangan seorang wanita muncul di kepalanya. Rambut pirang wanita itu berkibar dengan lembut. Mata birunya menatap sekitarnya dengan hangat, sedangkan bibirnya menyunggingkan senyum manis.
"... Aku tahu wajah itu."
Pria tua itu, yang beberapa saat lalu tersentak, kini berbicara dengan nada lirih.
Stella, yang mendengar ucapan pria tua itu, seketika merasa bahwa situasi tegang tadi sudah hilang. Dia merasa bahwa sebentar lagi akan ada reuni yang tidak terduga.
"Kenapa ... kau sangat mirip dengan putriku?"
"...!"
Stella terkejut. Lidahnya mendadak menjadi kaku. Tenggorokannya menjadi kering. Setelah itu, kata-kata Azalea beberapa saat lalu terngiang-ngiang di kepalanya.
"Suku Putih memiliki ciri khas rambut putih keperakan dan mata merah, suku Kuning memiliki rambut pirang keemasan dan mata biru, sedangkan suku Merah memiliki rambut dan mata berwarna merah menyala."
Karakteristik pria tua itu mirip dengan penjelasan Azalea mengenai keluarga bangsawan penyihir yang lahir di suku Putih.
Ta-tapi, dia bilang tadi aku mirip dengan putrinya...? Apa-apaan ini, jangan bilang kalau ... ibuku adalah anak perempuan pria itu? Itu berarti, dia adalah .... Ka-kakekku dari keluarga Ibu...?
――――――――――――――
__ADS_1
TBC!