Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Eighty Nine (89)


__ADS_3

Dia membuka matanya dengan pelan. Penglihatannya buram, itu mungkin karena efek dari benturan yang terjadi pada kepalanya. Perlahan, dia mengerjapkan matanya, menatap langit-langit sebuah ruangan, lalu alisnya mengerut karena kebingungan.


"Uhh...."


Suara erangan kecil yang keluar dari mulutnya terdengar, mengambil alih perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Stella! Apa kau baik-baik saja?"


"Stella!"


"Tuan Putri!"


Dia menurunkan tatapannya, menatap tiga bayangan orang yang mendatanginya. Satu di antara mereka adalah seorang pria, satunya lagi adalah seorang wanita, dan yang lain adalah seorang anak kecil laki-laki.


Anak perempuan yang berbaring di ranjang itu beralih menatap seorang pria, yang berdiri di sampingnya.


Pria itu menggenggam tangannya dan tersenyum. Mata ungunya menunjukkan kebahagiaan dan kelegaan. Nada suaranya ketika dia berbicara terdengar menyayat hati.


"Stella ... aku, aku senang kau baik-baik saja...."


Suara pria itu, yang terdengar familier, memasuki indra pendengarannya.


Bats―!


Tiba-tiba, tiga memori asing yang tidak dikenal muncul di kepalanya, saling tumpang tindih. Kepalanya tiba-tiba berdenyut karena kesakitan, seolah-olah ada sesuatu yang kuat menghantam kepalanya.


["Siapa pun yang berlutut di hadapanku pasti adalah orang yang telah melakukan kejahatan, dan kau melakukannya. Itu adalah buktinya."]


["Putriku yang cantik, Stella, selamat ulang tahun! Ayah akan memberikan apa pun yang kau inginkan!"]


["Itu bagus jika kau mengetahui posisimu. Aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai putriku."]


"Haah...! Haah...!"


Dia bernapas dengan tidak beraturan kala tiga memori asing itu tumpang tindih di kepalanya. Kepalanya semakin berdenyut. Tubuhnya menjadi gemetar.


"Stella! Stella!"


Pria yang berdiri di sampingnya memanggilnya dengan seruan. Kepanikan terdengar di dalam suaranya. Tangan pria itu mengguncang bahunya, membuat anak perempuan itu menatapnya dengan tatapan tanda tanya.


"Siapa ... siapa? Aku tidak mengenal Anda...."


Deg.


Jantung semua orang yang berada di ruangan itu berdegup dengan kencang. Mata mereka melebar, sedangkan mulut mereka terbuka. Mereka tercengang.


"Aku ... aku tidak bisa mengingat apa pun...."


Saat kalimat dari gadis kecil itu terdengar di telinga semua orang, tangan pria yang memegang bahunya jatuh terkulai. Keseimbangan badannya hilang. Lalu dia terjatuh ke lantai dalam posisi berlutut.


"Yang Mulia Raja...!"


Seruan dari berbagai arah terdengar, memanggil pria itu, namun dia tidak mendengarnya. Matanya terpejam dengan erat karena penyesalan. Hatinya terasa dicabik-cabik ribuan pisau kala kenyataan pahit itu menghantamnya.


Hidupnya menjadi hancur sejak saat itu.


Tidak.


Mungkin ada perubahan besar dalam hidupnya sejak saat itu. Perubahan besar yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Putrinya tidak bisa mengingatnya. Anak perempuan itu tidak mengingat semua tindakannya yang mengabaikannya selama bertahun-tahun yang lalu dan kejadian sebulan yang lalu ketika tubuhnya dikendalikan. Anak perempuan itu sama sekali tidak mengingatnya.


'Haruskah aku merasa bersyukur?'

__ADS_1


Pikirannya berkecamuk, antara merasa bersyukur dan tidak.


Sekarang, apa yang harus dia lakukan?


'Bahkan jika dia tidak mengingatku, aku hanya perlu membuatnya mengingat hal baik tentangku. Ya, ayo ganti ingatannya.'


Keputusan itu tiba-tiba datang di tengah badai penyesalan yang menghantamnya.


Ya, dia hanya perlu memberikan ingatan palsu pada gadis kecil itu.


