Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fourty Eight (48)


__ADS_3

⚠️Peringatan! Ada adegan berdarah! Bisa diskip, atau baca sambil sesekali tutup mata!⚠️


*(Diperuntukkan bagi yang memiliki trauma terhadap adegan atau sesuatu yang berkaitan dengan darah)


――――――――――――――


Srrk, srrk, srrk.


Suara semak-belukar yang bertabrakan dengan seseorang terdengar. Beberapa dedaunan hijau dan yang kering berjatuhan. Pada salah satu celah di semak-semak itu, sepasang mata merah menyala tampak mengintai mangsa di depannya.


"Cih. Ke mana bocah itu pergi?"


Suara sangar seorang pria terdengar. Mata hitamnya yang tajam menatap sekelilingnya dengan awas. Pria itu memiliki tubuh yang berotot dan besar, kulitnya berwarna kecokelatan, sedangkan rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan dibentuk seperti brushed on top. Di genggaman tangannya terdapat sebuah pedang panjang berwarna putih mengilap dengan ukuran setinggi enam puluh sentimeter dan lebar tujuh sentimeter.


Menurut sudut pandang seluruh anggota Eternal Flame, dia adalah salah satu kandidat yang tepat untuk menjadi komandan Eternal Flame. Sayangnya, ada seorang anak kecil perempuan yang merusak mimpinya.


Dengan menjadikan pertarungan di hutan ini sebagai kesempatannya untuk menjadi komandan Eternal Flame, Liaro, bertekad untuk mengalahkan Stella.


Tetapi di tengah jalan, Liaro kehilangan jejak Stella, fakta itu membuatnya emosi.


"Pokoknya, aku harus mengalahkan bocah itu!" katanya sambil mengepalkan tangannya. Dia menggeram marah.


"Apa Paman yakin?"


Deg!


Liaro membeku ketika mendengar suara ceria seorang anak kecil di belakangnya, dia pun berbalik, menatap anak kecil itu yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.


"Lama tidak berjumpa~"


Lama dari mananya! Hei, kita terakhir bertemu sepuluh menit yang lalu!


Liaro tidak membalas, tetapi dia berbicara di dalam hatinya. Kemudian, Liaro mengangkat pedangnya dan menyangganya di bahunya. Sudut bibirnya naik menjadi seringai lebar.


"Kau muncul di depanku dengan keinginanmu sendiri, jadi aku tidak perlu mencarimu, bocah."


"Memang." Stella membalas dengan santai.


"Hm...." Liaro mengamati anak kecil perempuan itu. Dia tidak takut padaku sama sekali, batinnya seraya menyeringai, kemudian mengangkat pedangnya. "Jadi, apakah bocah nakal ini sudah siap ditusuk?"


"Hehe...." Mendengar perkataan terakhir orang itu, Stella ikut menyeringai, lalu mengeluarkan pedangnya yang diikat di samping pinggulnya. "Paman, kata-kata kejam seperti itu, tidak baik diucapkan oleh orang dewasa, lho."


Swoosh―


Setelahnya, dengan gerakan yang tidak bisa diprediksi, Liaro sudah terpojok.


"Ukh―"


Pedang ramping Stella berada di dekat leher Liaro, nyaris memotong urat-urat lehernya.


Buk!


Tubuh Liaro tiba-tiba terjatuh ke tanah dalam posisi berlutut dan tidak bisa digerakkan sama sekali, seolah-olah sedang ditekan oleh sesuatu yang kuat.


Apa ... apa yang baru saja terjadi?!


Liaro tidak mengerti dengan situasinya saat ini, kepalanya masih belum bisa memproses kejadian yang baru saja terjadi. Kemudian, mata hitamnya bertatapan dengan mata merah itu.


"Sekarang, siapa yang sudah siap ditusuk?"


Deg!


Di depan Liaro, anak kecil itu menatapnya dengan mata merah menyala, ekspresinya tidak terbaca, dari tubuhnya juga terpancar aura hitam yang terlihat mengerikan.


