Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Thirty Nine (39)


__ADS_3

Keesokan paginya, Stella membuka matanya, kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk," balasnya, singkat. 


Ceklek.


Pintu pun terbuka, menampakkan sosok Suzy dan beberapa pelayan di belakangnya.


"Kami akan segera menyiapkan bak mandinya, Tuan Putri," ucap Suzy, sebelum akhirnya mulai bekerja bersama pelayan-pelayan yang dibawanya. Mereka menyiapkan air hangat yang akan digunakan Stella untuk mandi.


Stella hanya menatap kegiatan mereka dalam diam. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, sehingga dia tidak fokus pada sekitarnya.


Setelah Suzy dan beberapa pelayan lainnya selesai menyiapkan air hangat, mereka memberi jalan pada Stella yang melangkah masuk ke kamar mandi.


Stella melepas pakaian tidurnya, lalu berendam di bak mandi. Sensasi hangat segera menjalar di kulitnya. Kemudian, Suzy menyentuh rambut Stella dan mulai membersihkannya, sedangkan beberapa pelayan lainnya membantu Stella menggosok tubuhnya menggunakan sabun cair.


Awalnya, Stella menatap sekitarnya dengan tak acuh. Tetapi kemudian, dia tidak melihat orang yang dikenalnya di ruangan ini. Biasanya, orang itu yang membantunya mandi, namun sekarang orang itu tidak terlihat di mana pun.


Stella pun menatap Suzy dan bertanya, "Di mana Bonnie?"


Setelah Bonnie bekerja di Istana Everstell, wanita itu dan Suzy yang biasanya melayaninya, terutama saat pagi hari. Tidak biasanya Suzy membawa pelayan lain selain Bonnie, jadi Stella merasa ada sesuatu yang terjadi saat dia masih tertidur.


"Bonnie dipanggil Yang Mulia Raja pagi tadi," jawab Suzy, kemudian menatap Stella dengan hati-hati.


"Yang Mulia memanggilnya?"


"Benar, Tuan Putri."


Setelah itu hening, tidak ada pembicaraan sama sekali.


Stella kembali berpikir mengenai perkataan Suzy. Dia merasa agak aneh kalau seorang pelayan seperti Bonnie dipanggil langsung oleh sang raja, kecuali kalau Bonnie membuat kesalahan. Namun, akhir-akhir ini Stella tidak melihat kalau Bonnie berbuat kesalahan.


Kenapa si Shavir itu memanggil Bonnie?


Stella bertanya pada dirinya sendiri. Dia masih berpikir, hingga sesaat kemudian, sesuatu melintas di pikirannya, membuat Stella tersentak.


Ah, kalau dipikir-pikir, dulunya Bonnie bekerja di istana ibuku. Dia mungkin dipanggil karena si Shavir itu akan bertanya tentang Alexa. Yah, mungkin saja seperti itu.


***


Di sisi lain, seorang pelayan wanita bersujud di lantai. Tubuhnya bergetar karena pikiran-pikiran tentang kematian muncul di kepalanya. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan tatapan tajam yang diarahkan ke pelayan wanita itu.


"A-ampuni saya, Yang Mulia!" Pelayan wanita itu meminta ampun. Dia tidak ingin mati hari ini, jadi lebih baik kalau dia meminta ampun ribuan kali. Setidaknya, dia tidak akan dihukum gantung. "Saya bersalah! Saya pantas dihukum! Saya lebih baik dihukum daripada mati, jadi hukum saya saja, Yang Mulia!"


"Ck." Pria itu berdecak. Tatapan tajamnya meneliti pelayan wanita yang bersujud di hadapannya. Alisnya menajam. "Aku tidak butuh itu. Yang aku butuhkan adalah jawabanmu! Katakan, di mana Alexa?!"


Suaranya dingin, tidak memiliki jejak belas kasih sedikit pun.


