Reincarnation Of The Poor Princess

Reincarnation Of The Poor Princess
Fifty Three (53)


__ADS_3

"Nyam, nyam."


Stella memakan makanan manis yang diberikan Raja Shavir padanya. Di sampingnya, pria yang memberikan makanan manis itu menatap Stella beserta piring yang ada di pangkuan Stella secara bergantian.


"Apakah enak?"


"Tidak," jawab Stella sambil menggigit sebuah kue cookies rasa cokelat, kemudian mengunyahnya.


Mendengar jawaban Stella, Raja Shavir mengerutkan keningnya dan bertanya, "Lalu, mengapa kau makan?"


"Karena lidahku terasa pahit."


"Oh, begitu."


Ketika Raja Shavir menyelesaikan kalimatnya, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi hening. Stella sedang memakan makanan manisnya dengan tampang tidak peduli dengan suasana hening di sekitarnya, sedangkan Raja Shavir sedang berkonflik di dalam hatinya, antara memulai percakapan atau tetap diam.


Setelah cukup lama berkonflik dengan hatinya, Raja Shavir pun bertanya, "Bagaimana keadanmu?"


"Hm? Aku?" Stella mengarahkan pandangannya ke arah pria yang duduk di sampingnya. "Aku tidak baik-baik saja."


Mendengar itu, Raja Shavir segera melontarkan pertanyaan secara beruntun.


"Di mana yang sakit? Apakah di kepala? Apa kau merasa pusing? Apa kau merasa lapar? Atau kau ingin tidur lagi?"


Stella tidak bisa berkata-kata setelah mendengar pertanyaan beruntun yang diajukan Raja Shavir. Setelah cukup lama terdiam, Stella menggelengkan kepalanya.


"Bukan sakit yang seperti itu."


"Lalu, di mana yang sakit? Di mana?"


"Di sini," jawab Stella seraya meletakkan telapak tangannya di dada. Raja Shavir seketika membeku. "Perasaanku ... tidak baik-baik saja. Aku kesakitan," sambung Stella dengan penuh makna.


"... Kenapa bisa begitu?" tanya Raja Shavir beberapa saat setelahnya.


"Karena aku bingung dengan orang yang sedang bersamaku sekarang."


"...."


"Kenapa setelah lima tahun, kau menjadi peduli padaku? Kenapa tidak ketika aku lahir? Kenapa baru sekarang?"


"Stella...."


Raja Shavir ingin menjelaskan mengapa dia melakukan hal itu, tetapi Stella tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara. Dia terus mengeluarkan semua isi hatinya yang selama lima tahun ini terpendam.


"Apa kau tega menelantarkan buah cintamu dari wanita yang kau cintai? Apa kau tidak punya hati sampai-sampai memberikan kasih sayang yang berbeda pada putrimu sendiri dan keponakanmu?"


Setelah itu, Stella tersenyum dengan dingin.


"Heh ... padahal itu hanya sandiwara, tapi kenapa kau melakukan itu dan kenapa aku tetap merasa sakit hati padahal aku sudah tahu semuanya?"


"Bagaimana kau bisa...."


"Aku tahu semuanya." Nada suara Stella menjadi dingin seperti es. Tatapan matanya menjadi tajam. "Aku tahu tentang sandiwara dan kontrak yang terjalin antara dirimu dan Xylia."

__ADS_1


Raja Shavir dibuat tidak bisa berkata-kata, lalu dia menghela napas panjang. Pria itu berpikir bahwa tidak ada lagi yang harus dia sembunyikan dari Stella, karena anak itu sudah mengetahui semuanya. Dia hanya perlu meluruskan kesalahpahaman ini agar tidak ada yang tersakiti lagi. Ya, dia hanya perlu melakukan itu.


Setelah memutuskan dengan penuh pertimbangan, Raja Shavir membuka mulutnya dan berbicara.


"Sebelum aku menjelaskan semuanya, aku benar-benar meminta maaf."


"...."


"Selama ini, aku sudah mengabaikanmu dan Dhemiel. Aku tahu hal itu salah. Tapi bodohnya, aku tetap melakukan itu."


Kemudian Raja Shavir tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Stella dapat melihat bahwa pria itu sedang dalam keadaan terpuruk saat ini.


"Seharusnya aku tidak melakukan hal itu, tapi semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah berubah. Hal yang kutakutkan seumur hidup tidak pernah terjadi dan hal yang sangat kuinginkan tidak pernah bisa kudapatkan."


Kata-kata Raja Shavir membuat Stella berpikir bahwa ada kisah kelam di balik penyebab dari penderitaan Putri Stella yang asli.


Dan mungkin saja kisah yang akan diceritakan si Shavir itu padaku memiliki hubungan dengan ibuku di dunia ini.


Meyakini pendapatnya, Stella kembali memfokuskan perhatiannya pada pria yang duduk di sampingnya.


"Ibumu, Alexa, dikabarkan meninggal di Istana Everlexa karena diserang oleh sekelompok orang asing. Mereka menyerang Alexa tepat saat kau baru saja dilahirkan."


Jadi begitu! Itu jelas percobaan pembunuhan pada keluarga kerajaan!


Seakan mendapatkan sesuatu yang berharga, jantung Stella berdetak lebih cepat daripada biasanya. Pipinya bersemu, sedangkan rasa penasaran menggerogoti hatinya.


