Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fourty Five (45)


__ADS_3

"Kalian berani membohongiku?"


Suara dingin itu menyentak semua pelayan yang dikumpulkan di aula Istana Everstell. Kepala mereka tertunduk dalam, tidak berani menatap wajah sang raja yang sudah dipastikan sedang diliputi amarah. Di samping sang raja, ada pangeran mahkota dan raja terdahulu yang juga menatap para pelayan dengan tajam.


"Di mana Stella?"


Pertanyaan dengan nada rendah itu membuat para pelayan merinding. Segera, kesepakatan yang mereka buat bersama sang putri beberapa jam yang lalu berputar di pikiran masing-masing.


"Ingat, ini adalah rahasia antara kalian dan aku."


Bagaimana mereka bisa mengabaikan kata-kata sang putri yang dilengkapi dengan senyuman langkanya?


Dan juga, mengapa Yang Mulia Raja harus datang di saat-saat seperti ini?!


Para pelayan menjerit di dalam hati dengan tidak berdaya, menangisi nasib mereka yang tidak beruntung.


Beberapa saat yang lalu, Raja Shavir mengeluari ruangan kerja ayahnya, lalu mendapati Creed seorang diri di hadapannya, tanpa ada Dhemiel dan Stella di sekitarnya. Ketika Raja Shavir memasuki ruangan kerja Zayden, Stella dan Dhemiel menunggunya di luar pintu bersama Creed, namun kini kedua anak kecil itu tidak terlihat di mana pun.


Ke mana mereka pergi? Pikiran seperti itu melanda pikirannya.


"Di mana Dhemiel dan Stella?"


Creed langsung menjawab dengan jujur, "Pangeran Mahkota sedang menyelidiki apa yang sedang dilakukan Tuan Putri saat ini, Yang Mulia."


"Menyelidiki?"


Satu kata itu terdengar aneh di telinga Raja Shavir.


"Benar, Yang Mulia," jawab Creed sambil mengangguk.


"Tentang apa?"


"Itu ... kalau tidak salah, tentang urusan Tuan Putri yang sangat penting."


Sebelah telinga Raja Shavir menjadi naik kala mendengar jawaban Creed, jelas menunjukkan ketertarikan.


Sesuatu seperti apa yang sangat penting bagi Stella? tanyanya di dalam hati. Secara tiba-tiba wajah ceria Xylia terlintas di pikirannya, setelah itu giginya bergemeretak. Jangan-jangan Stella punya pertemuan rahasia dengan Xylia? Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi!


Memikirkan hal itu saja sudah membuat Raja Shavir emosi, apalagi membayangkannya. Dia segera berjalan. Alisnya menajam. Perintah mutlak darinya segera sampai ke telinga Creed.


"Ikut denganku, Creed!"


"Baik, Yang Mulia."


Namun, apa yang didapatinya di Istana Everstell adalah kabar buruk.


Dhemiel, yang menyelidiki Stella karena penasaran tentang sesuatu, tiba-tiba mengatakan bahwa Stella tidak ada di Istana Everstell. Dengan demikian, Raja Shavir mengecek kamar Stella.


Nyatanya, Stella ada di sana. Dia sedang membaca buku di ranjangnya. Namun, itulah kabar buruknya.


Gadis kecil yang sedang membaca buku itu bukanlah Stella, melainkan boneka tiruan yang terbuat dari sihir. Meskipun dalam segala hal boneka itu tampak mirip dengan Stella, namun Raja Shavir menyadari bahwa tidak ada kekuatan magis yang kuat di boneka itu, yang seharusnya ada pada Stella.


Dengan begitu, Raja Shavir mengetahui bahwa Stella pergi dari Istana Everstell dan menyiapkan boneka tiruan untuk mengelabui semua orang.


Ya, awalnya itu yang terlintas di pikiran Raja Shavir.


Namun, ketika dia mengumpulkan semua pelayan, dia mengetahui bahwa raut wajah mereka tampak cemas, seolah-olah mereka telah mengetahui apa yang sedang terjadi dan mengerti dengan situasinya.


Itu berarti mereka tahu kalau Stella pergi dan meninggalkan boneka itu sebagai penggantinya. Benar-benar keterlaluan!


Mereka dengan terang-terangan menyembunyikan hal sepenting itu darinya. Ya ... walaupun saat ini hak rajanya dicabut, tetapi dia masih ayahnya, bukan?


"Kalian berani membohongiku?"

__ADS_1


Dan seperti inilah situasinya saat ini.


Zayden, yang ikut bersama putranya menuju Istana Everstell, juga menjadi emosional kala mengetahui apa yang sedang terjadi.


Apakah sebegitu bencinya mereka dengan Stella, sehingga apa pun yang dilakukan cucuku diabaikan oleh mereka?


Pikiran seperti itu muncul di pikiran Zayden, berbanding terbalik dengan pikiran Raja Shavir.


Sementara itu, hati para pelayan bimbang, antara memilih sang raja atau tuan mereka, Stella.


Sesaat kemudian, para pelayan diam-diam saling melirik dan memberi isyarat melalui mata mereka. Setelah itu, Suzy, pelayan pribadi Stella, berjalan satu langkah dan bersujud di hadapan Raja Shavir.


"Mohon maafkan kami, Yang Mulia!"


Perkataan yang memiliki banyak makna itu membuat Raja Shavir menajamkan matanya.


"Apa katamu?"


"Kami sengaja membuat Tuan Putri sibuk dengan berjalan-jalan dengan Tuan Jesriel, karena kami sedang mempersiapkan pesta ulang tahun untuk Tuan Putri!"


