
Kereta yang ditumpangi Stella dan Jesriel telah sampai di pinggiran ibukota. Warna dan bentuk kereta istana yang mencolok membuat orang-orang yang berada di sekitar tempat itu memandang kereta dengan penuh minat.
Setelah itu, Jesriel turun dari kereta dengan anggun, yang mana membuat semua wanita yang ada di sana menjadi heboh karena ketampanannya. Kemudian, Jesriel mengulurkan tangannya ke arah pintu kereta, setelah itu uluran tangannya dibalas oleh Stella. Dengan demikian, Stella turun dari kereta, yang lagi-lagi membuat semua orang dibuat heboh lantaran wajahnya yang menyerupai Raja Shavir.
"Dia ... mirip sekali dengan Yang Mulia Raja!"
"Aku seperti melihat Yang Mulia Raja dalam versi anak kecil perempuan!"
"Jangan-jangan dia adalah ... tuan putri kita?!"
"Hah, benarkah? Kalau begitu, kita harus memberi penghormatan!"
Seruan heboh orang-orang membuat Jesriel tersenyum dengan lebar. Dia merasa bahagia karena akhirnya rakyat kerajaan mengakui bahwa anak kecil perempuan yang bersamanya adalah putri kerajaan yang sah.
Setelah itu, orang-orang yang berada di sekitar Jesriel dan Stella segera memberi penghormatan.
"Memberi hormat pada Putri Kerajaan! Semoga Kerajaan Evergard selalu diberkati!" ucap mereka dengan serentak.
Mendapat pengakuan dari orang-orang di sekitarnya, Stella merasa bahwa itu tidaklah buruk.
'Mungkin, jika aku tidak bisa kabur dari istana dan apa yang terjadi di buku dongeng sungguhan terjadi, aku bisa memanfaatkan mereka sebagai tameng.'
Begitulah pikir Stella.
Kemudian Stella menampilkan senyum kecil, bersamaan dengan embusan angin kecil yang menggoyangkan poninya, membuat semua orang menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Setelah itu, Stella dan Jesriel berjalan ke arah lain, meninggalkan rakyat kerajaan yang memandang mereka dengan penuh minat. Ketika Stella dan Jesriel menjauh dari pandangan mereka, orang-orang segera membicarakannya.
"Ya ampun ... ternyata putri kerajaan kita sangat cantik!"
"Dia tidak hanya cantik, tapi juga menawan!"
"Aku merasa sikapnya sedikit berbeda dengan Pangeran Mahkota! Tapi, aku merasa beruntung karena dapat melihat senyuman sang putri!"
"Benar, benar! Kita beruntung sekali!"
Pujian-pujian keberuntungan terus dilontarkan rakyat kerajaan pada Stella, yang akhirnya mendapat pengakuan dari rakyat sebagai putri kerajaan yang sah.
Sementara itu, di salah satu sudut bangunan di ibukota, sepasang mata hijau mengamati Stella dengan pandangan terkejut.
"Bukankah itu ... Tuan Putri?" gumam pemilik mata hijau itu, lantas memandang beberapa rakyat kerajaan yang masih membicarakan Stella dengan penuh sukacita.
Ada binar kegembiraan di matanya.
__ADS_1
"Akhirnya, hak orang lain yang kuambil di masa lalu, sekarang dapat kembali pada pemiliknya. Meskipun itu terlambat, tapi setidaknya hak orang itu sudah kembali padanya."
Dia kemudian menghela napas seraya tersenyum.
"Aku merasa lega."
...―――...
"Guru, kita akan ke mana?" tanya Stella sembari berjalan.
Dia memandang pemandangan ibukota, entah mengapa ia menjadi sedikit lebih santai. Kapan terakhir kali dia berjalan-jalan seperti ini?
"Aku juga tidak tahu," jawab Jesriel dengan ringan, yang langsung mendapat pelototan horor dari Stella. "E-eh! A-apa aku salah ngomong...?" tanya pemuda berambut oranye itu dengan kikuk lantaran merasa merinding oleh tatapan mematikan dari muridnya.
Berjalan di samping Jesriel, Stella mendengkus dengan pelan, kemudian matanya tak sengaja bersitatap dengan sebuah toko persenjataan yang berada beberapa meter di depannya, seketika Stella merasa hatinya bergetar saking bahagianya.
'Ini saatnya menjalankan rencanaku yang kedua, yaitu mencari senjataku sendiri,' batin Stella dengan penuh sukacita.
Setelah itu, dia menoleh ke arah sampingnya, menatap Jesriel dengan mata berbinar.