I-itu...!!!


"Oh?" Stella memiringkan kepalanya, masih menatap mata Liaro yang telah bergetar, setelah itu Stella menyadari sesuatu. Sudut bibirnya terangkat dengan spontan. "Aku sudah ketahuan, ya?"


Sementara Stella menyadari bahwa identitasnya sudah ketahuan, Liaro menatap Stella dengan penuh ketakutan.


*T-ternyata dia adalah Tuan Putri!


Orang yang dicari Yang Mulia Raja!


Orang yang punya aura Dewi Kematian!


Orang yang akan dijadikan Komandan Eternal Flame!

__ADS_1


Dan orang yang memiliki mata merah dan rambut pirang!!


Mati aku! Aku sudah menyinggungnya*!


Liaro dibuat tidak bisa berkata-kata ketika mengetahui banyaknya status yang dimiliki anak kecil di depannya. Tubuhnya yang besar perlahan meringkuk.


"Hm?"


Melihat pria berbadan besar di depannya yang perlahan menyusut, seolah-olah agar tidak terlihat di matanya, Stella mengangguk paham.


Hm, hm. Aku sangat paham bagaimana rasanya saat dikalahkan oleh seorang anak kecil. Jadi tenang saja, aku tidak akan, uhuk, menertawakanmu, uhuk.


Berbeda dengan isi hatinya, bibir Stella bergetar karena menahan tawa.


"Pfffttt...."


Astaga, aku ingin tertawa! Tertawa!


"Hahahaha!!"


Dan akhirnya, sebuah tawa lepas keluar dari mulut Stella.


***


Setelah setengah jam tertawa di depan Liaro, yang dianggap seperti tawa iblis oleh pria itu, Stella menormalkan ekspresinya. Dia sedang mempertimbangkan apakah harus melukai Liaro sebagai bukti bahwa dia mengalahkan pria itu atau tidak.


Setelah dipikirkan dengan matang oleh Stella, dia menggerakkan pedangnya, sedangkan Liaro semakin gemetar ketika merasakan pedang Stella mendekati lehernya.


"A-a-apa yang ... ingin kau lakukan dengan leherku...?!"


"Aku hanya ingin melukai lehermu sedikit."


"Se-sedikit?"


"Ya."


Setelah itu, ujung pedang Stella mengenai leher Liaro, menggoresnya, hingga menyebabkan tetesan-tetesan darah mengalir dan menyebar di sekitar pakaiannya bagian atas.


"Sekarang, berpura-puralah pingsan."


"Ya?"


Mendapati tatapan tajam dari Stella, Liaro segera berpura-pura pingsan. Tubuhnya, yang tadinya tidak bisa bergerak, kini bisa digerakkan kembali.


"Oke, aku sudah selesai."


Stella kembali meletakkan pedangnya di tempatnya semula, kemudian mulai bersembunyi lagi di tempat lain.


Dengan begini, pak tua itu akan mengira kalau aku mengalahkan Liaro hingga pingsan!


Sementara itu, Leonard, yang menyaksikan adegan antara Stella dan Liaro, tidak bisa menahan tawa. Mulutnya berkedut berulang kali.


Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan? Lucu sekali! Pfffttt....


***


"Yang tadi itu tidak bisa disebut rencana, sih...."


Stella berbicara pada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat apa yang baru saja dia lakukan pada pria berbadan besar tadi.


"Aku tidak ingin membuang tenaga, alasan lainnya juga karena pria tadi bisa kujadikan wakil komandan."


Sebelum dikirim ke Hutan Whiteback, Stella sudah membaca laporan mengenai anggota-anggota Eternal Flame, termasuk ciri-ciri dan kemampuan mereka.


Menurut laporan yang dibacanya, ada tiga kandidat yang cocok menjadi komandan Eternal Flame, salah satunya adalah pria berbadan besar tadi.


Jadi, karena tidak sengaja memperlihatkan identitas aslinya pada pria berbadan besar itu, Stella berniat menjadikannya wakil komandan jika dia resmi menjadi komandan.


