
"Stella," ucap Raja Shavir dengan tenang, menyebut nama anak kecil perempuan yang berdiri di hadapannya.
Kemudian, dia membungkuk lalu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Stella.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
Hening.
Stella menatap Raja Shavir dengan pandangan tak percaya. Keringat tipis mengalir di pelipisnya.
Melihat muridnya yang tak kunjung menjawab, Jesriel segera memberitahu Raja Shavir.
"Yang Mulia, Putri Stella tidak apa-apa. Saya sebagai pelatih―eh, gurunya, bersumpah bahwa Putri tidak apa-apa," ucap Jesriel, nyaris keceplosan bahwa dia adalah guru berpedang Stella.
Seketika Raja Shavir memandang Jesriel dengan tajam dan dingin.
"Aku bertanya pada Stella, bukan padamu," katanya, ada sedikit emosi dalam suaranya. "Seorang lelaki yang hanya memiliki hubungan antara guru dan murid berani sekali mengajak Stella bepergian tanpa seizinku."
Mendengar itu, Jesriel mendadak merasakan suhu dingin di bagian punggungnya.
"Pergilah. Kali ini aku mengampunimu, tapi lain kali tidak akan."
Segera, Jesriel membungkuk.
"Se-se-semoga Kerajaan Evergard se-selalu diberkati!" balasnya cepat dengan tergagap. "Maafkan saya atas kelancangan saya tadi, Yang Mulia. Saya berjanji tidak akan mengulanginya!"
Setelah itu, Jesriel mengeluari Istana Everstell dengan secepat kilat, menyisakan Raja Shavir, Stella, dan Suzy beserta pelayan lainnya di sana. Kemudian, pandangan Raja Shavir mengarah pada Stella.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Ti-tidak ada," jawab Stella.
Raja Shavir memandangnya, kemudian mengulurkan telapak tangannya ke wajah Stella, menyentuh dahinya.
"Apa yang―"
"Kau terlihat pucat," potong Raja Shavir.
Stella hanya terdiam mendapatkan perlakuan aneh seperti itu dari pria yang berada di hadapannya.
"Kau pasti kelelahan," lanjutnya, diikuti dengan aliran sihir yang mengalir dari jemarinya menuju dahi Stella, berniat menghilangkan ekspresi pucat di wajah Stella.
Ketika Raja Shavir mengalirkan sihirnya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
__ADS_1
Bzzt! Bzzt!
Aliran sihir yang entah datang dari mana tiba-tiba muncul, menghalangi aliran sihir milik Raja Shavir.
"Argh―"
Stella mendadak merasakan sakit pada bagian jantungnya, kepalanya menjadi pusing. Raja Shavir membeku kala melihat kejadian aneh itu di depan matanya, kemudian ia segera sadar kala mendengar kembali erangan dari bibir Stella.
"Argh! Sakit!"
Sementara itu, Stella merasa bahwa ada sesuatu yang menyengat jantungnya. Ia juga merasakan bahwa sihir yang ada di dalam tubuhnya bergejolak dan menjadi tidak terkendali, seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari tubuhnya secara paksa. Kini pikirannya hanya terpaku pada kata "kematian".
Mungkinkah saat ini adalah waktunya meninggalkan dunia?
'Tidak. Tidak mungkin. Aku tidak boleh mati di sini!'
"Arrghh!"
Bruk!
Suara jatuh seseorang yang terdengar keras mengejutkan semuanya.
"Stella!"
...―――...
Kamar mewah berhiaskan ornamen sederhana itu terasa hening dan sepi. Embusan angin malam meniup tirai-tirai berwarna putih di dekat jendela dengan pelan. Napas teratur seseorang menjadi melodi yang mengiringi perasaan kesepian seorang pria yang berada di sana. Mata ungunya menatap seorang anak kecil yang masih tertidur dengan nyenyak di atas ranjang, tanpa ada niatan bangun sedikit pun.
"Kenapa ... kenapa hal itu terjadi?" tanyanya pada dirinya sendiri, tidak mengerti dengan kejadian aneh yang terjadi tadi, kemudian tangannya terulur ke arah anak kecil itu, menyentuh rambutnya yang berwarna pirang. "Siapa ... siapa yang sudah menipuku selama ini?" lanjutnya dengan nada penuh emosi. "Siapa yang memiliki keberanian menipuku tentang wujud asli anak ini?"
Pria itu tak lain adalah Raja Shavir yang agung, kini dia duduk di samping Stella, matanya terus mengawasi Stella yang tak kunjung sadar sedari siang hingga malam datang.
Setelah kejadian di mana Stella tak sadarkan diri, Raja Shavir segera memanggil seorang penyihir kerajaan.