...―――...


Anak perempuan itu, Stella, mengerjapkan matanya berulang kali. Mata merahnya menatap sekitarnya dengan pandangan kosong. Saat ini dia sedang duduk di tempat tidurnya, sendirian di kamar seseorang yang tidak dikenal. Tatapannya mengarah pada beberapa benda-benda berbahan emas yang menarik perhatiannya. Kamar itu sangat mewah. Namun, dia tidak bisa mengingat apa pun.


Tidak.


Lebih tepatnya, ingatannya buram, dan terkadang muncul di kepalanya secara tiba-tiba.


'Stella ... Stella .... Apakah itu adalah namaku?'


Dia membatin sambil mengulang nama itu berulang kali. Ada perasaan akrab menjalar di hatinya kala mengulang nama itu.


'Namaku Stella, tapi di mana aku berada saat ini?'


Lalu Stella memejamkan matanya, berusaha mengingat sesuatu. Namun setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu, kepalanya berdenyut, membuatnya menyerah.


'Aku tidak bisa mengingat apa pun.'


Anehnya, setiap kali dia memikirkan hal itu, perasaan gelisah menyerbu hatinya, seolah-olah ada hal penting yang tidak boleh dia lupakan.


'Aku merasa gelisah. Aku juga tidak tahu kenapa. Apakah ada hal penting yang tidak boleh kulupakan?'


Pertanyaan itu bersarang di kepalanya, namun tidak ada jawaban yang muncul.


Kali ini, dia berusaha mengingat sesuatu yang dilupakannya, meskipun kepalanya berdenyut.


"Namaku Stella. Aku masih kecil. Ya, aku masih kecil. Tapi...."


Pada saat itu, ekspresi kebingungan tercetak jelas di wajahnya.


"... Kenapa ada tiga memori asing di kepalaku?"


Stella merasa aneh. Ada sesuatu yang janggal tentang dirinya.


Ketika Stella terbangun dari tidur panjangnya tanpa ingatan sama sekali, dia melihat wajah pria itu, yang tampak familier. Lalu setelah itu, tiga ingatan asing saling tumpang tindih di kepalanya.


Kemudian ketika orang-orang asing itu meninggalkannya sendirian di kamar mewah itu, Stella menyadari bahwa tubuhnya terlihat kecil dan mungil, yang berarti bahwa dia adalah seorang anak kecil.


Namun, dua dari tiga ingatan asing itu menampakkan sosok gadis remaja yang muncul dalam momen yang berbeda-beda.


Gadis remaja dalam ingatan yang pertama sedang berlutut di hadapan seseorang sambil menangis, sedangkan gadis remaja dalam ingatan yang kedua sedang tertawa bahagia bersama orang-orang yang tidak dikenal Stella.


Sementara itu, dalam ingatan yang ketiga, ada sosok anak kecil yang berbicara dengan dingin pada seseorang.


Hal itu membuatnya bingung.


"Memori apa itu?"


Sayangnya, sebanyak apa pun Stella berpikir, dia tetap tidak mengetahui jawabannya.


"Entah kenapa, aku merasa kesal. Ya, aku sangat kesal karena tidak bisa mengingat jati diriku yang sebenarnya," katanya sembari membaringkan tubuhnya.


Badannya menghadap ke samping. Tatapannya perlahan menurun.

__ADS_1


"Aku harap ... aku harap bisa mengingat semuanya ... secepatnya...."


Setelah itu, Stella tertidur. Rasa sakit yang ada di kepalanya perlahan berkurang seiring dengan kesadarannya yang menipis.


...―――...


"Apakah kita perlu melakukannya, Yang Mulia? Apa ini tidak apa-apa bagi Tuan Putri? Saya takut jika sihir itu ada efek sampingnya yang dapat merusak saraf-saraf ingatan Tuan Putri."


Seorang wanita berpakaian pelayan istana mengemukakan pendapatnya. Raut wajahnya terlihat cemas. Tanda-tanda keriput dan kelelahan terlihat di wajahnya. Rambut hitamnya terlihat kusut, tampak tidak terawat selama beberapa hari belakangan. Sedangkan mata hijaunya terlihat sembab, ada sisa-sisa air mata di sana.