Selain itu, Stella juga tidak tahu mengapa pria itu bisa mengetahui bahwa dia memiliki aura Dewi Kematian. Padahal setahunya, tanpa Pantulan Aura, seseorang tidak bisa melihat aura orang lain dengan mata telanjang.


*(Pantulan Aura: alat yang digunakan untuk mengetahui aura yang dimiliki seseorang. sdh dijelaskan di ch. 11)


Jika pria itu bisa melihat aura yang dimiliki Stella, maka itu menunjukkan bahwa dia memiliki bakat yang istimewa.


Dia akan menjadi orang yang berguna untukku di masa depan.


Setelah itu, Stella menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Oke, Stella, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu," katanya seraya menepuk kedua pipinya. "Sekarang, yang harus kulakukan adalah pergi dari hutan ini secepatnya!"


Ya, yang harus dilakukan Stella saat ini adalah menyelesaikan pertarungan ini secepatnya dan menyelamatkan nyawa para pekerja di istananya.


Ketika Stella akan bersembunyi di tempat lain, dia mendengar beberapa orang berbicara.


"Haahh .... Ini tidak seru sama sekali."


"Kau benar. Kita seperti sedang bermain petak umpet dengan seorang anak kecil!"


"Eh, kita memang sedang bermain petak umpet dengan bocah itu!"


"Benar-benar membosankan!"


"Sangat membosankan!"


Oho~ Jadi, kalian pikir pertarungan ini membosankan?


Stella tersenyum miring seraya menatap mereka dengan intens, kemudiah terkekeh. Dia segera mengambil pedangnya, dan dengan sengaja mengoyak semak-semak yang menjadi tempat persembunyiannya.


Srrk.


"Suara apa itu?"


"Siapa di sana?"


Orang-orang itu berteriak sambil menatap sekeliling.


"Ini aku~"


Stella menampakkan dirinya seraya menyeringai. Langkah kakinya pelan, tetapi menyebarkan aura berbahaya di sekitarnya.


"Apa pertarungan ini membosankan, hm?" Stella memiringkan kepalanya, bertanya pada mereka dengan ekspresi polos, tetapi seringai lebar di wajahnya membuat orang-orang itu meneguk saliva dan merinding secara berjamaah. "Nah, kalau begitu, bagaimana kalau kita mengakhiri pertarungan membosankan ini?"


"Ap-apa yang akan kau lakukan?"


"J-jangan mendekat!"


"He-hei, seharusnya kita menyerang!"


"Bodo amat, kau sendiri saja yang mati sana! Aku masih mau hidup panjang!"


"Kalau begitu, ayo kita kabur!"


"Benar! Kita harus kabur!"


Sementara mereka mengungkapkan rencana pelarian yang simpel, Stella semakin melebarkan seringainya.


Aku dengar apa yang kalian rencanakan, lho. Dasar bodoh.


Lalu, pandangan Stella mengarah pada orang-orang itu yang sudah bersiap kabur. Suara dingin yang sampai ke tulang segera terdengar.


"Kalian mau ke mana?"


Deg!


Seketika mereka berhenti.


"Pertarungannya masih belum selesai. Bukankah begitu? Jadi, ayo selesaikan ini, secepatnya."


"Ti-tidak!!"


Trang! Jleb!


"Akhhh!"


Burung-burung di hutan segera beterbangan ketika jeritan pilu orang-orang itu terdengar.


――――――――――――――


gak terlalu berdarah, sih🙂 tapi seenggaknya aku udh buat pemberitahuannya. nah, kyknya next chap bakal lebih sadis(?) ayo like, komen, dan vote juga~ (๑•̀ㅁ•́๑)✧


Next chapter~


Bab 49. Fourty Nine (49).


"Apa kalian pikir aku hanya bisa menggunakan pedang? Aku tidak berniat membiarkan orang lain tahu identitasku, jadi maaf, kalian harus mati di sini."

__ADS_1


TBC!


__ADS_2