
Setelah selesai menonton rekaman itu, Creed terbatuk berulang kali, sebelum akhirnya berkomentar, "Ini membuktikan bahwa Tuan Putri memang benar anak Anda, Yang Mulia."
Ada jejak sindiran di dalam kalimatnya.
"Aku seperti melihat Yang Mulia dalam versi anak kecil perempuan. Benar-benar mengejutkan."
Raja Shavir langsung menatapnya dengan tajam, tetapi Creed mengubah arah pandangnya, berpura-pura tidak melihat tatapan tajam dari sang raja.
Setelah itu, tatapan Raja Shavir mengarah pada Azalea, yang masih tampak suram.
"Penyihir Orma."
"Ya, Yang Mulia," jawab Azalea dengan lesu.
"Aku harap kau bisa menjadi guru sihir anak itu."
"Saya juga berharap begitu," balas Azalea. "Tapi, ini mungkin sulit. Tuan Putri tidak menyukai saya, saya juga tidak mengenal Tuan Putri dengan baik," ujarnya, meyakini bahwa perkataannya tidaklah salah.
"Itu mudah."
Azalea, yang kepalanya tertunduk, mengangkat kepalanya, bingung dengan perkataan Raja Shavir.
Dia akhirnya bertanya, "Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
"Kalau kau mengajari Stella sihir teleportasi, maka dia akan menyukaimu," jawab Raja Shavir, ada senyuman miring di wajahnya.
"Sihir teleportasi?" ulang Azalea, bingung. Alisnya mengerut.
Kemudian, dia mengemukakan pendapatnya.
"Sepertinya ini tidak benar, Yang Mulia. Sihir teleportasi hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki jumlah mana yang banyak. Di sisi lain, Tuan Putri masih kecil, jadi tidak mungkin mengajari sihir itu padanya...."
Creed, yang semula membungkam mulutnya, akhirnya ikut berbicara, mendukung pendapat Azalea. "Itu benar, Yang Mulia. Saya rasa itu terlalu berbahaya."
"Ini tidak berbahaya," sela Raja Shavir.
Tatapannya menajam, diikuti dengan suara dinginnya yang menggema di ruangan kerjanya.
"Aku tahu apa yang dibutuhkan Stella saat ini, jadi lakukanlah sesuai perintahku."
Mendengar itu, Azalea tidak bisa menolak perintah sang raja, kemudian wanita itu mengangguk.
"Baik, Yang Mulia," balasnya dengan patuh.
Setelah itu, Raja Shavir memberi perintah pada Creed untuk mengantar Azalea keluar dari ruangannya.
Di dalam ruangan kerjanya, pikiran Raja Shavir terpaku pada kamar Stella yang dimasukinya kemarin.
'Aku tahu kalau kau pasti akan keluar dari istana untuk mencari sesuatu.'
Kemudian, pikiran Raja Shavir melayang, menjelajahi ingatan tentang kamar Stella, lalu lembaran kertas yang dilihatnya hari itu muncul di pikirannya.
'Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan setelah menguasai sihir teleportasi.'
"Hmm."
Raja Shavir mengelus bagian bawah bibirnya, kemudian senyuman miring kembali muncul di wajahnya.
__ADS_1
"Agen Tentara Bayaran "Eternal Flame", ya? Apa yang ingin kau lakukan di sana, Stella?"
...―――...
Suasana di ruang tamu Istana Everstell cukup menegangkan. Ada tiga orang di sana. Dua orang di ruangan itu duduk bersebelahan, sedangkan seseorang yang sebagai tuan rumah duduk di hadapan mereka. Selain mereka bertiga, tidak ada orang lain di sekitar mereka.
Stella menatap kedua orang itu sambil melipat kedua tangannya di dada, sedangkan kaki kanannya diletakkan di atas kaki kirinya. Mata ungunya memindai Xylia dan Zhio secara bergantian.
Keheningan meraja di sana.
Sementara itu, Xylia gugup, dia tidak tahu harus mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak pada putri kerajaan itu.
"Xylia."
Xylia, yang tersentak, segera menjawab dengan gugup, "Y-ya, Tuan Putri!"
"Apa kau tidak ingin menjelaskan siapa orang yang ada di sampingmu?"
"Apa?"
Xylia melebarkan matanya, kemudian matanya melirik ke arah Zhio, setelah itu perasaan lega memasuki hatinya. Setidaknya, identitas orang di sebelahnya lebih penting daripada perkataan tidak masuk akal yang dikatakannya beberapa waktu lalu, begitulah pikir Xylia.
"Dia adalah Zhio, penyihir hebat tapi tidak dikenal asal-usulnya, sekaligus teman bermainku. Zhio tinggal di kediaman Duke Fictin selama lebih dari dua tahun."
Penyihir?
Entah mengapa, pendengaran Stella lebih sensitif ketika mendengar bahwa anak laki-laki itu adalah seorang penyihir.
Mata ungunya menyapu setiap tindakan dan ekspresi Zhio dengan cermat.