Mendengar itu, pelayan wanita itu menggigil. Bibirnya bergetar. Pita suaranya mati rasa, sehingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


Pria di depannya menjadi tidak sabaran. Pedangnya, yang ada di genggaman tangannya, menyentak lantai, membuat suasana semakin terasa mencekam.


"Jawab!"


Pelayan wanita itu tersentak. Dia membasahi bibirnya, sebelum akhirnya menjawab dengan tergesa-gesa, "Sa-saya tidak tahu, Yang Mulia! Yang Mulia Ratu memang membawa saya dan rekan-rekan kerja saya pergi saat kejadian itu terjadi, tapi setelah itu Yang Mulia Ratu meninggalkan kami di ibukota Kerajaan Risteard, dan beliau pergi menggunakan portal teleportasi. Itu saja yang saya tahu, Yang Mulia...!"


"Lalu kenapa kau muncul di istana Stella? Kenapa?!"


"I-itu, itu ... itu karena Yang Mulia Ratu menitipkan Tuan Putri pada saya!"


"Apa?"


"Saya ada di istana Tuan Putri karena ingin memenuhi permintaan terakhir Yang Mulia Ratu! Saya tidak bermaksud jahat pada Tuan Putri, sungguh!"


Pria itu, Raja Shavir, terdiam dengan tatapan kosong. Di sampingnya, Creed, yang melihat tuannya tidak fokus dengan situasi saat ini, segera mengambil alih pekerjaan sang raja.


Creed pun bertanya, "Kenapa Yang Mulia Ratu menitipkan Tuan Putri padamu?"


Pelayan wanita itu mengembuskan napas lega kala mendengar suara orang lain yang tidak sedingin suara sang raja. Dia menjadi sedikit rileks. Pelayan wanita itu, Bonnie, segera menjawab dengan jujur, "Saya juga tidak tahu. Yang Mulia Ratu hanya meminta saya menjaga Tuan Putri saat beliau tidak ada di sisi Tuan Putri. Mungkinkah, itu adalah naluri seorang ibu bahwa sesuatu yang berbahaya akan terjadi, sehingga beliau membuat permintaan seperti itu pada saya?"


"Mungkin begitu," balas Creed, menyetujui. "Saat kejadian itu terjadi, Yang Mulia Ratu membuat portal teleportasi dan membawa kalian pergi dari sana. Begitu?"


"Benar."


"Tapi, kenapa Yang Mulia Ratu tidak membawa serta Pangeran Dhemiel dan Tuan Putri?"


"Begitu rupanya."


"Ya, Tuan. Dan .... Oh! Saya ingat sesuatu! Bukan hanya Yang Mulia Ratu dan kami saja yang pergi, tapi Pangeran Kedua juga ikut pergi...."


"... Pangeran Kedua?"


Pada saat ini, Raja Shavir dan Creed berbicara di saat yang bersamaan. Mereka terpaku.


"Ya, Pangeran Kedua, kembaran Tuan Putri."


"Apa? Kembaran?"


Mata ungu Raja Shavir membesar. Kenyataan apalagi ini?


***


"Selamat pagi, Tuan Putri."


Suara lembut seorang wanita menyapa Stella. Rambut bergelombangnya yang berwarna ungu muda digulung ke belakang, matanya yang berwarna menyerupai labu menatap Stella dengan lembut. Dia tersenyum. Rona kemerahan menjalar di pipinya.


Tidak diragukan lagi, dia adalah Azalea Orma, guru sihir Stella.


Setelah insiden waktu itu, Azalea senantiasa mengunjungi Stella walaupun Stella telah menolaknya berulang kali. Sifat keras kepala Azalea yang sangat ingin mengajarinya sihir membuat Stella tidak bisa menghentikan wanita itu untuk berhenti mengunjunginya.

__ADS_1


Sejak saat itu, Azalea resmi menjadi guru sihir Stella, meskipun hubungan di antara mereka masih canggung, bahkan sampai sekarang. Sejak saat itu juga, Stella tidak pernah berlatih sihir di tempat pelatihan sihir, melainkan di perpustakaan pribadinya.