Tidak diragukan lagi, dia adalah Lin Suzy, seorang pelayan wanita yang merawat Stella sejak lahir.


"Tidak ada cara lain, aku harus menggunakan sihir ini pada Stella," balas seseorang.


Mata ungunya menatap tajam pada orang-orang yang berdiri di hadapannya.


"Kenangan masa lalu Stella sangat menyakitkan, apalagi setelah ketidakpedulian yang kulakukan padanya sebulan yang lalu. Jika dia mengingatnya, dia mungkin tidak akan pernah menganggapku sebagai ayahnya."


Tawa kering keluar dari mulutnya. Mata tajam itu memancarkan penyesalan yang mendalam.


"Ini mungkin karma sekaligus kesempatan terakhir untukku. Jika aku bisa memanipulasi ingatannya, bukankah Stella akan hidup dengan bahagia dan merasakan kasih sayang dari semua orang?"


Kata-kata itu membuat orang-orang terdiam, sebagian dari mereka merasa setuju.


"Dengan begitu, dia akan menganggapku sebagai ayahnya atau memaafkan kesalahanku ... dan kami bisa menjadi keluarga."


"...."


Keheningan panjang itu membuat suasana terasa mencekam.


Lalu seorang wanita dengan rambut ungu muda menyetujui rencana sang raja.


"Saya menyetujui rencana Anda, Yang Mulia Raja," kata wanita itu.


Dia adalah Azalea Orma, seorang penyihir wanita, teman baik sang ratu, sekaligus guru sihir Stella.


"Saya tidak bisa membiarkan Tuan Putri kembali hidup dalam penderitaan. Jika nantinya ingatan Tuan Putri kembali, dia mungkin akan menerima Yang Mulia Raja dan Pangeran Dhemiel sebagai keluarganya karena kebaikan dari orang-orang saat ingatannya hilang tidak akan pernah hilang. Dia pasti merasa tersentuh dengan ketulusan semua orang."


"Saya juga berpikiran seperti itu," balas seorang pria dengan rambut dan mata biru muda.


Dia adalah Creed, pengawal pribadi sang raja.


"Tuan Putri mungkin merasa dikhianati pada awalnya karena diberikan ingatan palsu, tapi dia akan menerima kenyataan bahwa Yang Mulia Raja dan Pangeran Mahkota adalah keluarga Tuan Putri. Beliau pasti akan membuka hatinya pada keluarganya."


Setelah itu, berbagai macam pendapat dari orang-orang yang ada di sana menjadi bagian dari rencana Raja Shavir.


―――――――――――――――


"kejadian sebulan yang lalu" yang ada di sini itu pas sihir jahat Xylia balik lagi dan di situlah Stella kabur ke Pegunungan Aros. Ingat?


nah, aku baca salah satu komentar kalian yang tanya apakah ini Stella dari masa depan atau bukan. dia masih Stella yang sama kok, cuma hilang ingatan. klo tanya "kok bisa hilang ingatan?" jawabannya ada di chapter 87.


nih cuplikannya:


[Tangannya yang tanpa sadar memegang kepalanya yang pusing seketika membeku ketika merasakan cairan yang kental dan hangat menutupi telapak tangannya. Stella segera melihat telapak tangannya, lalu terdiam membisu ketika melihat gumpalan darah merah di sana.]


['Darah? K-kepalaku....']


tuh, ada darah di kepalanya. di situlah ingatan Stella mulai hilang.


btw, mulanya chapter kemarin mau kujadikan end season 1 tapi ga jadi hehe. trus chapter ini bisa aku jadiin dalam sehari karena udah aku buat lama banget, klo ga salah november 2020. waktu itu aku buatnya 2 chapter pas ide lagi lancar dan udh selesai. tapiiiii pas aku cek kemarin-kemarinnya lagiiii, eh yg chapter lanjutan dari ini hilangggg😭😭😭😭 sedih banget hiks. habis itu ga mood lagi nulis😭 trus di riwayat revisinya gada lagiiii😭 (curhat💔😧)


ya udah segitu aja curhatnya, sampai jumpa di next chapter!! (buat ulang lagi😖)

__ADS_1


TBC!


__ADS_2