"Kalau Zhio adalah teman bermainmu, aku bertanya-tanya, mengapa dia bisa memasuki taman bunga istanaku?"
Ekspresi Xylia tampak menegang. Sejujurnya, dia juga tidak tahu jawaban atas pertanyaan Stella. Xylia pun menatap Zhio, meminta penjelasannya.
Melihat mata Xylia yang meminta penjelasan darinya, Zhio menjawab pertanyaan Stella dengan singkat, "Aku penasaran tentangmu."
Sudah jelas, kalimatnya ditujukan untuk Stella.
"Tentang aku?"
Stella mengulang kata terakhir yang diucapkan Zhio, sedikit bingung. Kemudian, matanya menatap anak laki-laki itu dengan tajam, lalu mulai menasehatinya.
"Meski begitu, kau tidak boleh memasuki istana seseorang dengan seenaknya, apalagi aku adalah seorang putri."
"Aku tidak peduli."
"Tapi, aku peduli."
"Itu urusanmu, bukan urusanku."
Stella terdiam, berusaha menahan amarahnya.
'Anak ini tidak punya sopan santun sama sekali!'
Namun, kata-kata Zhio selanjutnya membuat Stella mematung.
"Aku tahu kalau kau sedang mengutukku."
__ADS_1
Hening sejenak, kemudian Stella bertanya padanya, "Dari mana kau tahu?"
Zhio pun menjawab dengan singkat lagi, "Aku tahu dari wajahmu."
"Oh," balas Stella dengan tak acuh.
Dia pikir anak kecil laki-laki itu bisa membaca pikirannya, mengingat bahwa Zhio adalah seorang penyihir. Jika memang benar bahwa Zhio bisa membaca pikrannya, maka Stella akan benar-benar menjauhinya. Alasannya, karena Stella tidak ingin ada yang mengetahui rencana terselubung yang tertanam di pikirannya.
"Karena kau sudah melihat wajahku dan berbicara denganku, maka kau bisa pergi."
Stella tidak ingin membuang waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna, jadi dia memilih mengusir kedua orang itu.
"Ini berlaku untukmu juga, Xylia. Bagaimanapun, aku sudah memenuhi permintaanmu."
Mendengar bahwa sang putri mengusirnya secara terang-terangan, Xylia tampak sedih dan merasa kecewa. Sebenarnya, dia ingin bersama dengan Stella lebih lama, namun sayangnya Zhio mengganggu acaranya dengan sang putri. Mau tak mau, Xylia mengangguk dengan lemah.
"Baik, Tuan Putri," jawabnya dengan lesu.
Sikap Xylia yang tampak tidak bersemangat membuat Stella mengernyit, terheran. Dia ingin bertanya apa yang sedang terjadi dengannya, namun kemudian Stella menyadari bahwa dirinya tidak sedekat itu dengan Xylia, jadi Stella menelan pertanyaan yang ingin diajukannya.
"Apakah saya bisa berkunjung kemari lagi, Tuan Putri?"
Tanpa diduga, Xylia mengajukan pertanyaan yang membuat Stella berpikir keras.
'Haruskah aku menjawab "ya"?' tanyanya di dalam hati dengan ragu-ragu. 'Tapi, aku tidak tahu kenapa dia ingin mengunjungiku. Apakah perasaan Xylia padaku benar-benar tulus?'
Setelah berpikir dengan keras, Stella akhirnya menjawab, "Ya, kapan pun kau mau."
Jika Stella menjadi lebih dekat dengan Xylia, maka dia bisa menganalisa niat asli gadis kecil itu padanya, termasuk mengetahui kelemahannya. Ini adalah kesempatan langka, jadi Stella tidak ingin membuang kesempatan langka ini.
"Terima kasih, Tuan Putri!"
Xylia membalas dengan riang, wajahnya berseri-seri, keceriaannya yang tadi menghilang kini kembali.
"Aku pasti akan mengunjungi Tuan Putri lagi!"
Stella hanya mengangguk sebagai balasan.
Setelah itu, Xylia dan Zhio pergi dari tempat itu menggunakan kereta kuda Istana Everstell. Setelah kepergian dua orang itu, Stella duduk di ruang tamu sambil termenung. Beberapa saat kemudian, dia mengingat sesuatu, hal itu membuatnya tersentak.
"Sial. Aku lupa menanyakan kenapa Xylia mengatakan bahwa aku sudah mati dan itu karena dia. Haish!"
Itulah yang dilupakan Stella. Dia menggerutu. Kemudian, dia menghela napas.
"Aku akan menanyakannya lain kali."
...―――...
Hari berikutnya, Xylia benar-benar datang mengunjungi Stella. Rutinitas itu berlangsung selama setiap hari.
Pada saat itu, Stella menyesal telah menjawab pertanyaan Xylia dengan kalimat, "Ya, kapan pun kau mau".
Setelah itu, hari-hari tenang yang dijalankan Stella berubah menjadi hari pertemuannya dengan Xylia, dan jangan lupakan penyihir kecil yang tidak punya sopan santun itu.
――――――――――――――
TBC!
__ADS_1