"Selamat pagi juga, Guru." Stella balas menyapa Azalea. Wajahnya masih sama seperti sebelumnya―tanpa ekspresi. Dia masih tidak senang dengan kehadiran Azalea. Yah, kuakui dia memang sangat membantuku dalam memahami sihir, tapi aku tetap tidak menyukainya, batin Stella.


"Kalau begitu, mari kita belajar sihir di Perpustakaan Kerajaan, Tuan Putri." Perkataan Azalea membuat Stella mengerutkan keningnya. Melihat reaksi Stella, Azalea semakin melebarkan senyumnya hingga matanya menyipit. "Khusus untuk hari ini, kita akan belajar di Perpustakaan Kerajaan dan bukannya di perpustakaan pribadi Tuan Putri. Ini adalah perintah mutlak dari Yang Mulia Raja."


Apa-apaan itu?!


Ekspresi Stella menjadi gelap. Dia pun membuka mulutnya dan berbicara. "Haruskah kita belajar di sana?" tanyanya, disertai dengan hawa gelap mengelilinginya.


"Ya, Tuan Putri."


"Mengapa?"


"Karena ini adalah perintah dari Yang Mulia Raja," jawab Azalea dengan tenang serta masih dengan senyumannya, seakan sudah menebak reaksi penolakan dari Stella. 


Bukan itu yang kumaksud!


Stella menggigit bibir bawahnya, merasa kesal.


Kenapa si Shavir itu tiba-tiba memberi perintah tidak masuk akal seperti ini? Aku, 'kan, jadi tidak bisa menggunakan sihirku sesuka hati kalau berada di Perpustakaan Kerajaan! Di sana pasti banyak mata-mata manusia es itu!!


Selama belajar sihir dengan Azalea, Stella sering menggunakan sihirnya dengan sesuka hati. Itu adalah kepuasan tersendiri baginya yang tidak pernah melihat sihir sama sekali.


Suatu hari, Stella pernah mengacaukan perpustakaan pribadinya dengan sihirnya. Tapi tidak ada yang memarahinya, karena itu adalah wilayah kekuasaannya―Istana Everstell.


Namun, jika Stella belajar sihir di Perpustakaan Kerajaan, bisakah dia mengacaukan tempat itu tanpa mendapat hukuman? Tentu saja tidak bisa.


Selain itu, terkadang aura "Dewi Kematian" yang dimiliki Stella bersatu dengan kekuatan sihirnya, sehingga menyebabkan warna matanya berubah-ubah dari waktu ke waktu; pertama merah, lalu menjadi ungu, kemudian berwarna merah, setelah itu menjadi ungu, dan seterusnya.


Jika kejadian itu terjadi pada Stella hari ini, maka Stella tidak perlu merasa cemas, karena dia berada di perpustakaan pribadinya, sehingga mampu menyembunyikan matanya dari Azalea. Namun, lain halnya jika dia berada di Perpustakaan Kerajaan.


Dia memang bisa menyembunyikannya dari Azalea, tetapi bisakah Stella menyembunyikannya dari orang-orang yang berada di Perpustakaan Kerajaan? Tidak mungkin.


"Menyebalkan," Stella berucap demikian sembari berjalan menuju Perpustakaan Kerajaan, sedangkan Azalea mengikutinya di belakang.


Baiklah. Dia akan berlatih sihir di Perpustakaan Kerajaan sesuai dengan perintah sang raja.


Tapi, jangan salahkan aku kalau kalian mendengar ada orang yang berbuat kekacauan di sana. Heheheh, batin Stella seraya menyeringai lebar.


Kebetulan sekali, dia merasa bosan hari ini, jadi tidak apa-apa kalau dia bersenang-senang di Perpustakaan Kerajaan sebentar saja, bukan?


Dan aku berharap tidak bertemu dengan murid akademi di sana nanti.


――――――――――――――


ayok main tebak-tebakan: ending perpustakaan kerajaannya gimana? hancur atau gk?😂


TBC!

__ADS_1


__ADS_2