Menurut pengamatan penyihir itu, Stella tak sadarkan diri lantaran bentrokan sihir yang terjadi antara sihir Stella dengan sihir milik Raja Shavir, atau lebih tepatnya ada sihir orang lain di dalam tubuh Stella yang menolak kehadiran sihir milik Raja Shavir, sehingga hasil dari bentrokan kedua aliran sihir itu menyerang jantung Stella, menyebabkan gadis kecil itu mengalami rasa sakit yang luar biasa di bagian jantungnya.
Beruntungnya, pertahanan tubuh Stella kuat, jadi dia tidak mengalami kematian, hanya saja membuatnya tidak sadarkan diri untuk sementara waktu.
Setelah penyihir kerajaan menjelaskan penyebab Stella tidak sadarkan diri, Raja Shavir segera memberi perintah pada semua pelayan, termasuk Suzy, untuk tidak memasuki kamar Stella sampai Stella sadarkan diri. Alhasil, hanya Raja Shavir dan Stella yang berada di ruangan ini.
Ketika hanya ada Raja Shavir seorang diri di kamar Stella, dia melihat pemandangan yang mengejutkan.
Rambut Stella yang mulanya hitam, perlahan berubah seutuhnya menjadi pirang.
__ADS_1
Hal itu membuat Raja Shavir merasa terguncang, baik fisik maupun mentalnya.
Sebelumnya, Raja Shavir berpura-pura "mencintai" Xylia agar mengalihkan perhatian musuh dari anggota keluarga kerajaan. Selain karena alasan itu, alasan lainnya ialah karena Xylia memiliki rambut berwarna pirang, warna rambut yang sama dengan rambut milik wanita yang sangat dicintainya.
Namun, sekarang ... dia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anak perempuannya juga memiliki warna rambut yang sama dengan wanita itu.
"Ternyata benar," gumam Raja Shavir dengan pandangan redup.
Tangannya masih senantiasa menyentuh rambut Stella.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya," sambungnya dengan lirih.
Setelah itu, mendadak Raja Shavir diliputi perasaan bersalah yang amat dalam.
Sedari awal, dia hanya menjaga keselamatan Stella dari jarak jauh dengan cara menggunakan Xylia sebagai pelindung Dhemiel dan Stella dari para musuh Kerajaan Evergard dan musuh-musuhnya sendiri, tanpa berniat memberikannya kasih sayang yang pantas didapatkannya sebagai seorang putri raja. Seharusnya, dia memberikannya kasih sayang, sama seperti arti namanya, "Al-Teona", sang putri raja.
"Apa yang selama ini kulakukan salah?"
...―――...
"Ugh...."
Desahan kecil keluar dari bibir Stella. Alisnya mengerut. Perlahan, kelopak mata Stella terbuka. Langit-langit kamarnya menyambut Stella setelah tak sadarkan diri selama setengah hari. Dia mengerjap beberapa kali, kemudian menatap sekitarnya. Sepi. Tak ada siapa pun di sekitarnya.
Beberapa saat kemudian, Stella mengubah posisinya menjadi duduk. Sehelai rambutnya berganti posisi dan jatuh di pundaknya. Stella melirik, terdiam beberapa saat, kemudian melebarkan matanya.
"Rambutku...!" serunya dengan tertahan.
Kemudian Stella menyentuh rambutnya. Bola matanya semakin melebar kala mengetahui bahwa itu bukanlah khayalannya.
"Rambutku berubah warna?" gumamnya pada dirinya sendiri.
Sesaat kemudian, sesuatu melintas di pikirannya. Dengan segera, Stella turun dari ranjangnya, lantas berjalan menuju tempat di mana cermin dan beberapa alat berdandannya berada. Setibanya di depan cermin, Stella menatap tak percaya pada pantulan dirinya di cermin.
Rambutnya benar-benar berubah menjadi pirang. Bukan hanya itu saja, bagian matanya juga berubah warna menjadi merah.
'Tidak mungkin. Kenapa harus berubah di saat-saat seperti ini?' batin Stella dengan gelisah. 'Selain itu, bagaimana caranya agar wujudku bisa berubah seperti semula?'
――――――――――――――
halo guys, kalian udh pada tau gk ada manhwa baru judulnya "Actually, I Was The Real One"? aku pas liat manhwa itu tiba-tiba bingung, kyk pernah liat karakternya di mana gitu. eh tau-taunya pas inget-inget, karakter utama cewek sm penjahatnya mirip Stella😂, yg satunya rambut hitam + mata ungu, yg satunya lagi rambut pirang + mata merah. bener-bener kebetulan gk terduga😂😂😂
TBC!
__ADS_1