"Menurutmu, kenapa mereka menyerang ibumu? Kenapa mereka tidak menyerang pewaris takhta yang saat itu juga ada di sana?"


Pertanyaan tiba-tiba dari sang raja membuat Stella memberikan jawaban dengan spontan.


"Seperti yang kuduga. Putriku memang cerdas."


Apa itu ... pujian?


Stella merasa aneh. Padahal, di kehidupannya yang dulu, dia tidak pernah kekurangan pujian. Semua orang memujinya setiap menit. Entah itu pujian tulus atau palsu. Namun, ketika pria itu memujinya, rasanya ada sesuatu yang meluap di hatinya. Stella tahu perasaan apa itu.


Ini adalah perasaan bahagia yang sama saat aku merayakan ulang tahunku bersama keluargaku dulu.


"Kejadian itu memang disebabkan oleh keinginan balas dendam seseorang padaku."


Perhatian Stella kembali mengarah pada Raja Shavir.


"Daripada melenyapkan pewaris takhta yang bisa dilahirkan kapan saja, bukankah lebih baik melenyapkan orang yang akan melahirkan pewaris takhta itu?"


Senyuman sedih muncul di wajah tampan pria berambut hitam legam itu.


Stella akhirnya mengerti tujuan dari penyerangan yang terjadi pada ibunya di dunia ini.


"Melenyapkan wanita yang dicintai raja akan sangat menguntungkan, karena itu akan merusak mental dan hati raja itu daripada fisiknya. Bukankah itu yang mereka inginkan?"


Deg! Deg! Deg!


Pupil mata Stella melebar. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dalam sekejap, ingatan asing muncul di kepalanya seperti sebuah cuplikan film yang sedang diputar.

__ADS_1


"Lebih baik kita melenyapkan darah daging Yang Mulia, itu akan berdampak besar dan sangat fatal bagi Yang Mulia. Dia akan menjadi gila."


"Kita juga harus membuat semuanya seolah-olah adalah kesalahan Yang Mulia, bukan karena direncanakan."


"Kalau begitu, aku akan meningkatkan jumlah sihir jahat yang ada pada Yang Mulia agar pengeksekusian dilaksanakan besok."


Bats―!


Stella berkedip berulang kali. Napasnya tersengal-sengal. Dadanya bergemuruh, seolah-olah ada api yang sangat membara di sana.


"S-Stella?" Raja Shavir, yang menyaksikan keanehan pada Stella, segera memegang kedua bahu gadis kecil itu, hingga menghadap ke arahnya. "Ada apa? Apa kau merasa lelah?"


"Se-sepertinya begitu...."


Nada suara Stella terdengar lirih dan bergetar. Butiran-butiran keringat mengalir dengan deras di sekujur tubuhnya. Ekspresi wajahnya pucat pasi.


"Berbaringlah," ujar Raja Shavir seraya membaringkan Stella di tempat tidur, kemudian menyelimuti Stella. "Aku akan memanggil dokter. Tunggu sebentar."


"Jangan pergi." Stella menahan pergelangan tangan Raja Shavir, membuat pria itu menoleh. Ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajah pucat gadis kecil itu. "Temani aku di sini, Ayah."


Gasp.


Raja Shavir menahan napas selama beberapa detik. Keterkejutan melintas di matanya, tetapi Stella mengabaikan hal itu dan malah tersenyum.


"Aku ingin bersama dengan Ayah sebentar."


Lagi, perkataannya membuat Raja Shavir terkejut hingga mata ungunya melebar.


***


Raja Shavir benar-benar menemani Stella hingga dia tertidur. Ketika Stella membuka matanya, hari sudah malam. Dia tidak mendapati siapa pun di kamar itu kecuali dirinya sendiri.


Berbaring di atas tempat tidur dalam diam, Stella memikirkan kembali ingatan asing yang melintas di kepalanya tadi.


Stella tidak pernah memiliki ingatan itu seumur hidupnya, tetapi entah mengapa Stella akrab dengan ingatan itu, seolah-olah dirinya mengalami hal itu.


Ah, apa yang baru saja kupikirkan? Mana mungkin aku pernah mengalami hal seperti itu.


Stella menggelengkan kepalanya, menepis pikiran seperti itu dari kepalanya. Dia kembali mengingat suasana yang terjadi saat adegan percakapan orang-orang asing itu muncul di kepalanya.


Suasana di dalam ingatan itu sangat dingin, sunyi, dan gelap. Saking gelapnya, Stella bahkan tidak bisa melihat wajah orang-orang itu yang sedang berbicara. Namun, ada sesuatu yang sempat diingat Stella.


Ada suara jeruji besi dan bunyi sesuatu yang mirip rantai.


"Eh?!" Mata ungu Stella terbuka lebar, kemudian dia menyusun kata-kata itu. "Ada suara jeruji besi, sudah pasti bentuknya seperti pagar yang terbuat dari besi. Lalu ada bunyi rantai, sudah pasti ada rantai yang berukuran cukup besar dan berat di sana, makanya bunyinya terdengar. Dan yang terakhir, suasananya yang gelap dan sunyi."


Mata ungu Stella berkeliaran, sedangkan pikirannya sedang rumit, antara ragu-ragu dan yakin.


Tempat yang memiliki ciri-ciri seperti itu....


Sudah pasti adalah penjara!


Tapi, kenapa ingatan itu mendadak muncul di kepalaku?

__ADS_1


――――――――――――――


TBC!


__ADS_2