"Pesta ulang tahun?"


"Benar, Yang Mulia!" Suzy berucap sambil meyakinkan Raja Shavir. "Bukankah sebentar lagi adalah hari ulang tahun Tuan Putri? Itulah sebabnya kami membiarkan Tuan Putri pergi dengan Tuan Jesriel, agar kami bisa mempersiapkan ulang tahun Tuan Putri."


Baik Raja Shavir maupun Dhemiel terdiam ketika mendengar ucapan itu. Sejujurnya, sebagai satu keluarga dan memiliki hubungan darah yang erat, mereka bahkan tidak tahu ulang tahun Stella sama sekali.


Mengetahui tidak ada balasan apa pun dari sang raja, Suzy tersenyum di balik wajahnya yang menghadap lantai.


Mereka terpancing dengan umpanku, batinnya dengan riang.


"Bukankah ulang tahun cucuku pada bulan Februari?"


Deg!


"Ini masih bulan Desember. Kerajaan Evergard bahkan belum mengadakan acara natal dan tahun baru, jadi bagaimana bisa ulang tahun Stella "sebentar lagi"?"


Deg! Deg! Deg!


Suzy tidak bisa berkata-kata. Keringat dingin segera mengalir di punggung dan pelipis wajahnya.


Raja Shavir dan Dhemiel, yang mengetahui bahwa pelayan itu berbohong, seketika menatap Suzy dengan lebih tajam dan mengerikan.


"Berani-beraninya pelayan rendah sepertimu berbohong di hadapanku."


Suara tanpa emosi dari Raja Shavir segera terdengar, menciptakan suasana menjadi semakin tegang. Mata ungunya menyala.


Deg! Deg! Deg!


Leher Suzy terasa tercekik. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain bersujud di lantai dengan badan gemetar. Dengan sisa tenaganya, Suzy berusaha membuka mulutnya.


"A-ah ... it-itu, itu, itu...!" Suzy segera mengangkat kepalanya dengan spontan. "Karena kami ingin memberi hadiah lebih awal pada Tuan Putri...!"


"Begitukah?" Tatapan mata yang sangat tajam itu mengguncang mental Suzy, lalu Zayden menatap putranya. "Khusus untuk hari ini, hak rajamu dikembalikan, gunakan kesempatan ini untuk menemukan cucuku!"


"Tentu saja." Raja Shavir menolehkan kepalanya, menatap Zayden. "Pertama, aku berterima kasih pada Ayah. Lalu...." Tatapannya bergeser pada Creed dan Dhemiel. "Kalian ikutlah denganku, ayo kita cari Stella."


"Ya!"


"Baik, Yang Mulia!"


Dua jawaban yang berbeda datang dari Dhemiel dan Creed.


Setelah itu, Zayden berbicara. "Kalian pergilah, urusan para pelayan di sini biar aku yang urus." Senyuman lebar segera tampak di wajahnya, namun bagi para pelayan itu adalah senyuman yang mengerikan. "Hati-hati~"

__ADS_1


"Kalau begitu, kami pergi dulu."


Setelah itu, pasukan khusus kerajaan yang hanya digunakan untuk berperang dikerahkan guna mencari sang putri yang dikabarkan menghilang. Ini adalah kedua kalinya anak perempuan raja itu menghilang, dan itu menyebabkan kegemparan di ibukota.


Tetapi bedanya, kali ini Raja Shavir menyewa Komunitas Tentara Bayaran "Eternal Flame" yang dikabarkan lebih kuat dan gesit daripada pasukan khusus kerajaan.


***


"Yang Mulia Raja akan membunuh saya!"


"Hah?"


"Tolong, selamatkan saya, Wakil Ketua!"


"... Apa katamu?"


Rielle, yang mendengar kata-kata seperti itu dari bawahannya, mendadak menjadi tidak bisa berpikir. Pikirannya kosong. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


A-apakah Yang Mulia Raja tahu kalau Tuan Putri ada di sini...?


Rielle segera menggeleng, menepis pikiran itu.


Tidak, tidak mungkin.


Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri bawahannya.


"Ceritakan apa yang sedang terjadi, Marko."


Orang itu, yang dipanggil Marko oleh Rielle, mengangkat kepalanya dan menatap Rielle dengan mata penuh harapan yang terlihat menyedihkan.


"Ja-jadi begini, Yang Mulia Raja menghubungi Eternal Flame kita dan memberikan misi yang sangat sulit. Misi ini akan menentukan masa depanku!" kata Marko.


"Bagaimana bisa misi seperti itu berkaitan dengan masa depanmu?"


Rielle tidak mengerti dengan perkataan Marko.


"I-itu karena ... karena misinya tentang Tuan Putri! Tuan Putri menghilang lagi!!"


Deg!


"Uhuk, uhuk! Uhuk, uhuk―"


Stella tersedak saat meminum tehnya ketika mendengar pembicaraan antara Rielle dengan salah satu anggota Eternal Flame.


Rielle segera menghampiri Stella dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Astaga, Tuan Putri, berhati-hatilah!"


"Iya―uhuk! Aku hanya terkejut...."


Sementara Rielle menepuk-nepuk punggung Stella, Marko, yang mendengar panggilan yang disematkan wakil ketuanya pada gadis kecil itu, seketika menganga.


"Apa? Tu-tuan Putri?"


Haahh...!


Stella segera tersadar dan bertatapan dengan Marko. Mata merahnya bertemu pandang dengan mata hitam orang itu.


Padahal aku baru beberapa saat lalu pergi dari istana, tapi sudah ketahuan?


――――――――――――――


TBC!

__ADS_1


__ADS_2