"Guru! Aku ingin pergi ke sana!" katanya dengan nada berbunga-bunga sambil menunjuk ke arah toko persenjataan yang berjarak beberapa meter dari tempatnya. "Ayo, kita ke sana!"
"Hah?"
"Apa ini? Kenapa rasanya muridku yang cantik ini sangat bahagia?"
"Tentu saja aku sangat bahagia!" balas Stella dengan cepat. "Sangat-sangat-sangat bahagia!" lanjutnya seraya merentangkan kedua tangan kecilnya.
'Kau tidak akan tahu seberapa besar sukacita yang kurasakan sekarang! Akhirnya, satu di antara empat rencanaku akan berjalan dengan lancar!' katanya dengan gembira di dalam hati.
Sementara itu, sang pelatih berpedang Stella....
'Oh, astaga .... I-i-i-mut sekaliii!' batin Jesriel, tak sadar bahwa wajahnya sudah merona.
Setelah itu, dia berpura-pura batuk, lantas berdehem, kemudian berusaha berkata walau sedikit tergagap, "Ba-baiklah. Ka-kalau begitu, ayo, kita ke tempat yang kauinginkan."
Stella mengangguk dengan cepat. Dia kemudian melangkah mendahului Jesriel menuju toko persenjataan yang dimaksudnya.
Di belakangnya, Jesriel berjalan mengikuti Stella sambil berseru senang di hatinya karena dapat melihat ekspresi langka dari muridnya. Tetapi sesaat kemudian, dia mengerutkan keningnya, lantas menatap muridnya yang sedang membuka pintu sebuah toko persenjataan dengan pandangan kebingungan.
'Tunggu, kenapa muridku ingin ke tempat itu?' batinnya dengan rasa penasaran menggerogoti hatinya.
__ADS_1
...―――...
Sesampainya di dalam toko persenjataan, Stella menatap sekitarnya dengan mata berbinar, ia sangat tidak sabar memilih senjata yang diinginkannya sampai-sampai darah yang ada di tubuhnya terasa mendidih! Ketika Stella sedang memusatkan perhatiannya pada senjata yang dia inginkan, suara seorang pria paruh baya menyentak lamunannya.
"Gadis kecil, apakah kau butuh bantuan?"
Lamunan Stella buyar. Dia pun mengalihkan pandangannya pada seorang pria paruh berambut cokelat yang berdiri di dekatnya. Jesriel yang mengetahui bahwa pria paruh baya itu tidak mengenal identitas Stella berniat mengenalkan Stella pada orang itu sebagai putri kerajaan, namun telah terlebih dahulu dihentikan oleh Stella dengan gelengan pelan yang diarahkan pada pemuda itu, setelah itu Stella memusatkan perhatiannya pada pria paruh baya itu.
"Selamat siang, Paman," sapa Stella, kemudian tersenyum kecil.
'Orang yang akan membuatkan senjata untukku harus diberikan perlakuan baik!' batinnya dengan senyuman licik di balik topeng wajah datarnya.
"Selamat siang juga, gadis kecil," sapanya balik, kemudian pria paruh baya itu mulai memperkenalkan dirinya. "Aku adalah pemilik toko ini, namaku Rielle. Adakah yang bisa kubantu?"
"Ya, Paman Rielle."
Stella mengangguk.
"Aku membutuhkan sebuah senjata."
"Baiklah―"
Kalimat Rielle terputus. Dia kembali memerhatikan gadis kecil di hadapannya dengan pandangan terkejut.
"Apakah tadi aku tidak salah dengar? Tapi, gadis kecil...."
"Muridku, apa maksudmu?" tanya Jesriel, memotong perkataan Rielle.
Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Stella.
Stella memandang Jesriel dengan kesal karena transaksi bisnis antara dirinya dan pemilik toko itu terputus.
Dia pun menjawab dengan nada malas, "Guru, aku membutuhkannya untuk bertahan hidup."
"Apa? Tapi―"
"Guru," potong Stella, kemudian menatap Jesriel dengan tajam. "Kubilang, aku membutuhkannya untuk bertahan hidup," ulangnya dengan nada dingin, menembus pikiran kedua pria itu.
'Aku harus melakukan ini karena aku tak mau mati di dunia ini,' sambung Stella di dalam hatinya. 'Sebelum berumur 15 tahun, aku harus menyiapkan semua yang kuperlukan! Tidak ada seorang pun yang boleh menghentikanku.'
―――――――――――――
__ADS_1
TBC!